Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

BAB 1: KARUNG TERAKHIR

DARAH mengalir di sela jari Dullah.

Bukan darah musim tanam—luka terkena pacul atau tergores duri. Tapi darah dari kepala bocah laki-laki yang dipeluknya erat. Darah yang meleleh pelan, hangat, bercampur air mata.

Dari dalam kereta kencana, Datuk Maringgih melihat semuanya.

Kereta itu berhenti di tepi jalan setapak. Dua kuda putih gemuk mengibas-ngibaskan ekor, tidak sabar melanjutkan perjalanan. Kusir di depan menggenggam cambuk, menunggu perintah. Tapi Datuk Maringgih diam. Tangannya yang bersarungkan cincin berlian—lima butir, hadiah dari saudagar India—menggenggam jendela kereta sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sudah kubilang jangan macam-macam dengan petugas Kompeni."

Suara itu. Dingin. Tenang. Seperti sedang memberi kuliah.

Laki-laki berbaju putih dengan lencana VOC di dada itu berdiri tegap. Dua orang pengawal di sampingnya—serdadu dengan senapan terhunus. Di belakang mereka, pintu gudang cengkih menganga lebar, siap menelan apa pun yang tersisa dari panen rakyat.

"Karung itu sudah masuk hitungan." Laki-laki itu melanjutkan, suaranya tidak pernah naik. "Kau sembunyikan, berarti kau curang pada Kompeni."

Dullah berlutut. Darah bocah di pelukannya menetes ke tanah kering. Anak itu—mungkin enam atau tujuh tahun—terisak pelan, tapi berusaha keras tidak berteriak.

"Tuan... dia cuma anak kecil. Dia tak tahu apa-apa. Dia hanya takut papanya dipukul—"

"Aku tidak memukul." Potong laki-laki itu. "Aku hanya mengingatkan. Dengan cara yang perlu diingat."

---

Datuk Maringgih menarik napas.

Tiga puluh enam tahun. Sudah tiga puluh enam tahun ia hidup di dunia ini. Tiga puluh enam tahun ia habiskan untuk berdagang—naik turun gunung, berlayar ke seberang, tidur di gudang, bangun sebelum subuh. Tiga puluh enam tahun dan belum sekalipun ia punya waktu untuk beristri. Belum sekalipun ia punya anak yang bisa dipeluk.

Sekarang, melihat anak orang lain berdarah, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dada.

Bukan karena dagangannya sepi. Itu urusan lain. Gudangnya sendiri tetap berjalan karena ia punya perkebunan rempah luas—cengkih, lada, pala—yang dikelola puluhan pekerja. Ia tidak butuh petani lain untuk survive. Dagangannya tetap jalan meski tak satu pun petani datang menjual hasil bumi.

Tapi ini soal lain.

Ini soal anak kecil berdarah. Ini soal perempuan kehilangan suara. Ini soal kemanusiaan yang diinjak-injak.

Ini bukan urusanku.

Pikirannya berbisik. Suara yang selama ini membuatnya selamat.

Tapi matanya tidak bisa berpaling.

Istri Dullah. Perempuan itu berlari dari arah kampung, kain basah di tangan—mungkin baru selesai mencuci di sungai. Ia berhenti beberapa langkah dari tempat suaminya berlutut. Kain jatuh dari genggaman. Mulutnya terbuka. Tapi suara tidak keluar.

Laki-laki berbaju putih menoleh. Menatap perempuan itu sebentar. Lalu kembali pada Dullah.

"Besok, semua petani wajib serahkan sisa panen. Aku akan datang sendiri memeriksa. Yang ketahuan sembunyi..." Ia menjeda. Tersenyum. "...tidak hanya anaknya yang terluka."

---

Dunia berputar lambat.

