Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi

BAB 1: SARAPAN BERNAMA HINAAN

LIMA TAHUN.

Lima tahun adalah seribu delapan ratus dua puluh lima hari. Setiap detiknya, Rizky Santoso menghirup udara yang sama dengan wanita yang membencinya.

Udara di dalam istana megah ini terasa lebih menyesakan daripada asap knalpot di jalanan jakarta. Istana ini bukan rumahnya. Ini adalah sangkar emas tempat harga dirinya perlahan-lahan dimutilasi.

Pagi itu, seperti seribu delapan ratus dua puluh empat pagi sebelumnya, Rizky sudah berdiri di depan kompor induksi seharga motor sport.

Aroma tumisan bawang putih dan jahe yang harum beradu dengan aroma pengharum ruangan beraroma oud yang mahal.

Di tangannya, sebuah pisau santoku buatan Jerman bergerak lincah, memotong sayuran dengan persisi yang bisa membuat koki hotel bintang lima iri.

Ia sedang memasak sup ayam ginseng, menu sarapan favorit Adelia. Bukan karena Adelia memintanya, tapi karena Rizky tahu, suasana hati istrinya yang sedingin kutub utara itu bisa sedikit menghangat jika paginya dimulai dengan sesuatu yang ia suka. Sebuah harapan kecil yang terus ia pelihara, meski berkali-kali diinjak hingga lumat.

“Bi Sumi, tolong siapkan jus jeruknya, ya. Pastikan tidak ada bijinya sama sekali, kata Rizky lembut pada asisten rumah tangga yang sedang mengelap meja makan dari marmer Italia.

Bi Sumi, wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumah ini bahkan sebelum Rizky datang, mengangguk dengan tatapan iba.

Tatapan yang selalu sama setiap pagi. Tatapan yang seolah berkata, Den Rizky orang baik, kenapa nasibnya begini? Rizky hanya membalasnya dengan senyum tipis. Ia sudah kebal dengan tatapan itu.

Tepat pukul tujuh pagi, suara langkah kaki berirama dari lantai atas memecah keheningan. Tak... tak... tak... Suara hak tinggi Christian Louboutin yang menghantam lantai kayu adalah lonceng penanda dimulainya panggung sandiwara pagi ini.

Adelia Maheswari muncul di ambang pintu ruang makan. Tubuhnya dibalut blazer Chanel berwarna putih gading, rambutnya yang hitam legam ditata sempurna, dan wajahnya dipoles riasan tanpa cela. Ia adalah definisi kesuksesan. Cantik, kaya, berkuasa. Dan Rizky, dalam balutan kaus oblong dan celemek, adalah aib yang menempel di kesempurnaan itu.

“Pagi, sapa Rizky, berusaha terdengar ceria sambil meletakkan semangkuk sup panas di depan kursi Adelia.

Adelia tidak menjawab. Matanya sibuk memindai layar ponselnya, jarinya menari lincah di atasnya. Ia duduk, mengambil sendok perak, dan mengaduk sup itu tanpa minat.

“Ginseng lagi", desisnya, nadanya datar tapi menusuk. Rumah ini sudah seperti toko obat tradisional.

Jantung Rizky mencelos. Semalam kamu bilang badanmu sedikit tidak enak, jadi kupikir…

“Aku bilang badanku tidak enak, Rizky, bukan minta dicarikan ramuan untuk orang tua, potong Adelia, meletakkan sendoknya dengan kasar. “Dan apa ini? Kenapa ayamnya dipotong dadu? Aku sudah bilang berkali-kali, aku suka potongan julienne.

Rizky menelan ludah. “Maaf, aku lupa.

“Lupa. Selalu itu jawabanmu, cibir Adelia, mendorong mangkuk itu menjauh. Ia mengambil gelas jus jeruk, meminumnya seteguk, lalu kembali fokus pada ponselnya.

Senyum tipis terukir di bibirnya saat membaca sesuatu di layar. Senyum yang tidak pernah Rizky lihat ditujukan untuknya.

