Di luar rumah, Cassia berjalan ke arah jalan raya besar untuk mencari taksi. Sambil menunggu taksi, dia mengeluarkan ponsel, dan tanpa sadar membuka galeri.
Foto Maxence Kingsford muncul di layar ponselnya. Wajahnya yang tegas dan tampan dengan senyum miring itu selalu bisa mengalihkannya dari segala kekacauan hidupnya.
"Ironis," bisik Cassia pada dirinya sendiri. "Aku dikelilingi oleh orang-orang yang tidak benar-benar menginginkanku, sementara aku menyimpan foto seorang pria yang bahkan tidak peduli aku ada."
Dia mematikan ponsel, memasukkannya kembali ke dalam tas, dan menaiki taksi yang datang. Di dalam taksi. Cassia duduk dan menatap ke jendela.
Hari ini dia bertemu ayahnya, mendengar undangan yang hangat, tapi juga mendapatkan kembali pengingat bahwa di keluarga itu, dia hanya tamu yang tak diinginkan, selamanya tamu.
Dan di kantor? Dia hanyalah perabotan yang berguna.
Tapi entah mengapa, Cassia tidak merasa sedih. Mungkin karena dia sudah terbiasa. Atau mungkin karena dia sudah belajar bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari menjadi pusat perhatian.
Kebahagiaan bisa datang dari hal kecil, sebuah pekerjaan yang membuatnya mandiri, seorang ayah yang meski lemah namun tetap mencintainya, dan sebuah foto rahasia di ponsel yang tidak pernah akan dilihat siapa pun.
Taksi melaju meninggalkan kawasan elit itu meninggalkan rumah besar dengan semua kenangan pahitnya, tanpa manis sedikitpun.
Cassia menyandarkan kepalanya di jendela kaca, memejamkan mata, dan membiarkan getaran taksi membawanya pulang.
Besok, dia akan kembali menjadi Cassia yang profesional. Sekretaris yang akan melayani semua perintah bosnya tanpa protes. Perempuan biasa yang tidak menarik. Perabotan kantor yang berguna.
Tapi malam ini, dia membiarkan dirinya menjadi apa adanya, seorang anak perempuan yang merindukan keluarganya, seorang perempuan muda yang diam-diam menyimpan cinta tak terbalas, dan seseorang yang berusaha bertahan di antara dua dunia yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Dan entah bagaimana, itu sudah cukup baginya. Cassia masih bersyukur bahwa hidupnya terasa damai tanpa kehadiran siapa pun di sampingnya.
*
*
Setibanya di rumah sewaannya. Cassia membuka semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dia berdiri di bawah shower air hangat yang tak terlalu hangat. Meluruhkan semua beban hidup yang dirasakannya seharian ini.
Setelah mandi, wanita itu hanya memakai handuk yang dililitkan di tubuh dan rambutnya yang basah. Dia melihat ponselnya bergetar.
Cassia langsung mengambilnya dan membaca pesan dari Max.
[Minggu depan temani aku ke pesta bisnis Tuan Viper. Akan ada negosiasi bisnis di sana. Jadi, bersiaplah. Pelajari apa yang akan kita sampaikan nanti tentang proyek baru kita.]
Cassia menggigit bibirnya. Meskipun sudah setahun bekerja, tapi Max tak pernah mengajaknya ke pesta jamuan bisnis sebelumnya.
Max biasanya akan membawa kekasihnya, atau salah satu direktur perusahaan jika sedang menjomblo.
“Baju apa yang harus kupakai? Tak mungkin hanya setelan kerja biasa, kan?” bisiknya bingung.
Lalu Cassia berjalan ke arah lemari kecilnya dan melihat beberapa pakaian. Tak ada gaun sama sekali karena Cassia memang tak pernah pergi ke sebuah pesta.
Setiap diundang ke pesta, Cassia selalu menolak. Dia tak terlalu suka dengan keramaian karena keramaian pesta membuatnya tak tenang.
“Apakah aku harus beli?”
“Ya, sepertinya aku harus membeli gaun. Warna hitam saja, yang tak terlalu mencolok,” lanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Kar Genjreng
kali ini cassia harus beradaptasi dengan banyak orang yang biasanya di hindari sekarang justru harus di hadapi,,,bagus pokonya tetap seperti Cassia yang apa adanya tetapi memukau,,,seperti berlian tersembunyi di balik batu karang,,,sulit di jangkau ,,
2026-05-03
0
Zee²
cie d ajak ke pesta g apa semntara sebagai bawahan yg d manfaatkan otaknya nanti juga ke jenjang serius cia 🤭😄
2026-05-03
0
V_eRiL
kau wanita hebat, mandiri dan kuat Cassia, bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan siapapun 👏👏👍
2026-05-03
0