Setelah jamuan makan malam selesai dan para tamu perlahan bubar, Nala dan Davin tidak langsung kembali ke hotel. Udara malam Seoul terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Jalanan kota masih hidup dengan cahaya lampu neon, papan iklan digital, dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar tidur.
“Bagaimana kalau kita jalan sebentar? Aku rasa kau butuh udara segar, sebelum kepalamu penuh dengan bayangan Junho lagi,” usul Davin, melirik ke arah Nala yang masih terlihat membawa sisa-sisa gugup dari acara.
Nala menoleh cepat, menatapnya dengan tatapan protes. Pipinya memerah.
“Mas Davin! Sudahlah,” kata Nala sembari menutup wajahnya malu.
Tawa pria itu pecah—ringan, tapi tulus.
“Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda. Tapi serius, kau butuh ini,” kata Davin sambil masih tersenyum.
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi pejalan kaki, sebagian besar anak muda yang tertawa, berfoto, atau sekadar menikmati malam. Aroma makanan dari kios jalanan menguar di udara—tteokbokki pedas, hotteok manis, hingga jagung bakar yang asapnya tipis melayang di bawah lampu jalan.
Nala menoleh dengan rasa penasaran. Perutnya memang belum benar-benar lapar setelah jamuan, tapi matanya menangkap segala sesuatu dengan penuh minat. Davin memperhatikan itu.
“Mau coba?” tanyanya sambil menunjuk ke salah satu penjual.
Nala menggeleng cepat, malu-malu.
“Aku masih kenyang. Lagipula, aku takut kalau makan pakai gaun ini malah jadi bahan tertawaan orang,” ujarnya pelan, Davin langsung mengangkat bahu dramatis.
“Sayang sekali. Kalau begitu, biarkan aku yang jadi bahan tontonan. Kau cukup berjalan dengan elegan di sisiku,” balasnya dengan nada pura-pura menyesal.
Ia lalu dengan sengaja membeli satu cup kecil tteokbokki untuk dirinya sendiri.
Malam itu, langkah mereka membawa ke tepian Sungai Han yang dihiasi lampu-lampu jembatan. Angin malam berembus lembut, membuat rambut Nala sedikit berantakan. Ia berhenti sebentar, menatap pantulan cahaya di permukaan air yang beriak pelan.
“Indah sekali…” bi…
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu
BAB 8: Desakan keluarga.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 159 Episodes
Comments