Ketika Semua Runtuh

Rafiq tidak tahu sudah berapa lama ia berlutut di lorong rumah sakit itu. Lututnya telah mati rasa di lantai keramik yang dingin. Kemeja putihnya kini bukan hanya kusut dan basah keringat—tapi juga berlumuran darah kering yang mulai berubah warna menjadi coklat kehitaman.

Darah itu milik tiga orang: mertuanya, anaknya, dan dirinya sendiri dari telapak tangan yang masih tertutup pecahan kaca kecil yang belum sempat ia bersihkan.

Ia tidak merasakan sakit.

Rasa sakit fisik telah kalah telak oleh rasa sakit yang menghancurkan jiwanya.

Pintu UGD masih tertutup. Sesekali perawat keluar masuk dengan wajah serius, membawa kantung darah, membawa alat-alat medis yang tidak Rafiq kenali.

Setiap kali pintu itu terbuka, ia berusaha menengok ke dalam, berusaha melihat bayangan kecil anaknya di balik tirai hijau yang menggantung di ruang perawatan.

Tapi ia hanya bisa melihat siluet tubuh mungil yang dikelilingi oleh dokter dan perawat, dengan monitor detak jantung yang berbunyi pelan namun konsisten.

Tit. Tit. Tit.

Suara itu menjadi satu-satunya penopang harapannya malam ini.

Dari ujung lorong, ia mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa disertai isak tangis yang ia kenali. Suara itu pernah menjadi suara yang paling ia rindukan ketika sedang berada di luar kota.

Suara yang dulu selalu membuatnya tersenyum ketika mendengar sambungan telepon terangkat. Kini suara itu membuat seluruh otot di tubuhnya menegang.

Aisyah.

Ia menoleh ke arah sumber suara. Istrinya—wanita yang beberapa jam lalu ia lihat dalam dekapan pria lain—kini berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan gamis hijau tua, rambutnya yang panjang terurai kusut tanpa jilbab, wajahnya pucat dengan bekas air mata yang masih basah di pipi.

Di tangan kanannya, ia menggenggam tas kecil berwarna hitam. Kakinya yang berkaus kaki berlari di atas lantai dingin, karena ia juga tidak sempat memakai sepatu.

"Abi! Fatih! DI MANA FATIH?!"

Aisyah berlari mendekat. Matanya yang sembab menatap pintu UGD di depan Rafiq, lalu beralih ke suaminya yang berlutut di lantai dengan penampilan mengenaskan. Untuk sesaat, ia terhenti. Ia melihat darah di kemeja Rafiq. Di tangannya. Di wajahnya.

"Abi... kamu... kamu kenapa? Fatih di mana? Fatih bagaimana?" suaranya meninggi, panik.

Rafiq tidak menjawab. Ia perlahan bangkit dari berlutut. Lututnya terasa sakit, tapi ia mengabaikannya. Matanya—kosong, datar, tanpa ekspresi—menatap Aisyah. Bukan dengan amarah. Bukan dengan kebencian. Tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menghancurkan: ketiadaan.

Seolah-olah wanita di depannya ini bukan siapa-siapa. Bukan istrinya. Bukan ibu dari anaknya. Bukan wanita yang pernah ia cintai dengan segenap hati.

"A-Abi..." Aisyah meraih lengan Rafiq, tapi Rafiq menarik tangannya dengan gerakan yang tegas.

"Jangan sentuh aku."

Suaranya datar. Dingin. Tidak ada getaran emosi sama sekali.

"Fatih di dalam," Rafiq melanjutkan, menunjuk ke arah pintu UGD dengan dagunya.

"Kecelakaan. Mobil orangtuamu terguling di perempatan. Fatih tidak sadar. Sekarang dirawat."

Aisyah membeku. Wajahnya yang pucat berubah semakin putih seperti kertas. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya yang tadi terulang kini jatuh lemas di sisi tubuhnya.

"Ma-Mama? Papa?" bisiknya lirih.

"Di UGD sebelah. Aku tidak tahu kondisinya. Aku hanya fokus pada Fatih."

