Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Bab 1: Gaun Usang di Pesta Mewah

Mawar yang Tak Layu

Mereka melihat kelopak yang kusam,

Batang yang rapuh, duri yang patah.

Mereka tertawa pada mawar yang layu,

Tak sadar akarnya mencengkeram tanah paling dalam.

Karena mawar sejati tak pernah mati,

Ia hanya menunggu waktu untuk mekar kembali.

Dan saat kelopak baru terbuka,

Duri-durinya akan menusuk lebih tajam dari sebelumnya.

— Alana Wijaya

---

Malam itu, lampu kristal di ballroom Hotel Imperium berpendar seperti ribuan bintang jatuh. Para elit Jakarta berjejalan dalam balutan sutra dan berlian, gelas-gelas kristal berdenting merayakan kesepakatan-kesepakatan besar yang lahir di belakang pintu tertutup. Di sudut ruangan, seorang wanita berdiri sendiri, memegang gelas champagne yang tak pernah ia sentuh.

Alana Wijaya mengenakan gaun muslin warna gading—model tiga tahun lalu, jahitan di bagian pinggang mulai longgar karena sering dicuci. Satu-satunya gaun pesta yang tersisa setelah ayahnya meninggal dan kreditor menyita lemari pakaiannya. Rambutnya hanya disanggul sederhana tanpa satu pun perhiasan. Di lehernya, hanya ada kalung perak tipis pemberian ibunya sebelum wanita itu pergi untuk selamanya.

"Apa-apaan itu? Kayak nyasar dari pasar malam."

Tawa cempreng memecah keheningan di sekeliling Alana. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Viola Santoso—sahabatnya sejak SMA, wanita yang kini setiap malam tidur di ranjang suaminya.

"Hei, Alana! Aku kira lo bakal dateng pake gaun anyar dari Milan. Atau lo masih nyicil utang jahit?" Viola tertawa, menarik lengan seorang pria di sampingnya. Richard Hartanto, suami Alana, berdiri dengan setelan Armani navy, wajahnya tampan dan dingin seperti patung marmer.

Beberapa pasang mata mulai melirik. Di kalangan atas, gosip adalah bumbu yang lebih lezat daripada caviar.

Alana menegakkan bahu. Senyum tipis mengukir bibirnya—bukan senyum malu, tapi senyum yang hanya ia sendiri pahami artinya.

"Viola," sapanya lembut. "Kukira kau akan sibuk malam ini. Biasanya kau sibuk di... dalam." Ia menekuk lidah pada kata 'dalam' dengan sangat halus, hanya cukup untuk membuat Viola sedikit salah tingkah.

Richard mengerutkan dahi. "Alana, jangan memulai."

"Memulai apa, Sayang?" Alana menatap suaminya dengan mata bulat polos. "Aku hanya bilang Viola biasanya sibuk. Sibuk mengurusi bisnisnya sendiri, maksudku." Senyumnya masih merekah.

Viola mendesis pelan. Wanita itu membalas dengan menjulurkan lengan lebih erat ke siku Richard. "Aku dateng bareng Richard karena ada urusan bisnis, Alana. Bukan semua orang bisa rebahan di rumah sambil ngelamun kayak lo."

Serangan itu menyayat, tapi Alana sudah kebal. Tiga tahun ia hidup di rumah yang sama dengan dua orang yang berselingkuh di belakang punggungnya. Tiga tahun ia berpura-pura tidak tahu. Luka seperti ini sudah seperti garukan kucing.

"Aku tahu," jawab Alana tenang. "Kau memang selalu sibuk dengan urusan... bisnis."

Mata Richard berkilat peringatan. "Alana, kenapa kau tidak pulang saja? Ini acara untuk investor, bukan arisan."

Tepat, pikir Alana. Ini acara untuk investor. Dan itulah satu-satunya alasan ia datang.

Sejak ayahnya meninggal, Alana telah mempelajari setiap nama, setiap wajah, setiap portofolio para pemodal besar di negeri ini. Ia tahu siapa yang suka investasi jangka panjang, siapa yang doyan ambil risiko, siapa yang bisa didekati lewat jalur emosional, dan siapa yang hanya bisa diluluhkan dengan angka.

Di ruangan ini, ada setidaknya tujuh orang yang ingin ia temui.

"Baik, aku akan pulang sebentar lagi," ucapnya lembut. "Hanya ingin menghirup udara di sini sebentar."

Viola mendengus. "Jangan terlalu lama. Takut gaun lo robek."

