Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

KONTRAK DI ATAS LUKA

Langit Melbourne sore itu tampak seperti kanvas yang dicoreng cat abu-abu. Hujan rintik mulai membasahi dinding kaca penthouse mewah di kawasan Southbank, menciptakan distorsi pada gemerlap lampu kota yang mulai menyala di bawah sana. Dari lantai lima puluh ini, mobil-mobil yang merayap di sepanjang jalanan terlihat seperti barisan semut yang tak berdaya, terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Di dalam ruangan yang didominasi warna monokrom, dinding marmer Carrara, dan aroma kayu cendana yang mahal, kesunyian terasa begitu pekat, seolah oksigen telah diisap keluar oleh mesin pendingin ruangan yang bekerja terlalu sempurna.

Vivien Aksara berdiri mematung di depan jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Gaun pengantin satin berwarna putih gading yang melekat di tubuhnya terasa seperti baju besi yang menyesakkan, bukan pakaian untuk hari bahagia. Baru tiga jam lalu, di sebuah kapel pribadi yang tertutup rapat bagi media dan publik, ia resmi menyandang nama Alfarezel di belakang namanya. Sebuah nama yang selama dua puluh tahun ini menjadi sinonim dari "musuh", "penghancur", dan "monster" dalam kamus besar keluarganya.

Vivien memperhatikan pantulan dirinya di kaca. Wajahnya yang biasanya penuh kehidupan kini pucat, dengan riasan yang masih sempurna namun terasa seperti topeng. Ia menyentuh lehernya yang kosong dari perhiasan, merasakan denyut nadinya yang berpacu liar di balik kulitnya yang dingin. Pernikahan ini bukanlah sebuah awal, melainkan sebuah penyerahan diri secara total.

"Kau tidak akan mendapatkan jawaban dengan terus menatap hujan, Vivien."

Suara itu rendah, bariton, dan memiliki ketajaman yang bisa mengiris kulit. Vivien tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja memasuki ruangan. Ia bisa merasakan kehadiran pria itu melalui perubahan tekanan udara di sekitarnya—aura dominasi yang menyesakkan, wangi parfum oud yang maskulin dan berkelas, serta suara langkah kaki yang berat namun sangat teratur di atas lantai marmer.

Maximilian Alfarezel. Pria yang kini menjadi suaminya secara hukum, namun tetap menjadi musuh terbesarnya secara batin.

Vivien menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia berbalik perlahan, memaksakan sebuah senyum tipis yang ia pelajari dari bertahun-tahun menghadiri perjamuan diplomatik dan pesta kelas atas Jakarta. Keanggunan adalah satu-satunya senjata yang tersisa baginya.

"Aku hanya sedang mengagumi betapa tingginya kau membangun penjara ini, Maximilian," balas Vivien tenang. Suaranya datar, tanpa nada, sebuah benteng pertahanan yang ia bangun agar pria itu tidak bisa melihat kerapuhannya.

Maximilian berdiri di tengah ruangan luas itu, memegang sebuah gelas kristal berisi cairan amber yang berkilau di bawah lampu gantung minimalis. Jas hitamnya sudah dilepas, diletakkan entah di mana, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dengan presisi, memperlihatkan jam tangan kronograf yang harganya mungkin cukup untuk membiayai hidup sepuluh keluarga selama setahun. Matanya—dingin, tajam, dan berwarna gelap seperti laut dalam di tengah badai—menatap Vivien tanpa berkedip.

"Ini bukan penjara jika kau tahu cara menempatkan diri dengan benar," Maximilian melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran Vivien. Jarak di antara mereka terkikis hingga Vivien bisa mencium aroma alkohol tipis dari gelas pria itu. "Pernikahan ini adalah penyelamatan, Vivien. Jangan pernah melupakan itu. Tanpa tanda tanganku di akta tadi siang, aset keluargamu sudah disita bank sore ini. Kau adalah alat tukar yang sangat mahal, dan aku adalah pemilik baru dari aset tersebut."

