Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Bab 1 — Malam Ketika Takdir Alisha Direnggut

Hujan turun tanpa ampun malam itu.

Langit seolah pecah, menumpahkan air deras ke jalanan kota, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang berlalu-lalang di depan rumah sakit terbesar di pusat kota. Air mengalir di selokan seperti sungai kecil yang keruh. Angin berhembus dingin, membuat dedaunan bergoyang liar, seakan alam sedang menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya terjadi.

Di ruang tunggu, beberapa keluarga pasien berpelukan, berdoa dalam diam. Bau antiseptik bercampur dengan aroma kopi dari mesin otomatis. Jam dinding berdetak keras, menandai waktu yang berjalan lambat namun pasti.

Di lantai tiga rumah sakit, lorong ruang bersalin penuh aktivitas.

Langkah dokter tergesa. Suara roda ranjang berdecit. Tangisan bercampur doa. Lampu putih terang menyilaukan, memantulkan bayangan orang-orang yang berlalu lalang dengan wajah tegang.

Di kamar VIP paling ujung, seorang perempuan cantik berusia awal tiga puluhan terbaring lemah. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini melekat tak beraturan.

Dialah Helena Mahendra.

Istri dari pengusaha besar Ragendra Mahendra.

Tangannya menggenggam erat seprai putih hingga buku-buku jarinya memucat.

“Aah… sakit sekali… Dokter…”

“Sedikit lagi, Bu Helena. Tarik napas panjang… dorong sekarang!”

Helena berteriak tertahan. Tubuhnya menegang hebat, air mata mengalir di sudut matanya. Dalam benaknya terlintas doa-doa yang ia panjatkan selama sembilan bulan terakhir. Ia telah menanti anak ini dengan penuh harap, setelah dua kali keguguran yang hampir merenggut kewarasannya.

“Anakku… bertahanlah… Mama di sini…” bisiknya lirih di sela rasa sakit yang nyaris merobek kesadarannya.

Di luar ruangan, Ragendra Mahendra berdiri mondar-mandir dengan wajah tegang. Jas mahalnya basah oleh hujan, tapi ia tak peduli. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit acak.

Ia teringat malam ketika Helena menangis di pelukannya setelah dokter mengatakan kemungkinan mereka sulit memiliki keturunan. Ia bersumpah akan menjaga istri dan anaknya dengan apa pun yang ia miliki.

“Anakku… istriku… semoga mereka selamat…” gumamnya, menatap pintu ruang bersalin seolah bisa menembusnya dengan doa.

Di ujung lorong yang lain, suasana sangat berbeda.

Tak ada kamar mewah.

Tak ada sofa empuk.

Tak ada pendingin ruangan yang sunyi.

Hanya tirai tipis, ranjang besi tua, dan bau obat yang menyengat bercampur lembap tembok lama.

Seorang perempuan sederhana bernama Sari Pratiwi terbaring kesakitan. Rambutnya basah oleh keringat, napasnya terengah-engah. Bajunya sederhana, bahkan selimut yang menutupinya tampak tipis.

“Astagfirullah… Budi… sakit sekali…”

Suaminya, Budi, buruh pelabuhan dengan pakaian lusuh dan tangan kasar penuh kapalan, menggenggam tangannya erat.

“Kuat, Ri… sebentar lagi anak kita lahir…”

Air mata Budi jatuh satu-satu. Ia merasa tak berdaya. Upahnya pas-pasan. Bahkan biaya persalinan ini pun ia bayar dengan mencicil dan meminjam sana-sini.

“Kita miskin, tapi aku janji akan kerja mati-matian demi anak kita.”

Sari tersenyum lemah di tengah rasa sakit yang menghantam.

“Asal anak kita sehat… aku sudah bahagia…”

Tak ada yang tahu, anak yang akan lahir ini bukan ditakdirkan hidup miskin.

Jeritan Helena memecah lorong.

“Bayinya keluar!”

Tangisan nyaring menggema di kamar VIP.

Seorang bayi perempuan lahir dengan tubuh mungil bersih, kulit putih kemerahan, dan tangisan lantang penuh tenaga. Jarinya kecil menggenggam udara, seolah menuntut dunia untuk memperhatikannya.

“Selamat, Bu Helena. Putri Anda sehat.”

Air mata Helena langsung mengalir deras. Dunia yang tadi terasa gelap kini dipenuhi cahaya.

