Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Kartu Undangan

Aku bersandar pada kepala ranjang kamarku. Air mataku terus berderai tanpa bisa kutahan. Hidungku sudah memerah sejak tadi, dadaku terasa sesak—sakit yang begitu dalam hingga napasku pun terasa berat. Tanganku bergetar saat memegang kartu undangan itu. Nama Satya dan Raisya tertulis jelas di sana, seolah menertawakanku dalam diam.

“Sakit…” ucapku lirih sambil mengusap dadaku sendiri.

Tubuhku terasa rapuh. Seolah semua harapan yang pernah kupupuk kini runtuh tak bersisa, berganti dengan rasa perih yang tak sanggup kujelaskan. Aku benar-benar mengira perasaanku pada Satya akan terbalas. Nyatanya tidak. Satya tidak mencintaiku—ia mencintai sahabatku sendiri, Raisya.

Tok tok tok.

“Sandra, ibu boleh masuk, Nak?” suara ibu terdengar pelan dari balik pintu kamarku yang terkunci.

“Masuk aja, Bu,” jawabku lirih.

Ibu melangkah pelan menghampiriku. Tangannya langsung memelukku erat, mengusap punggungku dengan lembut. Aku tahu, ibu ikut merasakan luka yang kini bersarang di dadaku.

“Kalau nggak kuat, nggak usah datang besok,” ucap ibu lembut. “Biar ibu saja yang salamin pada Satya dan Raisya. Bilang kalau kamu lagi sakit.”

Aku menggeleng pelan, meski air mataku kembali jatuh. Tanganku menggenggam tangan ibu, mencoba menunjukkan bahwa aku masih bisa berdiri—meski sebenarnya hampir runtuh.

“Sandra kuat, Bu,” ucapku pelan. “Asal ibu sama ayah temanin Sandra ke sana.”

Aku menarik napas, menahan isak.

“Raisya sama Kak Satya itu sahabat Sandra, Bu. Masa Sandra nggak datang? Nanti mereka sedih.” Dadaku kembali sesak. “Yang salah itu Sandra. Sandra yang terlalu berharap. Sandra yang salah mengartikan perhatian Kak Satya.”

Suaraku bergetar.

“Ternyata perhatian itu cuma sebatas sahabat… dan aku hanya adik kelas baginya.”

Aku jatuh hati pada Satya sejak kami duduk di semester empat. Aku mengagumi caranya bersikap—tenang, berwibawa, cerdas. Sebenarnya aku sudah mengenalnya sejak SMA. Ia kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang selalu dikelilingi banyak pengagum di kalangan wanita.

Tak kusangka, takdir mempertemukan kami lagi di bangku kuliah. Kami berada di kelas yang sama, Program Studi Manajemen Bisnis. Satya bergabung lebih lambat karena mengambil program double degree—lebih dulu menempuh jurusan teknik sebelum melanjutkan ke Manajemen Bisnis.

Kedekatan kami dimulai dari sebuah acara amal untuk korban banjir. Kerja sama sederhana, obrolan ringan, kepedulian yang sama terhadap orang lain—perlahan jarak itu menghilang. Dan sejak saat itu, aku tak lagi bisa menyangkal perasaanku sendiri.

Di waktu yang sama, Raisya—sahabatku sedekat nadi sejak SMP—ikut bergabung dalam lingkaran itu.

Kami melewati begitu banyak momen bersama. Mengerjakan laporan, nongkrong tanpa tujuan, tertawa tanpa beban. Aku terlalu larut hingga tak pernah curiga bahwa hati Satya justru tertambat pada Raisya—wanita anggun dan agamis itu.

Kenangan itu membuat napasku tersengal. Aku meraih buku diary-ku, membuka lembar demi lembar hingga tanganku berhenti pada satu halaman. Sebuah foto—aku, digendong Satya.

Dadaku kembali nyeri.

Aku membaca tulisanku sendiri.

Diary-ku, Sandra Anindita

Laki-laki berbahu kokoh itu menggendongku dengan tegap di punggungnya. Satya Mahesa.

