Bab 5: Pagi di Balik Selimut yang Sama

Sinar matahari menyusup melalui celah gorden sutra, menggelitik kelopak mataku. Aku mengerang pelan, mencoba menarik selimut lebih tinggi, namun tanganku justru menyentuh sesuatu yang hangat dan keras. Bukan bantal, melainkan... lengan seseorang.

Aku membuka mata sepenuhnya. Jantungku hampir melompat keluar saat melihat wajah Liam hanya berjarak beberapa sentimeter dariku. Dia masih terlelap. Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh ancaman kini terlihat sangat tenang, hampir seperti malaikat jika aku lupa dia adalah CEO kejam yang ditakuti seluruh negeri.

[Dia masih tidur... wajahnya saat tenang begini cantik sekali. Haruskah aku bangun sekarang? Tapi aku tidak mau melepaskan momen ini. Aku ingin memandangnya lebih lama. Blair... kenapa kau tiba-tiba membiarkanku sedekat ini?]

Aku tersentak. Suara hatinya! Ternyata dia sudah bangun?

Aku melirik Liam. Matanya masih tertutup rapat, napasnya teratur. Oh, jadi dia sedang berpura-pura tidur? Aku menahan senyum geli. Ternyata Tuan Alexander yang terhormat ini punya hobi mengintip istrinya di dalam hati.

"Bangun, Liam. Aku tahu kau sudah sadar," ucapku sambil menyenggol lengannya.

Liam tersentak, kelopak matanya terbuka lebar dengan ekspresi panik yang tertahan. Ia langsung menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api.

"Aku... aku baru saja bangun," sahutnya kaku, suaranya serak khas orang bangun tidur yang terdengar sangat seksi.

"Benarkah? Padahal suara hatimu bilang kau sudah lama memperhatikanku," batinku tertawa.

"Kau tidak mengusirku semalam," Liam duduk di tepi ranjang, membelakangiku. Punggungnya yang lebar terlihat sangat tegap, namun bahunya sedikit tegang.

"Kenapa aku harus mengusir suamiku sendiri? Itu melelahkan," aku beranjak duduk, merapikan rambutku yang berantakan. "Dan mulai sekarang, lupakan kamar tamu itu. Kecuali kau memang lebih suka tidur sendiri dengan bantal dingin."

Liam menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kau serius? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk membiusku lalu kabur dengan Andreas, kan?"

Aku menghela napas panjang, menatapnya dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Liam, kalau aku mau kabur, aku sudah melakukannya sejak kemarin. Berhenti menjadi paranoid. Andreas itu hanya masa lalu yang memuakkan. Mengerti?"

Liam terdiam. Secara lahiriah dia hanya mengangguk pelan, tapi di kepalaku...

[DIA MEMANGGILKU 'SUAMIKU'! Dan dia bilang Andreas memuakkan! Ya Tuhan, apakah aku harus memberikan bonus 200% untuk semua karyawan hari ini? Aku ingin menari! Aku ingin membelikannya pulau pribadi! Dia benar-benar milikku sekarang!]

"Cepat mandi," ucapku sambil melempar bantal ke arahnya agar dia tidak terus melamunkan bonus karyawan. "Aku akan menyiapkan sarapan. Dan pastikan Axelle juga sudah siap. Aku tidak mau dia berangkat sekolah dengan perut kosong lagi."

"Kau mau memasak lagi?" tanya Liam, alisnya bertaut. "Ada koki di rumah ini, Blair."

"Masakan koki tidak punya bumbu rahasia sepertiku," balasku sambil melangkah menuju kamar mandi.

"Bumbu rahasia apa?"

"Cinta," jawabku asal sambil menutup pintu kamar mandi.

Aku bisa mendengar suara gedebuk pelan dari luar. Sepertinya Liam baru saja jatuh dari pinggir ranjang karena terkejut.

[CINTA?! Dia bilang bumbu rahasianya cinta? Blair... kau benar-benar ingin membunuhku dengan serangan jantung, ya?]

...****************...

Tiga puluh menit kemudian, di ruang makan.

Suasana pagi ini jauh lebih hangat. Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi ruangan. Axelle sudah duduk di kursinya, wajahnya tampak lebih segar meskipun luka di bibirnya masih ada.

"Pagi, Axelle," sapaku sambil meletakkan sepiring nasi di depannya.

Axelle mendongak, matanya menatapku dengan binar yang berbeda. Tidak ada lagi kebencian yang meluap-luap, meski rasa canggung itu masih ada. "Pagi... Ma."

