Immortal Legacy

Immortal Legacy

BAB 1: Hujan Darah di Desa Daun Kering

Langit di atas Desa Daun Kering tidak lagi biru. Sejak tiga hari lalu, semburat merah pekat seperti karat mengotori awan, seolah langit itu sendiri sedang terluka parah.

Zeng Niu, seorang bocah kurus berusia dua belas tahun, mengusap keringat di dahinya yang kotor. Di tangannya terdapat kapak kayu yang tumpul. Ia mengatur napasnya, mencoba mempraktikkan teknik pernapasan amatir yang ia intip dari seorang pengawal karavan beberapa bulan lalu.

Satu tarikan napas panjang... dua hembusan pendek...

Zeng Niu memejamkan mata, berusaha merasakan apa yang disebut orang-orang sebagai Qi Langit dan Bumi. Namun, Dantian nya kosong. Tidak ada kehangatan, tidak ada energi yang mengalir. Tubuhnya ibarat ember kayu yang bocor.

"Bakatku memang seburuk lumpur," gumam Zeng Niu datar. Suaranya tidak menyimpan kekecewaan, hanya penerimaan atas realitas. Ia tidak punya dukungan klan, tidak punya guru, dan akar spiritualnya nyaris tidak ada. Bagi dunia kultivasi yang agung, ia hanyalah semut fana yang ditakdirkan mati sebagai penebang kayu.

Namun, sebelum ia bisa mengayunkan kapaknya lagi, setetes cairan hangat jatuh menetes di punggung tangannya.

Zeng Niu menunduk. Cairan itu kental, merah gelap, dan berbau amis yang menyengat.

Hujan darah.

Tiba-tiba, lolongan anjing terdengar dari arah desa. Lolongan itu sangat panjang, lalu terputus secara tidak wajar, digantikan oleh suara robekan daging dan jeritan manusia.

Zeng Niu menjatuhkan kapaknya dan berlari menuju desa. Apa yang menyambutnya di sana adalah pemandangan dari neraka lapis kesembilan.

Sapi-sapi ternak yang biasanya jinak kini memiliki mata merah menyala, dengan tulang rusuk yang mencuat keluar dari kulit mereka membentuk duri-duri tajam. Anjing penjaga kepala desa telah membengkak seukuran kuda, rahangnya terbelah menjadi tiga bagian, meneteskan liur beracun yang membakar tanah.

Hewan-hewan ini telah bermutasi menjadi Yao Aberasi.

"Niu'er! Lari!"

Zeng Niu membeku. Di pelataran rumah tanah liat mereka, ayahnya sedang memegang cangkul, berusaha menahan anjing mutan yang mengamuk. Dalam sekejap mata, cangkul itu patah. Cakar sang monster menyapu, memisahkan kepala ayahnya dari tubuhnya dalam satu tebasan brutal. Darah menyemprot ke dinding rumah.

Ibunya, yang baru saja keluar dari dapur, ditabrak oleh sapi mutan dan diinjak hingga tubuhnya hancur.

Tidak ada kata-kata perpisahan yang heroik. Tidak ada cahaya pelindung dari langit. Kematian di Era Keruntuhan Surga datang begitu cepat, murah, dan tanpa martabat.

Napas Zeng Niu tercekat di tenggorokan. Rasa takut yang begitu kuat mencengkeram jantungnya, membuat seluruh tubuhnya mati rasa. Namun, alih-alih berteriak atau menangis histeris seperti anak-anak lain yang kini sedang dikoyak di tengah jalan, pikiran Zeng Niu menjadi sangat dingin. Insting murni untuk bertahan hidup mengambil alih sisa-sisa kemanusiaannya.

Sembunyi.

Tanpa melihat ke belakang, ia merunduk di bawah pagar kayu dan merayap masuk ke semak-semak lebat, bergerak menuju belakang balai desa. Di sana terdapat sumur tua yang sudah mengering setengahnya.