Datuk Maringgih melihat semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan: Dullah yang memeluk anaknya lebih erat. Istri Dullah yang akhirnya berlari, menjatuhkan diri di samping suaminya. Tangannya meraih kepala bocah itu, gemetar, lalu melolong. Lolongan yang tidak seperti manusia. Lolongan yang hanya keluar dari rahim perempuan yang melihat darah anaknya sendiri.

Dan laki-laki berbaju putih itu? Ia berbalik. Melangkah menuju kudanya. Sama sekali tidak terganggu.

"Tuan!" Dullah berteriak. Suaranya pecah. "Tunggu, Tuan! Karungnya... karung itu saya kasih! Saya tidak sembunyi! Saya hanya... hanya minta satu karung buat anak saya makan—"

Laki-laki itu berhenti. Tidak menoleh.

"Anakmu?" Suaranya terdengar, datar. "Anakmu bukan urusan Kompeni. Urusan Kompeni adalah cengkih. Semua cengkih."

Ia naik ke kuda. Pengawal mengikuti. Tapal kuda menghentak tanah, meninggalkan debu dan darah dan tangis.

---

Pintu kereta terbuka sebelum Datuk Maringgih sadar ia sudah mendorongnya.

Kakinya menginjak tanah. Sepatu kulitnya—buatan Eropa, pesanan khusus—tenggelam dalam debu. Tapi ia tidak peduli. Ia berjalan. Melewati kuda-kudanya yang mendengus heran. Melewati kusir yang terperangah. Menuju Dullah yang masih berlutut di tempat yang sama, seolah akar telah tumbuh dari lututnya ke dalam tanah.

"Pak Dullah!"

Ia berjongkok. Sutra bajunya menyapu tanah. Napasnya memburu. Tapi semua itu lenyap saat melihat kepala bocah itu.

Luka. Lebar. Darah masih mengalir. Mungkin kena gagang senapan. Mungkin sengaja dihantam.

"Kami... kami tidak punya apa-apa lagi, Datuk." Suara Dullah keluar seperti bisikan orang sekarat. Matanya kosong. Menatap sesuatu yang tidak ada. "Satu karung... saya minta satu karung. Buat anak saya. Dia belum makan sejak kemarin. Cuma minum air. Saya kira mereka... saya kira mereka akan mengerti."

Istri Dullah tidak bicara. Ia merobek ujung kainnya, membalut kepala anaknya dengan gerakan otomatis. Tangannya terampil, tapi matanya... matanya kosong. Melihat ke tempat tanpa orang.

Datuk Maringgih merogoh saku. Tangannya gemetar.

"Ini." Ia mengeluarkan sekantung uang. "Bawa anak kau ke dukun. Beli obat. Beli makan."

Dullah menatap kantong itu. Lalu menatap Datuk Maringgih. Lalu menangis.

Bukan menangis biasa. Tapi menangis dengan seluruh tubuh. Bahunya terangkat, dadanya sesak, air mata bercampur ingus dan debu. Ia meraih tangan Datuk Maringgih—tangan bersarungkan berlian—dan menciumnya.

"Jangan." Datuk Maringgih menarik tangannya cepat. "Jangan lakukan itu."

"Datuk... Datuk penyelamat kami..."

"Aku bukan penyelamat siapa-siapa." Datuk Maringgih berdiri. Ia mundur setengah langkah. "Aku cuma... aku cuma tidak tega."

---

Malam turun perlahan.

Datuk Maringgih duduk di beranda rumahnya. Rumah besar dengan pilar-pilar kayu ukir. Halaman luas dengan lampu-lampu minyak di tiap sudut. Tapi rumah ini kosong. Hanya ada ia dan para pembantu. Tidak ada istri yang menunggu. Tidak ada anak yang berlari menyambut.

Tiga puluh enam tahun. Dan ia memilih begini.

Di tangannya, secangkir kopi. Pahit. Seperti yang dulu selalu ia minum bersama Sulaiman.

Sulaiman.