Vivien merasakan sengatan amarah yang panas membakar dadanya. "Alat tukar? Kau menghancurkan perusahaan ayahku secara sistematis selama tiga tahun terakhir, menyudutkan kami hingga ke tepi jurang keuangan, lalu berpura-pura menjadi pahlawan dengan menawarkanku pernikahan? Itu bukan penyelamatan, Maximilian. Itu adalah perampokan bersenjata yang dibalut dengan upacara keagamaan."

Maximilian tidak tampak tersinggung. Ia justru menyesap minumannya dengan tenang, matanya tetap terpaku pada wajah Vivien, seolah sedang menganalisis setiap emosi yang lewat di sana. "Bisnis adalah perang, dan dalam perang, tidak ada tempat untuk sentimen lama. Ayahmu kalah karena dia terlalu percaya pada loyalitas. Aku menang karena aku percaya pada angka."

Pria itu meletakkan gelasnya di atas meja kerja kayu ek yang kokoh dengan bunyi denting yang bergema. Ia kemudian mengambil sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat formal dan melemparkannya ke atas meja. Suara hantamannya di atas permukaan kayu terdengar seperti palu hakim di telinga Vivien.

"Buka," perintah Maximilian singkat. Suaranya tidak lagi sekadar dingin, tapi otoriter.

Dengan tangan yang sedikit gemetar yang ia coba sembunyikan dengan meremas jemarinya sendiri, Vivien melangkah menuju meja. Ia membuka map tersebut. Isinya bukan sertifikat rumah impian atau janji suci pernikahan. Itu adalah sebuah dokumen hukum setebal puluhan halaman dengan judul besar yang tercetak dengan huruf bold: PROTOKOL DOMESTIK ALFAREZEL.

Vivien membaca poin-poinnya dengan cepat, dan ia bisa merasakan darahnya seolah membeku di setiap baris kalimat yang ia baca.

Pasal 1: Istri dilarang meninggalkan area penthouse tanpa pengawalan pribadi yang ditunjuk secara eksklusif oleh Suami.

Pasal 4: Seluruh perangkat komunikasi, termasuk ponsel dan laptop, harus melalui server keamanan Alfarezel Group yang terenkripsi.

Pasal 7: Istri wajib hadir dalam setiap acara publik, jamuan bisnis, dan acara keluarga tanpa pengecualian, dengan perilaku yang mencerminkan martabat Alfarezel.

Pasal 12: Pelanggaran terhadap kerahasiaan rumah tangga atau tindakan yang merugikan reputasi Suami akan berakibat pada penghentian instan seluruh suntikan dana ke Aksara Group.

"Kau bercanda..." desis Vivien. Ia mengangkat kepalanya, menatap Maximilian dengan tatapan yang penuh kebencian sekaligus ketidapercayaan. "Ini bukan kontrak pernikahan. Ini adalah kontrak kepemilikan tawanan. Kau ingin mengurungku di sini Seperti binatang peliharaan?"

Maximilian berjalan mendekat hingga ujung sepatunya hampir menyentuh ujung gaun pengantin Vivien yang menyapu lantai. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Vivien hingga gadis itu bisa merasakan napas hangatnya yang beraroma mint dan alkohol mahal.

"Aku tidak mengurungmu, Vivien. Aku sedang memberimu struktur yang tidak pernah diberikan ayahmu," bisik Maximilian, suaranya kini lebih dalam, hampir seperti geraman halus. "Di luar sana, orang-orang sedang menunggu melihatmu jatuh ke tanah karena kesalahan ayahmu. Di sini, di bawah namaku, kau tidak tersentuh. Selama kau patuh pada kontrak itu, ibumu akan tetap mendapatkan perawatan terbaik di Singapura dan ayahmu tidak perlu mendekam di penjara karena kasus penggelapan pajak yang bisa kuhapus dengan satu telepon."

