Bab 2

"Boleh minta tolong, Abi?"

Sebelum pamit, tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari Ilzam--tanpa melalui pertimbangan panjang.

Kyai Fakih mengangguk, tanpa ragu.

"Salam saya buat Ning Shafiyah."

Ilzam lalu menunduk, bersama harapannya yang dipaksa gugur sebelum sempat tumbuh.

"Salam-mu sudah sampai, Nak," kata kyai cepat. "Shafiya mendengar."

Di balik gorden panjang selantai yang sesekali meliuk ringan oleh terpaan kipas angin tengah ruangan, di sana Shafiya duduk. Ia mendengarkan semuanya. Setiap kata, dari awal hingga akhir, tak luput dari ruang dengarnya.

Dan ke titik itu pula, Ilzam melabuhkan pandangannya, meski gorden tebal itu membatasi jangkauan penglihatan, namun serasa ia menemukan wajah Shafiya di sana.

"La'llallaaha yarhamuki, Ning Shafiya."

Sebuah doa tulus--harapan yang ikhlas terlafadz dari Ilzam dengan suara lirih.

(Semoga Allah senantiasa merahmati kamu, Ning Shafiya)

Doa yang diaminkan dalam tunduk oleh kyai Fakih. Doa yang sementara ini---sejak kebenaran itu didengarnya dari tadi---menjadi satu-satunya kekuatan untuknya tetap berdiri tegak, meski setiap sendi di tubuhnya seakan dipatahkan oleh fakta tentang putri yang tak pernah ia duga.

Dan di balik gorden itu, Shafiya juga mendengar.

Diam.

Shafiya tidak berkata apa pun. Tidak juga berkompromi dengan keinginan yang meronta untuk berbicara barang satu atau dua kata dengan Ilzam.

Semua keinginan ia tahan.

Semua harapan ia pendam.

Juga ia tak lagi bertanya, kenapa, ada apa?

Shafiya hanya bisa menunduk lebih dalam.

Di kepalanya terlintas kisah yang sejak kecil ia dengar di majelis-majelis ilmu---tentang perempuan suci yang melahirkan tanpa disentuh lelaki. Tapi Shafiya tahu, dunia tidak hidup dalam mukjizat.

Jika ia mengucapkan itu, yang hancur bukan hanya dirinya.

Nama abinya. Pesantren. Orang-orang yang selama ini menjaga kehormatan keluarga mereka.

Fakta itu yang membuat setiap kalimat---yang sedianya akan diucapkan ke Ilzam--- mati di ujung tenggorokan.

Di luar, Ilzam berpamitan.

Satu kalimatnya yang membuat air mata Shafiya jatuh, dan sesak menghantam dada kyai Fakih.

"Jika, Abi membutuhkan saya untuk menjelaskan ke orang-orang, saya ada."

**

**

**

Hening kembali menyelimuti kediaman sang kyai. Hening yang dalam.

Hening yang tajam.

Dan waktu yang berlalu terasa merangkak di jalanan gelap penuh duri. Lambat. Sesak.

Hingga hari itu tiba.

Hari di mana seharusnya acara sakral terjadi di Darun najah.

Pernikahan Shafiyya dengan Ilzam.

Tapi, yang ada hanya hening. Sepi.

Sementara di luar riuh oleh suara, bisik-bisik, tanda tanya, prasangka buruk, hingga vonis sebelum tahu faktanya secara utuh.

Hingga malam menjelang, dan hingga pagi akan kembali bertandang, hanya dua hal itu yang menghantam. Hening di dalam. Riuh, bahkan gemuruh di luar---penuh nada-nada sumbang.

Dan pagi itu, pesantren belum sepenuhnya ramai. Suara sapu lidi terdengar dari halaman depan, bersahut pelan dengan lantunan hafalan santri yang belum selesai selepas Subuh.

Shafiya berdiri di ambang pintu ruang kerja abinya. Tangannya terlipat di depan perut, jemarinya saling menggenggam seolah menahan sesuatu yang tak ingin jatuh.

“Abi…?”

Suaranya keluar setelah melalui banyak sekali pertimbangan.

Kyai Fakih mengangkat wajah. Sorot matanya lelah, dan Shafiya tak lagi temukan tatap hangat seperti biasa. Beliau hanya mengangguk singkat. Menyilakan putrinya masuk.

Shafiya duduk. Tidak terlalu dekat. Seperti menjaga jarak yang sejak beberapa hari terakhir terasa berubah.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Ada yang ingin saya sampaikan,” akhirnya ia berkata pelan.

Kyai Fakih tidak menyela. Ia hanya menunggu.

“Saya ingin keluar dari pesantren … sementara waktu.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup membuat udara di ruangan terasa lebih menekan.

