Rahasia Di Saung Langit

Rahasia Di Saung Langit

Pemukulan Yang Tiba Tiba

Sore itu, desa tampak tenang, seolah tidak ada yang salah dengan dunia. Sawah menguning terhampar luas, angin berhembus pelan, dan langit berwarna jingga keunguan, menandakan matahari akan segera tenggelam. Namun bagi Aroel Mahardika, semuanya terasa salah. Tangannya mengepal, dadanya sesak, dan setiap langkah menuju Saung Langit membawa perasaan tidak nyaman yang tak bisa ia jelaskan.

Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang kedatangannya. bahkan sahabat lamanya Rahman,Bintang, asistennya yang paling dekat. juga sopirnya tidak tahu ia meninggalkan kota hari itu. Satu-satunya alasan yang ia rasakan sendiri ada sesuatu yang belum selesai di desa ini, sesuatu yang terus menghantuinya sejak lima tahun lalu.

Saung Langit berdiri di tengah sawah, sederhana tapi kukuh. Papan kayunya mengelupas di beberapa sisi, dan atapnya sudah mulai bocor. Tapi bagi Aroel, Saung Langit lebih dari sekadar bangunan tua. Ia merasa tempat itu menunggu—menunggu seseorang yang akan kembali, atau menunggu kesalahan lama untuk ditebus.

Ia duduk di lantai kayu saung, menutup mata sejenak. Angin sore menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan padi yang hampir matang. Ia merasa pernah duduk di sini sebelumnya, dalam posisi yang sama, mendengar suara angin yang sama, merasakan ketenangan yang sama… sebelum semuanya berubah.

Langkah kaki terdengar di luar, lembut tapi pasti. Aroel menoleh cepat. Di pematang sawah, seorang bocah laki-laki berdiri. Usianya sekitar lima atau enam tahun, mengenakan baju sederhana yang sedikit berantakan. Rambutnya tidak rapi, wajahnya biasa saja, tapi ada sesuatu yang membuat jantung Aroel berdegup tidak wajar,tatapan bocah itu.

Bocah itu menatapnya lama. Tidak takut ,juga tidak penasaran. Hanya menatap, seperti sedang menilai, atau menunggu. Aroel merasa tersinggung, tapi juga sedikit takut. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Ada apa?” suaranya akhirnya pecah, lebih keras dari yang ia maksud.

Bocah itu tetap diam. Tidak bergerak, tidak berkedip.

Aroel menelan ludah. “Apa kamu… melihat saya kemarin?” tanyanya spontan.

Sekali lagi, bocah itu tidak menjawab. Hanya menoleh perlahan, lalu berjalan menjauh, tanpa menoleh lagi.Aroel menegakkan badan, menghela napas panjang. “Anak ini aneh,” gumamnya. “Tidak ada yang datang tanpa alasan di sini, tapi dia…”

Ia tidak sempat menyelesaikan pikirannya. Sekejap kemudian, sebuah hantaman keras menghantam belakang kepalanya.

Tidak ada suara. Tidak ada bayangan. Hanya ledakan rasa sakit yang meledak dari tengkuk hingga pelipisnya. Tubuhnya limbung. Lututnya menyentuh papan kayu dengan keras. Ia berusaha meraih sesuatu… tapi yang ia sentuh hanya udara.

Sawah di depannya berputar liar. Angin yang tadi tenang kini terdengar seperti amukan. Ia mencoba berdiri… tapi kepalanya berdenyut terlalu keras. Tubuhnya jatuh lagi. Dunia menjadi gelap.

Ketika ia membuka mata, malam telah turun. Lampu minyak di rumah kayu sederhana itu menyala redup, menebarkan cahaya hangat yang membuat bayangan menari di dinding papan. Aroma minyak kayu putih menusuk hidungnya, bercampur dengan bau kayu lembap.

Seorang wanita duduk di sampingnya, wajahnya pucat tapi tegas, tangannya memegang kain kompres untuk mengusap darah yang mengering di kepala Aroel.

“Sudah sadar?” tanyanya lembut.

Aroel mencoba duduk, rasa sakit membuatnya meringis. “Siapa… yang memukul saya?” suaranya berat, parau, tapi penuh tekanan.

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu menjawab pelan. “Saya tidak tahu. Waktu saya sampai, Anda sudah tergeletak.”

“Tidak mungkin… cuma begitu saja,” balas Aroel, suaranya meninggi meski ia berusaha menahannya. “Saya datang sendiri. Tidak ada yang tahu saya di Saung Langit… jadi siapa yang berani melakukan ini?”

Wanita itu menunduk sejenak, seperti sedang menimbang kata-kata. “Saya… tidak melihat siapa pun. Tidak ada orang.”

