Bab 2: Benua Tiandi

​Pelarian itu bukanlah perjalanan mewah di atas kereta kencana. Bagi Yan Bingchen, itu adalah ziarah panjang melintasi kematian.

​Selama berbulan-bulan, ia menyusuri jalur tikus, mendaki tebing-tebing curam yang tak terjamah, dan bersembunyi di dalam gua-gua lembap demi menghindari patroli perbatasan dua klan besar.

Benua Binghuo, dengan segala kenangan pahitnya, perlahan memudar di cakrawala, digantikan oleh hamparan vegetasi yang lebih hijau dan udara yang tidak lagi menusuk paru-paru dengan hawa ekstrem.

​Ia akhirnya menginjakkan kaki di Benua Tiandi—Tanah Langit dan Bumi.

​Penduduk setempat memuja tanah ini sebagai titik temu sempurna antara energi langit yang murni dan kekuatan bumi yang kokoh.

Namun bagi Yan Bingchen, Tiandi hanyalah labirin baru. Benua ini adalah mosaik dari empat kekuatan besar: Kekaisaran Shan, Kerajaan HAI, Federasi LIN, dan Ordo LONG.

Yan ​Bingchen keluar dari rimbunnya hutan perbatasan dengan waspada. Jubahnya yang dulu megah kini compang-camping, tertutup debu jalanan.

Ia menarik tudung kepalanya, mencoba menyembunyikan kontradiksi warna rambutnya yang semakin mencolok.

​Namun, saat ia memasuki gerbang kota terdekat, penyamarannya terasa sia-sia.

​Setiap pasang mata tertuju padanya. Bukan hanya karena fitur wajahnya yang tegas dan tampan, tetapi karena aura asing yang terpancar dari matanya yang berbeda warna—satu merah membara bagai kawah gunung berapi, satunya lagi biru jernih layaknya es abadi.

Yan ​Bingchen mengabaikan tatapan-tatapan itu. Perutnya bergejolak perih. Semua persediaan makanannya telah habis tiga hari yang lalu.

​"Aku bahkan tidak punya satu koin tembaga pun," gumamnya pelan, tangannya meraba kantong pakaiannya yang kosong.

​Meski fisiknya menarik perhatian, ia tidak lagi merasa terancam. Ia telah belajar menyatukan gejolak apinya dengan ketenangan esnya.

Selama ia tidak meledakkan emosinya, ia hanyalah seorang pengembara eksentrik di mata orang-orang Tiandi.

​Langkahnya terhenti saat sebuah keributan pecah di persimpangan jalan di depannya.

​"Dasar penipu licin! Kembalikan uangku, keparat!" teriak seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam karena amarah.

​Seorang pemuda—tampak sebaya dengan Yan Bingchen—berlari melesat melewatinya.

Wajah pemuda itu tidak menunjukkan ketakutan; justru seringai nakal menghiasi bibirnya sembari tangannya erat mendekap sekantong koin yang gemerincing.

​"Hahaha! Salah sendiri berjudi denganku, Paman! Anggap saja ini biaya sekolah untuk kepolosanmu!" seru pemuda itu sambil tertawa puas.

​Saat pemuda itu hendak melesat melewati Yan Bingchen ...

​Whosh!

​Dengan gerakan refleks yang sangat presisi, Yan Bingchen mengulurkan tangannya.

Ia mencengkeram kerah belakang baju pemuda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah ia hanya mengangkat seekor anak kucing.

​Si pemuda belum sadar. Kakinya masih bergerak-gerak di udara, mengayun seolah masih berlari kencang.

​"Hahaha! Kau tidak akan bisa menangkapku, Paman Tua! Lebih baik relakan saja uang ini untuk masa depanku!" ocehnya tanpa menoleh.

​Pria paruh baya yang mengejarnya akhirnya sampai. Ia membungkuk, terengah-engah dengan tangan memegang lutut. "Hah ... haah ... K-kena kau ... dasar kutu busuk!"

​"Kena?" Si pemuda berhenti mengayunkan kaki. Ia menoleh ke atas, menyadari kerah bajunya tertahan oleh kekuatan yang tak tergoyahkan. Matanya bertemu dengan tatapan dingin dan tenang milik Yan Bingchen.

​"S-siapa kau?! Lepaskan aku, Woi! Ini urusan pribadi!" protes si pemuda sambil meronta.

​Tanpa ekspresi, Yan Bingchen melepaskan cengkeramannya, membiarkan pemuda itu jatuh terjerembap ke lantai batu yang keras.

