4. Kenyataan

Rombongan tim relawan bersiap untuk berangkat. Bukan hanya membawa perlengkapan medis saja, tetapi juga bantuan logistik berupa sembako, pakaian, dan yang lainnya. Sebelum berangkat Direktur Rumah Sakit menyampaikan kata-kata penyemangat untuk mereka.

"Kalian adalah pahlawan kemanusiaan. Kami semua bangga dengan pengabdian kalian. Jaga diri baik-baik, dan berikan yang terbaik untuk saudara-saudara kita di sana."

Setelah berpamitan dengan rekan-rekan, mereka memasuki kendaraan dan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah sakit menuju lokasi bencana.

Renata berada di sana, tetapi Davin sama sekali tak meliriknya apalagi berpamitan dengannya. Seolah dirinya hanya makhluk tak kasat mata yang kehadirannya tidak diharapkan.

"Dia benar-benar berubah, seolah tak mengenalku." Renata menghela napas -- kecewa? Pastinya, tetapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa.

"Dok, kenapa Anda nggak ikut berpartisipasi? Bukankah Dokter Davin juga bergabung di sana?" tanya Dokter Ana, rekan Renata yang mengetahui keakraban antara Renata dan Davin.

Renata menggeleng sambil tersenyum. "Nggak, Dok. Dokter Davin nggak mengijinkan saya untuk ikut. Mungkin dia berpikir medannya berbahaya," jawab Renata.

"Waaah...! Sampai segitunya ya, Dokter Davin perhatian sama Anda," ucap Dokter Ana penuh kekaguman.

Renata hanya tersenyum malu-malu. "Kalau begitu saya pamit ke ruangan saya ya, Dok," pamitnya.

"Oh, silakan." Dokter Ana tersenyum mempersilakan.

Akhirnya dengan langkah cepat, Renata segera meninggalkan tempat itu untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari rekannya tersebut.

Sampai di depan ruangannya, ia seolah teringat sesuatu. Matanya tanpa sengaja menangkap kamera CCTV yang terpasang di ujung koridor.

"Kenapa aku bisa lupa kalau ada CCTV di sana?" gumamnya pelan. "Sebaiknya nanti aku ke ruang keamanan untuk melihatnya."

Baru saja akan masuk ke ruangannya, tiba-tiba Renata dikejutkan oleh suara sirine yang memekakkan telinga, pertanda ada sesuatu yang darurat. Ia segera menuju ke sana dengan sedikit berlari kecil.

"Dokter Renata, tolong bantu saya untuk menyiapkan operasi darurat sekarang juga," ujar Dokter Rangga, seorang dokter senior di rumah sakit itu.

Dengan gerakan profesional, Renata segera mengikuti dokter tersebut menuju ruang operasi.

Satu jam kemudian operasi selesai dan berjalan lancar, tetapi Dokter Rangga tampak tidak puas dengan kinerja Renata.

"Dokter Renata, saya tidak tahu apa masalah yang Anda hadapi. Tapi saat berada di ruang operasi Anda harus fokus karena yang kita hadapi adalah nyawa manusia," ujar Dokter Rangga dingin, lalu pergi meninggalkan Renata yang masih berdiri mematung di tempatnya.

"Maafkan saya," ucap Renata lirih seraya membungkukkan badannya.

Ia lalu berjalan gontai menuju ruangannya. "Aaahh... Dasar Davin si*lan. Kenapa pikiranku penuh dengan dia, sih!" geramnya ketika telah berada di dalam ruangannya.

Renata akui selama mendampingi Dokter Rangga di ruang operasi, memang pikirannya tak bisa fokus. Ia masih terus kepikiran oleh perubahan sikap Davin padanya.

"Kalau begini terus karirku di sini bisa stagnan di tempat. Aku harus melakukan sesuatu agar aku tetap aman bekerja di sini," gumamnya, kekhawatiran mulai melanda jiwanya.

"Ah, ya. Sebaiknya aku datangi ruang keamanan untuk melihat rekaman CCTV."

.

.

.

Sementara itu, setelah beberapa jam perjalanan yang melelahkan, Davin beserta tim rombongan akhirnya tiba di lokasi bencana. Mereka turun dari kendaraan dan tanpa lelah langsung mendirikan tenda untuk tempat tinggal mereka sementara.

Keesokan harinya, setelah beristirahat beberapa jam, tim relawan memulai aktivitas mereka. Ketua tim membagi tugas di mana mereka akan di tempatkan. Kebetulan Davin ditempatkan di Puskesmas Pembantu yang ada di desa itu, tepatnya Desa Sukun.