Vivien memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh di depan pria ini. Maximilian Alfarezel tahu persis di mana letak saraf sensitifnya. Pria ini bukan sekadar pebisnis sukses; dia adalah predator psikologis yang telah mempelajari mangsanya selama bertahun-tahun.

"Kenapa kau melakukan ini, Maximilian?" suara Vivien melemah, berubah menjadi bisikan parau yang sarat dengan keputusasaan. "Jika kau begitu membenci keluargaku, kenapa tidak biarkan kami hancur saja? Kenapa kau harus mengikat dirimu sendiri dengan seseorang yang jelas-jelas membencimu?"

Maximilian terdiam sejenak. Keheningan di antara mereka terasa mencekam. Tiba-tiba, tangan pria itu terangkat. Jemarinya yang panjang dan kuat mengelus rahang Vivien dengan gerakan yang sangat lambat, hampir terasa seperti sebuah kasih sayang yang tulus, jika saja matanya tidak tetap sedingin puncak Everest.

"Karena menghancurkanmu dari jauh itu terlalu mudah, Vivien. Dan membosankan," jawab Maximilian datar, tanpa ekspresi. "Aku ingin melihat secara langsung bagaimana seorang 'Putri Aksara' yang sombong dan berpendidikan tinggi belajar untuk memohon di bawah kendaliku. Aku ingin kau merasakan setiap detik dari kekalahanmu."

Vivien membuka matanya. Di balik lapisan air mata yang ia tahan dengan sekuat tenaga, ada kilatan api yang tidak Maximilian duga. Pria ini pikir dia telah menang sepenuhnya. Pria ini pikir dia telah mematahkan benang merah hidup Vivien dan menggantinya dengan rantai baja.

Vivien mengambil pena emas yang tergeletak di atas meja kerja. Dengan satu gerakan tegas dan tanpa ragu, ia membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut, menekan pena itu hingga hampir merobek kertasnya.

"Selesai," ucap Vivien, melempar pena itu kembali hingga menggelinding di atas meja. Ia menatap Maximilian lurus-lurus ke dalam manik matanya yang gelap. "Kau punya ragaku sekarang, Maximilian. Kau punya namaku di atas kertas ini dan di depan umum. Tapi jangan pernah sekali-kali kau berharap bisa menyentuh apa yang ada di dalam kepalaku. Kau bisa memiliki sanderamu, tapi kau tidak akan pernah memiliki istrimu."

Maximilian justru menyeringai—sebuah seringai tipis, dingin, dan sangat mengancam. "Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan dengan idealisme kecilmu itu, Istriku. Malam ini masih sangat panjang, dan kontrak itu baru saja dimulai."

Maximilian berbalik, berjalan menuju pintu besar yang menuju kamar utama tanpa menoleh lagi, seolah-olah Vivien hanyalah sebuah benda yang baru saja ia beli dan letakkan di pojok ruangan. Ia meninggalkan Vivien yang berdiri gemetar di tengah kemewahan penthouse yang kini terasa seperti peti mati berlapis emas.

Vivien meremas jemarinya yang dingin hingga kukunya memutih. Maximilian tidak menyadari satu hal krusial. Di balik korset gaun pengantinnya yang ketat dan menyesakkan, Vivien telah menyembunyikan sebuah alat perekam digital ultra-tipis yang sudah aktif sejak ia menginjakkan kaki di gedung ini.

Setiap kata, setiap ancaman, dan setiap penghinaan yang diucapkan Maximilian barusan telah tersimpan. Malam pertama ini memang baru saja dimulai, tapi Vivien sudah memiliki peluru pertamanya. Benang merah itu memang sudah patah, tapi Vivien akan memastikan potongan-potongan tajamnya akan menusuk tepat ke jantung Maximilian sebelum pria itu sempat menyadarinya.

Di luar, guntur menggelegar di langit Melbourne, seolah menyambut perang dingin yang baru saja dideklarasikan di lantai lima puluh itu.

