The Instant Obsession

The Instant Obsession

Bab 1: Bubur Ayam dan Tatapan Pertama

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, menciptakan siluet gedung-gedung pencakar langit yang tampak kontras dengan hiruk-pikuk di bawahnya. Damian Nicholas baru saja menyelesaikan rapat panjang yang menguras energi. Alih-alih pulang ke rumah mewahnya yang sepi, ia memutuskan untuk memarkirkan mobil sport-nya agak jauh dan berjalan kaki menikmati udara sore.

Damian bukan pria kaya biasa yang hanya tahu restoran berbintang lima. Baginya, kebahagiaan terkadang ada pada kesederhanaan yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit unlimited-nya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah kedai bubur ayam pinggir jalan yang cukup ramai. Aroma kaldu gurih dan kerupuk yang baru digoreng menggelitik indra penciumannya. Tanpa ragu, pria dengan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi itu duduk di salah satu kursi plastik yang tersedia.

"Satu porsi, Pak. Enggak pakai kacang," ucap Damian ramah kepada penjualnya.

Sambil menunggu, pandangan Damian menyapu sekeliling. Saat itulah, dunianya seolah berhenti berputar sejenak.

Di sudut kedai, seorang gadis sedang sibuk membantu sang penjual mencuci mangkuk kotor. Gadis itu mengenakan kaos oblong pudar dan celana kain sederhana. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan, meninggalkan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang tanpa riasan.

Meski penampilannya sangat sederhana—bahkan cenderung terlihat kekurangan—ada sesuatu pada gadis itu yang memaku mata Damian. Cara gadis itu tersenyum pada pelanggan, ketulusan di matanya, dan keanggunan yang tetap terpancar meski ia sedang bekerja kasar.

"Ini mas, buburnya," suara penjual membuyarkan lamunan Damian.

Damian berdeham, mencoba bersikap normal, namun matanya tetap melirik ke arah gadis itu. "Pak, gadis yang di sana itu... siapa ya? Saudaranya?" tanya Damian pelan.

"Oh, itu Selene, Mas. Kasihan dia, anak rantau yang rajin sekali. Kadang bantu-bantu di sini buat cari tambahan makan. Orangnya baik sekali, Mas," jawab si bapak penjual sambil tersenyum bangga.

Selene. Nama yang indah, pikir Damian.

Damian yang biasanya dikelilingi wanita-wanita sosialita bergaun mewah dan tas bermerek, merasa jantungnya berdegup berbeda kali ini. Ia merasa telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada koleksi jam tangan mewahnya di rumah.

Damian menyesap sendok demi sendok bubur panas di hadapannya, namun indra perasanya seolah mati rasa. Fokusnya tercurah sepenuhnya pada satu titik: Selene.

Gadis itu baru saja mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu melempar senyum lebar kepada seorang anak kecil yang lewat di depan kedai. Di bawah siraman cahaya langit jingga yang mulai meredup, senyum Selene tampak berkilau—seperti emas yang ditemukan di tengah tumpukan jerami.

"Seumur hidupku, aku membayar jutaan hanya untuk melihat senyum artifisial di pesta-pesta mewah. Tapi ini? Senyum ini gratis, tapi rasanya jauh lebih mahal," batin Damian.

Cahaya matahari terbenam itu seolah menjadi spotlight alami yang menyapu wajah Selene, mempertegas garis wajahnya yang klasik dan anggun meski dibalut kesederhanaan. Damian menyesap buburnya lebih lambat dari biasanya, sengaja mengulur waktu agar bisa tetap berada di kursi plastik keras itu lebih lama.

Damian tertegun. Ia merasa seperti baru saja dipukul telak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan yang mematikan. Gadis itu—Selene—benar-benar menyerang hatinya tanpa ampun hanya dengan sebuah tawa kecil saat ia mengikat kembali rambut hitamnya yang berantakan.

Sejujurnya, Damian sering bertemu wanita yang jauh lebih "sempurna" secara visual. Wanita yang menghabiskan ribuan dolar untuk perawatan kulit dan gaun rancangan desainer ternama. Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu membuat jantung Damian berdegup kencang hingga terasa sesak di dada seperti ini.