Mereka pergi bergandengan tangan, meninggalkan Alana sendiri di sudut. Tapi wanita itu tidak merasa sendiri. Matanya terus bergerak, memindai ruangan seperti radar.

Di sebelah bar, pria tua berkacamata—Mr. Tanuwijaya, pemilik dana pensiun terbesar. Ia suka kopi hitam tanpa gula dan koleksi lukisan Affandi. Ayahku pernah menjual satu lukisan padanya.

Di dekat panggung, wanita dengan kebaya encim—Ibu Lies, investor properti yang terkenal kejam dalam negosiasi tapi lembut pada anak yatim. Ia baru saja kehilangan suami. Mungkin butuh teman bicara.

Di pojok sofa kulit, pria muda dengan tatapan tajam—Nathan Pramana. CEO Pramana Group. Usianya baru 34, tapi portofolionya mencakup teknologi, pertambangan, dan media. Ia tidak pernah muncul di acara seperti ini. Apa yang ia cari?

Alana menghela napas. Ia menyesap champagne yang dinginnya sudah hilang. Lidahnya merasakan getir yang familiar—getirnya hidup yang tak berpihak.

Tiga tahun lalu, ia duduk di kursi empuk sebagai putri tunggal Wijaya Group. Ayahnya, Hendra Wijaya, adalah raja properti yang disegani. Alana tumbuh dengan les piano, sekolah internasional, dan gaun-gaun dari Paris. Ia adalah putri yang manis, yang patuh, yang tak pernah membantah.

Lalu semuanya runtuh dalam satu minggu. Ayahnya meninggal karena serangan jantung. Seminggu kemudian, kreditor datang. Ternyata ayahnya memiliki utang miliaran—investasi bodong yang ditutup-tutupi oleh mitra bisnisnya. Rumah disita, mobil dilelang, rekening dibekukan. Alana yang selama 23 tahun hidup dalam gelembung emas, tiba-tiba harus berhadapan dengan dunia nyata.

Richard muncul seperti pangeran dalam dongeng kacau. Ia adalah mantan pacar SMA yang dulu ia tolak. Kini Richard adalah pengusaha muda yang sukses, tampan, dan penuh perhatian. Ia menawarkan pernikahan, stabilitas, dan perlindungan.

Alana menerima. Bukan karena cinta—cinta telah lama mati sejak SMA—tapi karena ia butuh tempat berlindung. Ia butuh waktu untuk memulihkan diri.

Dua tahun pertama baik-baik saja. Richard memberinya rumah yang layak, uang belanja, dan kebebasan. Tapi kemudian Viola datang. Sahabatnya yang sejak SMA selalu iri pada Alana, mulai sering berkunjung. Terlalu sering.

Dan Alana, yang tadinya buta, mulai melihat. Sepatu hak tinggi di lorong tengah malam. Suara tawa dari kamar tamu. Wangi parfum Viola di baju Richard.

Ia tahu. Ia tahu persis. Tapi ia diam.

Bukan karena bodoh, bukan karena takut kehilangan Richard. Tapi karena ia sedang menyusun sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar membongkar perselingkuhan.

Di balik lemari pakaiannya yang nyaris kosong, Alana menyembunyikan sebuah buku catatan tebal. Isinya: daftar nama, catatan keuangan, bukti transfer, dan rencana demi rencana. Ia telah mempekerjakan Lucas Tan, mantan karyawan ayahnya yang jenius komputer, untuk menyusup ke sistem perusahaan Richard. Ia tahu persis berapa banyak uang yang dikorupsi Richard dari sisa-sisa aset ayahnya. Ia punya bukti perselingkuhan berupa foto dan rekaman suara.

Ia mengumpulkan semuanya seperti semut mengumpulkan remah—diam-diam, tekun, tanpa suara.

Karena Alana tidak ingin sekadar balas dendam. Ia ingin membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia ingin duduk di kursi yang dulu diduduki ayahnya. Ia ingin namanya kembali disebut dengan hormat, bukan dengan iba.

Dan malam ini, di pesta mewah ini, ia mulai bergerak.

---

Pria tua di bar itu baru saja mengangkat gelasnya saat Alana mendekat.

"Mr. Tanuwijaya," sapanya lembut. "Selamat malam."

Pria itu menoleh, matanya sedikit menyipit. "Siapa, ya?"

"Alana Wijaya. Putri Hendra Wijaya."