Nama itu muncul lagi. Pagi tadi, sebelum kejadian di gudang, ia mendengar kabar. Dari pedagang di pasar. Sulaiman sekarang pengelola gudang VOC. Sulaiman yang tentukan harga. Sulaiman yang teken aturan.

Dan anak buah Sulaiman yang memukul anak Dullah.

Apakah Sulaiman tahu? pikirnya. Atau anak buahnya bertindak sendiri?

---

Kilas balik datang tanpa diundang.

Sembilan tahun lalu. Malam-malam di beranda rumah Maringgih yang sudah mulai besar—tidak sekecil dulu, tapi belum semegah sekarang.

Sulaiman duduk di kursi bambu. Kopi di tangan. Wajahnya lebih tua dari usianya, matanya sembab, bajunya lusuh. Ia menunduk dalam-dalam.

"Aku minta maaf, Ringih. Aku... aku kehilangan semuanya."

Maringgih—waktu itu masih dua puluh tujuh tahun—diam. Menatap kawannya yang hancur.

"Kapalku karam di selat. Barang dagangan habis. Aku berhutang ke sana-sini. Sekarang mereka tagih. Aku... aku tidak punya apa-apa lagi, Ringih."

Sulaiman menangis. Laki-laki dewasa menangis di depan kawannya.

Maringgih muda berdiri. Masuk ke dalam rumah. Keluar dengan sekantung uang.

"Ini."

Sulaiman menatap kantong itu. Matanya melebar. Tangan gemetar menerima.

"Ringih... ini terlalu banyak. Ini... ini semua tabunganmu?"

"Kau kawanku." Maringgih muda tersenyum. Tapi senyum yang lelah. "Sembilan tahun kita bersahabat. Kau dulu bantu aku waktu pertama kali merintis. Sekarang giliranku."

Sulaiman memeluknya erat. Air mata membasahi bahu Maringgih.

"Aku tidak akan lupa ini, Ringih. Suatu hari... suatu hari aku akan balas. Aku janji."

Maringgih muda tertawa kecil. "Tidak usah balas. Cuma... jangan lupa jadi manusia baik. Itu saja."

Malam itu, mereka berpisah. Sulaiman pergi dengan uang di tangan dan hutang budi di hati.

Sembilan tahun kemudian, ia kembali—bukan sebagai kawan, tapi sebagai pengelola VOC.

---

Datuk Maringgih menghela napas. Kopi di tangannya sudah dingin.

Sembilan tahun. Ia tidak pernah minta balasan. Tidak pernah minta uangnya kembali. Tapi di dalam hati kecilnya, ia berharap Sulaiman akan menjadi orang yang benar. Orang yang tidak melupakan dari mana ia datang.

Sekarang? Lihatlah.

Anak buahnya memukuli anak kecil.

Apakah kau tahu, Sulaiman? Atau kau terlalu sibuk di kantor hingga tidak lihat apa yang terjadi di lapangan?

---

Tengah malam.

Datuk Maringgih tidak bisa tidur. Ia bangun, berjalan ke jendela, membukanya.

Udara malam masuk. Wangi cengkih dari kebunnya sendiri—kebun luas yang ia kelola dengan puluhan pekerja. Ia tidak butuh petani lain. Dagangannya tetap jalan. Tokonya tetap ramai. Gudangnya tetap terisi—dari hasil kebun sendiri.

Tapi kenapa ia tidak bisa tidur?

Karena ini bukan soal dagangan. Ini soal anak kecil berdarah. Ini soal perlakuan ke rakyat.

"Kau di sana, Sulaiman?" bisiknya ke dalam gelap. "Kau tahu apa yang dilakukan anak buahmu? Atau jabatan sudah butakan matamu?"

Tidak ada jawaban. Hanya angin.

---

Pagi datang.

Datuk Maringgih memutuskan pergi ke gudangnya di Pasar Atas. Bukan untuk berdagang—urusannya sudah diatur Jafar dan Kasim. Tapi untuk menenangkan pikiran.