Hinaan adalah sarapannya. Keheningan dingin adalah teman bicaranya.

Rizky menarik napas panjang, mengumpulkan serpihan harga dirinya yang berserakan. Ia mengambil mangkuk sup yang ditolak itu dan membawanya kembali ke dapur. Di sana, ia berdiri sejenak, memejamkan mata. Ia teringat janjinya lima tahun lalu di depan penghulu. Janji untuk mencintai dan menjaga Adelia dalam suka dan duka. Ia sudah berusaha menjaga bagiannya, tapi yang ia dapatkan hanya duka.

Malam harinya, panggung sandiwara berlanjut ke babak yang lebih menyakitkan.

Pengkhianatan adalah makan malamnya.

Adelia pulang larut, aroma parfum maskulin yang asing menempel samar di blazernya. Ia bilang ada rapat penting dengan klien. Rizky, seperti biasa, hanya mengangguk dan menyiapkan air hangat untuknya mandi.

Malam itu, saat Adelia sudah terlelap di ranjang mereka yang luas dan dingin, ponselnya yang tergeletak di meja nakas bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar kunci. Rizky tidak sengaja membacanya.

Bram: Malam ini luar biasa, Sayang. Tidak sabar menagih ‘bonus’-ku lagi besok di kantor.

Bram. Asisten pribadi Adelia. Pria licik yang selalu menatap Rizky dengan senyum meremehkan.

Dunia Rizky berhenti berputar. Suara detak jam di dinding terdengar seperti ledakan bom di telinganya. Udara di dalam paru-parunya terasa membeku. Jadi ini… ini adalah ‘rapat penting’ itu. ‘Bonus’ itu. Ucap hati Rizky.

Rasa sakit yang selama ini ia tekan, yang ia bungkus dengan kesabaran, kini meledak tanpa suara. Bukan ledakan amarah yang membara, melainkan ledakan dingin yang membekukan hatinya hingga menjadi serpihan es.

Lima tahun kesabarannya. Lima tahun pengorbanannya. Dibalas dengan ini.

Dengan tangan gemetar – bukan karena takut, tapi karena kehancuran total yang menyelimuti dirinya – ia mengambil ponsel itu. Tak perlu membukanya jauh-jauh; satu pesan saja sudah cukup untuk membuat dunia nya runtuh.

Ia melangkah pelan ke sisi ranjang Adelia. Wanita itu tertidur pulas, wajahnya tampak begitu damai seolah tak ada apa-apa. Seolah bukan seorang pengkhianat yang telah menghancurkan segala sesuatu yang mereka bangun bersama.

"Adelia..." bisik Rizky, suaranya serak dan terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.

Adelia menggeleng-geleng sedikit saat terbangun, masih mengantuk. "Hmm? Ada apa ya?" jawabnya dengan nada malas, matanya masih menutup rapat.

Rizky tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangkat ponselnya, menyodorkan layarnya tepat di depan wajah istrinya.

Adelia membuka matanya perlahan, beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan fokusnya. Saat ia membaca pesan yang ada di layar, tak ada sedikit pun keterkejutan di wajahnya. Tak ada rasa bersalah yang tampak. Yang ada hanya kilatan jengkel karena tidurnya terganggu begitu saja.

Dia kemudian duduk di ranjang, menatap Rizky dengan tatapan paling dingin yang pernah pernah dilihat oleh pria itu.

"Akhirnya kamu sadar juga?" ujar Adelia, nadanya penuh dengan kemenangan yang terasa sangat kejam. "Aku sudah lelah berpura-pura, Rizky. Sangat sekali lelah.

Tak ada permintaan maaf. Tak ada sedikit pun penyesalan. Hanya konfirmasi yang jelas dan tegas - sebuah konfirmasi yang menghancurkan sisa-sisa harapan terakhir yang masih tersisa di hati Rizky.

Rizky mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Dia menatap wanita yang dulu ia cintai di hadapannya, kemudian melihat sekeliling kamar mewah yang mereka tempati bersama. Semuanya terasa begitu palsu. Semuanya hanyalah kebohongan belaka.

Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis.

Sesuatu di dalam dirinya telah mati malam itu. Sesuatu yang lembut dan selalu siap memaafkan. Dan dari kematian bagian itu, lahirlah sesuatu yang sama sekali berbeda. Sesuatu yang dingin, keras, dan tak kenal ampun.

Tanpa sepatah kata pun, Rizky berbalik arah. Dia berjalan keluar dari kamar itu, melangkah menuruni tangga marmer yang dingin, melewati ruang tamu yang sunyi sepi, lalu membuka pintu depan yang berat.

Hujan deras turun deras membasahi seluruh permukaan bumi, seolah-olah langit sendiri ikut menangisi kematian hati yang terjadi padanya.

Rizky melangkah keluar, masuk ke dalam kegelapan malam yang pekat. Dia tidak membawa apa-apa pun. Tidak ada dompet, tidak ada ponsel – hanya pakaian yang menempel di tubuhnya dan luka dalam yang menganga menyakitkan di jiwanya. Dia meninggalkan sangkar emas itu, meninggalkan lima tahun lamanya hidup yang kini terasa begitu sia-sia.

Ia berjalan tanpa tujuan, dibawah guyuran hujan, membiarkan air mata menyatu dengan air hujan. Malam itu, seorang suami rumah tangga telah mati, Dan di tengah badai, seorang pewaris yang terlupakan mulai membuka matanya, Permainan baru saja akan di mulai.

Terpopuler

Comments

Muft Smoker

Muft Smoker

hai kak ,,
aq mampir niih d cerita kk ,,
waaaah baru ketemu niih kak author ny laki2 ,,

semangat truus kak menulis ny ,,

2026-04-12

1

Achmad

Achmad

coba mampir mungkin cocok

2026-06-03

0

Muft Smoker

Muft Smoker

semangat rizkyy ,,

2026-04-12

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: SARAPAN BERNAMA HINAAN
2 BAB 2: JEMPUTAN DI TENGAH BADAI
3 BAB 3: GERBANG EMAS DAN TATAPAN SANG RAJA
4 BAB 4: AWAL DARI SEBUAH TAKHTA
5 BAB 5: TAKHTA YANG MENUNGGU DAN TATAPAN SKEPTIS
6 BAB 6: BIDAK PERTAMA DAN JEJAK KELEMAHAN
7 BAB 7: JARING LABA-LABA SANG PEWARIS
8 BAB 8: JEBAKAN SANG ARSITEK
9 BAB 9: JATUHNYA SANG RATU SOMBONG
10 BAB 10: KEMBALINYA SANG RAJA LAMA DAN PERANG YANG DIMULAI
11 BAB 11: BADAI BALASAN DAN KEBENARAN YANG TERUNGKAP
12 BAB 12: BADAI YANG MENGGULUNG DAN RAJA YANG BANGKIT
13 BAB 13: JEBAKAN SANG RAJA
14 BAB 14: AKUISISI SANG RAJA
15 BAB 15: BAYANGAN TAKHTA DAN UJIAN PERTAMA
16 BAB 16: NUSANTARA CONNECT - TAKHTA YANG TERBENTANG LUAS
17 BAB 17: PENGKHIANATAN DALAM BAYANGAN CAHAYA
18 BAB 18: API DALAM DADA, STRATEGI DI TANGAN
19 BAB 19: BADAI KEDUA DAN BISIKAN MASA LALU
20 BAB 20: TAKHTA DI TENGAH BADAI DAN JANJI YANG TERUKIR
21 BAB 21: AKAR YANG MENJANGKAR, SAYAP YANG TERBANG
22 BAB 22: BADAI DI ATAS LANGIT
23 BAB 23: AKAR BARU DI TANAH LAMA
24 BAB 24: BADAI YANG MENGUJI AKAR
25 BAB 25: TITIK BALIK DI TENGAH KEGELAPAN
26 BAB 26: JEJAK BAYANGAN DAN UJIAN KESETIAAN
27 BAB 27: SIMFONI PENGKHIANATAN
28 BAB 28: BADAI BURSA DAN SENYUM MISTERIUS
29 BAB 29: TARUHAN TERAKHIR DAN BISIKAN ULAR
30 BAB 30: INTERFERENSI GHOST
31 BAB 31: BADAI HYDRA DAN BISIKAN DI BALIK KODE
32 BAB 32: JARING PENGKHIANATAN
33 BAB 33: BADAI DI TENGAH BADAI
34 BAB 34: INFILTRASI BERBAHAYA DI GLOBALNET
35 BAB 35: BADAI GANDA, API DI DUA FRONT
36 BAB 36: DETIK-DETIK PENENTUAN
37 BAB 37: BADAI DIGITAL DAN KEBANGKITAN PHOENIX
38 BAB 38: PUING-PUING KEANGKUHAN
39 BAB 39: BAYANG-BAYANG SANG ARSITEK
Episodes