Tanganku gemetar sedikit. Dia memanggilku 'Ma'. Bukan 'Nyonya' atau 'Penyihir'. Hanya 'Ma'.

Liam menyusul masuk ke ruang makan, sudah rapi dengan setelan jas hitamnya yang sangat berwibawa. Namun, saat melihatku, tatapannya langsung melembut—sesuatu yang membuat para pelayan di sekitar kami saling lirik dengan wajah heran.

"Duduklah, Tuan CEO. Sarapanmu sudah siap," ucapku.

Kami makan dalam diam, namun ini bukan kesunyian yang mencekam seperti kemarin. Ini adalah kesunyian yang nyaman. Sampai tiba-tiba, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru.

"Tuan... itu... di depan ada Tuan Andreas. Beliau memaksa masuk dan ingin bertemu dengan Nyonya Blair," lapor pelayan itu dengan wajah pucat.

Prang!

Liam menjatuhkan garpunya. Auranya seketika berubah menjadi sangat gelap dan dingin. Matanya berkilat penuh amarah, dan tangannya mengepal kuat di atas meja.

[BERANI-BERANINYA DIA! Pria parasit itu berani menginjakkan kaki di rumahku setelah Blair bilang dia muak? Aku akan menghancurkannya! Aku akan memastikan dia tidak bisa melihat matahari besok!]

Axelle juga langsung menegang, tangannya gemetar memegang sendok. Ia menatapku dengan tatapan takut, seolah-olah ia berpikir aku akan langsung berlari ke pelukan Andreas dan meninggalkannya lagi.

Aku mengusap bibirku dengan serbet, lalu berdiri dengan tenang. "Biar aku yang hadapi."

"Tidak!" Liam berdiri, menahan lenganku. "Biar pengawalku yang mengusirnya. Kau tidak perlu melihatnya."

[Jangan temui dia, Blair. Kumohon... jangan pergi padanya lagi. Hatiku tidak akan sanggup jika melihatmu tersenyum padanya setelah semua kebaikanmu pagi ini.]

Aku menangkup tangan Liam yang memegang lenganku. Matanya yang penuh ketakutan itu membuatku ingin menangis. "Tenanglah, Liam. Aku hanya ingin membereskan sampah agar rumah kita tetap bersih. Kau tetaplah di sini bersama Axelle."

Aku memberikan senyum paling manis yang pernah kuberikan pada Liam, lalu melangkah menuju pintu depan dengan langkah yang mantap.

"Andreas, ya?" gumamku sambil mengepalkan tangan. "Mari kita lihat bagaimana rasanya berurusan dengan pegawai bank yang paling ahli menghadapi nasabah nakal!"