Selene adalah anomali. Dia adalah kekacauan indah di tengah hidup Damian yang terlalu teratur.

"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Damian dalam hati, matanya masih terpaku pada sosok yang kini sedang mengelap meja kayu di ujung kedai.

Damian merasa konyol. Bagaimana mungkin seorang CEO yang dikenal bertangan besi bisa mendadak tak berkutik hanya karena melihat seorang gadis "miskin" mencuci mangkuk di bawah langit senja? Tapi itulah kenyataannya.

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm

2026-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bubur Ayam dan Tatapan Pertama
2 Bab 2: Tamu Tak Diundang dan Bayangan Senja
3 Bab 3: Rahasia di Balik Kegelapan
4 Bab 4: Rahasia di Balik Nama
5 Bab 5: Mentari di Wajah Sang Monster
6 Bab 6: Dunia yang Berhenti Berputar
7 Bab 7: Tamu Tak Diundang di Panti Asuhan
8 Bab 8: Candu Bernama Selene
9 Bab 9: Jaring Sang Predator
10 Bab 10: Kekhawatiran Liora Selene
11 Bab 11: Topeng Sang Predator
12 Bab 12: Kayuhan Sepeda dan Skenario Baru
13 Bab 13: Rahasia di Balik Dompet Sederhana
14 Bab 14: Tamu di Bawah Atap yang Sama
15 Bab 15: Cemburu yang Terselubung
16 Bab 16: Kecemburuan Sang "Ratu" Panti
17 Bab 17: Kesunyian Setelah Keriuhan
18 Bab 18: Dinding yang Berbisik
19 Bab 19: Strategi Pagi Sang Pemangsa
20 Bab 20: Si Licik
21 Bab 21: Candu yang Tertinggal
22 Bab 22: Serigala yang Terluka
23 Bab 23: Wilayah Kekuasaan Nicholas
24 Bab 24: Hiburan Sang Predator
25 Bab 25: Penonton yang Dingin
26 Bab 26: Strategi Sang Predator
27 Bab 27: Negosiasi di Meja Berdarah
28 Bab 28: Interupsi Sang Asisten
29 Bab 29: Sang Pewaris dan Obsesi yang Meledak
30 Bab 30: Tarikan Magnetik dalam Kegelapan
31 Bab 31: Kemenangan damian
32 Bab 32: Tawanan di Balik Kemudi
33 Bab 33: Pertemuan Tak Terduga di Rak Supermarket
34 Bab 34: Hujan dan Dinding yang Dingin
35 Bab 35: Sisi Lain Sang Predator
36 Bab 36: Sentuhan di Balik Tirai Hujan
37 Bab 37: Tahta di Pangkuan Sang Penguasa
38 Bab 38: Penyatuan di Tengah Badai
39 Bab 39: Senyum Sang Serigala
40 Bab 40: Badai di Dalam Rumah
41 Bab 41: Benih Hasutan
42 Bab 42: Pertemuan Para Penguasa
43 Bab 43: Di Balik Pintu Kedap Suara
44 Bab 44: Di Bawah Tatapan Iba
45 Bab 45: Antara Hidup dan Mati
46 Bab 46: Pertemuan Tak Terduga di Bangsal Perawatan
47 Bab 47: Air Mata Sang Serigala
48 Bab 48: Sisi Lain Sang Predator
49 Bab 49: Ruang di Balik Restu
50 Bab 50: Gema Sirine di Menara Kaca
51 Bab 51: Batas Waktu Sang Penjaga
52 Bab 52: Penjaga Fajar
53 Bab 53: Penjaga di Ambang Pintu
54 Bab 54: Jejak Merah di Kulit Porselen
55 Bab 55: Ambisi Sang Serigala dan Hadiah Tak Terduga
56 Bab 56: Perjamuan Berdarah di Balik Bayang-Bayang
57 Bab 57: Roda Kenangan di Bawah Sinar Mentari
58 Bab 58: Segel di Jari Manis