Malam itu Raisya mengabarinya—asmaku kambuh saat kami mengerjakan tugas di kontrakannya. Beberapa jam sebelumnya aku sudah merasakan gejalanya, tapi kuabaikan. Hingga akhirnya aku hampir tak sadarkan diri karena sulit bernapas.

Kontrakan Raisya sepi. Ayah dan ibu tak bisa dihubungi. Raisya panik, lalu meminta bantuan Satya yang sedang magang. Ia datang dengan wajah cemas, tanpa banyak bicara langsung menggendongku menuju IGD. Di dalam mobil, tangan kirinya menggenggam tanganku erat—seolah menyalurkan kekuatan agar aku bertahan.

Aku menutup buku diary itu. Dadaku semakin sesak. Semua kenangan ini harus kukubur. Semua perasaan ini harus kuakhiri.

Siang tadi.

Raisya tersenyum manis padaku. Ia memelukku erat, lalu dengan wajah berbinar memamerkan cincin di jari manisnya. Aku terkejut—sangat. Namun aku tetap memeluknya, mengucapkan selamat berkali-kali, meski hatiku hancur perlahan.

“Maaf ya, Dra,” ucapnya lembut. “Aku baru ngabarin kamu. Bulan lalu Kak Satya melamarku.”

Deg.

Dunia seakan berhenti berputar. Dadaku terasa kosong, napasku tercekat.

Di situlah aku sadar—bukan Satya yang kehilangan aku.

Akulah yang harus belajar merelakan, meski hatiku belum siap.