Terpopuler

Comments

Nasyya

Nasyya

🤣🤣🤣🤣🤣

lucu y dengar suara hati orang, liam kamu g bisa ni simpan rahasia

2026-04-10

1

umie chaby_ba

umie chaby_ba

wwiihh.. kekuatan pegawai bank nih

2026-04-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Jangan Gunakan Namaku!
2 Bab 2: Pamit yang Tak Pernah Sampai
3 Bab 3: Luka yang Tak Terlihat + Visualisasi
4 Bab 4: Aroma yang Tak Biasa
5 Bab 5: Pagi di Balik Selimut yang Sama
6 Bab 6: Sampah di Ambang Pintu
7 Bab 7: Sketsa yang Terwujud
8 Bab 8: Racun di Dalam Kristal
9 Bab 9: Penantian Enam Belas Tahun
10 Bab 10: Sinar Mentari di Meja Makan
11 Bab 11: Labirin di Balik Pintu Kamar
12 Bab 12: Retakan di Balik Topeng
13 Bab 13: Singa Betina Alexander Beraksi
14 Bab 14: Sang Pencipta yang Terbuang
15 Bab 15: Aliansi di Balik Kamar Kerja
16 Bab 16: Akhir dari Sebuah Parasit
17 Bab 17: Inkarnasi Sang Dewi Palsu
18 Bab 18: Antara Logika dan Rindu
19 Bab 19: Sang Ibu yang Kembali Menghakimi
20 Bab 20: Meja Makan yang Terbelah
21 Bab 21: Jarak yang Menyakitkan
22 Bab 22: Ketegasan Sang Penguasa
23 Bab 23: Bayang-Bayang Plagiarisme
24 Bab 24: Makan Malam yang Beradu Racun
25 Bab 25: Gengsi yang Runtuh di Warung Sate
26 Bab 26: Busa Sabun dan Ciuman yang Tercuri
27 Bab 27: Diagnosis Palsu Sang Ratu
28 Bab 28: Panggung Sang Pencipta yang Runtuh
29 Bab 29: Sisa Badai di Balik Senyum
30 Bab 30: Tamu dari Negeri Salju
31 Bab 31: Sandiwara di Balik Pintu Tertutup
32 Bab 32: Logika di Balik Estetika
33 Bab 33: Jejak Merah di Arsip Lama
34 Bab 34: Perjamuan Para Pengkhianat
35 Bab 35: Hantu di Sudut Gudang
36 Bab 36: Negosiasi di Balik Bayang-Bayang
37 Bab 37: Desain di Balik Jeruji Emas
38 Bab 38: Kilau yang Mengancam
39 Bab 39: Gema Penyesalan dari Seberang Samudera
40 Bab 40: Panggung Berlian di Atas Bara
41 Bab 41: Detik yang Membeku
42 Bab 42: Salep dan Sumpah di Balik Kelambu
43 Bab 43: Sisa Abu di Cangkir Porselen
44 Bab 44: Kunci Perak dan Logika Digital
45 Bab 45: Salju yang Menyimpan Rahasia
46 Bab 46: Labirin di Jantung Sunyi
47 Bab 47: Kebangkitan Sang Bayangan
48 Bab 48: Kabin yang Mencekam
49 Bab 49: Hening di Ambang Pintu
50 Bab 50: Simfoni Kehancuran Sang Mawar Hitam
51 Bab 51: Suara dari Balik Tirai Narasi
52 Bab 52: Penjara Kaca dan Labirin Digital
53 Bab 53: Catur Digital Sang Arsitek
54 Bab 54: Pelarian di Bawah Langit Kelam
55 Bab 55: Dialog di Tengah Badai
56 Bab 56: Perjanjian di Bawah Kilatan Merah
57 Bab 57: Singgasana di Atas Menara Kaca
58 Bab 58: Sandi di Antara Desis Frekuensi
59 Bab 59: Perjamuan Para Serigala di Zurich
60 Bab 60: Retakan di Menara Kaca
61 Bab 61: Pelarian di Puncak Beku
62 Bab 62: Kastil di Balik Kabut Perbatasan
63 Bab 63: Denyut Terakhir Sang Mawar
64 Bab 64: Peta di Atas Meja Bundar
65 Bab 65: Labirin di Bawah Gletser
66 Bab 66: Pilihan Sang Permaisuri
67 Bab 67: Debu di Atas Gletser
68 Bab 68: Kepulangan Sang Jenderal Muda
69 Bab 69: Sinyal Kedamaian di Ujung Dunia
70 Bab 70: Ritme Baru di Balik Gemerlap Kota
71 Bab 71: Gema dari Masa Depan
72 Bab 72: Retakan di Balik Sempurna
73 Bab 73: Sisa Napas di Ambang Garis
74 Bab 74: Gerbang yang Memudar
75 Bab 75: Kesadaran yang Terlempar Pulang
76 Bab 76: Fragmentasi Memori yang Hilang
77 Bab 77: Memulihkan Titik Nol