Gudangnya ramai. Pekerja masuk keluar membawa karung. Rempah-rempah dari kebunnya sendiri ditimbang, dicatat, disimpan. Semua beres.

"Datuk." Jafar menyambut. "Ada kabar dari utusan."

"Kabar apa?"

"Dari kantor gudang VOC. Katanya... Datuk Sulaiman akan datang hari ini."

Datuk Maringgih mengerutkan dahi.

"Ke sini?"

"Mengutus orang tadi pagi. Bilang ingin bertemu."

Hening.

"Baik." Datuk Maringgih duduk di kursinya. "Kalau dia datang, persilakan masuk."

---

Sore hari, kereta kuda berhenti di depan gudang.

Bukan kereta biasa. Kereta bagus, dengan ukiran di setiap sudut. Dua kuda hitam perkasa. Kusir berseragam rapi.

Pintu kereta terbuka.

Laki-laki berbaju putih turun. Lencana VOC di dada. Perut sedikit buncit. Rambut memutih di pelipis. Umurnya 46 sekarang, tapi wajahnya menunjukkan ia hidup enak di kantor.

Datuk Sulaiman.

Ia berdiri, memandangi gudang Maringgih. Gudang itu besar—lebih besar dari gudang VOC di kampung. Rempah-rempah masuk keluar. Pekerja sibuk. Tanda bahwa Maringgih memang saudagar sukses.

Sulaiman menghela napas. Lalu melangkah masuk.

"Selamat sore, Ringih."

Datuk Maringgih duduk di kursinya. Tidak bergerak. Tidak menyambut.

"Selamat sore, Sulaiman."

Mereka saling menatap. Sembilan tahun. Sembilan tahun sejak terakhir bertemu—sejak malam Sulaiman menangis di berandanya.

Sulaiman menatap gudang itu. Matanya berbinar—bukan serakah, tapi kagum bercampur segan.

"Gudangmu bagus, Ringih. Lebih bagus dari yang kubayangkan. Daganganmu maju pesat."

"Terima kasih."

Sulaiman menghela napas. Ia melangkah maju, duduk di kursi yang disodorkan—tapi tidak dengan sombong. Ada rasa segan di setiap geraknya. Bahkan ketika duduk, ia tidak berani bersandar.

"Ringih..." Ia menunduk sebentar. Lalu menatap Maringgih. "Aku tahu... mungkin kau kecewa padaku. Aku masuk VOC. Aku kerja dengan mereka. Tapi..."

"Tapi apa?"

Sulaiman diam. Tangannya di pangkuan, menggenggam erat. Keringat di keningnya terlihat jelas meski sore tidak panas.

"Aku tidak pernah lupa, Ringih. Sembilan tahun lalu, kau selamatkan aku. Waktu aku jatuh, waktu kapalku karam, waktu aku tidak punya apa-apa. Kau beri uang—tabunganmu sendiri. Kau selamatkan hidupku." Suaranya serak. "Aku... aku berhutang nyawa padamu."

Hening.

Datuk Maringgih menatapnya lama. Mencari kebohongan di mata itu. Tapi tidak ada. Yang ada hanya... beban. Beban seorang laki-laki yang tahu ia berhutang dan tidak bisa membayar.

"Kalau kau ingat itu, Sulaiman, kenapa anak buahmu perlakukan petani seperti kemarin?"

Sulaiman mengerutkan dahi.

"Anak buahku?"

"Kemarin. Di gudang kampung. Seorang petani—Dullah namanya—dipaksa serahkan karung terakhirnya. Anaknya dipukul sampai berdarah. Istrinya kehilangan suara. Matanya kosong, Sulaiman. Kosong."

Sulaiman terdiam. Wajahnya berubah. Bukan marah, tapi kaget. Tidak percaya.

"Aku... aku tidak tahu."

"Tidak tahu?"

