Bab 72: Kelaparan, Logistik, dan Bayang-Bayang Teokratis

Matahari Orario mulai menggelincir ke barat, melemparkan bayangan-bayangan panjang dari pilar-pilar raksasa Menara Babel ke atas hamparan paving blok jalanan utama. Warna langit yang tadinya biru bersih kini perlahan-lahan tergradasi menjadi warna jingga tembaga yang hangat namun menyimpan kesan melankolis. Suasana di sekitar Alun-alun Pusat masih tetap ramai, namun ritme pergerakan masanya telah bergeser. Jika tadi siang jalanan dipenuhi oleh kecemasan para petualang yang hendak turun ke labirin, kini area ini didominasi oleh riuh rendah tawa mereka yang berhasil pulang dengan selamat sembari membawa kantong-kantong kulit yang penuh berisi batu sihir.

​Aku berjalan menyusuri trotoar batu, menyembunyikan kedua tanganku jauh di dalam saku jaket windbreaker hitamku. Kepala sedikit kutundukkan, membiarkan poni rambut hitamku yang acak-acakan menutupi sebagian area kening dan mataku.

​Kriuuuuk...

​Sebuah suara protes yang sangat tidak puitis bergema dari dalam perutku. Aku menghentikan langkahku sejenak di depan sebuah kedai kecil pinggir jalan, menatap sebuah papan kayu yang digantung di dekat panggangan besi. Aroma gurih yang sangat pekat dari mentega cair, adonan tepung yang digoreng garing, serta potongan daging monster Orc yang gurih menusuk indra penciumanku dengan sangat kejam.

​Itu adalah kedai yang menjual Jagamarukun—camilan kentang goreng legendaris berbentuk bulat yang sangat populer di kota ini. Di atas nampan kayu yang dilapisi kain bersih, tumpukan bola-bola keemasan itu tampak begitu menggoda, mengepulkan asap tipis yang membawa serta aroma kebahagiaan duniawi. Seorang petualang ras Chienthrope dengan telinga anjing yang terkulai tampak menyerahkan sekeping koin perak kecil kepada sang penjual, lalu menerima kantong kertas berisi tiga butir camilan tersebut dengan wajah berseri-seri.

​Aku meraba saku celana kargoku. Kosong. Sama sekali tidak ada logam bulat yang bergemerincing di sana.