78 Bab 78: Gema yang Tertinggal di Layar Gelap
79 Bab 79: Pertemuan yang Mustahil
80 Bab 80: Pesona Sang Permaisuri di Dunia Nyata
81 Bab 81: Gelak Tawa di Bawah Lampu Pasar Malam
82 Bab 82: Konfrontasi di Balik Gulali
83 Bab 83: Gema Luka di Balik Dinding Dingin
84 Bab 84: Surat Pemecatan dan Benang yang Terputus
85 Bab 85: Kontrak di Atas Luka
86 Bab 86: Pecahnya Sangkar Kaca
87 Bab 87: Labirin Takdir yang Pecah
88 Bab 88: Tinta Darah di Atas Kertas Putih
89 Bab 89: Sangkar Emas yang Berderit
90 Bab 90: Pecahnya Segel Memori
91 Bab 91: Topeng di Balik Sandiwara
92 Bab 92: Frekuensi yang Bocor
93 Bab 93: Jebakan Sang Arsitek
94 Bab 94: Pertaruhan di Balik Pagar Sekolah
95 Bab 95: Interogasi di Kamar Utama
96 Bab 96: Sandiwara di Balik Panggung
97 Bab 97: Frekuensi yang Bertabrakan
98 Bab 98: Di Ambang Penghapusan
99 Bab 99: Sandiwara dalam Kehampaan
100 Bab 100: Perang di Balik Dinding Senyap
101 Bab 101: Menjelang Fajar Terakhir
102 Bab 102: Fajar yang Berbeda
103 Bab 103: Detik-Detik Tanpa Naskah
104 Bab 104: Rahasia Remaja dan Badai Cemburu
105 Bab 105: Detak Jantung yang Baru
106 Bab 106: Algoritma yang Lumpuh
107 Bab 107: Virus Bernama Cinta
108 Bab 108: Skenario Tanpa Kode
109 Bab 109: Debar di Balik Pintu Jati
110 Bab 110: Sarapan yang Tercekik
111 Bab 111: Tamu di Sarang Singa
112 Bab 112: Jejak Masa Lalu di Atas Kertas
113 Bab 113: Kencan Pertama dan Investigasi Tersembunyi
114 Bab 114: Sisi Dingin Sang Alexander
115 Bab 115: Gema Narasi yang Nyata
116 Bab 116: Melawan Bayangan Tinta
117 Bab 117: Diplomasi Sang Arsitek
118 Bab 118: Topeng Sempurna Sang Alexander
119 Bab 119: Sisa Tinta di Balik Senyum
120 Bab 120: Titik Nol
121 Bab 121: Akhir yang Menjadi Awal
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Bab 1: Jangan Gunakan Namaku!
2
Bab 2: Pamit yang Tak Pernah Sampai
3
Bab 3: Luka yang Tak Terlihat + Visualisasi
4
Bab 4: Aroma yang Tak Biasa
5
Bab 5: Pagi di Balik Selimut yang Sama
6
Bab 6: Sampah di Ambang Pintu
7
Bab 7: Sketsa yang Terwujud
8
Bab 8: Racun di Dalam Kristal
9
Bab 9: Penantian Enam Belas Tahun
10
Bab 10: Sinar Mentari di Meja Makan
11
Bab 11: Labirin di Balik Pintu Kamar
12
Bab 12: Retakan di Balik Topeng
13
Bab 13: Singa Betina Alexander Beraksi
14
Bab 14: Sang Pencipta yang Terbuang
15
Bab 15: Aliansi di Balik Kamar Kerja
16
Bab 16: Akhir dari Sebuah Parasit
17
Bab 17: Inkarnasi Sang Dewi Palsu
18
Bab 18: Antara Logika dan Rindu
19
Bab 19: Sang Ibu yang Kembali Menghakimi
20
Bab 20: Meja Makan yang Terbelah
21
Bab 21: Jarak yang Menyakitkan
22
Bab 22: Ketegasan Sang Penguasa
23
Bab 23: Bayang-Bayang Plagiarisme
24
Bab 24: Makan Malam yang Beradu Racun
25
Bab 25: Gengsi yang Runtuh di Warung Sate
26
Bab 26: Busa Sabun dan Ciuman yang Tercuri
27
Bab 27: Diagnosis Palsu Sang Ratu
28
Bab 28: Panggung Sang Pencipta yang Runtuh
29
Bab 29: Sisa Badai di Balik Senyum
30
Bab 30: Tamu dari Negeri Salju
31
Bab 31: Sandiwara di Balik Pintu Tertutup
32
Bab 32: Logika di Balik Estetika
33
Bab 33: Jejak Merah di Arsip Lama
34
Bab 34: Perjamuan Para Pengkhianat
35
Bab 35: Hantu di Sudut Gudang
36
Bab 36: Negosiasi di Balik Bayang-Bayang
37
Bab 37: Desain di Balik Jeruji Emas
38
Bab 38: Kilau yang Mengancam
39
Bab 39: Gema Penyesalan dari Seberang Samudera