"Sumpah, Ringih. Demi Allah, demi hutang budi padamu, aku tidak tahu." Sulaiman berdiri. Tangannya gemetar. "Aku kasih perintah: kumpulkan panen sesuai aturan. Tapi tidak pernah... tidak pernah aku suruh mereka pukul anak kecil! Aku bukan monster!"

Datuk Maringgih menatapnya tajam. Mencari kepalsuan.

Tapi Sulaiman mundur selangkah. Wajahnya pucat. Dadanya naik turun.

"Aku akan selidiki ini. Aku akan pecat siapa pun yang—"

"Percuma pecat, Sulaiman. Lukanya sudah ada. Darahnya sudah tumpah." Datuk Maringgih berdiri. Kini mereka berhadapan. Hanya satu langkah jaraknya. "Kau tahu kenapa aku marah? Bukan karena daganganku sepi. Lihat sekeliling—" ia menunjuk gudangnya, "—aku punya kebun sendiri. Puluhan pekerja. Aku tidak butuh petani lain untuk hidup. Daganganku tetap jalan meski tak satu pun petani jual padaku."

Sulaiman diam. Menunggu.

"Aku marah karena lihat anak kecil dipukul. Lihat ibu kehilangan suara. Lihat bapak berlutut di tanah." Suara Maringgih naik, matanya basah—bukan karena sedih, tapi karena marah yang memuncak. "Ini bukan soal dagang, Sulaiman. Ini soal perlakuan ke rakyat. Dan anak buahmu—VOC-mu—sudah keterlaluan!"

Sulaiman menunduk. Tidak bisa menatap mata Maringgih.

"Maafkan aku, Ringih. Aku... aku benar-benar tidak tahu."

"Maaf?" Datuk Maringgih tertawa pahit. "Kau pikir maaf cukup? Coba kau lihat sendiri anak itu. Coba kau lihat sendiri ibunya yang matanya kosong. Baru kau tahu apa artinya maaf."

Hening lama.

Sulaiman berdiri di tempatnya, seperti patung. Tangannya di sisi tubuh, menggenggam erat. Lalu perlahan, ia berlutut.

Satu lutut. Di lantai gudang.

"Apa kau—"

"Aku minta maaf, Ringih." Suaranya lirih. "Bukan sebagai pejabat VOC. Tapi sebagai kawan yang berhutang budi padamu. Aku gagal jadi orang baik."

Datuk Maringgih tertegun.

Sulaiman, pejabat VOC, berlutut di depannya. Di depan karyawan-karyawan yang terperangah melihat dari kejauhan.

"Berdiri, Sulaiman."

"Maafkan aku."

"Berdiri, kubilang!"

Sulaiman mengangkat wajah. Matanya basah.

"Aku akan perbaiki ini. Aku janji. Bukan karena kau minta. Tapi karena aku tahu—kau benar. Ini bukan soal aturan. Ini soal kemanusiaan."

Ia berdiri perlahan. Menatap Maringgih lama.

"Aku akan cari tahu siapa yang pukul anak itu. Akan aku tindak. Dan mulai besok—"

"Besok?" Potong Maringgih. "Besok katanya ada penyitaan besar. Kau sendiri yang pimpin."

Sulaiman mengangguk pelan.

"Aku akan pimpin. Tapi tidak seperti yang mereka mau. Aku akan pastikan tidak ada kekerasan."

"Kau bisa?"

Sulaiman diam sebentar. Lalu tersenyum—senyum yang dulu, senyum yang Maringgih kenal dari sembilan tahun lalu.

"Aku bisa. Karena kalau tidak..." ia menghela napas, "...aku pantas kau maki sampai mati."

---

Sulaiman pergi sore itu.

Meninggalkan Maringgih dengan perasaan campur aduk. Marah masih ada. Tapi ada juga... harapan? Mungkin Sulaiman sungguh tidak tahu. Mungkin ia masih bisa berubah.

Tapi harapan itu kecil. Kecil sekali.

Malam turun.