Updated 39 Episodes

1
BAB 1: SARAPAN BERNAMA HINAAN
2
BAB 2: JEMPUTAN DI TENGAH BADAI
3
BAB 3: GERBANG EMAS DAN TATAPAN SANG RAJA
4
BAB 4: AWAL DARI SEBUAH TAKHTA
5
BAB 5: TAKHTA YANG MENUNGGU DAN TATAPAN SKEPTIS
6
BAB 6: BIDAK PERTAMA DAN JEJAK KELEMAHAN
7
BAB 7: JARING LABA-LABA SANG PEWARIS
8
BAB 8: JEBAKAN SANG ARSITEK
9
BAB 9: JATUHNYA SANG RATU SOMBONG
10
BAB 10: KEMBALINYA SANG RAJA LAMA DAN PERANG YANG DIMULAI
11
BAB 11: BADAI BALASAN DAN KEBENARAN YANG TERUNGKAP
12
BAB 12: BADAI YANG MENGGULUNG DAN RAJA YANG BANGKIT
13
BAB 13: JEBAKAN SANG RAJA
14
BAB 14: AKUISISI SANG RAJA
15
BAB 15: BAYANGAN TAKHTA DAN UJIAN PERTAMA
16
BAB 16: NUSANTARA CONNECT - TAKHTA YANG TERBENTANG LUAS
17
BAB 17: PENGKHIANATAN DALAM BAYANGAN CAHAYA
18
BAB 18: API DALAM DADA, STRATEGI DI TANGAN
19
BAB 19: BADAI KEDUA DAN BISIKAN MASA LALU
20
BAB 20: TAKHTA DI TENGAH BADAI DAN JANJI YANG TERUKIR
21
BAB 21: AKAR YANG MENJANGKAR, SAYAP YANG TERBANG
22
BAB 22: BADAI DI ATAS LANGIT
23
BAB 23: AKAR BARU DI TANAH LAMA
24
BAB 24: BADAI YANG MENGUJI AKAR
25
BAB 25: TITIK BALIK DI TENGAH KEGELAPAN
26
BAB 26: JEJAK BAYANGAN DAN UJIAN KESETIAAN
27
BAB 27: SIMFONI PENGKHIANATAN
28
BAB 28: BADAI BURSA DAN SENYUM MISTERIUS
29
BAB 29: TARUHAN TERAKHIR DAN BISIKAN ULAR
30
BAB 30: INTERFERENSI GHOST
31
BAB 31: BADAI HYDRA DAN BISIKAN DI BALIK KODE
32
BAB 32: JARING PENGKHIANATAN
33
BAB 33: BADAI DI TENGAH BADAI
34
BAB 34: INFILTRASI BERBAHAYA DI GLOBALNET
35
BAB 35: BADAI GANDA, API DI DUA FRONT
36
BAB 36: DETIK-DETIK PENENTUAN
37
BAB 37: BADAI DIGITAL DAN KEBANGKITAN PHOENIX
38
BAB 38: PUING-PUING KEANGKUHAN
39
BAB 39: BAYANG-BAYANG SANG ARSITEK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!