“Anakku… putriku…”

Bayi itu diletakkan di dadanya. Sentuhan kulit ke kulit membuat Helena terisak semakin keras.

“Alisha… Mama akan jaga kamu seumur hidup…”

Nama itu terucap spontan dari bibirnya. Nama yang selama ini ia simpan dalam doa.

Di luar ruangan, Ragendra terisak haru saat mendengar tangisan bayi.

“Anakku lahir… Alhamdulillah…”

Ia menutup wajahnya sesaat, menahan luapan syukur.

Tak lama berselang, jeritan lain terdengar dari ujung lorong.

Sari menjerit panjang.

Tangisan bayi kedua menyusul. Namun kali ini tangisnya lebih lirih, lebih rapuh, seperti suara kecil yang takut pada dunia.

“Bayinya perempuan juga…” ujar bidan.

Tubuh bayi itu kecil, kurus, tapi hidup. Tangannya bergerak pelan, napasnya ringan.

Sari menangis bahagia.

“Anakku… anak kita…”

Bagas mengecup kening istrinya dengan tangan gemetar.

“Kita beri nama Alisha Salsa … semoga dia tumbuh sekuat doa kita.”

Sari mengangguk. Dua keluarga berbeda. Dua doa yang sama.

Takdir seolah sengaja mempermainkan segalanya.

Dua bayi perempuan.

Nama yang sama.

Lahir hampir bersamaan.

Hanya dipisahkan beberapa meter dan garis nasib yang tak terlihat.

Di lorong sunyi dekat ruang perawat, seorang wanita berdiri kaku.

Namanya Lilis.

Bukan perawat tetap, hanya tenaga honorer yang sering membantu dorong ranjang dan bersih-bersih. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat.

Di ponselnya ada pesan masuk.

“Sekarang waktunya. Jangan gagal. Setelah selesai, uang langsung ditransfer.”

Pengirimnya: Bram Santoso.

Lilis menelan ludah. Napasnya terasa berat.

Beberapa minggu lalu, Bram menemuinya diam-diam di parkiran rumah sakit.

“Kamu butuh uang, kan? Hutang suamimu banyak. Anakmu sakit.”

Lilis menangis waktu itu. Anak semata wayangnya butuh operasi jantung. Ia sudah menjual motor, menggadaikan cincin pernikahan, bahkan meminjam rentenir.

“Aku mau kerja apa saja asal keluarga saya selamat.”

“Bagus. Cuma satu tugas kecil. Tukar bayi.”

“Gila! Itu dosa besar!”

“Dosa bisa ditebus kalau perut anakmu kenyang.”

Kalimat itu menghantam jantungnya.

Dan sekarang… malam itu telah tiba.

Lilis mendorong boks bayi dari kamar VIP.

Di dalamnya terbaring bayi Helena Mahendra — pewaris kekayaan tak terhingga. Gelang emas kecil melingkar di pergelangan tangannya, tertulis: Alisha Mahendra.

Tangisnya pelan, matanya terpejam damai.

Lilis menahan napas.

“Maafkan aku, Nak…”

Beberapa langkah kemudian, bidan lain mendorong boks bayi dari ruang bersalin biasa.

Bayi Sari Pratiwi.

Tak ada gelang emas. Hanya kertas kecil bertuliskan nama: Alisha Pratiwi.

Lorong itu sepi.

Hanya suara hujan yang menghantam jendela dan sesekali kilat menerangi kaca.

Jantung Lilis berdetak begitu keras seolah akan meledak.

Ia menoleh kanan kiri.

Kosong.

Dengan tangan gemetar, ia membuka kedua boks itu.

Detik terasa seperti jam.

Dunia terasa berhenti.

Perlahan… ia menukar posisi kedua bayi itu.

Bayi Mahendra berpindah ke boks sederhana.

Bayi Pratiwi masuk ke boks VIP.

Gelang emas pun ditukar cepat.

Tangannya bergetar hebat. Air mata jatuh membasahi pipinya.

“Ya Tuhan… ampuni aku…”

Seolah merasakan sesuatu yang salah, bayi di boks VIP menggeliat dan menangis kecil.

Tangisan yang akan dibesarkan dalam kemewahan.

Tangisan yang akan memanggil Mama… pada perempuan yang bukan ibu kandungnya.

Sementara bayi yang seharusnya menjadi pewaris Mahendra tertidur pulas, tak tahu hidup keras menantinya.

Tak lama kemudian, masing-masing bayi dikembalikan ke ibunya.