Terpopuler

Comments

Panda%Sya🐼

Panda%Sya🐼

Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini

2026-03-02

1

lihat semua
Episodes
1 KONTRAK DI ATAS LUKA
2 KAMAR YANG TERBAGI
3 SARAPAN DI ATAS BARA
4 PERJAMUAN BERDARAH DINGIN
5 RAHASIA DI BALIK BRANKAS
6 PUING-PUING PENGKHIANATAN
7 ALIANSI DALAM PELARIAN
8 INTIMASI DI BALIK TEMBOK SAFE HOUSE
9 DEBU JAKARTA DAN RAHASIA BRANKAS TUA
10 LABIRIN BAWAH TANAH
11 PELURU TERAKHIR DAN CAHAYA DI BALIK KONSPIRASI
12 MEMBANGUN DI ATAS ABU
13 OPERASI SINGAPURA — MENGEJAR BAYANG-BAYANG
14 KUNCI EMAS DI BALIK LABIRIN FINANSIAL
15 BADAI DI SELAT MELAKA
16 FAJAR DI KEPULAUAN RIAU
17 TARIAN MAUT DI PHUKET
18 RESIDU DAN RESTORASI — MEMBANGUN ATAS NAMA CINTA
19 MEMULIHKAN JIWA YANG TERCECER
20 RETAKAN PADA DINDING KACA
21 FAKTA DI ZURICH
22 SALJU BERDARAH DI ALPEN
23 RUNTUHNYA IMPERIUM PHOENIX
24 PEMBERSIHAN TERAKHIR
25 RESTRUKTURISASI
26 GEMA DARI MASA DEPAN
27 DI BALIK TIRAI AUDIT
28 BAYANGAN DI DANAU JENEWA
29 ABU KASTIL CENDRES
30 FAJAR BARU DI CAKRAWALA ALFAREZEL
31 BAYANGAN GENERASI BARU
32 PEMADAMAN TERAKHIR
33 RESONANSI DARI MASA LALU
34 FREKUENSI PENGKHIANATAN
35 PROTOKOL LONDON
36 GEMA DARI ANTARTIKA
37 ARSITEK ANARKI
38 JALUR TIKUS DAN DARAH
39 WARISAN AKSARA YANG TERCECER
40 KEPULANGAN YANG BERDARAH
41 PROTOKOL LONDON
42 BADAI DI TANAH BEKU
43 SISA-SISA KEJAYAAN
44 PENDUDUKAN JAKARTA
45 PERANG PARA PENCIPTA
46 PENJARA DI DASAR DUNIA
47 GERBANG CAKRAWALA
48 NAFAS TERAKHIR GAIA
49 PROTOKOL KIAMAT
50 MEMORI YANG HILANG
51 SANG PENYAMAR
52 JEJAK YANG TERHAPUS
53 TRANSMISI GELAP
54 PERSIMPANGAN TAKDIR
55 TAKHTA DI ATAS AWAN
56 DARATAN YANG BERUBAH
57 PROTOKOL NOL
58 FAJAR DI DUNIA BARU
59 KOMUNITAS DI BALIK KABUT
60 SAMUDERA TANPA NAMA
61 LABIRIN ATACAMA
62 JALAN PULANG YANG LIAR
63 PENYEBERANGAN ATLANTIK
64 REUNI DI SANCTUARIA
65 UTUSAN JARINGAN DEBU
66 JEJAK BESI DI ALPEN
67 PEMECAH ES DI OSLO
68 LABIRIN ES SVALBARD
69 KEBANGKITAN RAKSASA TIDUR
70 MENEMBUS AEGIS WALL
71 SINGGASANA BESI
72 PELARIAN DARI BERLIN
73 ARUS PENGUNGSIAN
74 GERBANG AIR ALPEN
75 KEPULANGAN KE SANCTUARIA
76 UTUSAN DARI TIMUR
77 PENGKHIANATAN DI DALAM
78 PERTAHANAN TERAKHIR SANCTUARIA
79 OPERASI MATAHARI HITAM