​BRUK!

​"Aduh! Pantatku!" si pemuda mengaduh, memegangi tulang ekornya yang berdenyut sakit.

​Ia hendak memaki, namun pria paruh baya yang ia tipu sudah berdiri di depannya dengan kepalan tangan siap menghajar. "Sekarang, kembalikan uangku, penipu kecil!"

​BUGH! BUK!

​Dua pukulan mendarat telak di perut dan wajah si pemuda. Pria itu dengan kasar merampas kantong koinnya kembali, lalu meludah ke samping.

​"Cuih! Jangan coba-coba menipu lagi atau kuseret kau ke penjara kota! Anak zaman sekarang benar-benar tidak punya sopan santun!"

​Pria itu pergi dengan gerutu yang masih terdengar jelas, tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang membantunya.

Yan ​Bingchen memerhatikan punggung pria itu yang menjauh, lalu mendengus sinis. "Cih, dasar orang tua zaman sekarang. Tidak punya tata krama sama sekali. Setidaknya ucapkan terima kasih atau berikan sedikit upah karena aku sudah membantunya."

​Ia kemudian berjongkok di samping si pemuda yang masih terkapar memegangi perutnya. Bukannya membantu berdiri, Yan Bingchen justru dengan cekatan menggeledah saku jubah si pemuda.

​Ia menemukan sebungkus roti gandum yang masih hangat—mungkin hasil curian sebelumnya.

Tanpa ragu, Yan Bingchen duduk bersandar di dinding bangunan, membuka bungkusnya, dan mulai mengunyah roti itu dengan santai.

​Beberapa saat kemudian, si pemuda itu mulai sadar sepenuhnya. Ia memegangi kepalanya yang pening dan meringis kesakitan.

​"Ugh ... kepalaku rasanya mau pecah." Saat ia membuka mata, ia melihat Yan Bingchen sedang duduk di sampingnya, menghabiskan sisa rotinya dengan lahap.

​Si pemuda segera memeriksa pakaiannya dan membelalak. "Tidaaaakk! Rotiku! Dasar pencuri berdarah dingin! Berani-beraninya kau memakan harta karun terakhirku?!"

​Ia mencoba berdiri meski sempoyongan, menunjuk hidung Yan Bingchen dengan gusar. "Bayar! Cepat bayar! Semuanya jadi satu tael emas!"

Yan ​Bingchen menelan kunyahan terakhirnya, lalu menatap si pemuda dengan datar. "Aku yakin roti ini juga hasil mencuri dari kedai di ujung jalan, kan?"

​Ia mengusap sisa remah roti di bibirnya. "Mencuri dari seorang pencuri sekaligus penipu bukanlah sebuah kejahatan—itu adalah redistribusi kekayaan. Lagi pula, harga roti murah begini paling hanya lima koin perunggu. Satu tael emas? Kau benar-benar penipu yang tidak tahu malu."

Terpopuler

Comments

Abil Amar

Abil Amar

iy in kyk dicerita dlegenda pendekar sabit yan bingchen bntu shan luo wktu mau dbnuh ayahny mau rebut kristal leluhurny yg dbnuh yan bingchen ayahnya shan feng

2026-04-13

0

𝙕𝙯𝙯

𝙕𝙯𝙯

Apa tatakrama belum di temukan di sini. Sungguh primitif🐙

2026-03-19

1

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

ntar jadi bestian paling...