Jawaban itu terlalu singkat. Terlalu datar. Terlalu wajar. Dan justru itu yang membuat darah Aroel mendidih.

Ia menatap wanita itu dengan mata menyala. “Tidak ada orang? Tidak ada siapa pun?”

Wanita itu hanya mengangguk perlahan. “Tidak ada.”

Di luar rumah, suara anak kecil terdengar tertawa sebentar. Cepat. Singkat. Lalu hilang.

Aroel menoleh ke arah jendela. Kosong. Hanya kegelapan. Angin malam menggerakkan dedaunan, menimbulkan suara gesekan yang aneh di telinga.

Wajah bocah yang ia lihat sore tadi muncul lagi di pikirannya. Tatapan itu. Diam. Tenang. Seolah tahu lebih banyak dari yang seharusnya diketahui anak seusianya.

Aroel menarik napas panjang. Tubuhnya lelah, kepalanya sakit, tapi rasa penasaran dan marah menyatu menjadi energi tajam. Ia sadar satu hal:

Di desa ini, sesuatu sedang menunggu.

Dan ia belum siap.

Keesokan harinya, Aroel memutuskan kembali ke Saung Langit. Hatinya keras, tapi langkahnya berat. Setiap papan yang ia injak mengeluarkan suara berderit. Angin pagi membawa aroma padi basah, tapi juga rasa was-was yang aneh.

Ia melihat warga desa mulai bekerja. Beberapa memandangi dirinya dengan wajah datar, tapi ada yang matanya mengintip tajam dari kejauhan. Tidak ada yang mendekat. Tidak ada yang menanyakan keadaan semalam. Semua seolah menyimpan rahasia.

“Kenapa semua orang diam?” gerutu Aroel, suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup untuk dirinya sendiri. “Apa yang kalian sembunyikan?”

Ia berjalan mendekati pematang sawah, dan di sana,lagi-lagi bocah itu muncul. Berdiri, diam, menatapnya. Kali ini lebih dekat. Kali ini Aroel bisa melihat jelas mata gelap bocah itu, tajam dan penuh arti.

Aroel melangkah cepat. “Kamu…! Apa maksudmu muncul di sini setiap kali saya datang?”

Anak itu tetap diam. Tidak mundur. Tidak bicara. Sekadar menatap.

Frustrasi Aroel memuncak. Ia hampir ingin menjerit, menuntut jawaban, memaksa bocah itu berbicara. Tapi sebelum ia sempat melakukan apa pun, wanita yang merawatnya semalam muncul dari arah rumah.

“Aroel! Jangan!” teriaknya.

Refleks Aroel menoleh. Dalam sepersekian detik, bocah itu mundur beberapa langkah. Tatapannya berubah,bukan takut, tapi kecewa.

“Anak ini… apa yang dia lakukan?!” bentak Aroel, suaranya sudah pecah.

Wanita itu terlihat panik. “Dia cuma anak kecil!”

“Anak kecil? Anak kecil yang muncul di tempat saya dipukul!” teriak Aroel, marah bercampur bingung. Beberapa warga mulai menoleh, tapi tetap diam. Tatapan mereka bukan netral,ada penilaian, ada sesuatu yang tidak diucapkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa ini, Aroel merasa… mungkin ia bukan tamu.

Mungkin desa ini sedang menunggu sesuatu darinya. Sesuatu yang belum ia selesaikan. Sesuatu yang mungkin lima tahun lalu ia tinggalkan begitu saja.

Angin meniup padi, membuat suara gesekan di telinga semakin menekan. Langit mulai gelap, tapi rasa tegang tidak berkurang. Di mata Aroel, Saung Langit tidak lagi hanya tempat tua di tengah sawah. Itu adalah saksi.

Saksi dari semua rahasia yang belum terungkap.

Dan ia tahu, malam ini, sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Wawan