59 Bab 59: Ciuman Pencuri di Tepi Danau
60 Bab 60: Ambang Batas Hasrat Sang Serigala
61 Bab 61: Sang Serigala yang Ingin Dijinakkan
62 Bab 62: Sisa Gairah di Bawah Langit Jingga
63 Bab 63: Embun Pagi dan Sisa "Pertempuran" Malam
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Bab 1: Bubur Ayam dan Tatapan Pertama
2
Bab 2: Tamu Tak Diundang dan Bayangan Senja
3
Bab 3: Rahasia di Balik Kegelapan
4
Bab 4: Rahasia di Balik Nama
5
Bab 5: Mentari di Wajah Sang Monster
6
Bab 6: Dunia yang Berhenti Berputar
7
Bab 7: Tamu Tak Diundang di Panti Asuhan
8
Bab 8: Candu Bernama Selene
9
Bab 9: Jaring Sang Predator
10
Bab 10: Kekhawatiran Liora Selene
11
Bab 11: Topeng Sang Predator
12
Bab 12: Kayuhan Sepeda dan Skenario Baru
13
Bab 13: Rahasia di Balik Dompet Sederhana
14
Bab 14: Tamu di Bawah Atap yang Sama
15
Bab 15: Cemburu yang Terselubung
16
Bab 16: Kecemburuan Sang "Ratu" Panti
17
Bab 17: Kesunyian Setelah Keriuhan
18
Bab 18: Dinding yang Berbisik
19
Bab 19: Strategi Pagi Sang Pemangsa
20
Bab 20: Si Licik
21
Bab 21: Candu yang Tertinggal
22
Bab 22: Serigala yang Terluka
23
Bab 23: Wilayah Kekuasaan Nicholas
24
Bab 24: Hiburan Sang Predator
25
Bab 25: Penonton yang Dingin
26
Bab 26: Strategi Sang Predator
27
Bab 27: Negosiasi di Meja Berdarah
28
Bab 28: Interupsi Sang Asisten
29
Bab 29: Sang Pewaris dan Obsesi yang Meledak
30
Bab 30: Tarikan Magnetik dalam Kegelapan
31
Bab 31: Kemenangan damian
32
Bab 32: Tawanan di Balik Kemudi
33
Bab 33: Pertemuan Tak Terduga di Rak Supermarket
34
Bab 34: Hujan dan Dinding yang Dingin
35
Bab 35: Sisi Lain Sang Predator
36
Bab 36: Sentuhan di Balik Tirai Hujan
37
Bab 37: Tahta di Pangkuan Sang Penguasa
38
Bab 38: Penyatuan di Tengah Badai
39
Bab 39: Senyum Sang Serigala
40
Bab 40: Badai di Dalam Rumah
41
Bab 41: Benih Hasutan
42
Bab 42: Pertemuan Para Penguasa
43
Bab 43: Di Balik Pintu Kedap Suara
44
Bab 44: Di Bawah Tatapan Iba
45
Bab 45: Antara Hidup dan Mati
46
Bab 46: Pertemuan Tak Terduga di Bangsal Perawatan
47
Bab 47: Air Mata Sang Serigala
48
Bab 48: Sisi Lain Sang Predator
49
Bab 49: Ruang di Balik Restu
50
Bab 50: Gema Sirine di Menara Kaca
51
Bab 51: Batas Waktu Sang Penjaga
52
Bab 52: Penjaga Fajar
53
Bab 53: Penjaga di Ambang Pintu
54
Bab 54: Jejak Merah di Kulit Porselen
55
Bab 55: Ambisi Sang Serigala dan Hadiah Tak Terduga
56
Bab 56: Perjamuan Berdarah di Balik Bayang-Bayang
57
Bab 57: Roda Kenangan di Bawah Sinar Mentari
58
Bab 58: Segel di Jari Manis
59
Bab 59: Ciuman Pencuri di Tepi Danau
60
Bab 60: Ambang Batas Hasrat Sang Serigala
61
Bab 61: Sang Serigala yang Ingin Dijinakkan
62
Bab 62: Sisa Gairah di Bawah Langit Jingga
63
Bab 63: Embun Pagi dan Sisa "Pertempuran" Malam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!