Datuk Maringgih duduk di beranda. Kopi di tangan. Menatap gelap.

Dari kejauhan, dari arah kampung Dullah, terdengar tangis. Tangis yang sama. Masih ada. Belum berhenti.

Ia mengepalkan tangan.

Besok. Besok ia akan lihat sendiri. Apakah Sulaiman sungguh berubah, atau hanya pandai bicara.

Besok semuanya terjawab.

---

[Bersambung...]

---

Episodes
1 BAB 1: KARUNG TERAKHIR
2 BAB 2: PENGUMUMAN ITU
3 BAB 3: TIGA PULUH LELAKI
4 BAB 4: JERITAN TERCEKIK
5 BAB 5: DI ANTARA ABU DAN ASAP
6 BAB 6: TERIAKAN YANG PATAH
7 BAB 7: PENGAKUAN PECAH
8 BAB 8: SURAT DARI BATAVIA
9 BAB 9: PAGI YANG MENCEKIK
10 BAB 10: 3 SYARAT
11 BAB 11: KEMENANGAN SUNYI
12 BAB 12: RUMAH YANG BERUBAH
13 BAB 13: PENGASINGAN SUNYI
14 BAB 14: SURAT DARI ADIK
15 BAB 15: DUA KEPUTUSAN
16 BAB 16: KATA YANG TERLONTAR
17 BAB 17: RAHASIA DAPUR
18 BAB 18: ANTARA ADAT DAN RASA
19 BAB 19: PERTEMUAN YANG CANGGUNG
20 BAB 20: SETELAH TATAPAN ITU
21 BAB 21: LUKA YANG DIKUBUR BERTAHUN-TAHUN
22 BAB 22: SURAT YANG TIDAK PERNAH PULANG
23 BAB 23: KALIMAT YANG MENELANJANGI KEBENARAN
24 BAB 24: JAWABAN DARI SEORANG YANG TAKUT KEHILANGAN
25 BAB 25: SETELAH KEBENARAN ITU
26 BAB 26: TANAH YANG MULAI DIREBUT
27 BAB 27: TINJU DI ATAS TANAH SENDIRI
28 BAB 28: KATA-KATA YANG MEREMUKKAN HATI
29 BAB 29: KEBENARAN DI DEPAN KOMPENI
30 BAB 30: PRIBUMI YANG LAPAR
31 BAB 31: HATI ANAK, MALU SEORANG PUTRI
32 BAB 32: MENUNGGU DI PERSIMPANGAN
33 BAB 33: BALASAN DARI SEORANG DATUK
34 BAB 34: AKHIR DARI KISAH SURAT MENYURAT
35 BAB 35 — SETELAH KEBON PALA
36 BAB 36 — PASAR YANG DICEKIK
37 BAB 37 — KAPAL YANG DITAHAN
38 BAB 38 — DI KANTOR VOC
39 BAB 39 — HARGA SEBUAH PERTEMUAN
