Mencoba Bangkit

Wuuussshhhh!

Baru saja Sekar membuka pintu rumah, sebuah piring plastik terbang hampir mengenai kepalanya. Untung saja refleks Sekar cepat. Ia merunduk seketika, dan piring itu menghantam tembok dengan suara gaduh.

Grompyang!

Pyarrr !!!

Untungnya itu piring seng. Tidak pecah, cuma sedikit penyok.

"Bagus ya! Jam segini baru pulang. Habis keluyuran ke mana kamu, Sekar???" bentak Bu Nimas sambil berkacak pinggang di ruang tengah. Gayanya sudah seperti jagoan pasar.

Sekar menarik napas panjang. Dia tidak takut, cuma lelah. "Kenapa, Bu? Masalah?" sahut Sekar sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang sempat mau copot gara-gara piring terbang tadi.

Mata Bu Nimas makin melotot. "Ya jelas masalah! Kamu itu numpang di rumah saya, jangan seenaknya main pergi-pergi saja! Sadar diri dong!"

Sekar tidak membalas. Ia malah berjalan santai ke meja tamu, menuangkan air dari teko ke gelas, lalu meminumnya sampai habis. Dia butuh air untuk mendinginkan kepala.

"Kamu budek ya?! Orang tua ngomong bukannya dijawab, malah enak-enakan minum!" semprot Bu Nimas lagi.

"Ck, apa sih, Bu? Sekar itu haus. Soal Sekar numpang di sini, ya wajar dong, kan Sekar istrinya anak Ibu. Menantu Ibu." balas Sekar tenang tapi menohok. "Lagian Sekar kurang sadar diri gimana lagi? Semua kerjaan rumah Sekar yang beresin. Sampai urusan cuci pakaian dalam Ibu pun Sekar yang kerjain. Masih dibilang nggak tahu diri?"

Bu Nimas makin naik pitam. "Eh, kamu! Berani ya ngejawab terus kalau orang tua ngomong! Harusnya kamu itu diam, nurut! Jangan ngebantah terus, kualat baru tahu rasa kamu!"

"Lah, Ibu ini gimana? Tadi Sekar diam, Ibu marah. Sekarang Sekar jawab, Ibu tambah marah. Maunya apa sih? Heran.” sahut Sekar sengaja memancing emosi mertuanya.”  Kalau bisa sampai tensinya naik tinggi sekalian. Biar cepat mampus.” batin Sekar gemas.

“Astagfirullah, nggak boleh doain orang cepat mati, Sekar! Nanti kalau dikabulkan Tuhan beneran gimana?”Sekar merutuki pikirannya sendiri.

"Pokoknya kamu itu diam saja kalau Ibu marahin dan baru nyaut kalau Ibu tanya. Paham?!"

"Nggak paham tuh. Sekar nggak mau ditindas terus sama Ibu. Ibu jangan jadi mertua zalim, awas nanti kuburannya sempit." balas Sekar telak, lalu langsung melesat masuk ke kamar.

"Heh! Bocah gendeng! Bicara apa kamu, Sekar!" teriak Bu Nimas dengan napas tersengal-sengal, megap-megap menahan marah.

Di dalam kamar, Sekar mengunci pintu dan terkikik geli. "Hihihi! Rasain tuh nenek sihir. Marah-marah terus kerjanya."

Sekar melirik jam dinding. Sudah setengah satu siang. Pantas saja mertuanya mengamuk, ternyata dia pergi cukup lama bersama Amelia tadi. Setelah salat, Sekar merebahkan diri di kasur. Ia teringat saran Amelia untuk mencoba menulis di aplikasi novel.

"Kata Amel novel di kontrak setelah 20 bab. Oke, semangat Sekar!" gumamnya. Selama empat jam, ia fokus menulis hingga berhasil menyelesaikan lima bab sekaligus. Ia juga mengedit gambar untuk cover bukunya agar terlihat menarik.