Terpopuler

Comments

Daulat Pasaribu

Daulat Pasaribu

seri cerita nya diawal

2026-04-14

0

Lembayung Bercerita

Lembayung Bercerita

sabar ya sandra

2026-03-25

1

lihat semua
Episodes
1 Kartu Undangan
2 hari pernikahan Satya dan Raisya
3 Sandra & Sandrina
4 Ada apa dengan Raisya
5 Tawaran Perjodohan
6 Antara tunang & Akad
7 SAH (di dalam duka)
8 8
9 Pelakor?
10 Drina sakit
11 Berita yang beredar
12 Mama Ndra adalah Mama Sekarang
13 Sarapan Sederhana
14 Tumbang
15 Panik
16 Setitik Perhatian
17 Peduli Denganku
18 Pagi yang Berbeda
19 Kamar lama
20 Kejutan dari ibu
21 Honeymoon
22 Canggung tapi Nyaman
23 Beri Aku Waktu
24 Baby Kenzo
25 Luka luar dalam
26 Luka luar dalam 2
27 Kotak Diary
28 Sebagai suami atau Kakak?
29 Sakit Perut
30 Hari biasa tak sepenuhnya biasa
31 Kotak Kecil Beludru Merah
32 Cincin Bermata Satu
33 Pindah
34 Akal-Akalan Sandra
35 Ponsel Tertingal
36 Lanjutkan Apa Yang Tertunda
37 Hilang Akal di Buatnya
38 Foto yang Menyesakan Dada
39 Kisah Cinta Candra Anindita dan Nazrudin
40 Satya Pulang
41 Akhirnya Meledak
42 Perasaan Tak Terbalas
43 Gara-Gara Cicak
44 Masih Pagi Sudah di Obrak Abrik Perasaan.
45 Demam Vs Nafsu
46 Telpon Dari Lufita
47 Malam Kedua Sebagai Hukuman
48 Satya Demam
49 Kopi Manis Dari Orang Termanis
50 Teguran
51 Sadar akan Dosa
52 Marahan Tapi Pisang Joni Terbangun
53 Mood Sayang Kembali
54 Pagi Yang Agresif
55 Di Puji Cantik
56 Sayang Gak Perlu Diungkapkan
57 Jangan Pasif Sandra
58 Sandra Berbunga-bunga
59 Apakah Harus Menyerah
60 Berharap itu Menyakitkan
61 Benih Premium Hadiah Spesial
62 Kenapa Aku Tidak Diajak
63 Aku Menyerah
64 Dia hadir disaat hubungan retak
65 Semangkuk Bubur Kacang Ijo dan Isak Tangis
66 Jadi Siapa Yang Paling Sakit Hati.
67 Kecelakaan
68 Kucing Imut
69 Jadi Siapa Yang Paling Sakit
70 Pirasat Buruk
71 Pria Pavorit
72 Tujuh Bulan
73 Anak Surga
74 Mencintaimu
75 Rencana
76 Resepsi
77 Kado Terbaik Semoga dia Bertahan
78 Dan Terjadi Lagi
79 Maukah kamu Berbagi Suami
80 Kepergian Sandrina
81 Jebakan
82 Menyambut Kelahiran
83 Kaizan Alvaro Mahesa Si Anak Kuat
84 Mau Punya Anak yang Banyak
85 Kembalinya Sandrina
86 Akhir yang Bahagia
87 Penikahan yang lahir dari luka
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Kartu Undangan
2
hari pernikahan Satya dan Raisya
3
Sandra & Sandrina
4
Ada apa dengan Raisya
5
Tawaran Perjodohan
6
Antara tunang & Akad
7
SAH (di dalam duka)
8
8
9
Pelakor?
10
Drina sakit
11
Berita yang beredar
12
Mama Ndra adalah Mama Sekarang
13
Sarapan Sederhana
14
Tumbang
15
Panik
16
Setitik Perhatian
17
Peduli Denganku
18
Pagi yang Berbeda
19
Kamar lama
20
Kejutan dari ibu
21
Honeymoon
22
Canggung tapi Nyaman
23
Beri Aku Waktu
24
Baby Kenzo
25
Luka luar dalam
26
Luka luar dalam 2
27
Kotak Diary
28
Sebagai suami atau Kakak?
29
Sakit Perut
30
Hari biasa tak sepenuhnya biasa
31
Kotak Kecil Beludru Merah
32
Cincin Bermata Satu
33
Pindah
34
Akal-Akalan Sandra
35
Ponsel Tertingal
36
Lanjutkan Apa Yang Tertunda
37
Hilang Akal di Buatnya
38
Foto yang Menyesakan Dada
39
Kisah Cinta Candra Anindita dan Nazrudin
40
Satya Pulang
41
Akhirnya Meledak
42
Perasaan Tak Terbalas
43
Gara-Gara Cicak
44
Masih Pagi Sudah di Obrak Abrik Perasaan.
45
Demam Vs Nafsu
46
Telpon Dari Lufita
47
Malam Kedua Sebagai Hukuman
48
Satya Demam
49
Kopi Manis Dari Orang Termanis
50
Teguran
51
Sadar akan Dosa
52
Marahan Tapi Pisang Joni Terbangun
53
Mood Sayang Kembali
54
Pagi Yang Agresif
55
Di Puji Cantik
56
Sayang Gak Perlu Diungkapkan
57
Jangan Pasif Sandra
58
Sandra Berbunga-bunga
59
Apakah Harus Menyerah
60
Berharap itu Menyakitkan
61
Benih Premium Hadiah Spesial
62
Kenapa Aku Tidak Diajak
63
Aku Menyerah
64
Dia hadir disaat hubungan retak
65
Semangkuk Bubur Kacang Ijo dan Isak Tangis
66
Jadi Siapa Yang Paling Sakit Hati.
67
Kecelakaan
68
Kucing Imut
69
Jadi Siapa Yang Paling Sakit
70
Pirasat Buruk
71
Pria Pavorit
72
Tujuh Bulan
73
Anak Surga
74
Mencintaimu
75
Rencana
76
Resepsi
77
Kado Terbaik Semoga dia Bertahan
78
Dan Terjadi Lagi
79
Maukah kamu Berbagi Suami
80
Kepergian Sandrina
81
Jebakan
82
Menyambut Kelahiran
83
Kaizan Alvaro Mahesa Si Anak Kuat
84
Mau Punya Anak yang Banyak
85
Kembalinya Sandrina
86
Akhir yang Bahagia
87
Penikahan yang lahir dari luka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!