Rabu sore datang dengan langit yang menggantung kelabu lagi. Sejak siang, awan telah menutup matahari, membuat suasana sekolah terasa lebih redup dari biasanya. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah yang seolah bersiap menyambut hujan.
Di kelasnya, Rizuki duduk di bangku dekat jendela seperti biasa. Guru fisika sedang menjelaskan teori gerak lurus berubah beraturan. Suara kapur menggesek papan tulis terdengar konstan. Sebagian siswa mencatat, sebagian lagi melamun.
Rizuki mendengarkan. Ia memahami materi bahkan sebelum penjelasan selesai. Namun hari itu, fokusnya tidak setajam biasanya.
Tatapan mata coklat itu muncul lagi dalam pikirannya. Ia tidak menyukainya. Namun entah mengapa merasuki pikirannya. Karena itu berarti ada sesuatu yang mengganggu stabilitas emosinya.
"Ini tidak relevan," bisiknya pelan dalam hati.
Bel sekolah berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Rizuki berjalan lebih lambat dari yang lain. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak pernah terburu-buru.
Langit akhirnya pecah. Hujan turun untuk kedua kalinya minggu itu. Rizuki tidak membawa payung. Karena hari itu ia sengaja tidak ingin membawa nya.
Ia membiarkan beberapa tetes mengenai rambutnya. Entah kenapa, ia ingin merasakan hujan hari itu.
Di sisi timur kota, Vhiena berdiri di depan papan pengumuman sekolah. Ayu dan Lala masih berbicara soal tugas kelompok.
"Kayaknya bakal hujan lagi," kata Ayu.
Vhiena menatap langit yang mulai gelap. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa. "Kalian duluan aja," kata vhiena tiba-tiba.
"Sendiri?" tanya Lala.
"Iya. Mau mampir sebentar." Vhiena berbohong, Padahal tidak ada tempat yang ingin ia datangi. Kecuali mungkinโฆ trotoar itu lagi.
Hujan turun semakin deras. Vhiena akhirnya berteduh di halte tua yang terletak di sudut jalan. Halte itu sepi Bangkunya berkarat, Catnya mengelupas. Lampunya berkedip samar. Ia berdiri memeluk tasnya. Menunggu hujan reda. Atau mungkinโฆ menunggu sesuatu yang lain.
Langkah kaki terdengar mendekat. Teratur, Tenang. Vhiena menoleh. Dan napasnya tertahan. Pria itu lagi ( dalam pikiran vhiena. )
Seragamnya sedikit basah. Rambut hitamnya jatuh tipis di dahi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi berlebihan. Ia berhenti sejenak melihat halte. Lalu melangkah masuk.
Hanya ada mereka berdua. Suara hujan menjadi latar yang konstan. Beberapa detik hening.
"Hujan lagi," kata Vhiena pelan.
"Ya," jawab Rizuki singkat.
"Kamu memang suka kehujanan?" tanya vhiena lagi.
Rizuki menoleh sedikit. "Kurasa begitu."
"Tapi kamu tidak pakai payung." Vhiena melanjutkan pertanyaan nya.
"Kadang tidak masalah." Jawaban rizuki tetap pendek. Namun kali ini, nadanya tidak sepenuhnya datar.
Vhiena tersenyum kecil. "Kamu selalu jawab singkat ya."
Rizuki menatap lurus ke depan. "Kamu selalu banyak bicara."
Vhiena tertawa pelan. "Kalau nggak bicara, nanti nggak kenal."
Rizuki terdiam. Beberapa detik kemudian ia berkata, lebih pelan dari biasanya: "Perlu kenal?"
Pertanyaan itu membuat Vhiena terdiam. Ia menatap hujan yang jatuh deras. "Aku rasa iya."
Kali ini Rizuki menatapnya lebih lama. Tatapan itu bukan lagi sekadar pertemuan singkat. Ada kesadaran di sana. Ada pengakuan diam-diam. "Rizuki," katanya akhirnya.
"Vhiena," jawab vhiena dengan wajah ceria nya. Untuk pertama kalinya, mereka menyebut nama satu sama lain tanpa jarak.
Hujan mulai sedikit mereda. Angin membawa percikan air masuk ke bagian depan halte. Refleks, Vhiena melangkah lebih ke dalam. Rizuki bergeser sedikit agar tidak terkena hujan namun tidak terlalu dekat dengan vhiena. Namun jarak mereka kini jauh lebih kecil dibanding pertemuan pertama.
"Kamu pulang ke arah mana?" tanya Rizuki.
"Selatan." Jawab vhiena dengan spontan.
Rizuki mengangguk. "Arah itu bukan jalannya"? Namun ia berkata pelan: "Aku juga."
Vhiena tidak menyadari kebohongan kecil itu.
Hujan berhenti. Langit masih kelabu, tapi lebih terang. Mereka keluar dari halte bersama. Berjalan berdampingan Tidak terlalu dekat, Tidak terlalu jauh, Tidak ada sentuhan, Tidak ada janji.
Namun ada sesuatu yang berubah. Langkah mereka selaras. Untuk pertama kalinya, Rizuki tidak merasa sendirian dalam perjalanan pulangnya. Dan untuk pertama kalinya, Vhiena merasa hujan benar-benar membawa sesuatu, Bukan hanya air Melainkan awal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ananda Andin Angraini
udah tanda2 nih Rizuki. /Proud/
kak skip titiknya /Whimper/
2026-03-06
1
๐ฉท โ๐ดโฃโ๐๐แตแต๐ฅโYAYAโโฏ๐๐ช
Rizuki Mkkb kahh? ๐ฟ
2026-02-25
0