Dengan tangkas dan tanpa suara, Zeng Niu menyelinap ke dalam mulut sumur. Ia menggunakan punggung dan kedua kakinya untuk menahan diri di dinding batu sumur yang berlumut, turun perlahan hingga mencapai dasar yang lembab. Kegelapan menyelimutinya.

Dari atas, suara jeritan warga desa perlahan berubah menjadi rintihan, dan akhirnya, hanya menyisakan suara kunyahan tulang dan daging yang memuakkan.

Zeng Niu duduk memeluk lututnya di dasar sumur. Ia menggigit lengannya sendiri kuat-kuat, menahan agar giginya tidak gemeretak karena gemetar. Air mata mengalir di wajahnya yang kotor, tapi matanya menatap kosong ke dinding batu.

Satu hari berlalu. Suara monster di atas masih terdengar mondar-mandir. Dua hari berlalu. Perut Zeng Niu melilit hebat, tenggorokannya kering seperti terbakar bara api.

Pada hari ketiga, hujan darah turun dengan lebat.

Air hujan yang bercampur dengan darah monster dan manusia merembes masuk melalui bibir sumur, mengalir turun ke dasar. Genangan air kotor setinggi mata kaki terbentuk di sekitar Zeng Niu. Bau amisnya membuat perutnya mual, namun dahaga telah membawanya ke ambang kematian.

Yang ada hanyalah genangan air darah yang menjijikkan.

Zeng Niu menatap air tersebut. Jika ia meminumnya, ia mungkin mati keracunan mutasi. Jika ia tidak meminumnya, ia pasti mati kehausan.

"Aku tidak akan mati di sini," batinnya, matanya menajam, kehilangan kepolosan masa kecil selamanya. "Dewa menjatuhkan bencana ini... maka aku akan menelan bencana ini untuk tetap hidup!"

Zeng Niu menangkupkan kedua tangannya yang gemetar, meraup air hujan bercampur darah Yao, dan meminumnya dengan rakus.

Seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa meledak di dalam perutnya. Darah mutan itu liar dan buas, merobek-robek organ dalamnya layaknya ribuan jarum. Tubuh kurusnya menegang keras, urat-urat menonjol di lehernya. Kulitnya memerah seolah direbus.

Jika ia memiliki akar spiritual yang baik, energinya akan tersalurkan ke Dantian. Namun karena Dantian nya tertutup, energi liar itu tidak punya tempat pelarian dan mulai merusak otot serta tulangnya secara brutal.

Ia merobek ujung bajunya, menyumpalnya ke dalam mulut, dan menggigitnya kuat-kuat agar tidak berteriak. Ia menggunakan teknik pernapasan karavan yang cacat itu bukan untuk menyerap Qi, melainkan semata-mata untuk menjaga kesadarannya agar tidak gila karena rasa sakit.

Selama berjam-jam, di dalam kegelapan sumur yang mencekam, tubuh manusia biasa Zeng Niu dihancurkan dan ditempa ulang secara paksa. Ia tidak memahami Dao, ia tidak memahami hukum alam; ia hanya menggunakan ketekunan yang kejam untuk menaklukkan energi di dalam tubuhnya.

Ketika rasa sakit itu akhirnya mereda perlahan seiring fajar menyingsing, kain di mulut Zeng Niu telah hancur oleh gigitannya sendiri. Ia terengah-engah, berlumuran lumpur, keringat, dan darah hitam yang merembes dari pori-porinya.

Ia mengepalkan tinjunya. Ada sensasi yang asing. Otot-ototnya yang dulu lemah kini terasa padat, tulangnya sekeras besi. Tanpa ia ketahui, melalui metode yang bunuh diri dan tanpa bimbingan siapa pun, ia telah menembus Penempatan Tubuh Tahap 1.

Zeng Niu mendongak ke atas, menatap secercah langit kelabu dari lubang sumur. Tatapannya sedingin es abadi. Hari itu, bocah fana di Desa Daun Kering mati bersamanya, digantikan oleh seorang pengembara yang akan menantang dewa.