Aisyah terhuyung. Kakinya seperti kehilangan tenaga. Ia hampir jatuh jika tidak bersandar ke dinding. Air matanya mengalir deras kembali.

Tangisnya pecah—bukan tangis histeris, tapi tangis yang keluar dari lubuk jiwa yang paling dalam, tangis seorang anak yang baru mengetahui orang tuanya mengalami kecelakaan dan anak satu-satunya terbaring kritis.

"Papa... Mama... Fatih... Ya Allah... Ya Allah..." Aisyah merunduk, kedua tangannya menutup wajah, bahunya tersedu-sedu.

Rafiq melihatnya. Melihat wanita yang tiga jam lalu ia lihat tertawa bahagia di atas tempat tidur bersama sahabatnya. Wanita yang lebih memilih kenikmatan sesaat daripada mengurus anaknya yang sedang sakit. Wanita yang mengirim anaknya pergi agar tidak mengganggu kebersamaan terlarangnya.

Dan sekarang wanita itu menangis. Menangisi orang tuanya. Menangisi anaknya.

Tapi Rafiq tidak merasa iba. Ia hanya merasa kosong. Aisyah akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya yang basah menatap Rafiq.

"Aku mau lihat Fatih."

"Tidak."

Satu kata. Tegas. Tanpa tawar-menawar.

"Tapi dia anakku—"

"Kau ingat itu sekarang?" suara Rafiq naik satu oktaf. Untuk pertama kalinya malam itu, ada emosi yang keluar dari mulutnya. Bukan amarah yang meledak-ledak, tapi amarah yang terkendali. Dingin. Tajam.

"Kau ingat kalau Fatih anak kau setelah kau lebih memilih bersenang-senang dengan Tono sementara Fatih terbaring demam di kamarnya? Kau ingat kalau Fatih anak kau setelah kau menyuruh Mamamu menjemputnya karena kau terlalu sibuk dengan kekasih gelap kau?"

"Aku—aku tidak—"

"KAU TIDAK APA?!" Rafiq melangkah maju. Tubuhnya yang lebih tinggi membayangi Aisyah. Matanya yang kosong tadi kini menyala.

"Kau tidak sengaja? Kau tidak bermaksud? Fatih demam tinggi, Aisyah! ANAK KAU DEMAM! Dan kau memilih untuk—"

Ia berhenti. Menarik napas panjang. Menutup matanya sejenak. Ketika membuka kembali, api di matanya telah padam. Berganti dengan kehampaan yang sama.

"Kau tidak akan masuk ke ruangan itu," katanya pelan. "Kau tidak berhak melihat Fatih sebelum aku mengizinkan. Dan aku tidak tahu kapan itu akan terjadi."

"Tapi—"

"Pergi lihat orangtua kau," potong Rafiq dingin.

"Mereka di UGD sebelah. Doakan mereka. Karena kau jelas tidak pernah belajar mendoakan keluarga kau sendiri."

Aisyah terdiam. Tangisnya terhenti seketika, digantikan oleh ekspresi yang tidak bisa Rafiq baca—apakah itu rasa bersalah, apakah itu kemarahan, atau apakah itu keputusasaan.

Ia menatap Rafiq lama, seolah berharap suaminya akan melunak. Tapi Rafiq tidak bergerak. Ekspresinya beku seperti patung.

Akhirnya Aisyah berbalik.

Langkah kakinya yang lemas membawanya menuju UGD di sebelah. Setiap langkahnya terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.

Rafiq tidak menatapnya pergi. Ia kembali menatap pintu UGD tempat anaknya dirawat.

Pagi datang tanpa Rafiq sadari.

Cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah-celah jendela rumah sakit, menciptakan garis-garis emas di lantai lorong.

Lampu neon yang menyala semalam suntuk kini terlihat pucat di bawah sinar pagi. Beberapa perawat berganti shift, melintas di lorong dengan langkah cepat dan wajah lelah.