40 BAB 40 — DI TEPI SUNGAI, DI BAWAH LANGIT MAGHRIB
41 BAB 41 — PILIHAN DI UJUNG MALAM
42 BAB 42 — MATA-MATA DI GUDANG KOSONG
43 BAB 43 — BAYANG-BAYANG DI GUDANG
44 BAB 44 — SURAT DARI MEDAN PERANG
45 BAB 45 — JERAT KETERGANTUNGAN
46 BAB 46 — CINTA DI TENGAH BADAI
47 BAB 47 — CURHAT DI TENGAH BADAI
48 BAB 48 — PERTEMUAN RAHASIA
49 BAB 49 — DUA JALUR PERLAWANAN
50 BAB 50 — KEDATANGAN DI TENGAH MALAM
51 BAB 51 — PERSIAPAN DI TENGAH MALAM
52 BAB 52 — PERTEMPURAN DI HUTAN JATI (BAGIAN 1)
53 BAB 53 — PERTEMPURAN DI HUTAN JATI (BAGIAN 2)
54 BAB 54 — PAGI YANG SUNYI
55 BAB 55 — PESAN DI TENGAH BADAI
56 BAB 56 — GEMPA DI GUDANG
57 BAB 57 — LAMARAN DI TENGAH API PERMUSUHAN
58 BAB 58 — PESTA DI TENGAH LUKA
59 bab 59 — TANGISAN SEORANG IBU
60 BAB 60 — TUDUHAN VAN DER BERG
61 BAB 61 — PERINTAH PEMBUNUHAN
62 BAB 62 — BAYANGAN KEMATIAN
63 BAB 63 — FIRASAT
64 BAB 64 — TITIK TERENDAH
65 PERTEMUAN RAHASIA
66 KEPUTUSAN DI TENGAH BADAI
67 LUKA DAN PENYESALAN
68 JARINGAN PERLAWANAN
69 SERANGAN BALASAN VOC
70 PENGKHIAT KECIL
71 HALIMAH MELAHIRKAN
72 GENCATAN SENJATA SEMU
73 GODAAN VOC
74 PERTEMPURAN SUNGAI
75 DENDAM VAN DER BERG
76 LUKA BATIN HALIMAH
77 SULAIMAN JADI PANGILMA
78 JEBAKAN DI HUTAN JATI
79 PEMAKAMAN SEORANG PENDEKAR
80 TITIK TERENDAH PERLAWANAN
81 REKONSILIASI TOTAL
82 INFORMAN DALAM GELAP
83 SERANGAN MALAM
84 INVESTIGASI
85 MASA LALU MENJERAT
86 DIAM-DIAM
87 KECURIGAAN MARINGGIH
88 KESALAHAN FATAL
89 PENGAKUAN
90 SITI TAHU
91 SULAIMAN MENYERAH
92 HALIMAH MENUNTUT PENJELASAN
93 VAN DER BERG MANFAATKAN SITUASI
94 TEKANAN RAKYAT
95 HALIMAH TAHU KEBENARAN
96 PERPISAHAN
97 RAPAT PENENTUAN
98 MALAM TERAKHIR SULAIMAN
99 EKSEKUSI
Episodes