Ada kilatan di mata Mr. Tanuwijaya—antara ingatan dan kehati-hatian. "Ah, Hendra. Saya dengar kabar duka. Turut berduka, Nak."

"Terima kasih, Pak. Ayah selalu bercerita tentang Bapak. Katanya, Bapak kolektor lukisan Affandi yang paling berdedikasi."

Mr. Tanuwijaya tersenyum kecil. "Dia yang menjualkan saya lukisan 'Perahu di Bengawan' itu. Harga bagus. Sayang, Hendra pergi terlalu cepat."

Alana mengangguk pelan. "Ayah bilang, Bapak orang yang tepat jika ingin berinvestasi jangka panjang. Tidak tergiur keuntungan cepat."

"Kamu paham investasi?"

"Sedikit-sedikit, Pak. Ayah mengajari saya sebelum beliau... pergi."

Mereka berbincang tentang lukisan, tentang pasar seni, tentang properti. Alana tidak terburu-buru menawarkan apa pun. Ia hanya membangun koneksi, membangun kepercayaan. Di akhir percakapan, Mr. Tanuwijaya memberikan kartu nama.

"Kalau ada waktu, mampir ke kantor. Saya ingin dengar cerita lebih lanjut tentang rencana kamu."

Alana menyimpan kartu itu seperti harta karun.

---

Selanjutnya, ia mendekati Ibu Lies. Wanita paruh baya itu duduk sendiri di sofa, tatapannya kosong menatap lampu kristal. Alana duduk di sampingnya tanpa permisi.

"Ibu kehilangan seseorang, ya?"

Ibu Lies menoleh, kaget. "Maaf, kita kenal?"

"Alana Wijaya. Saya juga kehilangan ayah tiga tahun lalu." Ia tersenyum tipis. "Aku tahu tatapan itu. Tatapan orang yang bertanya-tanya: 'Kenapa dunia masih berputar padahal duniamu berhenti?'"

Mata Ibu Lies berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa, tapi tangannya meraih tangan Alana. Mereka duduk diam selama beberapa menit.

"Ayahmu Hendra?" bisik Ibu Lies akhirnya.

Alana mengangguk.

"Dia orang baik. Suamiku dulu kerja sama dengannya." Ibu Lies menghela napas. "Hidup ini memang tidak adil, Nak."

"Tapi kita bisa membuatnya sedikit lebih adil, Bu. Dengan terus hidup, terus berjuang."

Ibu Lies menatap Alana lama. "Kamu perempuan yang kuat."

Alana tersenyum. Bukan karena bangga, tapi karena ia tahu: satu lagi koneksi terjalin.

Pria muda di sofa kulit itu masih duduk di tempat yang sama ketika Alana akhirnya mendekatinya. Nathan Pramana. Ia tidak minum, tidak berbincang dengan siapa pun, hanya sesekali melirik arloji.

"Mr. Pramana?"

Nathan menoleh. Matanya dingin, menyapu Alana dari ujung rambut sampai ujung gaun lusuhnya. "Ya?"

"Alana Wijaya." Ia mengulurkan tangan.

Nathan menjabatnya sebentar, lalu melepaskan. "Ada perlu?"

Langsung, to the point. Alana suka itu.

"Saya ingin bicara soal investasi."

Nathan nyaris tertawa. Matanya kembali menatap gaun Alana. "Dengan penampilan seperti ini? Maaf, Nona, ini bukan tempat penggalangan dana."

Alana tidak tersinggung. Ia justru tersenyum. "Penampilan bisa dibeli, Mr. Pramana. Tapi otak dan koneksi tidak. Saya punya keduanya."

Nathan menatapnya lebih lama. Ada sesuatu di mata wanita ini—bukan keputusasaan, tapi tekad. Tekad yang dingin dan terukur.

"Lanjutkan."

"Saya ingin membangun kembali Wijaya Group. Saya punya daftar investor potensial, studi kelayakan, dan rencana bisnis. Saya hanya butuh satu orang seperti Anda untuk membuka pintu pertama."

"Dan saya dapat apa?"

"Keuntungan 20 persen lebih besar dari pasar, plus akses eksklusif ke proyek properti di kawasan timur Jakarta yang akan booming dalam tiga tahun."

Nathan mengangkat alis. "Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan."

"Karena belum ada yang mempercayai saya." Alana tersenyum pahit. "Tapi Anda berbeda. Anda dikenal sebagai investor yang berani mengambil risiko pada ide-ide gila."

"Kau baca profilku?"