2026-03-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Yan Bingchen
2 Bab 2: Benua Tiandi
3 Bab 3: Mo Ran
4 Bab 4: Turnamen Kota Linyi
5 Bab 5: Bayar dengan janji
6 Bab 6: Tatapan mengintai
7 Tingkatan alam ini
8 Bab 7: Serigala Arwam Kelam
9 Bab 8: Kakek Tua
10 Bab 9: Sebuah Buku
11 Bab 10: Terlalu mencolok
12 Bab 11: Ketekunan
13 Bab 12: Mata Spesial
14 Bab 13: Serangan mendadak
15 Bab 14: Suka dan Duka
16 Bab 15: Undangan paksa
17 Bab 16: Ketegangan
18 Bab 17: Gemetar
19 Bab 18: Federasi Lin
20 Bab 19: Terpana
21 Bab 20: Sang Tetua Klan
22 Bab 21: Hadiah terbaik
23 Bab 22: Keajaiban
24 Bab 23: Lin Yue
25 Bab 24: Melanjutkan perjalanan
26 Bab 25: Jenderal Zhu
27 Bab 26: Artefak Bumi
28 Bab 27: Ordo Long
29 Bab 28: Perampok bodoh
30 Bab 29: Menara Naga
31 Bab 30: Lebih sadar
32 Bab 31: Pembuktian
33 Bab 32: Membungkam
34 Bab 33: Tranformasi Sumsum
35 Bab 34: Muak
36 Bab 35: Menjadi seorang Master
37 Bab 36: Pembunuh
38 Bab 37: Teknik terlarang
39 Bab 38: Bantuan Tetua Agung
40 Bab 39: Terpilih
41 Bab 40: Benua Binghuo
42 Bab 41: Sebuah kata Maaf
43 Bab 42: Persiapan
44 Bab 43: Berhadapan
45 Bab 44: Ujian Pertama
46 Bab 45: Latihan
47 Bab 46: Aku tetaplah seorang kakak
48 Bab 47: Penaklukan satu wilayah
49 Bab 49: Kemah utama
50 Bab 50: Kembali untuk berlatih
51 Bab 52: Ujian ke dua
52 Bab 54: Masa Lalu
53 Bab 56: Yan Hao
54 Bab 57: Era baru
55 Bab 58: Kerja sama
56 Bab 59: Persiapan Perang
57 Bab 60: 1 Vs 1
58 Bab 61: Pesta kemenangan
59 Bab 62: Perjalanan baru
60 Bab 63: Wilayah Donghai
61 Bab 64: Ikat saja
62 Bab 65: Makhluk laut
63 Bab 66: Masalah selesai
64 Bab 67: Berubah wujud
65 Bab 68: Klan pedagang laut
66 Bab 70: Makhluk laut kuno
67 Bab 71: 5 Kepala
68 Bab 72: Legenda sang penyelamat Donghai
69 Bab 73: Aku akan selalu mengingatmu
70 Bab 74: Sampai ke telinga orang-orang
71 Bab 75: Wilayah Azure
72 Bab 76: Akhiri saja
73 Bab 77: Waktunya menyembelih
74 Bab 78: Langit merah dan biru
75 Bab 79: Kekaisaran Azure
76 Bab 80: Tulisan Li Xian
77 Bab 81: Langkah baru
78 Bab 82: Masalah topeng
79 Bab 83: Pengrajin
80 Bab 84: Niat mencari masalah
81 Bab 85: Main-main
82 Bab 82: Surat undangan
83 Bab 83: Topengnya sudah selesai
84 Bab 84: Menikmati perjalanan
85 Bab 85: Kaisar Xuan
86 Bab 86: Kurang akur
87 Bab 87: Hari pernikahan
88 Bab 88: Identitas asli
89 Bab 89: Kekacauan
90 Bab 90: Hampir
91 Bab 91: Berbenah
92 Bab 92: Pelantikan Kaisar baru
93 Bab 93: Pertemuan dengan Xuanzong kembali
94 Bab 94: Benua Qing
95 (ARC): PERANG BENUA QING
96 Bab 95: Sergapan
97 Bab 97: Dasar anak ini
98 Bab 98: Orang misterius
99 Bab 99: Jalan Rahasia
100 Bab 100: Artefak Mitos
101 Bab 101: Di tarik
102 Bab 102: Perebutan
103 Bab 103: Kelahiran
104 Bab 104: Hmm?
105 Bab 105: Perjuangan
106 Bab 106: Ari maneh
107 Bab 107: Sampai jumpa
108 Bab 108: Lahirnya penguasa baru
109 Bab 109: Mo Ran
110 Bab 110: Waktu begitu cepat (Arc Benua Qing End)
111 Bab 111: Sebuah dendam
112 Bab 112: Kepulangan
113 Bab 113: Di paksa
114 Bab 114: Perjamuan
115 Bab 115: Kaisar Ling Wu
116 Bab 116: Festival
117 Bab 117: Deklarasi perang
118 Bab 118: Persiapan
119 Bab 119: Balasan
120 Bab 120: Benturan
121 Bab 121: Menghabisi
122 Bab 122: Saya akan lawan!
123 Bab 123: Bangunlah
124 Bab 124: Bangunlah!
125 Bab 125: Akhir perang
126 Bab 126: Kosong
127 Bab 127: *\O/*
128 Bab 128: Mengenang
129 Bab 129: Hmm
130 Bab 130: Rencana
131 Bab 131: Buku kultivasi
132 Bab 132: Fajar
133 Bab 133: Dunia Atas
134 Bab134: Dunia atas II
135 Bab 135:
136 Bab 136: Membantu Mo Ran dan Kuro
137 Bab 137: Kengerian dunia atas
138 Bab 138: Cahaya
139 Bab 139: Manusia
140 Bab 140: Informasi penting
141 Bab 141: O_o
142 Bab 142: Pergi
143 Bab 143: Menyerap batu
144 Bab 144: Ayolah kak
145 Bab 145: Jalan
146 Bab 146: ( ̄へ  ̄ 凸
147 Bab 147: Sesuatu
148 Bab 148: Melepaskan diri
149 Bab 149: Kehidupan
150 Bab 150: Sadar
151 Bab 151: Pembalasan
152 Bab 152: Naik lebih tinggi
153 Bab 153: Penghuni asli
154 Bab 154: Σ(゚Д゚;)
155 Bab 155: Terungkap
156 Bab 156: Uhuy
157 Bab 157: Tempat sebenarnya
158 Bab 158: Berbaur
159 Bab 159: Koin kristal
160 Bab 160: (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
161 Bab 161: Cepat
162 Bab 163: Sedap
163 Bab 163: Oke
164 Bab 164: Misi pertama
165 Bab 165: Tambang
166 Bab 166: (°д°)
167 Bab 167: Boneka
168 168: Akhirnya selesai
169 Bab 168: Langkah
170 Bab 170
171 Bab 171: Waktu terus berjalan
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174: Pengembaraan
175 Bab 175
176 Bab 176: Yan Bingchen (⁠.⁠⁠ ⁠⁠ᴗ⁠⁠ ⁠.⁠)
177 Promosi novel baru
Episodes