Helena memeluk bayi yang bukan darah dagingnya dengan penuh cinta.

“Alisha… putri Mama…”

Ragendra masuk dan menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca.

“Dia sempurna… seperti kamu, Helena.”

Di ruang sederhana, Sari memeluk bayi yang seharusnya hidup bergelimang harta.

“Maafkan Ibu kalau hidup kita berat, Nak… tapi Ibu akan mencintaimu sepenuh jiwa…”

Bagas tersenyum walau matanya merah.

“Kita akan berjuang bersama, Alisha.”

Di sudut lorong, Lilis terduduk lemas. Tubuhnya gemetar hebat.

Tak lama kemudian ponselnya bergetar.

Transfer berhasil.

Angka di layar membuatnya terdiam. Uang itu cukup untuk operasi anaknya. Cukup untuk melunasi hutang.

Air mata mengalir deras.

Uang datang.

Tapi dua kehidupan telah tertukar.

Dua takdir telah direnggut.

Dan satu kebohongan besar baru saja lahir bersama hujan malam itu.

Hujan makin deras.

Petir menyambar langit, seakan mengutuk malam penuh dosa itu.

Tak seorang pun di rumah sakit tahu…

Putri Mahendra kini hidup dalam kemiskinan.

Putri sederhana kini dibesarkan sebagai pewaris kaya raya.

Namun waktu adalah saksi yang tak pernah lupa.

Suatu hari nanti…

Kebenaran akan bangkit.

Menghancurkan kebohongan,

membongkar kejahatan Bram Santoso,

Menagih harga mahal atas satu keputusan yang diambil dalam satu malam berhujan.