"Oke, teman-teman semua, selamat bekerja. Semoga niat baik kita mendapatkan ridho dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa," ujar Kepala Tim.

Davin segera berangkat menuju Puskesmas Pembantu. Sesampainya di sana dia langsung berbaur dengan relawan yang relawan lainnya, memeriksa kondisi para korban. Rata-rata mereka mengalami luka memar, patah tulang hingga luka dalam akibat tertimbun material tanah longsor atau terbawa arus banjir.

Dengan cekatan dan gerakan terampil, Davin memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Tak ada raut kelelahan di wajahnya, karena dirinya melayani dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi.

Namun, ketika dia mengedarkan pandangannya, ada yang menarik perhatiannya. Seorang anak laki-laki kira-kira berusia tujuh tahunan. Sendirian berbaring di ranjang pasien yang berada di pojok ruangan, bermain mobil-mobilan plastik. Tak ada yang menemaninya. Davin menghampiri bocah itu dan menyapanya,

"Halo, kamu sendirian?" Dia tersenyum lembut. "Kenalkan namanya saya Davin. Boleh tahu siapa namanya?" tanyanya sembari mengulurkan tangan.

Bocah itu menatap Davin sesaat, lalu beralih pada tangan Davin. "Alvian," jawabnya dengan suara serak.

"Oke, Alvian. Kakak periksa, ya."

Alvian mengangguk, Davin menjalankan tugasnya. Namun dia tampak mengernyit saat tangannya memegang kaki Alvian. Ada sesuatu yang tak biasa.

"Adik saya lumpuh..." Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Davin.

Dia lantas menoleh ke belakang dan mendapati sesosok gadis manis berhijab dan wajahnya tampak sendu.

"Dia terjatuh dari sepeda dan nahasnya saat itu ada motor melintas sehingga dia tertabrak," jawabnya.

"Sempat dirawat sebulan di rumah sakit, tapi tidak semua biaya ditanggung oleh jaminan kesehatan," lanjutnya menambahkan.

"Apa kata dokter?" tanya Davin cepat.

"Dia harus menjalani fisioterapi."

"Sudah mengikuti fisioterapi berapa kali?"

"Baru empat kali, karena keterbatasan kami. Lagipula harus ke rumah sakit daerah dan itu jauh sekali."

Davin menghela napas dalam. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Letak Desa Sukun memang jauh dari jalan raya.

.

.

.

Di tempat lain, Renata akhirnya mendatangi ruang keamanan tepatnya tempat kontrol CCTV. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu ruangan tersebut, tak lama kemudian seseorang membukanya dari dalam.

"Permisi," ucapnya gugup.

"Ya, ada yang bisa saya bantu, Dok?" tanya Roni.

"Boleh saya masuk, Mas?" Tatapan mata Renata tampak memohon.

Roni menarik napas berat. Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Renata masuk.

"Ada keperluan apa sebenarnya Anda datang kemari?" tanya Roni, meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak.

"Em...begini, Mas. Saya ingin tahu rekaman CCTV di koridor ruangan saya tiga hari yang lalu tepatnya sore hari jam pulang kerja," jawab Renata tanpa basa basi.

"Sebenarnya ini sangat dilarang..."

"Tolong lah, Mas. Ini mengenai keamanan dan kenyamanan saya," potong Renata cepat.

"Baiklah..." Roni segera memutar rekaman yang diminta Renata.

Dengan perasaan tak karuan Renata memperhatikan dengan seksama hingga dia menutup mulutnya dengan mata membelalak.

"Nggak mungkin...!" gumamnya seakan menyangkal apa yang dilihatnya.

Renata menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa kata ia pergi begitu saja dari ruangan itu. Pikirannya kacau, dirinya sangat syok dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.

"Bodoh...bodoh kamu, Renata!" sesalnya, seraya mencengkeram rambutnya dengan frustasi.

Terpopuler

Comments

Aditya hp/ bunda Lia

Aditya hp/ bunda Lia

dah gak ada harapan kamu terima nasib ajah terlalu percaya diri kamu Bu dokter ....