Updated 177 Episodes

1
Bab 1: Yan Bingchen
2
Bab 2: Benua Tiandi
3
Bab 3: Mo Ran
4
Bab 4: Turnamen Kota Linyi
5
Bab 5: Bayar dengan janji
6
Bab 6: Tatapan mengintai
7
Tingkatan alam ini
8
Bab 7: Serigala Arwam Kelam
9
Bab 8: Kakek Tua
10
Bab 9: Sebuah Buku
11
Bab 10: Terlalu mencolok
12
Bab 11: Ketekunan
13
Bab 12: Mata Spesial
14
Bab 13: Serangan mendadak
15
Bab 14: Suka dan Duka
16
Bab 15: Undangan paksa
17
Bab 16: Ketegangan
18
Bab 17: Gemetar
19
Bab 18: Federasi Lin
20
Bab 19: Terpana
21
Bab 20: Sang Tetua Klan
22
Bab 21: Hadiah terbaik
23
Bab 22: Keajaiban
24
Bab 23: Lin Yue
25
Bab 24: Melanjutkan perjalanan
26
Bab 25: Jenderal Zhu
27
Bab 26: Artefak Bumi
28
Bab 27: Ordo Long
29
Bab 28: Perampok bodoh
30
Bab 29: Menara Naga
31
Bab 30: Lebih sadar
32
Bab 31: Pembuktian
33
Bab 32: Membungkam
34
Bab 33: Tranformasi Sumsum
35
Bab 34: Muak
36
Bab 35: Menjadi seorang Master
37
Bab 36: Pembunuh
38
Bab 37: Teknik terlarang
39
Bab 38: Bantuan Tetua Agung
40
Bab 39: Terpilih
41
Bab 40: Benua Binghuo
42
Bab 41: Sebuah kata Maaf
43
Bab 42: Persiapan
44
Bab 43: Berhadapan
45
Bab 44: Ujian Pertama
46
Bab 45: Latihan
47
Bab 46: Aku tetaplah seorang kakak
48
Bab 47: Penaklukan satu wilayah
49
Bab 49: Kemah utama
50
Bab 50: Kembali untuk berlatih
51
Bab 52: Ujian ke dua
52
Bab 54: Masa Lalu
53
Bab 56: Yan Hao
54
Bab 57: Era baru
55
Bab 58: Kerja sama
56
Bab 59: Persiapan Perang
57
Bab 60: 1 Vs 1
58
Bab 61: Pesta kemenangan
59
Bab 62: Perjalanan baru
60
Bab 63: Wilayah Donghai
61
Bab 64: Ikat saja
62
Bab 65: Makhluk laut
63
Bab 66: Masalah selesai
64
Bab 67: Berubah wujud
65
Bab 68: Klan pedagang laut
66
Bab 70: Makhluk laut kuno
67
Bab 71: 5 Kepala
68
Bab 72: Legenda sang penyelamat Donghai
69
Bab 73: Aku akan selalu mengingatmu
70
Bab 74: Sampai ke telinga orang-orang
71
Bab 75: Wilayah Azure
72
Bab 76: Akhiri saja
73
Bab 77: Waktunya menyembelih
74
Bab 78: Langit merah dan biru
75
Bab 79: Kekaisaran Azure
76
Bab 80: Tulisan Li Xian
77
Bab 81: Langkah baru
78
Bab 82: Masalah topeng
79
Bab 83: Pengrajin
80
Bab 84: Niat mencari masalah
81
Bab 85: Main-main
82
Bab 82: Surat undangan
83
Bab 83: Topengnya sudah selesai
84
Bab 84: Menikmati perjalanan
85
Bab 85: Kaisar Xuan
86
Bab 86: Kurang akur
87
Bab 87: Hari pernikahan
88