"Aku membaca semua profil investor di ruangan ini."

Nathan terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat—bukan senyum, tapi awal dari rasa ingin tahu.

"Berikan aku proposal dalam dua minggu. Kalau bagus, kita bicara lebih lanjut."

Alana mengangguk. "Terima kasih atas waktunya."

Saat ia berbalik, Nathan memanggil. "Nona Wijaya."

Ia menoleh.

"Gaun itu..." Nathan menjeda. "Jangan ganti. Kadang penampilan sederhana bisa menjadi kelebihan. Orang tidak akan curiga."

Alana tersenyum. Kali ini sungguh-sungguh.

Di ujung ruangan, Richard dan Viola masih bergandengan tangan, tertawa dengan tamu lain. Viola sesekali melirik ke arah Alana, heran melihat wanita itu berbincang dengan Mr. Tanuwijaya, Ibu Lies, bahkan Nathan Pramana.

"Lihat tuh," bisik Viola pada Richard. "Dia mulai caper lagi."

Richard mengerutkan dahi. "Biarkan saja. Paling cuma ngemis minta kerjaan."

Tapi ada sesuatu di dada Richard yang tak nyaman. Alana yang ia kenal selama tiga tahun terakhir adalah wanita lemah, penurut, dan sedikit bodoh. Tapi malam ini, di balik gaun usang itu, ada sorot mata yang berbeda.

Sorot mata yang tidak bisa ia baca.

Malam semakin larut. Satu per satu tamu mulai pulang. Alana masih berdiri di sudut yang sama, menikmati keheningan setelah hiruk-pikuk. Di tangannya, tiga kartu nama tersimpan rapi di saku gaun—tiga pintu yang mulai terbuka.

Viola mendekat tanpa suara. "Lo masih di sini? Gaun lo bikin malu, tau nggak?"

Alana menoleh, senyum tipis menghiasi bibir. "Maaf, aku akan segera pergi. Ada yang bisa aku bantu?"

Viola mendengus. "Bantu? Bantu apa? Lo bahkan nggak punya uang buat bantu diri lo sendiri."

Alana diam sejenak. Lalu, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar Viola, ia berbisik:

"Aku tahu, Vi."

Viola mengerutkan dahi. "Tahu apa?"

"Tahu soal kamu dan Richard. Tahu selama tiga tahun ini. Tahu setiap kali kamu pakai sepatu hak tinggi dan berjalan ke kamar tamu. Tahu setiap kali kamu pinjam bajuku dan mengembalikannya dengan wangi parfum yang berbeda."

Viola membeku. Wajahnya berubah pucat, lalu merah.

"Lo—lo gila?"

"Mungkin." Alana tersenyum lembut, seperti tersenyum pada anak kecil. "Tapi orang gila kadang lebih berbahaya daripada orang waras, Vi. Ingat itu."

Ia menepuk bahu Viola pelan, lalu melangkah meninggalkan ballroom. Gaun usangnya berkibar lembut ditiup AC, namun punggungnya tegak seperti ratu yang baru saja menaklukkan istana.

Di luar, hujan turun rintik-rintik. Alana berdiri di bawah kanopi hotel, menunggu taksi. Ia tidak punya sopir, tidak punya mobil. Hanya dirinya sendiri dan tiga kartu nama di saku.

Taksi berhenti. Ia masuk, menyebutkan alamat rumah yang bukan lagi rumah—hanya bangunan tempat ia tidur, tempat ia berpura-pura tidak tahu, tempat ia menyusun strategi.

Di dalam taksi, ia membuka buku catatan kecil dari tasnya. Di halaman baru, ia menulis:

Nathan Pramana - proposal 2 minggu. Mr. Tanuwijaya - kopi minggu depan. Ibu Lies - ajak arisan bulanan.

Malam ini: tiga langkah maju.

Ia menutup buku, menatap hujan di luar jendela. Genangan air di jalan memantulkan lampu-lampu kota, berkilauan seperti berlian palsu.

Alana tersenyum. Mawar ini mulai mekar kembali.

Dan durinya sudah siap menusuk.