80 DUNIA YANG KITA PILIH (END)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
KONTRAK DI ATAS LUKA
2
KAMAR YANG TERBAGI
3
SARAPAN DI ATAS BARA
4
PERJAMUAN BERDARAH DINGIN
5
RAHASIA DI BALIK BRANKAS
6
PUING-PUING PENGKHIANATAN
7
ALIANSI DALAM PELARIAN
8
INTIMASI DI BALIK TEMBOK SAFE HOUSE
9
DEBU JAKARTA DAN RAHASIA BRANKAS TUA
10
LABIRIN BAWAH TANAH
11
PELURU TERAKHIR DAN CAHAYA DI BALIK KONSPIRASI
12
MEMBANGUN DI ATAS ABU
13
OPERASI SINGAPURA — MENGEJAR BAYANG-BAYANG
14
KUNCI EMAS DI BALIK LABIRIN FINANSIAL
15
BADAI DI SELAT MELAKA
16
FAJAR DI KEPULAUAN RIAU
17
TARIAN MAUT DI PHUKET
18
RESIDU DAN RESTORASI — MEMBANGUN ATAS NAMA CINTA
19
MEMULIHKAN JIWA YANG TERCECER
20
RETAKAN PADA DINDING KACA
21
FAKTA DI ZURICH
22
SALJU BERDARAH DI ALPEN
23
RUNTUHNYA IMPERIUM PHOENIX
24
PEMBERSIHAN TERAKHIR
25
RESTRUKTURISASI
26
GEMA DARI MASA DEPAN
27
DI BALIK TIRAI AUDIT
28
BAYANGAN DI DANAU JENEWA
29
ABU KASTIL CENDRES
30
FAJAR BARU DI CAKRAWALA ALFAREZEL
31
BAYANGAN GENERASI BARU
32
PEMADAMAN TERAKHIR
33
RESONANSI DARI MASA LALU
34
FREKUENSI PENGKHIANATAN
35
PROTOKOL LONDON
36
GEMA DARI ANTARTIKA
37
ARSITEK ANARKI
38
JALUR TIKUS DAN DARAH
39
WARISAN AKSARA YANG TERCECER
40
KEPULANGAN YANG BERDARAH
41
PROTOKOL LONDON
42
BADAI DI TANAH BEKU
43
SISA-SISA KEJAYAAN
44
PENDUDUKAN JAKARTA
45
PERANG PARA PENCIPTA
46
PENJARA DI DASAR DUNIA
47
GERBANG CAKRAWALA
48
NAFAS TERAKHIR GAIA
49
PROTOKOL KIAMAT
50
MEMORI YANG HILANG
51
SANG PENYAMAR
52
JEJAK YANG TERHAPUS
53
TRANSMISI GELAP
54
PERSIMPANGAN TAKDIR
55
TAKHTA DI ATAS AWAN
56
DARATAN YANG BERUBAH
57
PROTOKOL NOL
58
FAJAR DI DUNIA BARU
59
KOMUNITAS DI BALIK KABUT
60
SAMUDERA TANPA NAMA
61
LABIRIN ATACAMA
62
JALAN PULANG YANG LIAR
63
PENYEBERANGAN ATLANTIK
64
REUNI DI SANCTUARIA
65
UTUSAN JARINGAN DEBU
66
JEJAK BESI DI ALPEN
67
PEMECAH ES DI OSLO
68
LABIRIN ES SVALBARD
69
KEBANGKITAN RAKSASA TIDUR
70
MENEMBUS AEGIS WALL
71
SINGGASANA BESI
72
PELARIAN DARI BERLIN
73
ARUS PENGUNGSIAN
74
GERBANG AIR ALPEN
75
KEPULANGAN KE SANCTUARIA
76
UTUSAN DARI TIMUR
77
PENGKHIANATAN DI DALAM
78
PERTAHANAN TERAKHIR SANCTUARIA
79
OPERASI MATAHARI HITAM
80
DUNIA YANG KITA PILIH (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!