​Sebuah senyuman miris yang sarat akan ejekan diri meluncur dari bibi…

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
Episodes
1 Bab 1: Manusia Biasa dan Ingatan Masa Lalu
2 Bab 2:Gema Sang perburuan Di Kota Labirin
3 Bab 3: Tinta Berdarah Dan Dosa Keabadian
4 Bab 4: Jaringan Bayangan Dan Sang Pelindung Rahasia
5 Bab 5: Mawar Perak dan Tatapan dari Menara Babel
6 Bab 6: Bengkel Terkutuk dan Hati Seluas Samudera
7 Bab 7: Titah Larangan dan Mentari di Tengah Kegelapan
8 Bab 8: Logam Fana dan Kesepakatan di Bawah Bara
9 Bab 9: Karat Hitam dan Taktik Sang Pandita
10 Bab 10: Ibu Jari Sang Braver dan Papan Catur Para Dewa
11 Bab 11: Sekte Daging Berakar dan Tiga Bidak Catur
12 Bab 12: Eksekusi Senja dan Penjaga Bersenjata Kucing
13 Bab 13: Kanker Semua Dunia dan Arus Labirin
14 Bab 14: Mata Sang Pengembara dan Pantheon Bintang Terkoyak
15 Bab 15: Gema Kosmis dan Retaknya Fondasi Orario
16 Bab 16: Tinta di Jalan Daedalus dan Emas yang Gugur di Kematian
17 Bab 17: Tatapan Sang Penguasa Busur dan Lahirnya Sang Pemburu
18 Bab 18: Kaca Falna yang Retak dan Teror Sang Dewa Penipu
19 Bab 19: Jubah yang Terkoyak dan Peringatan dari Kehampaan
20 Bab 20: Prolog yang Ditulis Ulang dan Penenun Benang Takdir
21 Bab 21: Layar Realitas yang Retak dan Intervensi Sang Pemburu
22 Bab 22: Pesan Berdarah dan Langkah Pertama Sang Pemburu
23 Bab 23: Tanda Kutipan Bintang dan Panggilan Kehancuran
24 Bab 24: Bara Kehancuran dan Jeritan Kedua Sang Dewi
25 Bab 25: Tabrakan Dua Kosmos dan Dialog Para Bintang Maut
26 Bab 26: Palu Amber, Paduan Suara Bintang, dan Kereta yang Membelah Langit
27 Bab 27: Mata yang Terbuka dan Rapat Aliansi Keputusasaan
28 Bab 28: Mode Mimpi Buruk dan Pemukul Pemecah Bintang
29 Bab 29: Pukulan Pemecah Bintang dan Labirin yang Merintih
30 Bab 30: Labirin Terbalik dan Pertemuan Dua Takdir
31 Bab 31: Resonansi Kehancuran dan Turunnya Laba-Laba Malam
32 Bab 32: Tirai Turun dan Gema di Ruang Hampa
33 Bab 33: Gencatan Senjata Fana dan Nama Sang Penenun Takdir
34 Bab 34: Kereta Bintang dan Skenario Sang Penulis
35 Bab 35: Bintang yang Sekarat dan Gravitasi Absolut
36 Bab 36: Kopi Pahit di Ruang Parlor dan Pagi yang Berkarat
37 Bab 37: Loncatan Spasial dan Langit yang Terbelah
38 Bab 38: Gema Argonaut dan Sang Protagonis yang Menolak Takdir
39 Bab 39: Dua Protagonis dan Resonansi Banteng Hitam
40 Bab 40: Pukulan Pemecah Aturan dan Dentang Lonceng Ganda
41 Bab 41: Jeritan Sang Ibu dan Akar Kiamat
42 Bab 42: Terjun Bebas ke Perut Ibu dan Labirin Kuantum
43 Bab 43: Gerbang Keputusasaan dan Cermin Jiwa yang Retak
44 Bab 44: Tarian di Atas Pecahan Realitas dan Gravitasi Hitam
45 Bab 45: Tinta yang Terbakar dan Retaknya Sang Naskah
46 Bab 46: Keputusasaan Kosmis dan Sayap Sang Ibu Palsu
47 Bab 47: Lonceng Bintang Jatuh dan Runtuhnya Sang Ibu Palsu
48 Bab 48: Sisa Debu dan Janji di Bawah Langit Orario
49 Bab 49: Layar Statis dan Labirin Kota yang Terdistorsi
50 Bab 50: Retasan Pertama dan Pelarian dari Sektor Kiamat