“Kamu tidak diusir,” ujar Kyai Fakih tenang. Bukan bertanya, melainkan memastikan.

Shafiya menggeleng cepat. “Bukan, Bi.”

Ia menunduk. Menyusun kata-kata yang sejak semalam ia ulang berkali-kali.

“Justru karena saya tahu ini rumah saya … saya tidak ingin orang-orang melihat Abi dengan pertanyaan yang sama setiap hari.”

Kyai Fakih diam. Pandangannya tidak lepas dari wajah putrinya.

“Saya hanya ingin … menemukan yang harus bertanggung jawab atas apa yang saya alami." Shafiya menjeda kalimatnya cukup lama. Sampai kyai Fakih menemukan wajah lelah dan pucat itu di ujung penglihatannya.

"Jika sudah ketemu, saya akan kembali."

Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Tapi cukup bagi seorang ayah untuk mengerti bahwa anaknya sedang membawa beban yang tidak ingin ia bagi.

“Sejak kecil,” suara Kyai Fakih akhirnya terdengar, pelan, “Abi mengajarkan kamu pulang ke sini kalau dunia terasa berat, Shafa."

Shafiya tersenyum tipis. Matanya mulai basah. Panggilan kesayangan abinya ia dapatkan lagi, meski ia tahu, jiwa cinta pertamanya itu sedang penuh luka.

“Terima kasih, Abi." Shafiya tidak menangis. Air matanya sudah selesai. Ia kini hanya menguatkan tekad untuk menanggung semuanya sendirian.

Shafiya juga tidak meminta kepercayaan abinya yang mungkin sudah retak dan koyak.

Ia hanya punya janji pada dirinya sendiri, bahwa kondisi ini pasti ada penjelasannya tersendiri. Meski saat ini ia harus menjadi tersangka yang memikul dosa.

Kyai Fakih mengangguk pelan. Tidak menahan. Tidak juga merelakan sepenuhnya. Tangannya terangkat, lalu berhenti sejenak sebelum akhirnya diletakkan di kepala Shafiya.

Doa yang biasa ia panjatkan sejak putrinya kecil kembali terucap lirih.

Kali ini, dengan harapan yang jauh lebih berat.

Detik berikutnya, saat sinar matahari jatuh menebar hangat ke setiap sudut pesantren, Shafiya justru memeluk jiwanya yang terasa dingin, saat tapak kaki menjejak gerbang rumah yang selama ini menjadi surganya,

Ia berhenti, menoleh sesaat. Menyapu pandangan ke setiap sudut---yang pasti akan dirindukan. Hanya sesaat, sebelum langkahnya kembali terayun berat, juga mantap secara bersamaan.

Shafiya sudah memetakan langkah. Meski kepergiannya untuk mencari arah, tapi langkahnya bukan tak terarah.

Pertama yang akan ia lakukan tentu memastikan keadaaan, yang sebenar-benarnya, tentang lara yang tiba-tiba telah ditanggung tubuhnya. Tanpa ia tahu kenapa, dan bagaimana.

Ia akan menemui dokter Zulaika---salah satu kerabatnya yang bekerja di sebuah rumah sakit paling besar di kota ini.

**

***

Bangunan itu menjulang dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Berbeda dengan halaman pesantren yang akrab dengan suara manusia, tempat ini dipenuhi bunyi yang lebih teratur---langkah cepat sepatu, pintu otomatis yang terbuka tanpa suara, dan pengumuman singkat yang terdengar datar dari pengeras suara.

Udara di dalamnya dingin. Bersih. Terlalu bersih, hingga terasa asing.

Aroma antiseptik menyambut lebih dulu sebelum suara-suara terdengar. Orang-orang datang dan pergi dengan wajah yang sama: terburu-buru, cemas, atau berusaha terlihat tenang.

Tak ada yang saling mengenal. Tak ada yang bertanya.

Di sudut dinding, logo Adinata Medical Center terpasang besar--huruf-huruf logam mengilap yang mencerminkan sesuatu yang berbeda dari rumah sakit yang lain. Di sini jelas terlihat, ketertiban yang dibangun oleh sistem, bukan oleh kedekatan.

Di antara semua itu, seorang lelaki melangkah tergesa seraya menatap penunjuk waktu di pergelangan tangannya.

Ia sadar, sudah seterlambat apa. Sebuah kejadian tak terduga telah merampas waktunya.

Teleponnya berbunyi.

Nama dokter Raka Pradipta Sp PD, tertera di layarnya.

Ia mengangkat, berbicara singkat.

"Aku sudah di sini."

Dan ia menutup telpon itu tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.

Terpopuler

Comments

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

Ilmu ikhlas itu mahal. Dunia selalu punya cerita yang keruh, tapi kamu tetap bening di tempatmu, Gus-----atau belum.

