Pensil tumpul itu menari cepat di atas kertas buram, menyalin baris demi baris angka yang berbau busuk.
Sukma tidak berkedip. Matanya yang pedih karena asap lampu teplok terus memindai buku kas hitam itu seperti pemindai laser. Setiap kali jemarinya menemukan angka "setoran" dengan inisial 'KD' dan 'JM', tangan kirinya refleks mencengkeram pinggiran meja kayu jati hingga kukunya memutih.
Reaksi fisik itu bukan karena takut, tapi kemuakan yang meluap. KD untuk Kades Darman, dan JM untuk Jamilah.
"Satu musim tanam, dua ratus puluh juta rupiah." Sukma berbisik, suaranya parau tertelan kesunyian malam.
Sutrisno yang sedari tadi bersandar di pintu gubuk, bergerak mendekat. Bunyi derit lantai bambu yang diinjaknya terasa nyaring di tengah malam yang mati. Pria itu menatap tumpukan kertas hasil salinan Sukma.
"Dua puluh juta itu uang besar di tahun sembilan puluhan ini, Sukma. Itu sudah setara harga untuk bisa beli rumah mewah di Malang." Sutrisno menaruh telapak tangannya di bahu Sukma. Kasar, tapi hangat.
"Ini bukan cuma rumah mewah, Mas. Ini darah petani Sumber Brantas yang diperas sampai kering." Sukma menunjuk satu kolom transaksi tertanggal bulan lalu.
"Lihat ini. Jatah urea subsidi untuk kelompok tani Makmur Jaya tertulis didistribusikan penuh. Padahal aku dengar sendiri kemarin lusa, Pak Kardi terpaksa utang ke rentenir cuma buat beli satu sak pupuk dari pasar gelap."
Pasar gelap yang, secara ironis, barangnya disuplai oleh Joko dari lumbung KUD itu sendiri.
Sukma menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang keras. Bau jelaga lampu teplok dan aroma apek dari kertas tua memenuhi rongga dadanya.
Di otaknya, skema korupsi ini sudah terpetakan utuh. Jamilah adalah operator lapangan yang ambisius, Joko adalah pengecut yang menjadi jembatan administratif, dan Kades Darman adalah pelindung politiknya.
"Mereka rapi, tapi bodoh karena merasa terlalu berkuasa," gumam Sukma.
"Apa rencana selanjutnya?" Sutrisno bertanya singkat. Pria itu tidak menawarkan solusi militer k…
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba
79. Menyusun Surat Kematian
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 121 Episodes
Comments
gina altira
Ini lebih berat dari karya" mu yang lain Thor.
2026-04-16
1