2026-02-18

2

Tiara Bella

Tiara Bella

makanya klu ngomong tuh dijaga biar gak nyinggung orng....skrng udh tw kan kebenarannya

2026-02-18

2

ora

ora

Bodoh kenapa? Bodoh karena ketahuannya cepet? Bodoh karena nggak bisa manfaatin Davin lagi?😤😤

2026-02-18

1

lihat semua
Episodes
1 1. Layu sebelum berkembang
2 2. Tim relawan medis
3 3. Apa yang sebenarnya terjadi
4 4. Kenyataan
5 5. Renata yang galau # Davin yang terpukau
6 6. Davin yang konyol # Renata belum menyerah
7 7. Simpati
8 8. Fitnah kejam
9 9. Usaha yang gagal
10 10. Permintaan
11 11. Menghasut
12 12. Diusir
13 13. Tinggal di tenda
14 14. Jatuh
15 15. Bantuan
16 16. Misi rahasia
17 17. Misi belum selesai
18 18. Gagal lagi
19 19. Bahagia itu sederhana
20 20. Jadilah kekasihku
21 21. Galaunya Melodi
22 22. Drama Dahlia
23 23. Apakah dia jodoh untukku?
24 24. Iri dengki
25 25. Gara-gara Melodi
26 26. Rendah diri
27 27. Janji Davin
28 28. Melodi vs Dahlia # Acara peresmian
29 29. Undangan
30 30. Ide gila Melodi
31 31. Antara bahagia dan sedih
32 32. Usaha Pak Aris
33 33. Tempat tinggal baru
34 34. Kejahilan Mami Mia
35 35. Dipaksa menikah
36 36.
37 37.
38 38.
39 39.
40 40.
41 41.
42 42.
43 43
44 44.
45 45.
46 46.
47 47.
48 48.
49 49.
50 50.
51 51.
52 52.
53 53.
54 54.
55 55.
56 56.
57 57.
58 58.
59 59.
60 60.
61 61.
62 62.
63 63.
64 64.
65 65.
66 66.
67 67.
68 68.
69 69.
70 70
71 71.
72 72.
73 73.
74 74.
75 75.
76 76.
77 77.
78 78.
79 79.
80 80.
81 81.
82 82.
83 83.
84 84.
85 85.
86 86.
87 87.
88 88.
89 89.
90 90.
91 91.
92 92.
93 93.
94 94.
95 95.
96 96.
97 97.
98 98.
99 99.
100 100.
101 101.
102 102.
103 103.
104 104.
105 105.
106 106.
107 Promo karya baru
108 Promo
Episodes

Updated 108 Episodes

1
1. Layu sebelum berkembang
2
2. Tim relawan medis
3
3. Apa yang sebenarnya terjadi
4
4. Kenyataan
5
5. Renata yang galau # Davin yang terpukau
6
6. Davin yang konyol # Renata belum menyerah
7
7. Simpati
8
8. Fitnah kejam
9
9. Usaha yang gagal
10
10. Permintaan
11
11. Menghasut
12
12. Diusir
13
13. Tinggal di tenda
14
14. Jatuh
15
15. Bantuan
16
16. Misi rahasia
17
17. Misi belum selesai
18
18. Gagal lagi
19
19. Bahagia itu sederhana
20
20. Jadilah kekasihku
21
21. Galaunya Melodi
22
22. Drama Dahlia
23
23. Apakah dia jodoh untukku?
24
24. Iri dengki
25
25. Gara-gara Melodi
26
26. Rendah diri
27
27. Janji Davin
28
28. Melodi vs Dahlia # Acara peresmian
29
29. Undangan
30
30. Ide gila Melodi
31
31. Antara bahagia dan sedih
32
32. Usaha Pak Aris
33
33. Tempat tinggal baru
34
34. Kejahilan Mami Mia
35
35. Dipaksa menikah
36
36.
37
37.
38
38.
39
39.
40
40.
41
41.
42
42.
43
43
44
44.
45
45.
46
46.
47
47.
48
48.
49
49.
50
50.
51
51.
52
52.
53
53.
54
54.
55
55.
56
56.
57
57.
58
58.
59
59.
60
60.
61
61.
62
62.
63
63.
64
64.
65
65.
66
66.
67
67.
68
68.
69
69.
70
70
71
71.
72
72.
73
73.
74
74.
75
75.
76
76.
77
77.
78
78.
79
79.
80
80.
81
81.
82
82.
83
83.
84
84.
85
85.
86
86.
87
87.
88
88.
89
89.
90
90.
91
91.
92
92.
93
93.
94
94.
95
95.
96
96.
97
97.
98
98.
99
99.
100
100.
101
101.
102
102.
103
103.
104
104.
105
105.
106
106.
107
Promo karya baru
108
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!