Matahari Orario mulai menggelincir ke barat, melemparkan bayangan-bayangan panjang dari pilar-pilar raksasa Menara Babel ke atas hamparan paving blok jalanan utama. Warna langit yang tadinya biru bersih kini perlahan-lahan tergradasi menjadi warna jingga tembaga yang hangat namun menyimpan kesan melankolis. Suasana di sekitar Alun-alun Pusat masih tetap ramai, namun ritme pergerakan masanya telah bergeser. Jika tadi siang jalanan dipenuhi oleh kecemasan para petualang yang hendak turun ke labirin, kini area ini didominasi oleh riuh rendah tawa mereka yang berhasil pulang dengan selamat sembari membawa kantong-kantong kulit yang penuh berisi batu sihir.
Aku berjalan menyusuri trotoar batu, menyembunyikan kedua tanganku jauh di dalam saku jaket windbreaker hitamku. Kepala sedikit kutundukkan, membiarkan poni rambut hitamku yang acak-acakan menutupi sebagian area kening dan mataku.
Kriuuuuk...
Sebuah suara protes yang sangat tidak puitis bergema dari dalam perutku. Aku menghentikan langkahku sejenak di depan sebuah kedai kecil pinggir jalan, menatap sebuah papan kayu yang digantung di dekat panggangan besi. Aroma gurih yang sangat pekat dari mentega cair, adonan tepung yang digoreng garing, serta potongan daging monster Orc yang gurih menusuk indra penciumanku dengan sangat kejam.
Itu adalah kedai yang menjual Jagamarukun—camilan kentang goreng legendaris berbentuk bulat yang sangat populer di kota ini. Di atas nampan kayu yang dilapisi kain bersih, tumpukan bola-bola keemasan itu tampak begitu menggoda, mengepulkan asap tipis yang membawa serta aroma kebahagiaan duniawi. Seorang petualang ras Chienthrope dengan telinga anjing yang terkulai tampak menyerahkan sekeping koin perak kecil kepada sang penjual, lalu menerima kantong kertas berisi tiga butir camilan tersebut dengan wajah berseri-seri.
Aku meraba saku celana kargoku. Kosong. Sama sekali tidak ada logam bulat yang bergemerincing di sana.
Sebuah senyuman miris yang sarat akan ejekan diri meluncur dari bibi…
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis
Bab 72: Kelaparan, Logistik, dan Bayang-Bayang Teokratis
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 77 Episodes
Comments