Rafiq masih duduk di kursi plastik di depan UGD. Kemeja putihnya yang berlumuran darah kini mengering dan mengeras, menciptakan noda-noda coklat yang tidak lagi terlihat seperti darah—tapi seperti peta kekacauan yang tidak bisa ia baca.

Sepatu ketsnya akhirnya ia pakai dengan benar, tapi tali sepatu kanannya tidak terikat. Wajahnya pucat, mata cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya. Jenggotnya yang biasanya terawat rapi kini tampak berantakan.

Ia tidak tidur semenit pun.

Setiap kali matanya hendak terpejam, ia memaksanya terbuka. Takut jika ia tertidur, sesuatu akan terjadi pada Fatih. Takut jika ia tidak waspada, anaknya akan pergi tanpa ia sadari.

Di tangannya, ponsel bergetar. Layar menampilkan nama: Hendri—Asisten Pribadi.

Rafiq menggeser layar hijau dengan jari yang masih kaku. "Hendri."

"Pak Rafiq, selamat pagi." Suara Hendri di ujung sana terdengar ragu. Ada nada yang tidak biasa dalam suaranya.

"Pak, maaf mengganggu di pagi hari. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."

"Ada apa?"

Hendri menarik napas panjang. "Pak, ini tentang dokumen yang Bapak tanda tangani bulan lalu. Yang katanya untuk proyek di IKN itu."

Rafiq mengernyit. Ingatannya berusaha menarik kembali kejadian sebulan lalu. Iya, Tono datang ke ruangannya dengan setumpuk dokumen.

Katanya itu adalah dokumen pengajuan tender untuk proyek konstruksi di Ibu Kota Nusantara. Katanya ini peluang besar.

Katanya mereka harus segera menandatangani karena batas waktu pengajuan tinggal tiga hari.

Rafiq, yang saat itu sedang sibuk dengan urusan proyek lain dan—jujur saja—sedang terlalu lelah secara mental karena perubahan sikap Aisyah yang semakin aneh, hanya membaca sekilas dokumen itu. Ia percaya pada Tono. Sahabatnya sejak SMA. Partner bisnis yang membangun perusahaan dari nol bersamanya.

Ia menandatangani tanpa berpikir panjang.

"Iya, saya ingat. Ada apa dengan dokumen itu?"

Hendri terdiam beberapa saat. Rafiq bisa mendengar napas asistennya yang terengah-engah, seperti sedang berusaha menenangkan diri.

"Pak, saya baru tahu kemarin malam. Saya dapat informasi dari notaris yang mengurus dokumen itu. Ternyata... ternyata dokumen itu bukan dokumen tender proyek IKN."

Rafiq merasakan ada sesuatu yang dingin menjalar dari ujung tulang ekornya hingga ke tengkorak kepala. "Lalu apa?"

"Dokumen itu adalah... pengalihan aset perusahaan, Pak. Sebesar 70% saham Bapak dialihkan ke nama Bapak Tono."

Dunia Rafiq kembali runtuh.

Untuk ketiga kalinya dalam dua belas jam terakhir.

"Pengalihan aset?" suara Rafiq keluar parau. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar.

"Iya, Pak. Bapak Tono sekarang memegang 85% saham perusahaan. Bapak hanya memiliki 15%. Dengan komposisi itu... Bapak Tono punya hak untuk memecat Bapak kapan saja. Secara hukum, perusahaan sekarang di bawah kendali penuh beliau."

Rafiq tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ponsel di tangannya terasa seperti batu bara panas yang membakar telapak tangannya.

"Hendri... kau yakin?" bisiknya akhirnya.

"Saya sudah cek ke notaris, Pak. Saya sudah lihat salinan dokumennya. Tanda tangan Bapak ada di setiap lembar. Dan... ada saksi. Bapak Tono menjadi saksi untuk dokumen itu. Tanda tangan beliau juga ada."

Rafiq tersenyum. Senyum yang sama seperti semalam. Senyum seorang pria yang terus-menerus dihantam badai hingga tidak tahu lagi harus merasakan apa.