2026-02-18

1

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐

Yah, karena di sanalah semua akan kembali ringan. poor buat aku yang udah gk punya keduanya.

2026-02-18

1

Ayuwidia

Ayuwidia

Semoga Shafiya segera temukan kebenarannya. Ah, nggak kebayang gimana remuk hatinya ketika menerima ujian yg teramat berat itu

2026-02-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 03
4 Bab 04.
5 Bab 05
6 bab 6:
7 Bab 07
8 Bab 08
9 Bab 09 Mansion Adinata
10 Bab 10. Garis Keturunan Adinata
11 Bab 11 Ancaman Shafiya
12 12. Mas Kawin, Syahadat.
13 Bab 13. Kontrak Dosa dan Pahala.
14 Bab 14. Dari Mana Kamu Datang.
15 Bab 15. Bersama Di Meja Makan
16 Bab 16. Fakta Yang Tidak Menutup Apapun.
17 Bab 17. Rasa Sakit Yang Sama.
18 Bab 18. Di dekatnya Nyeri Itu Mereda
19 Bab 19. Didampingi Lelaki Halal
20 Bab 20. Ketika Sagara Menjawab
21 Bab 21. Saya Wanita Yang Dinikahi, Bukan Sekedar Dipiara
22 Bab 22. Aroma Yang Menenangkan Sagara.
23 Bab 23. Tidak Penting...Siapa Ayah Biologisnya
24 Bab 24. Langkah Menyibak Misteri
25 Bab 25. Hanya Butuh Data Bukan Fakta
26 Bab 26. Pengadilan Butuh Fakta Bukan Cerita
27 Bab 27 Sidang Keluarga
28 Bab 28. Sidang Keluarga 2
29 Bab 29. Final, Untuk Saat Itu
30 Bab 30. Saya Akan Membuat Batasnya Sendiri
31 Bab 31. Dia Tidak Pernah Memilih Selain Kamu
32 Bab 32. Runtuh Diam-Diam
33 Bab 33. Sudah Sedekat Itu Kalian.
34 Bab 34 Tolong Saya, Elara
35 Bab 35 Jangan Dekati Shafiya
36 Bab 36 Kerja Sama Kedua
37 Bab 37 Ravendra Tahu?
38 Bab 38. Pukulan Bersih Sagara Untuk Ravendra
39 Bab 39 Fakta Kehamilan Shafiya
40 Bab 40 Data Tidak Punya Keberpihakan. Hanya Dibaca, Atau Disangkal.
41 Bab 41. Final: Kebenaran Yang Tak Terbantahkan
42 Bab 42. Final Mission
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 03
4
Bab 04.
5
Bab 05
6
bab 6:
7
Bab 07
8
Bab 08
9
Bab 09 Mansion Adinata
10
Bab 10. Garis Keturunan Adinata
11
Bab 11 Ancaman Shafiya
12
12. Mas Kawin, Syahadat.
13
Bab 13. Kontrak Dosa dan Pahala.
14
Bab 14. Dari Mana Kamu Datang.
15
Bab 15. Bersama Di Meja Makan
16
Bab 16. Fakta Yang Tidak Menutup Apapun.
17
Bab 17. Rasa Sakit Yang Sama.
18
Bab 18. Di dekatnya Nyeri Itu Mereda
19
Bab 19. Didampingi Lelaki Halal
20
Bab 20. Ketika Sagara Menjawab
21
Bab 21. Saya Wanita Yang Dinikahi, Bukan Sekedar Dipiara
22
Bab 22. Aroma Yang Menenangkan Sagara.
23
Bab 23. Tidak Penting...Siapa Ayah Biologisnya
24
Bab 24. Langkah Menyibak Misteri
25
Bab 25. Hanya Butuh Data Bukan Fakta
26
Bab 26. Pengadilan Butuh Fakta Bukan Cerita
27
Bab 27 Sidang Keluarga
28
Bab 28. Sidang Keluarga 2
29
Bab 29. Final, Untuk Saat Itu
30
Bab 30. Saya Akan Membuat Batasnya Sendiri
31
Bab 31. Dia Tidak Pernah Memilih Selain Kamu
32
Bab 32. Runtuh Diam-Diam
33
Bab 33. Sudah Sedekat Itu Kalian.
34
Bab 34 Tolong Saya, Elara
35
Bab 35 Jangan Dekati Shafiya
36
Bab 36 Kerja Sama Kedua
37
Bab 37 Ravendra Tahu?
38
Bab 38. Pukulan Bersih Sagara Untuk Ravendra
39
Bab 39 Fakta Kehamilan Shafiya
40
Bab 40 Data Tidak Punya Keberpihakan. Hanya Dibaca, Atau Disangkal.
41
Bab 41. Final: Kebenaran Yang Tak Terbantahkan
42
Bab 42. Final Mission

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!