Updated 99 Episodes

1
BAB 1: KARUNG TERAKHIR
2
BAB 2: PENGUMUMAN ITU
3
BAB 3: TIGA PULUH LELAKI
4
BAB 4: JERITAN TERCEKIK
5
BAB 5: DI ANTARA ABU DAN ASAP
6
BAB 6: TERIAKAN YANG PATAH
7
BAB 7: PENGAKUAN PECAH
8
BAB 8: SURAT DARI BATAVIA
9
BAB 9: PAGI YANG MENCEKIK
10
BAB 10: 3 SYARAT
11
BAB 11: KEMENANGAN SUNYI
12
BAB 12: RUMAH YANG BERUBAH
13
BAB 13: PENGASINGAN SUNYI
14
BAB 14: SURAT DARI ADIK
15
BAB 15: DUA KEPUTUSAN
16
BAB 16: KATA YANG TERLONTAR
17
BAB 17: RAHASIA DAPUR
18
BAB 18: ANTARA ADAT DAN RASA
19
BAB 19: PERTEMUAN YANG CANGGUNG
20
BAB 20: SETELAH TATAPAN ITU
21
BAB 21: LUKA YANG DIKUBUR BERTAHUN-TAHUN
22
BAB 22: SURAT YANG TIDAK PERNAH PULANG
23
BAB 23: KALIMAT YANG MENELANJANGI KEBENARAN
24
BAB 24: JAWABAN DARI SEORANG YANG TAKUT KEHILANGAN
25
BAB 25: SETELAH KEBENARAN ITU
26
BAB 26: TANAH YANG MULAI DIREBUT
27
BAB 27: TINJU DI ATAS TANAH SENDIRI
28
BAB 28: KATA-KATA YANG MEREMUKKAN HATI
29
BAB 29: KEBENARAN DI DEPAN KOMPENI
30
BAB 30: PRIBUMI YANG LAPAR
31
BAB 31: HATI ANAK, MALU SEORANG PUTRI
32
BAB 32: MENUNGGU DI PERSIMPANGAN
33
BAB 33: BALASAN DARI SEORANG DATUK
34
BAB 34: AKHIR DARI KISAH SURAT MENYURAT
35
BAB 35 — SETELAH KEBON PALA
36
BAB 36 — PASAR YANG DICEKIK
37
BAB 37 — KAPAL YANG DITAHAN
38
BAB 38 — DI KANTOR VOC
39
BAB 39 — HARGA SEBUAH PERTEMUAN
40
BAB 40 — DI TEPI SUNGAI, DI BAWAH LANGIT MAGHRIB
41
BAB 41 — PILIHAN DI UJUNG MALAM
42
BAB 42 — MATA-MATA DI GUDANG KOSONG
43
BAB 43 — BAYANG-BAYANG DI GUDANG
44
BAB 44 — SURAT DARI MEDAN PERANG
45
BAB 45 — JERAT KETERGANTUNGAN
46
BAB 46 — CINTA DI TENGAH BADAI
47
BAB 47 — CURHAT DI TENGAH BADAI
48
BAB 48 — PERTEMUAN RAHASIA
49
BAB 49 — DUA JALUR PERLAWANAN
50
BAB 50 — KEDATANGAN DI TENGAH MALAM
51
BAB 51 — PERSIAPAN DI TENGAH MALAM
52
BAB 52 — PERTEMPURAN DI HUTAN JATI (BAGIAN 1)
53
BAB 53 — PERTEMPURAN DI HUTAN JATI (BAGIAN 2)
54
BAB 54 — PAGI YANG SUNYI
55
BAB 55 — PESAN DI TENGAH BADAI
56
BAB 56 — GEMPA DI GUDANG
57
BAB 57 — LAMARAN DI TENGAH API PERMUSUHAN
58
BAB 58 — PESTA DI TENGAH LUKA
59
bab 59 — TANGISAN SEORANG IBU
60
BAB 60 — TUDUHAN VAN DER BERG
61
BAB 61 — PERINTAH PEMBUNUHAN
62
BAB 62 — BAYANGAN KEMATIAN
63
BAB 63 — FIRASAT
64
BAB 64 — TITIK TERENDAH
65
PERTEMUAN RAHASIA
66
KEPUTUSAN DI TENGAH BADAI
67
LUKA DAN PENYESALAN
68
JARINGAN PERLAWANAN
69
SERANGAN BALASAN VOC
70
PENGKHIAT KECIL
71
HALIMAH MELAHIRKAN
72
GENCATAN SENJATA SEMU
73
GODAAN VOC
74
PERTEMPURAN SUNGAI
75
DENDAM VAN DER BERG
76
LUKA BATIN HALIMAH
77
SULAIMAN JADI PANGILMA
78
JEBAKAN DI HUTAN JATI
79
PEMAKAMAN SEORANG PENDEKAR
80
TITIK TERENDAH PERLAWANAN
81
REKONSILIASI TOTAL
82
INFORMAN DALAM GELAP
83
SERANGAN MALAM
84
INVESTIGASI
85
MASA LALU MENJERAT
86
DIAM-DIAM
87
KECURIGAAN MARINGGIH
88
KESALAHAN FATAL
89
PENGAKUAN
90
SITI TAHU
91
SULAIMAN MENYERAH
92
HALIMAH MENUNTUT PENJELASAN
93
VAN DER BERG MANFAATKAN SITUASI
94
TEKANAN RAKYAT
95
HALIMAH TAHU KEBENARAN
96
PERPISAHAN
97
RAPAT PENENTUAN
98
MALAM TERAKHIR SULAIMAN
99
EKSEKUSI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!