...SISTEM KULTIVASI:...

...1. Penempaan Tubuh Tahap 1-9...

...2. Pengumpulan Qi Tahap 1-9...

...3. Foundation Establishment...

...4. Gorden Core...

...5. Nascent Soul...

...6. Spirit Severing...

...7. Void Refining...

...8. Dao Fusion...

...9. Immortal...

Terpopuler

Comments

Kesatria Nangtjik

Kesatria Nangtjik

Aku prediksi kelak zeng niu akan menjadi dewa diatas dewa hehehe...

2026-05-30

1

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

🐉🐉🐉🐉

2026-05-30

0

Amiera Syaqilla

Amiera Syaqilla

salam sejahtera author💕

2026-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Hujan Darah di Desa Daun Kering
2 BAB 2: Tangisan dalam Bisu
3 BAB 3: Gulungan Pengembara
4 BAB 4: Peta Menuju Kehidupan
5 BAB 5: Pertemuan di Jalur Darah
6 BAB 6: Kabut Darah
7 BAB 7: Taruhan Nyawa (Bagian 1)
8 BAB 8: Taruhan Nyawa (Bagian 2)
9 BAB 9: Api Unggun
10 BAB 10: Bayangan Sang Raja
11 BAB 11: Gerbang Berdarah Kota Debu
12 BAB 12: Gadis yang Tidak Jujur
13 BAB 13: Pasar Gelap
14 BAB 14: Umpan Bayangan
15 BAB 15: Aturan Akademi Jiannan
16 BAB 16: Retaknya Giok Surgawi
17 BAB 17: Mata Para Dewa
18 BAB 18: Cermin Kebohongan
19 BAB 19: Peta Berdarah
20 BAB 20: Teratai Jantung Darah
21 BAB 21: Kebangkitan Dantian Berdarah
22 BAB 22: Jatuhnya Pedang Petir
23 BAB 23: Teriakan dari Dimensi Lain (Bagian 1)
24 BAB 24: Pencurian Takdir di Tengah Badai (Bagian 2)
25 BAB 25: Amarah Dewa
26 BAB 26: Penghuni Lautan Kesadaran
27 BAB 27: Tungku Kehidupan
28 BAB 28: Serigala Buta
29 BAB 29: Parit Surgawi dan Hukum Semut
30 BAB 30: Pelayan Kegelapan
31 BAB 31: Sutra Langkah Hantu
32 BAB 32: Tarian Kematian
33 BAB 33: Dinding Kematian
34 BAB 34: Daging Panggang di Ngarai Bayangan
35 BAB 35: Gerbang Alam Rahasia
36 BAB 36: Perkumpulan Badut
37 BAB 37: Roda Bintang di Desa Mati
38 BAB 38: Ular Besi Pembangun Fondasi
39 BAB 39: Peta Pemakan Jiwa
40 BAB 40: Paksaan Dewi Petir
41 BAB 41: Tebasan Penghancur Jiwa
42 BAB 42: Istana Darah Besi