Bab 88: Identitas asli
89
Bab 89: Kekacauan
90
Bab 90: Hampir
91
Bab 91: Berbenah
92
Bab 92: Pelantikan Kaisar baru
93
Bab 93: Pertemuan dengan Xuanzong kembali
94
Bab 94: Benua Qing
95
(ARC): PERANG BENUA QING
96
Bab 95: Sergapan
97
Bab 97: Dasar anak ini
98
Bab 98: Orang misterius
99
Bab 99: Jalan Rahasia
100
Bab 100: Artefak Mitos
101
Bab 101: Di tarik
102
Bab 102: Perebutan
103
Bab 103: Kelahiran
104
Bab 104: Hmm?
105
Bab 105: Perjuangan
106
Bab 106: Ari maneh
107
Bab 107: Sampai jumpa
108
Bab 108: Lahirnya penguasa baru
109
Bab 109: Mo Ran
110
Bab 110: Waktu begitu cepat (Arc Benua Qing End)
111
Bab 111: Sebuah dendam
112
Bab 112: Kepulangan
113
Bab 113: Di paksa
114
Bab 114: Perjamuan
115
Bab 115: Kaisar Ling Wu
116
Bab 116: Festival
117
Bab 117: Deklarasi perang
118
Bab 118: Persiapan
119
Bab 119: Balasan
120
Bab 120: Benturan
121
Bab 121: Menghabisi
122
Bab 122: Saya akan lawan!
123
Bab 123: Bangunlah
124
Bab 124: Bangunlah!
125
Bab 125: Akhir perang
126
Bab 126: Kosong
127
Bab 127: *\O/*
128
Bab 128: Mengenang
129
Bab 129: Hmm
130
Bab 130: Rencana
131
Bab 131: Buku kultivasi
132
Bab 132: Fajar
133
Bab 133: Dunia Atas
134
Bab134: Dunia atas II
135
Bab 135:
136
Bab 136: Membantu Mo Ran dan Kuro
137
Bab 137: Kengerian dunia atas
138
Bab 138: Cahaya
139
Bab 139: Manusia
140
Bab 140: Informasi penting
141
Bab 141: O_o
142
Bab 142: Pergi
143
Bab 143: Menyerap batu
144
Bab 144: Ayolah kak
145
Bab 145: Jalan
146
Bab 146: ( ̄へ  ̄ 凸
147
Bab 147: Sesuatu
148
Bab 148: Melepaskan diri
149
Bab 149: Kehidupan
150
Bab 150: Sadar
151
Bab 151: Pembalasan
152
Bab 152: Naik lebih tinggi
153
Bab 153: Penghuni asli
154
Bab 154: Σ(゚Д゚;)
155
Bab 155: Terungkap
156
Bab 156: Uhuy
157
Bab 157: Tempat sebenarnya
158
Bab 158: Berbaur
159
Bab 159: Koin kristal
160
Bab 160: (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
161
Bab 161: Cepat
162
Bab 163: Sedap
163
Bab 163: Oke
164
Bab 164: Misi pertama
165
Bab 165: Tambang
166
Bab 166: (°д°)
167
Bab 167: Boneka
168
168: Akhirnya selesai
169
Bab 168: Langkah
170
Bab 170
171
Bab 171: Waktu terus berjalan
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174: Pengembaraan
175
Bab 175
176
Bab 176: Yan Bingchen (⁠.⁠⁠ ⁠⁠ᴗ⁠⁠ ⁠.⁠)
177
Promosi novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!