Wawan

Semangat... ✍️

2026-05-05

0

lihat semua
Episodes
1 Pemukulan Yang Tiba Tiba
2 Bocah Penuh Misteri
3 Bayangan Silam
4 Tatapan Tajam Sang Putri
5 Munculnya Bocah Misterius di Pasar
6 Mencari Jawaban
7 Kecurigaan tanpa Dasar
8 Konflik Tak Berdarah
9 Pertemuan Sahabat Lama
10 Pencarian di pelosok
11 Pertemuan Tak Di sengaja
12 Malam Yang Mengintai
13 Putri Tiba Tiba Muncul
14 Ancaman di Balik Bayangan
15 Jejak Teror
16 Kepercayaan yang Rapuh
17 Ujian Kepercayaan
18 Tidak Bisa Lari Terus
19 Kepercayaan Putri Mulai Terbuka
20 Negosiasi Yang Gagal
21 Antara Jebakan Atau Jalan Keluar
22 Kopi Manis Sang Putri
23 Benih benih Asmara
24 Kejujuran Membuka Jalan
25 Sisi Yang Sama
26 Jejak Jejak Luar
27 Bayangan Yang Mendekat
28 Ketegangan Yang sengit
29 Kehadiran Bocah misterius secara tiba-tiba
30 Amarah Sang Bos
31 Wajah Yang Menjadi Misteri
32 Misteri Bocah 10 Tahun
33 Kepergian Bocah Misterius
34 Panggilan yang Disepakati
35 Tekanan Yang Abu abu
36 Rasa yang Tidak Bisa Dijelaskan
37 Retakan yang kembali berbicara
38 Bayangan Tanpa Nama
39 Tekanan Yang Mencekik Perlahan
40 Tangan yang Lebih Besar
41 Pergerakan Senyap Yang Misterius
42 Retakan Senyap
43 Serangan Tanpa Bayangan
44 Bayangan Mulai di Cari
45 Titik Curiga
46 Permainan Senyap
47 Wajah Yang Terlalu mirip
48 Bayang Putri Melintas samar
49 Kesalah Fahaman yang Tertunda
50 Tawa Yang Pecah di Pingir jalan
51 Mencari Jejak Ingatan
52 Langkah Yang Di perhitungkan
53 Sejauh Satu Langkah
54 Naluri Sang Ayah
55 Kepanikan Herman Mulai Terasa
56 Kabar yang Tidak Mereka Ketahui
57 Wajah Wajah Baru
58 Bayangan Mulai Bergerak
59 Ambisi Yang Tak pernah padam
60 Ambisi dan Dendam
61 Malam yang Mengubah Segalanya
62 Tangan Yang Menyelamatkan
63 Awal Sebuah Bayangan
64 Bayaangan dari Masa lalu
65 Bayaran Untuk kematian
66 Pemburuan Yang Gagal
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Pemukulan Yang Tiba Tiba
2
Bocah Penuh Misteri
3
Bayangan Silam
4
Tatapan Tajam Sang Putri
5
Munculnya Bocah Misterius di Pasar
6
Mencari Jawaban
7
Kecurigaan tanpa Dasar
8
Konflik Tak Berdarah
9
Pertemuan Sahabat Lama
10
Pencarian di pelosok
11
Pertemuan Tak Di sengaja
12
Malam Yang Mengintai
13
Putri Tiba Tiba Muncul
14
Ancaman di Balik Bayangan
15
Jejak Teror
16
Kepercayaan yang Rapuh
17
Ujian Kepercayaan
18
Tidak Bisa Lari Terus
19
Kepercayaan Putri Mulai Terbuka
20
Negosiasi Yang Gagal
21
Antara Jebakan Atau Jalan Keluar
22
Kopi Manis Sang Putri
23
Benih benih Asmara
24
Kejujuran Membuka Jalan
25
Sisi Yang Sama
26
Jejak Jejak Luar
27
Bayangan Yang Mendekat
28
Ketegangan Yang sengit
29
Kehadiran Bocah misterius secara tiba-tiba
30
Amarah Sang Bos
31
Wajah Yang Menjadi Misteri
32
Misteri Bocah 10 Tahun
33
Kepergian Bocah Misterius
34
Panggilan yang Disepakati
35
Tekanan Yang Abu abu
36
Rasa yang Tidak Bisa Dijelaskan
37
Retakan yang kembali berbicara
38
Bayangan Tanpa Nama
39
Tekanan Yang Mencekik Perlahan
40
Tangan yang Lebih Besar
41
Pergerakan Senyap Yang Misterius
42
Retakan Senyap
43
Serangan Tanpa Bayangan
44
Bayangan Mulai di Cari
45
Titik Curiga
46
Permainan Senyap
47
Wajah Yang Terlalu mirip
48
Bayang Putri Melintas samar
49
Kesalah Fahaman yang Tertunda
50
Tawa Yang Pecah di Pingir jalan
51
Mencari Jejak Ingatan
52
Langkah Yang Di perhitungkan
53
Sejauh Satu Langkah
54
Naluri Sang Ayah
55
Kepanikan Herman Mulai Terasa
56
Kabar yang Tidak Mereka Ketahui
57
Wajah Wajah Baru
58
Bayangan Mulai Bergerak
59
Ambisi Yang Tak pernah padam
60
Ambisi dan Dendam
61
Malam yang Mengubah Segalanya
62
Tangan Yang Menyelamatkan
63
Awal Sebuah Bayangan
64
Bayaangan dari Masa lalu
65
Bayaran Untuk kematian
66
Pemburuan Yang Gagal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!