43 BAB 43: Hancurnya Segel Kuno
44 BAB 44: Bangkitnya Jenderal Darah
45 Bab 45: Ambang Kehancuran
46 BAB 46: Penjara Gravitasi Darah
47 BAB 47: Kilatan Ungu Pembelah Jiwa
48 BAB 48: Runtuhnya Raksasa
49 BAB 49: Runtuhnya Langit
50 BAB 50: Sayembara Akademi
51 BAB 51: Upeti dalam Gelap
52 BAB 52: Tungku Penyimpangan
53 BAB 53: Ujian Emas
54 BAB 54: Tatapan dari Menara Pustaka
55 BAB 55: Amarah Si Gila
56 BAB 56: Neraka Tanpa Cahaya
57 BAB 57: Raja Serangga Gu
58 BAB 58: Kapal Awan Pembelah Langit
59 BAB 59: Hati Sang Bintang
60 BAB 60: Berkumpulnya Sembilan Naga
61 BAB 61: Resonansi Gua Leluhur Naga
62 BAB 62: Keangkuhan Naga
63 BAB 63: Urat Nadi Bumi
64 BAB 64: Giok Abadi yang Jatuh
65 BAB 65: Teror Bayangan Hitam
66 BAB 66: Delapan Pilar Dewa
67 BAB 67: Utusan dari Benua Kegelapan
68 BAB 68: Pedang Penghakiman Dewa
69 BAB 69: Hukuman Langit
70 BAB 70: Urat Nadi Bumi
71 BAB 71: Bayang-Bayang Surga Atas
72 BAB 72: Penempaan Pilar Bencana
73 BAB 73: Runtuhnya Hati Sang Naga
74 BAB 74: Lahirnya Iblis Pedang
75 BAB 75: Domain Petir
76 BAB 76: Runtuhnya Dimensi
77 BAB 77: Runtuhnya Altar Kenaikan
78 BAB 78: Pertarungan di Hutan Primordial
79 Bab 79: Daging Panggang
80 BAB 80: Perjalanan Menembus Kabut
81 BAB 81: Gua Susu Bumi
82 BAB 82: Alkimia Petir Hukuman
83 BAB 83: Bangkitnya Puncak Fondasi
84 BAB 84: Runtuhnya Inti Emas
85 BAB 85: Jejak Darah
86 BAB 86: Jaring Pemburu Bayangan
87 BAB 87: Interogasi Berdarah
88 BAB 88: Kejaran Jiwa Kuno
89 BAB 89: Pengemis Seruling Tulang
90 BAB 90: Misteri Paviliun Bintang Jatuh
91 BAB 91: Pasar Gelap Sembilan Hantu
92 BAB 92: Ramuan Langit
93 BAB 93: Langkah Menuju Tubuh Perunggu
94 BAB 94: Misi Rahasia Tetua Mo Yin
95 BAB 95: Kedai Angin Berdarah
96 BAB 96: Altar Suku Kuno
97 BAB 97: Tebasan Sang Tetua
98 BAB 98: Puncak Tengkorak Beku
99 BAB 99: Benturan Tiga Ratus Tahun
100 BAB 100: Kehancuran di Puncak
101 PENGUMUMAN
102 UPDATE SERIES TERBARU
Episodes