Tono. Sahabatnya. Partner bisnisnya. Saudara yang ia percaya selama belasan tahun.

Tidak cukup merenggut istrinya. Tono juga merenggut perusahaannya. Hasil jerih payah belasan tahun. Keringat, darah, air mata yang ia curahkan untuk membangun sesuatu dari nol. Semua diambil dalam satu bulan. Tanpa sepengetahuannya.

Dan ia menandatanganinya sendiri. Dengan sukarela. Karena ia percaya.

"Terima kasih, Hendri," kata Rafiq dengan suara datar. "Aku hargai informasinya."

"Pak Rafiq... Bapak baik-baik saja?"

"Tidak, Hendri. Aku tidak baik-baik saja. Tapi

terima kasih sudah bertanya."

Ia menutup telepon.

Ponsel itu jatuh dari genggamannya. Jatuh ke lantai keramik dengan suara keras, tapi Rafiq tidak mendengarnya. Ia hanya duduk di kursi plastik itu, menatap dinding seberang dengan mata kosong.

Istri direnggut. Perusahaan direnggut. Anak terbaring kritis.

Semua diambil darinya dalam hitungan jam.

Dan Tono. Tono yang mengambil semuanya.

Tapi anehnya, Rafiq tidak merasakan amarah pada Tono. Tidak merasakan kebencian.

Tidak merasakan apa-apa.

Mungkin karena hatinya sudah terlalu hancur untuk merasakan emosi lain selain kekosongan.

Ia menatap telapak tangannya yang masih berlumuran darah kering. Kaca-kaca kecil masih tertanam di kulitnya, tapi ia tidak merasakan sakit. Ia hanya menatapnya, seperti menatap tangan orang lain.

Mungkin semua ini memang sudah ditakdirkan. Mungkin semua ini adalah harga dari kebaikannya yang terlalu naif. Mungkin ini adalah hukuman karena ia terlalu percaya pada manusia, terlalu mengandalkan makhluk, terlalu melupakan bahwa hanya Tuhan yang layak dipercaya sepenuhnya.

Tapi di mana Tuhan saat ini?

Ia tidak tahu.