"Selesai! Lanjut nanti malam deh, mata sudah sepet." ujarnya sambil meregangkan otot. Pas melihat jam, ternyata sudah pukul empat sore. Buru-buru ia keluar kamar untuk masak sebelum "Singa Betina" di rumah itu mengamuk lagi.

**

Malam harinya, saat makan malam...

"Apa lagi ini, Sekar? Kok lauknya cuma ikan asin sama oseng kangkung!" seru Ferdiansyah yang langsung komplain begitu melihat meja makan.

"Ya sesuai uang yang kamu kasih lah, Mas. Kalau mau makan mewah, minimal tambahin uang belanjanya.”" sahut Sekar santai.

"Eh, jaga mulutmu! Kita ini muslim, nggak boleh makan yang haram-haram!" timpal Bu Nimas, salah paham karena mengira Sekar minta uang lebih untuk beli yang aneh-aneh.

"Lah, Ibu tiap hari nilep jatah belanja aku, itu juga haram, Bu. Nggak berkah. Di akhirat nanti perutnya diisi batu api loh." balas Sekar telak.

"Ferdi! Lihat istrimu ini! Dia doain Ibu masuk neraka! Sudah kelewat batas dia!" adu Bu Nimas pada putra kesayangannya.

Ferdi memijat pelipisnya, pusing melihat ibu dan istrinya hobi cekcok.

"Apa yang dibilang Mbak Sekar benar kali, Bu. Ibu jangan kuasain uang Mas Ferdi terus. Inget, di situ ada haknya Mbak Sekar." tiba-tiba Risal ikut bicara.

Di bawah meja, Sekar memberikan jempol pada adik iparnya itu. Risal membalas dengan kerlingan mata nakal.

"Tau apa kamu, Sal? Anak kecil nggak usah ikut campur!" bentak Bu Nimas.

"Tau tuh, Risal! Harusnya kamu dukung Ibu. Kalau uang Mas Ferdi dikasih ke istrinya, bisa habis buat foya-foya nggak jelas!" sahut Riska sambil melirik sinis pada Sekar.

Semenjak Sekar tinggal di sana, si kembar Risal dan Riska memang sering beda pendapat. Riska selalu jadi pengikut setia Ibunya, sedangkan Risal lebih objektif dan kasihan melihat Sekar yang yatim piatu terus dipojokkan.

" Riska" ujar Risal. "Emang kamu mau kalau besok nikah terus nggak dikasih nafkah sama suamimu? Buat beli bedak tiga puluh ribu aja harus ngemis-ngemis? Mau bedakan pakai tepung terigu?"

"Ih, ya ogah! Suamiku harus kasih gajinya full ke aku dong! Aku kan istrinya!" jawab Riska lantang tanpa sadar dia sedang menjilat ludah sendiri.

"Nah, itu tahu! Mbak Sekar kan istrinya Mas Ferdi. Sandang, pangan, papan itu kewajiban suami.” tegas Risal.

"Sudah, Ris! Kamu nggak usah sok tahu urusan rumah tanggaku. Aku tahu mana yang baik." tegur Ferdi keras dan kesal mendengar perkataan adiknya itu.

Risal mengangkat bahu. "Ya sudah, terserah. Risal cuma ingetin, kalau nanti kena azab gara-gara zalim sama Mbak Sekar, tanggung sendiri ya." Risal lanjut makan dengan nikmat, mengabaikan wajah Ferdi dan Ibunya yang sudah merah padam.

**

Malam harinya di kamar...

Ferdi baru saja masuk, ia melihat Sekar sedang rebahan di kasur.

"Sekar sayang..." Ferdi menghampiri istrinya dengan nada suara yang dibuat-buat manja.

Sekar yang baru mau memejamkan mata langsung waspada. Dia mencium bau-bau "kucing garong". "Apa, Mas?"

"Mas pengen..." ucap Ferdi mulai meraba bahu Sekar.