Updated 102 Episodes

1
BAB 1: Hujan Darah di Desa Daun Kering
2
BAB 2: Tangisan dalam Bisu
3
BAB 3: Gulungan Pengembara
4
BAB 4: Peta Menuju Kehidupan
5
BAB 5: Pertemuan di Jalur Darah
6
BAB 6: Kabut Darah
7
BAB 7: Taruhan Nyawa (Bagian 1)
8
BAB 8: Taruhan Nyawa (Bagian 2)
9
BAB 9: Api Unggun
10
BAB 10: Bayangan Sang Raja
11
BAB 11: Gerbang Berdarah Kota Debu
12
BAB 12: Gadis yang Tidak Jujur
13
BAB 13: Pasar Gelap
14
BAB 14: Umpan Bayangan
15
BAB 15: Aturan Akademi Jiannan
16
BAB 16: Retaknya Giok Surgawi
17
BAB 17: Mata Para Dewa
18
BAB 18: Cermin Kebohongan
19
BAB 19: Peta Berdarah
20
BAB 20: Teratai Jantung Darah
21
BAB 21: Kebangkitan Dantian Berdarah
22
BAB 22: Jatuhnya Pedang Petir
23
BAB 23: Teriakan dari Dimensi Lain (Bagian 1)
24
BAB 24: Pencurian Takdir di Tengah Badai (Bagian 2)
25
BAB 25: Amarah Dewa
26
BAB 26: Penghuni Lautan Kesadaran
27
BAB 27: Tungku Kehidupan
28
BAB 28: Serigala Buta
29
BAB 29: Parit Surgawi dan Hukum Semut
30
BAB 30: Pelayan Kegelapan
31
BAB 31: Sutra Langkah Hantu
32
BAB 32: Tarian Kematian
33
BAB 33: Dinding Kematian
34
BAB 34: Daging Panggang di Ngarai Bayangan
35
BAB 35: Gerbang Alam Rahasia
36
BAB 36: Perkumpulan Badut
37
BAB 37: Roda Bintang di Desa Mati
38
BAB 38: Ular Besi Pembangun Fondasi
39
BAB 39: Peta Pemakan Jiwa
40
BAB 40: Paksaan Dewi Petir
41
BAB 41: Tebasan Penghancur Jiwa
42
BAB 42: Istana Darah Besi
43
BAB 43: Hancurnya Segel Kuno
44
BAB 44: Bangkitnya Jenderal Darah
45
Bab 45: Ambang Kehancuran
46
BAB 46: Penjara Gravitasi Darah
47
BAB 47: Kilatan Ungu Pembelah Jiwa
48
BAB 48: Runtuhnya Raksasa
49
BAB 49: Runtuhnya Langit
50
BAB 50: Sayembara Akademi
51
BAB 51: Upeti dalam Gelap
52
BAB 52: Tungku Penyimpangan
53
BAB 53: Ujian Emas
54
BAB 54: Tatapan dari Menara Pustaka
55
BAB 55: Amarah Si Gila
56
BAB 56: Neraka Tanpa Cahaya
57
BAB 57: Raja Serangga Gu
58
BAB 58: Kapal Awan Pembelah Langit
59
BAB 59: Hati Sang Bintang
60
BAB 60: Berkumpulnya Sembilan Naga
61
BAB 61: Resonansi Gua Leluhur Naga
62
BAB 62: Keangkuhan Naga
63
BAB 63: Urat Nadi Bumi
64
BAB 64: Giok Abadi yang Jatuh
65
BAB 65: Teror Bayangan Hitam
66
BAB 66: Delapan Pilar Dewa
67
BAB 67: Utusan dari Benua Kegelapan
68
BAB 68: Pedang Penghakiman Dewa
69
BAB 69: Hukuman Langit
70
BAB 70: Urat Nadi Bumi
71
BAB 71: Bayang-Bayang Surga Atas
72
BAB 72: Penempaan Pilar Bencana
73
BAB 73: Runtuhnya Hati Sang Naga
74
BAB 74: Lahirnya Iblis Pedang
75
BAB 75: Domain Petir
76
BAB 76: Runtuhnya Dimensi
77
BAB 77: Runtuhnya Altar Kenaikan
78
BAB 78: Pertarungan di Hutan Primordial
79
Bab 79: Daging Panggang
80
BAB 80: Perjalanan Menembus Kabut
81
BAB 81: Gua Susu Bumi
82
BAB 82: Alkimia Petir Hukuman
83
BAB 83: Bangkitnya Puncak Fondasi
84
BAB 84: Runtuhnya Inti Emas
85
BAB 85: Jejak Darah
86
BAB 86: Jaring Pemburu Bayangan
87
BAB 87: Interogasi Berdarah
88
BAB 88: Kejaran Jiwa Kuno
89
BAB 89: Pengemis Seruling Tulang
90
BAB 90: Misteri Paviliun Bintang Jatuh
91
BAB 91: Pasar Gelap Sembilan Hantu
92
BAB 92: Ramuan Langit
93
BAB 93: Langkah Menuju Tubuh Perunggu
94
BAB 94: Misi Rahasia Tetua Mo Yin
95
BAB 95: Kedai Angin Berdarah
96
BAB 96: Altar Suku Kuno
97
BAB 97: Tebasan Sang Tetua
98
BAB 98: Puncak Tengkorak Beku
99
BAB 99: Benturan Tiga Ratus Tahun
100
BAB 100: Kehancuran di Puncak
101
PENGUMUMAN
102
UPDATE SERIES TERBARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!