40
Bab 40: Panggung Berlian di Atas Bara
41
Bab 41: Detik yang Membeku
42
Bab 42: Salep dan Sumpah di Balik Kelambu
43
Bab 43: Sisa Abu di Cangkir Porselen
44
Bab 44: Kunci Perak dan Logika Digital
45
Bab 45: Salju yang Menyimpan Rahasia
46
Bab 46: Labirin di Jantung Sunyi
47
Bab 47: Kebangkitan Sang Bayangan
48
Bab 48: Kabin yang Mencekam
49
Bab 49: Hening di Ambang Pintu
50
Bab 50: Simfoni Kehancuran Sang Mawar Hitam
51
Bab 51: Suara dari Balik Tirai Narasi
52
Bab 52: Penjara Kaca dan Labirin Digital
53
Bab 53: Catur Digital Sang Arsitek
54
Bab 54: Pelarian di Bawah Langit Kelam
55
Bab 55: Dialog di Tengah Badai
56
Bab 56: Perjanjian di Bawah Kilatan Merah
57
Bab 57: Singgasana di Atas Menara Kaca
58
Bab 58: Sandi di Antara Desis Frekuensi
59
Bab 59: Perjamuan Para Serigala di Zurich
60
Bab 60: Retakan di Menara Kaca
61
Bab 61: Pelarian di Puncak Beku
62
Bab 62: Kastil di Balik Kabut Perbatasan
63
Bab 63: Denyut Terakhir Sang Mawar
64
Bab 64: Peta di Atas Meja Bundar
65
Bab 65: Labirin di Bawah Gletser
66
Bab 66: Pilihan Sang Permaisuri
67
Bab 67: Debu di Atas Gletser
68
Bab 68: Kepulangan Sang Jenderal Muda
69
Bab 69: Sinyal Kedamaian di Ujung Dunia
70
Bab 70: Ritme Baru di Balik Gemerlap Kota
71
Bab 71: Gema dari Masa Depan
72
Bab 72: Retakan di Balik Sempurna
73
Bab 73: Sisa Napas di Ambang Garis
74
Bab 74: Gerbang yang Memudar
75
Bab 75: Kesadaran yang Terlempar Pulang
76
Bab 76: Fragmentasi Memori yang Hilang
77
Bab 77: Memulihkan Titik Nol
78
Bab 78: Gema yang Tertinggal di Layar Gelap
79
Bab 79: Pertemuan yang Mustahil
80
Bab 80: Pesona Sang Permaisuri di Dunia Nyata
81
Bab 81: Gelak Tawa di Bawah Lampu Pasar Malam
82
Bab 82: Konfrontasi di Balik Gulali
83
Bab 83: Gema Luka di Balik Dinding Dingin
84
Bab 84: Surat Pemecatan dan Benang yang Terputus
85
Bab 85: Kontrak di Atas Luka
86
Bab 86: Pecahnya Sangkar Kaca
87
Bab 87: Labirin Takdir yang Pecah
88
Bab 88: Tinta Darah di Atas Kertas Putih
89
Bab 89: Sangkar Emas yang Berderit
90
Bab 90: Pecahnya Segel Memori
91
Bab 91: Topeng di Balik Sandiwara
92
Bab 92: Frekuensi yang Bocor
93
Bab 93: Jebakan Sang Arsitek
94
Bab 94: Pertaruhan di Balik Pagar Sekolah
95
Bab 95: Interogasi di Kamar Utama
96
Bab 96: Sandiwara di Balik Panggung
97
Bab 97: Frekuensi yang Bertabrakan
98
Bab 98: Di Ambang Penghapusan
99
Bab 99: Sandiwara dalam Kehampaan
100
Bab 100: Perang di Balik Dinding Senyap
101
Bab 101: Menjelang Fajar Terakhir
102
Bab 102: Fajar yang Berbeda
103
Bab 103: Detik-Detik Tanpa Naskah
104
Bab 104: Rahasia Remaja dan Badai Cemburu
105
Bab 105: Detak Jantung yang Baru
106
Bab 106: Algoritma yang Lumpuh
107
Bab 107: Virus Bernama Cinta
108
Bab 108: Skenario Tanpa Kode
109
Bab 109: Debar di Balik Pintu Jati
110
Bab 110: Sarapan yang Tercekik
111
Bab 111: Tamu di Sarang Singa
112
Bab 112: Jejak Masa Lalu di Atas Kertas
113
Bab 113: Kencan Pertama dan Investigasi Tersembunyi
114
Bab 114: Sisi Dingin Sang Alexander
115
Bab 115: Gema Narasi yang Nyata
116
Bab 116: Melawan Bayangan Tinta
117
Bab 117: Diplomasi Sang Arsitek
118
Bab 118: Topeng Sempurna Sang Alexander
119
Bab 119: Sisa Tinta di Balik Senyum
120
Bab 120: Titik Nol
121
Bab 121: Akhir yang Menjadi Awal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!