Terpopuler

Comments

Mila helsa

Mila helsa

haihhhh,,putus asa gelap hati,udh pasti g BS d hindari

2026-05-02

0

lihat semua
Episodes
1 Malam yang Mengubah Segalanya
2 Luka Sedalam Jurang
3 Harga Sebuah Kelalaian
4 Kecelakaan
5 Ketika Semua Runtuh
6 Kepergian
7 Bibit Dendam
8 Penggelapan Dana
9 Pintu yang Terbuka
10 Awal Kegelapan
11 Stempel Kegelapan
12 Kaf Fa Ro
13 Panggilan Azan
14 Langkah Pertama
15 Teror Untuk Tono
16 Kunjungan
17 Bayangan di Persimpangan
18 Petunjuk Darah dan Tanah Kubur
19 Jejak Kehancuran
20 Rajah Perlindungan
21 Tidak Mempan
22 Kyai Mansyur
23 Penasaran
24 Kondisi Pak RT
25 Pertemuan
26 Kedatangan Kyai Mansyur
27 Guncangan Iman
28 Nasib Pak RT
29 Darah Pertama
30 Darah Pertama
31 Mencari Bantuan
32 Penguasa Hutan Kalimantan
33 Penyesalan Sumarni
34 Pertarungan Dua Penguasa
35 Kesepakatan
36 Jejak yang Tak Terlihat
37 Calon Janin Kedua
38 Korban Kedua
39 Dua kasus Yang Sama
40 Teror Tak Berkesudahan
41 Memburu Bayang-bayang
42 Aku Tak Sanggup
43 Target di Perumahan Elit
44 Polisi Buntu
45 Janin Sari
46 Botol Keempat
47 Menghilang
48 Lepas Dari Penderitaan
49 Putus Asa
50 Target Luar Kota
51 Kyai Mastur
52 Darah Terakhir
53 Pertarungan di Tengah Malam
54 Mengunci Tujuh Nyawa
55 Penjaga Bayangan
56 Denyut Tujuh Nyawa
57 Arti Tanda
58 Penantian Panjang
59 Menitisnya Penguasa Kegelapan
60 Realitas yang Hancur
61 Pemberontakan
62 Batas Kekuatan
63 Pelarian
64 Syarat Mutlak
65 Perburuan Perawan
66 Kabut Hitam
67 Desa yang Kehilangan
68 Rutinitas
69 Gejolak
70 Kabut Hukum
71 Kyai Mastur
72 Persiapan Menembus Batas
73 Dimensi Jiwa
74 Siksaan
75 Kesadaran yang Patah
76 Utusan
77 Teror di Garis Polisi
78 Pertemuan Tiga Ulama
79 Pesta Darah
80 Penjagaan Ring Sembilan
81 Perburuan
82 Penangkapan
83 Ritual
84 Jeritan
85 Badai Kemarahan
86 Darah di Rantai Tembaga
87 Kembalinya Jiwa
88 Runtuhnya Benteng Doa
89 Pengorbanan
90 Gugurnya Kyai Mastur
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam yang Mengubah Segalanya
2
Luka Sedalam Jurang
3
Harga Sebuah Kelalaian
4
Kecelakaan
5
Ketika Semua Runtuh
6
Kepergian
7
Bibit Dendam
8
Penggelapan Dana
9
Pintu yang Terbuka
10
Awal Kegelapan
11
Stempel Kegelapan
12
Kaf Fa Ro
13
Panggilan Azan
14
Langkah Pertama
15
Teror Untuk Tono
16
Kunjungan
17
Bayangan di Persimpangan
18
Petunjuk Darah dan Tanah Kubur
19
Jejak Kehancuran
20
Rajah Perlindungan
21
Tidak Mempan
22
Kyai Mansyur
23
Penasaran
24
Kondisi Pak RT
25
Pertemuan
26
Kedatangan Kyai Mansyur
27
Guncangan Iman
28
Nasib Pak RT
29
Darah Pertama
30
Darah Pertama
31
Mencari Bantuan
32
Penguasa Hutan Kalimantan
33
Penyesalan Sumarni
34
Pertarungan Dua Penguasa
35
Kesepakatan
36
Jejak yang Tak Terlihat
37
Calon Janin Kedua
38
Korban Kedua
39
Dua kasus Yang Sama
40
Teror Tak Berkesudahan
41
Memburu Bayang-bayang
42
Aku Tak Sanggup
43
Target di Perumahan Elit
44
Polisi Buntu
45
Janin Sari
46
Botol Keempat
47
Menghilang
48
Lepas Dari Penderitaan
49
Putus Asa
50
Target Luar Kota
51
Kyai Mastur
52
Darah Terakhir
53
Pertarungan di Tengah Malam
54
Mengunci Tujuh Nyawa
55
Penjaga Bayangan
56
Denyut Tujuh Nyawa
57
Arti Tanda
58
Penantian Panjang
59
Menitisnya Penguasa Kegelapan
60
Realitas yang Hancur
61
Pemberontakan
62
Batas Kekuatan
63
Pelarian
64
Syarat Mutlak
65
Perburuan Perawan
66
Kabut Hitam
67
Desa yang Kehilangan
68
Rutinitas
69
Gejolak
70
Kabut Hukum
71
Kyai Mastur
72
Persiapan Menembus Batas
73
Dimensi Jiwa
74
Siksaan
75
Kesadaran yang Patah
76
Utusan
77
Teror di Garis Polisi
78
Pertemuan Tiga Ulama
79
Pesta Darah
80
Penjagaan Ring Sembilan
81
Perburuan
82
Penangkapan
83
Ritual
84
Jeritan
85
Badai Kemarahan
86
Darah di Rantai Tembaga
87
Kembalinya Jiwa
88
Runtuhnya Benteng Doa
89
Pengorbanan
90
Gugurnya Kyai Mastur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!