---

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

Terpopuler

Comments

gaby

gaby

Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus

2026-02-26

3

Qonita

Qonita

Ceritanya Bagus. semangat Thor. Biarlah ANJING Menggonggong merasa ceritabta di jiplak tapi ku liat ceritanya kok yg baca dikit ya wakakakaka .....🤣🤣🤣

2026-03-12

1

Osie

Osie

mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏

2026-02-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Gaun Usang di Pesta Mewah
2 Bab 2: Suamiku, Sahabatku, Rumahku
3 Bab 3: Warisan Terakhir Ayah
4 Bab 4: Cek Kosong dan Harga Diri
5 Bab 5: Investor Misterius di Klub Elit
6 Bab 6: Lukaku, Mahkotaku
7 Bab 7: Pakaian Bekas dan Rencana Besar
8 Bab 8: Pukulan Pertama dari Bayangan
9 Bab 9: Viola Mulai Curiga
10 Bab 10: Tawaran dari Nathan
11 Arch 2: DURI MULAI TUMBUH
12 BAB 12: GAUN BARU, KEKUASAAN BARU
13 BAB 13: CINTA PALSU, TOPENG RUNYUH
14 Bab 14: Investor Berlutut
15 Bab 15: Viola Gagal Mendekat
16 Bab 16: Pukulan Telak Pertama
17 Bab 17: Mawar dan Racun
18 Bab 18: Saat Predator Datang Meminta pada Mangsa
19 Bab 19: Viola Menghasut
20 Bab 20: Nathan Mendekat
21 BAB 21: RUPS LUAR BIASA
22 Bab 22: Richard Jatuh dari Singgasana
23 Bab 23: Viola Berteriak di Kamar Mandi
24 Bab 24: Lukai Aku, Kuangkat Dirimu
25 Bab 25: Nathan Mengaku
26 Bab 26: Perusahaan Kembali ke Tangan yang Tepat
27 Bab 27: Richard Minta Maaf?
28 Bab 28: Viola Datang dengan Air Mata
29 Bab 29: Pencobaan
30 BAB 30: Surat dari Masa Lalu
31 Bab 31: Richard Bersekutu dengan Musuh
32 BAB 32: VIOLA KEMBALI DENGAN SENJATA BARU
33 Bab 33: Alana Jatuh Lagi?
34 Bab 34: Nathan Turun Tangan
35 Bab 35: Alana Bangkit Lagi
36 Bab 36: Malam Para Serigala
37 BAB 37: MALAM ITU
38 Bab 38: Viola Terbakar Ambisinya Sendiri
39 Bab 39: Nathan dan Jujur
40 Bab 40: Cinta di Tengah Reruntuhan
41 Bab 41: Senyum Terakhir di Ruang Sidang
42 Bab 42.VIOLA PAMIT
43 BAB 43: ALANA MEMAAFKAN?
44 Bab 44: Masa Depan Perusahaan
45 Bab 45: Nathan Melamar?
46 BAB 46: Alana Menjawab
47 BAB 47: BAYANGAN MASA LALU
48 BAB 48: FINAL SHOWDOWN
49 Bab 49: Halaman Baru
50 Bab 50: Saat Duri Berubah Mahkota
51 BAB SPESIAL: JEMBATAN MENUJU SEASON 2
52 Season 2 MAWAR BERDURI: DARAH DI MAHKOTA
53 SEASON 2 — 1: "WANITA BERBAJU MERAH"
54 SEASON 2 — BAB 2: "Rahasia di Lemari Ayah"
55 SEASON 2 — BAB 3: "NATHAN MENYELIDIKI"
56 SEASON 2 — BAB 4 “Kartika Menyerang Media”
57 season 2 : BAB 5: Lucas dalam Tekanan
58 SEASON 2 — BAB 6: "PERTEMUAN RAHASIA"
59 Season 2 BAB 7: "Dimas Masuk"
60 SEASON 2 — BAB 8: "ALANA VS KARTIKA DI PENGADILAN PUBLIK"
61 SEASON 2 – BAB 9: "NATHAN DICULIK?" (HOOK)
62 SEASON 2 – BAB 10: "Ivan Menampakkan Diri"
63 BAB 11: "Nathan Kembali"
64 Season 2 Bab 12: "Kartika dan Dimas"
65 SEASON 2 – BAB 13: "Lucas Menyerah pada Godaan"
66 SEASON 2 – BAB 14: "ALANA CURIGA"
67 SEASON 2 – BAB 15: "RENCANA IVAN"