51 Bab 51: Kedalaman Sektor Dead End dan Resonansi yang Retak
52 Bab 52: Tarian di Ambang Kehancuran dan Catatan yang Terhapus
53 Bab 53: Paradoks Sang Penulis dan Naskah Sang Budak Takdir
54 Bab 54: Hujan Asam di Golgotha dan Lahirnya Para Pemburu
55 Bab 55: Simfoni Keretakan dan Kehendak Sang Penulis
56 Bab 56: Frekuensi Terlarang dan Manifesto dari Balik Celah
57 Bab 57: Tinta Darah dan Penghapusan Eksistensi
58 Bab 58: Aliansi Distrik Enam dan Darah Kefanaan
59 Bab 59: Kuah Kuning Penyembuh dan Anomali Distrik Akademik
60 Bab 60: Distorsi Akademi Helios dan Kelahiran Sang Pemburu Bintang
61 Bab 61: Hierarki Tinta Merah dan Serbu Gedung Administrasi
62 Bab 62: Runtuhnya Ilusi dan Tatapan Sang Kekosongan
63 Bab 63: Rehat Sejenak dan Epik Sang Rubah Pencipta
64 Bab 64: Mesin Tik Fana dan Lahirnya Sang Banteng ungu
65 Bab 65: Akhir dari Anomali dan Tirai Orario yang Terbuka
66 Bab 66: Paradoks Sang Penulis dan Kembalinya Eksperimen Orario
67 Bab 67: Resonansi Jalur dan Wajah Sang Rival
68 Bab 68: Markas Pusat dan Insting Sang Banteng ungu
69 Bab 69: Penyelusupan sang Banteng dan Akar Kehancuran
70 Bab 70: Bangkitnya Sang Zombi dan Kengerian Ungu
71 Bab 71: Jejak Sang Pemburu dan Langkah Keluar Labirin
72 Bab 72: Kelaparan, Logistik, dan Bayang-Bayang Teokratis
73 Bab 73: Hukum Rimba Daedalus dan Roti Gandum Keras
74 Bab 74: Ritual Kamar Sempit dan Jejak yang Terhapus
75 Bab 75: Topeng Sempurna di Balik Gerbang Guild
76 Bab 76: Taring Ungu di Lorong Premis
77 hiatus sementara
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Manusia Biasa dan Ingatan Masa Lalu
2
Bab 2:Gema Sang perburuan Di Kota Labirin
3
Bab 3: Tinta Berdarah Dan Dosa Keabadian
4
Bab 4: Jaringan Bayangan Dan Sang Pelindung Rahasia
5
Bab 5: Mawar Perak dan Tatapan dari Menara Babel
6
Bab 6: Bengkel Terkutuk dan Hati Seluas Samudera
7
Bab 7: Titah Larangan dan Mentari di Tengah Kegelapan
8
Bab 8: Logam Fana dan Kesepakatan di Bawah Bara
9
Bab 9: Karat Hitam dan Taktik Sang Pandita
10
Bab 10: Ibu Jari Sang Braver dan Papan Catur Para Dewa
11
Bab 11: Sekte Daging Berakar dan Tiga Bidak Catur
12
Bab 12: Eksekusi Senja dan Penjaga Bersenjata Kucing
13
Bab 13: Kanker Semua Dunia dan Arus Labirin
14
Bab 14: Mata Sang Pengembara dan Pantheon Bintang Terkoyak
15
Bab 15: Gema Kosmis dan Retaknya Fondasi Orario
16
Bab 16: Tinta di Jalan Daedalus dan Emas yang Gugur di Kematian
17
Bab 17: Tatapan Sang Penguasa Busur dan Lahirnya Sang Pemburu
18
Bab 18: Kaca Falna yang Retak dan Teror Sang Dewa Penipu
19
Bab 19: Jubah yang Terkoyak dan Peringatan dari Kehampaan
20
Bab 20: Prolog yang Ditulis Ulang dan Penenun Benang Takdir
21
Bab 21: Layar Realitas yang Retak dan Intervensi Sang Pemburu
22
Bab 22: Pesan Berdarah dan Langkah Pertama Sang Pemburu
23
Bab 23: Tanda Kutipan Bintang dan Panggilan Kehancuran
24
Bab 24: Bara Kehancuran dan Jeritan Kedua Sang Dewi
25
Bab 25: Tabrakan Dua Kosmos dan Dialog Para Bintang Maut
26