#bersambung

Episodes
1 Bab 1 — Malam Ketika Takdir Alisha Direnggut
2 Bab 2 — Tumbuh Dalam Kekurangan, Kuat Dalam Doa
3 Bab 3 — Hidup Mewah, Hati Tertutup
4 Bab 4 — Darah yang Membuka Rahasia
5 BAB 5 Jejak yang Sengaja Dihapus
6 BAB 6 Bayangan yang Menghapus Jejak
7 BAB 7 Rahasia yang Mulai Retak
8 BAB 8 Saksi yang Hampir Mati
9 BAB 9 – Pertemuan Takdir di Tengah Bahaya
10 Bab 10 Satu Peluru.
11 Bab 11 Bukan Mahendra.
12 Bab 12 — Nama Baru, Luka Lama
13 Bab 13 – Diculik Lagi
14 Bab 14 — Gudang Tua
15 BAB 15 — Dendam Lama
16 BAB 16 — Jejak Lama
17 Bab 17 — Obsesi
18 Bab 18 — Dalam Bayangan
19 Bab 19 — Rencana
20 Bab 20 — Telepon Misterius
21 Bab 21 — Kecurigaan
22 Bab 22 — Pertolongan
23 Bab 23 — Perintah Baru
24 Bab 24 — Diawasi
25 Bab 25 — Penculikan
26 Bab 26 — Alisha Menghilang
27 Bab 27 — Dua Alisha
28 Bab 28 — Jejak
29 Bab 29 — Terlambat atau Tepat Waktu
30 Bab 30 — Setelah Malam Itu
31 Bab 31 — Rapat Darurat
32 Bab 32 — Target di Luar Rumah
33 Bab 33 — Terlambat Menyadari
34 Bab 34 — Di Balik Semua Ini
35 Bab 35 — Waktu Tidak Banyak
36 Bab 36 — Jejak yang Tertinggal
37 Bab 37 — Selangkah Terlambat
38 Bab 38 — Di Ujung Jalan
39 Bab 39 — Akhir dari Pengejaran
40 Bab 40 — Jawaban yang Ditunggu
41 Bab 41 — Kebenaran yang Tidak Terelakkan
42 Bab 42 — Luka yang Disembunyikan
43 Bab 43 — Pilihan yang Berbahaya
44 Bab 44 — Langkah yang Tidak Bisa Mundur
45 Bab 45 — Tekanan yang Mulai Nyata
46 Bab 46 — Batas yang Mulai Ditegaskan
47 Bab 47 — Penyesuaian yang Tidak Terlihat
48 Bab 48 Mulai Terlihat
49 Bab 49 — Kewaspadaan yang Meningkat
50 Bab 50 — Dari Dalam
51 Bab 51 — Batas yang Dilanggar
52 Bab 52 — Perburuan Dimulai
53 Bab 53 — Pertemuan yang Tidak Terhindarkan
54 Bab 54 — Tekanan yang Mendekat
55 Bab 55 — Bayangan yang Mendekat
56 Bab 56 — Garis yang Tidak Bisa Dilewati
57 Bab 57 — Umpan di Tengah Permainan
58 Bab 58 — Langkah yang Tertinggal
59 Bab 59 — Mencari dan Ditemukan
60 Bab 60 — Perjalanan yang Tertunda
61 Bab 61 — Terlambat Satu Langkah
62 Bab 62 — Di Antara Dua Arah
63 Bab 63 — Hampir Bertemu
64 Bab 64 — Penyelamatan
65 Bab 65 — Kebenaran
66 Bab 66 — Setelah Kebenaran
67 Bab 67 — Jebakan
68 Bab 68 — Akhir
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1 — Malam Ketika Takdir Alisha Direnggut
2
Bab 2 — Tumbuh Dalam Kekurangan, Kuat Dalam Doa
3
Bab 3 — Hidup Mewah, Hati Tertutup
4
Bab 4 — Darah yang Membuka Rahasia
5
BAB 5 Jejak yang Sengaja Dihapus
6
BAB 6 Bayangan yang Menghapus Jejak
7
BAB 7 Rahasia yang Mulai Retak
8
BAB 8 Saksi yang Hampir Mati
9
BAB 9 – Pertemuan Takdir di Tengah Bahaya
10
Bab 10 Satu Peluru.
11
Bab 11 Bukan Mahendra.
12
Bab 12 — Nama Baru, Luka Lama
13
Bab 13 – Diculik Lagi
14
Bab 14 — Gudang Tua
15
BAB 15 — Dendam Lama
16
BAB 16 — Jejak Lama
17
Bab 17 — Obsesi
18
Bab 18 — Dalam Bayangan
19
Bab 19 — Rencana
20
Bab 20 — Telepon Misterius
21
Bab 21 — Kecurigaan
22
Bab 22 — Pertolongan
23
Bab 23 — Perintah Baru
24
Bab 24 — Diawasi
25
Bab 25 — Penculikan
26
Bab 26 — Alisha Menghilang
27
Bab 27 — Dua Alisha
28
Bab 28 — Jejak
29
Bab 29 — Terlambat atau Tepat Waktu
30
Bab 30 — Setelah Malam Itu
31
Bab 31 — Rapat Darurat
32
Bab 32 — Target di Luar Rumah
33
Bab 33 — Terlambat Menyadari
34
Bab 34 — Di Balik Semua Ini
35
Bab 35 — Waktu Tidak Banyak
36
Bab 36 — Jejak yang Tertinggal
37
Bab 37 — Selangkah Terlambat
38
Bab 38 — Di Ujung Jalan
39
Bab 39 — Akhir dari Pengejaran
40
Bab 40 — Jawaban yang Ditunggu
41
Bab 41 — Kebenaran yang Tidak Terelakkan
42
Bab 42 — Luka yang Disembunyikan
43
Bab 43 — Pilihan yang Berbahaya
44
Bab 44 — Langkah yang Tidak Bisa Mundur
45
Bab 45 — Tekanan yang Mulai Nyata
46
Bab 46 — Batas yang Mulai Ditegaskan
47
Bab 47 — Penyesuaian yang Tidak Terlihat
48
Bab 48 Mulai Terlihat
49
Bab 49 — Kewaspadaan yang Meningkat
50
Bab 50 — Dari Dalam
51
Bab 51 — Batas yang Dilanggar
52
Bab 52 — Perburuan Dimulai
53
Bab 53 — Pertemuan yang Tidak Terhindarkan
54
Bab 54 — Tekanan yang Mendekat
55
Bab 55 — Bayangan yang Mendekat
56
Bab 56 — Garis yang Tidak Bisa Dilewati
57
Bab 57 — Umpan di Tengah Permainan
58
Bab 58 — Langkah yang Tertinggal
59
Bab 59 — Mencari dan Ditemukan
60
Bab 60 — Perjalanan yang Tertunda
61
Bab 61 — Terlambat Satu Langkah
62
Bab 62 — Di Antara Dua Arah
63
Bab 63 — Hampir Bertemu
64
Bab 64 — Penyelamatan
65
Bab 65 — Kebenaran
66
Bab 66 — Setelah Kebenaran
67
Bab 67 — Jebakan
68
Bab 68 — Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!