68 SEASON 2 – BAB 16: "Ivan dan Dimas: Masa Lalu"
69 SEASON 2 BAB 17: "ALANA MENYERANG BALIK"
70 SEASON 2 – BAB 18: "KEJUTAN KARTIKA"
71 SEASON 2 BAB 19: "NATHAN TURUN TANGAN"
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1: Gaun Usang di Pesta Mewah
2
Bab 2: Suamiku, Sahabatku, Rumahku
3
Bab 3: Warisan Terakhir Ayah
4
Bab 4: Cek Kosong dan Harga Diri
5
Bab 5: Investor Misterius di Klub Elit
6
Bab 6: Lukaku, Mahkotaku
7
Bab 7: Pakaian Bekas dan Rencana Besar
8
Bab 8: Pukulan Pertama dari Bayangan
9
Bab 9: Viola Mulai Curiga
10
Bab 10: Tawaran dari Nathan
11
Arch 2: DURI MULAI TUMBUH
12
BAB 12: GAUN BARU, KEKUASAAN BARU
13
BAB 13: CINTA PALSU, TOPENG RUNYUH
14
Bab 14: Investor Berlutut
15
Bab 15: Viola Gagal Mendekat
16
Bab 16: Pukulan Telak Pertama
17
Bab 17: Mawar dan Racun
18
Bab 18: Saat Predator Datang Meminta pada Mangsa
19
Bab 19: Viola Menghasut
20
Bab 20: Nathan Mendekat
21
BAB 21: RUPS LUAR BIASA
22
Bab 22: Richard Jatuh dari Singgasana
23
Bab 23: Viola Berteriak di Kamar Mandi
24
Bab 24: Lukai Aku, Kuangkat Dirimu
25
Bab 25: Nathan Mengaku
26
Bab 26: Perusahaan Kembali ke Tangan yang Tepat
27
Bab 27: Richard Minta Maaf?
28
Bab 28: Viola Datang dengan Air Mata
29
Bab 29: Pencobaan
30
BAB 30: Surat dari Masa Lalu
31
Bab 31: Richard Bersekutu dengan Musuh
32
BAB 32: VIOLA KEMBALI DENGAN SENJATA BARU
33
Bab 33: Alana Jatuh Lagi?
34
Bab 34: Nathan Turun Tangan
35
Bab 35: Alana Bangkit Lagi
36
Bab 36: Malam Para Serigala
37
BAB 37: MALAM ITU
38
Bab 38: Viola Terbakar Ambisinya Sendiri
39
Bab 39: Nathan dan Jujur
40
Bab 40: Cinta di Tengah Reruntuhan
41
Bab 41: Senyum Terakhir di Ruang Sidang
42
Bab 42.VIOLA PAMIT
43
BAB 43: ALANA MEMAAFKAN?
44
Bab 44: Masa Depan Perusahaan
45
Bab 45: Nathan Melamar?
46
BAB 46: Alana Menjawab
47
BAB 47: BAYANGAN MASA LALU
48
BAB 48: FINAL SHOWDOWN
49
Bab 49: Halaman Baru
50
Bab 50: Saat Duri Berubah Mahkota
51
BAB SPESIAL: JEMBATAN MENUJU SEASON 2
52
Season 2 MAWAR BERDURI: DARAH DI MAHKOTA
53
SEASON 2 — 1: "WANITA BERBAJU MERAH"
54
SEASON 2 — BAB 2: "Rahasia di Lemari Ayah"
55
SEASON 2 — BAB 3: "NATHAN MENYELIDIKI"
56
SEASON 2 — BAB 4 “Kartika Menyerang Media”
57
season 2 : BAB 5: Lucas dalam Tekanan
58
SEASON 2 — BAB 6: "PERTEMUAN RAHASIA"
59
Season 2 BAB 7: "Dimas Masuk"
60
SEASON 2 — BAB 8: "ALANA VS KARTIKA DI PENGADILAN PUBLIK"
61
SEASON 2 – BAB 9: "NATHAN DICULIK?" (HOOK)
62
SEASON 2 – BAB 10: "Ivan Menampakkan Diri"
63
BAB 11: "Nathan Kembali"
64
Season 2 Bab 12: "Kartika dan Dimas"
65
SEASON 2 – BAB 13: "Lucas Menyerah pada Godaan"
66
SEASON 2 – BAB 14: "ALANA CURIGA"
67
SEASON 2 – BAB 15: "RENCANA IVAN"
68
SEASON 2 – BAB 16: "Ivan dan Dimas: Masa Lalu"
69
SEASON 2 BAB 17: "ALANA MENYERANG BALIK"
70
SEASON 2 – BAB 18: "KEJUTAN KARTIKA"
71
SEASON 2 BAB 19: "NATHAN TURUN TANGAN"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!