Bab 26: Palu Amber, Paduan Suara Bintang, dan Kereta yang Membelah Langit
27
Bab 27: Mata yang Terbuka dan Rapat Aliansi Keputusasaan
28
Bab 28: Mode Mimpi Buruk dan Pemukul Pemecah Bintang
29
Bab 29: Pukulan Pemecah Bintang dan Labirin yang Merintih
30
Bab 30: Labirin Terbalik dan Pertemuan Dua Takdir
31
Bab 31: Resonansi Kehancuran dan Turunnya Laba-Laba Malam
32
Bab 32: Tirai Turun dan Gema di Ruang Hampa
33
Bab 33: Gencatan Senjata Fana dan Nama Sang Penenun Takdir
34
Bab 34: Kereta Bintang dan Skenario Sang Penulis
35
Bab 35: Bintang yang Sekarat dan Gravitasi Absolut
36
Bab 36: Kopi Pahit di Ruang Parlor dan Pagi yang Berkarat
37
Bab 37: Loncatan Spasial dan Langit yang Terbelah
38
Bab 38: Gema Argonaut dan Sang Protagonis yang Menolak Takdir
39
Bab 39: Dua Protagonis dan Resonansi Banteng Hitam
40
Bab 40: Pukulan Pemecah Aturan dan Dentang Lonceng Ganda
41
Bab 41: Jeritan Sang Ibu dan Akar Kiamat
42
Bab 42: Terjun Bebas ke Perut Ibu dan Labirin Kuantum
43
Bab 43: Gerbang Keputusasaan dan Cermin Jiwa yang Retak
44
Bab 44: Tarian di Atas Pecahan Realitas dan Gravitasi Hitam
45
Bab 45: Tinta yang Terbakar dan Retaknya Sang Naskah
46
Bab 46: Keputusasaan Kosmis dan Sayap Sang Ibu Palsu
47
Bab 47: Lonceng Bintang Jatuh dan Runtuhnya Sang Ibu Palsu
48
Bab 48: Sisa Debu dan Janji di Bawah Langit Orario
49
Bab 49: Layar Statis dan Labirin Kota yang Terdistorsi
50
Bab 50: Retasan Pertama dan Pelarian dari Sektor Kiamat
51
Bab 51: Kedalaman Sektor Dead End dan Resonansi yang Retak
52
Bab 52: Tarian di Ambang Kehancuran dan Catatan yang Terhapus
53
Bab 53: Paradoks Sang Penulis dan Naskah Sang Budak Takdir
54
Bab 54: Hujan Asam di Golgotha dan Lahirnya Para Pemburu
55
Bab 55: Simfoni Keretakan dan Kehendak Sang Penulis
56
Bab 56: Frekuensi Terlarang dan Manifesto dari Balik Celah
57
Bab 57: Tinta Darah dan Penghapusan Eksistensi
58
Bab 58: Aliansi Distrik Enam dan Darah Kefanaan
59
Bab 59: Kuah Kuning Penyembuh dan Anomali Distrik Akademik
60
Bab 60: Distorsi Akademi Helios dan Kelahiran Sang Pemburu Bintang
61
Bab 61: Hierarki Tinta Merah dan Serbu Gedung Administrasi
62
Bab 62: Runtuhnya Ilusi dan Tatapan Sang Kekosongan
63
Bab 63: Rehat Sejenak dan Epik Sang Rubah Pencipta
64
Bab 64: Mesin Tik Fana dan Lahirnya Sang Banteng ungu
65
Bab 65: Akhir dari Anomali dan Tirai Orario yang Terbuka
66
Bab 66: Paradoks Sang Penulis dan Kembalinya Eksperimen Orario
67
Bab 67: Resonansi Jalur dan Wajah Sang Rival
68
Bab 68: Markas Pusat dan Insting Sang Banteng ungu
69
Bab 69: Penyelusupan sang Banteng dan Akar Kehancuran
70
Bab 70: Bangkitnya Sang Zombi dan Kengerian Ungu
71
Bab 71: Jejak Sang Pemburu dan Langkah Keluar Labirin
72
Bab 72: Kelaparan, Logistik, dan Bayang-Bayang Teokratis
73
Bab 73: Hukum Rimba Daedalus dan Roti Gandum Keras
74
Bab 74: Ritual Kamar Sempit dan Jejak yang Terhapus
75
Bab 75: Topeng Sempurna di Balik Gerbang Guild
76
Bab 76: Taring Ungu di Lorong Premis
77
hiatus sementara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!