Bab 76

Yuda pulang setelah percakapan dengan Kiara. Sepanjang perjalanan, kepalanya tidak benar-benar tenang, tapi ia tidak lagi berada di titik emosi yang meledak. Ia memilih kembali dulu, ingin melihat langsung situasinya sebelum mengambil kesimpulan.

Sesampainya di rumah, ia masuk tanpa banyak kata. Barangnya diletakkan seperlunya, lalu ia langsung menuju kamar dan duduk di tepi ranjang. Punggungnya sedikit membungkuk, tangan bertumpu di lutut, diam cukup lama.

Carisa muncul di ambang pintu kamar beberapa saat kemudian. Ia berhenti sejenak sebelum akhirnya berbicara.

“Aku nggak tahu harus jelasin gimana, karena apa pun yang aku bilang pasti kedengarannya seperti alasan,” ucap Carisa pelan, suaranya bergetar. “Tapi aku jujur sama kamu… aku nggak mengizinkan Reynanda masuk. Dia yang nerobos masuk, lalu tiba-tiba memojokkan aku.”

Ia menatap Yuda yang tetap tidak bereaksi.

“Aku nggak ada niat seperti yang kamu pikir,” lanjutnya lebih pelan. “Aku juga nggak nyaman dengan situasi itu.”

Yuda masih diam di tempatnya, sebelum akhirnya menanggapi.

“Kamu nggak perlu menjelaskannya. Aku yakin kamu nggak seperti itu,” kata Yuda akhirnya. Suaranya rendah, jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. “Maaf kalau tadi aku emosi.” Ia menarik napas sebentar sebelum melanjutkan. “Aku nggak marah sama kamu. Aku marah sama Reynanda yang sudah melampaui batas.”

Carisa sempat terdiam mendengar itu. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun, meski wajahnya masih menyisakan cemas.

“Aku takut kamu salah paham,” ucapnya pelan.

Yuda mengusap wajahnya singkat sebelum akhirnya menatap Carisa.

“Aku percaya sama kamu,” katanya pelan. “Tapi… ada satu hal yang mau aku tanya.”

Carisa langsung diam. Yuda menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.

“Di kantor… sebelum kedatangan ibunya Humaira, apa sudah ada rumor tentang kamu dan Rey?”

Pertanyaan itu membuat Carisa membeku beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pelan, seolah sedang menyusun kata-kata yang aman untuk diucapkan.

“Memang ada yang ngomong aneh-aneh tentang aku dan Reynanda sampai berita itu sampai ke telinga ibunya Humaira,” jawabnya akhirnya lirih. “Tapi aku nggak pernah nganggep serius.”

Yuda memperhatikannya tanpa menyela. Suasana kembali hening sesaat.

Carisa menarik napas pelan sebelum kembali bicara.

“Awalnya cuma omongan kecil di kantor. Aku pikir nanti juga berhenti sendiri.” Ia tersenyum tipis, tapi terlihat dipaksakan. “Aku nggak nyangka malah jadi sejauh ini.”

Yuda menyandarkan tubuhnya perlahan ke belakang. Tatapannya jatuh sebentar ke lantai sebelum kembali ke Carisa.

“Kenapa kamu nggak cerita dari awal?”

“Aku nggak mau bikin masalah makin besar,” jawab Carisa pelan. “Dan aku juga nggak mau kamu kepikiran hal yang nggak-nggak.”

“Tapi sekarang malah lebih besar,” ucap Yuda lirih.

Carisa terdiam. Tidak ada yang bisa ia bantah dari itu.

“Kita harus belajar dari kejadian lalu, dan harus lebih saling percaya. Aku nggak mau ada keraguan lagi di antara kita berdua,” kata Yuda pelan.

Carisa mengangguk kecil dalam pelukannya. Tangannya masih melingkar di tubuh Yuda, seolah belum siap melepas jarak yang tadi sempat tercipta di antara mereka.

“Hmm…” jawabnya lirih.

Matanya perlahan terpejam sesaat, membiarkan dirinya merasa sedikit lebih tenang setelah sejak tadi dipenuhi takut dan cemas.

Yuda perlahan melepaskan pelukan itu, lalu menarik Carisa lebih dekat hingga perempuan itu duduk di pangkuannya.

Tangannya naik menahan pipi Carisa dengan lembut, sementara sebelah lagi melingkar di pinggangnya.

“Ayo lebih saling mencintai lagi,” ucap Yuda pelan sambil menatap mata Carisa lekat. “Dan hidup bersama selamanya.”

Carisa menatap balik tanpa suara. Jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa merasakan napas Yuda yang masih sedikit berat.

Perlahan, tangan Carisa naik menyentuh tangan Yuda yang berada di pipinya. Sudut bibirnya membentuk senyum kecil yang tipis, tapi hangat.

“Selamanya,” balasnya lirih.

Yuda menatap Carisa beberapa detik lebih lama, seolah memastikan tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka.

Lalu perlahan ia mendekat dan mengecup bibir Carisa dengan lembut.

Carisa memejamkan mata sesaat, membalas ciuman itu pelan sambil tangannya bertumpu di bahu Yuda.

Tidak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya kelegaan kecil karena akhirnya mereka kembali saling memahami.

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
Terpopuler

Comments

Nanik Arifin

Nanik Arifin

tetap saling lekat di hati. jangan beri celah Reynanda, Kiara atau siapapun menyusup diantara kalian

2026-05-19

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 106 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!