“ Aku ngantuk Mas. Kapan-kapan saja.” kata Sekar sambil memejamkan matanya.

“ Dosa kamu Sekar jika nolak permintaan suami.” kata Ferdi kesal

Sekar hanya bisa pasrah. Sekesal apa pun dia, dia masih merasa punya kewajiban sebagai istri dan takut berdosa jika menolak. Malam itu pun ia melayani Ferdi meski pun dengan perasaan yang masih dongkol.

"Ugh, Sekar... Mas mau keluar... Aaarrgh!" Ferdi mengerang saat mencapai puncaknya dan ambruk di samping Sekar.

Sekar hanya bengong menatap langit-langit kamar dengan wajah masam bin kesal. "Loh, kok sudah selesai aja, Mas? Perasaan baru juga mulai..." gerutunya dalam hati, merasa benar-benar tidak puas.

Episodes
1 Istri atau Babu?
2 Mertua vs Menantu
3 Kerja Remot???
4 Mencoba Bangkit
5 Sup Balungan
6 Nanti kena Azab Kubur
7 Melihat Ferdi
8 Fakta Sebenarnya
9 Ketahuan
10 Berkilah
11 Si Pelakor Muncul
12 Permainan Cantik Sekar
13 Menukar Kartu ATM
14 Misi Rahasia
15 Pembalasan Sekar
16 Misi Berhasil
17 Kebohongan Ferdi Terbongkar
18 Gaji Pertama
19 Calon Madu Beracun
20 Wajah Ibu Bonyok
21 Terpancing Emosi
22 Kedok Mertua Terbongkar
23 Meminta Restu
24 Rencana Busuk
25 Keceplosan
26 Pura-Pura tidak Tahu
27 Saldoku sisa Rp. 63.000???
28 Sidang Keluarga
29 Tamparan Sekar
30 Memaksa Menikah
31 Masih dicurigai
32 Kena Batunya
33 Suami Takut Istri
34 Roda Kehidupan Berputar
35 Pertengkaran 1
36 Pertengkaran 2
37 Aduan Nadine
38 Dihina? Ya dibalas
39 Sekar Ngamuk
40 Hasil Tes
41 Kawin lagi?
42 Membeli Seserahan
43 Sekar nguping
44 Kecurigaan Ferdi
45 Terekam CCTV
46 Rahasia Terbongkar
47 Rahasi Terbongkar 2
48 Celana Bau Aneh
49 Ketagihan
50 Melamar Manda
51 Adu Mulut antar Calon Besan
52 Pernikahan kedua Ferdi
53 Pernikahan Kedua Ferdi (2)
54 Misi Berhasil
55 Malam Pertama
56 Ribut
57 Menjijikan
58 Bapak mertua sint*ing
59 Mertua Bau Tanah
60 Kedatangan Manda
61 Diam-Diam direkam
62 Video Viral
63 Menghajar Ferdi
64 Fitnah
65 Ditalak
66 Status Baru
67 Bahagia jadi Janda
68 Kedatangan Mantan Suami
69 Kehidupan Baru Manda
70 Menantu rasa babu
71 Jangan bandingkan aku dengan Sekar
72 Nasi kucing
73 Beli Motor Baru
74 Tetangga Kepo
75 Mendaftarkan Gugatan Cerai
76 Di panggil bos
77 Surat dari pengadilan agama
78 Hari Persidangan
79 Ketuk Palu
80 Resmi jadi janda
81 Tabungan Ferdi
82 Tidak sesuai harapan
83 Ribut
84 Video Viral
85 Dipecat
86 Memulai Usaha
87 Sekar Mart
88 Kehidupan Baru Ferdi dan Manda
89 Bertemu Mantan
90 Ke Jakarta
91 Bertemu kembali
92 Adrian Dirgawiratama
93 Keluarga Wiratama
94 Kania
95 Yang sebenarnya
96 Kembalinya Sang Pewaris
97 Masa Lalu Ibu
98 Kalungp peninggalan Ibu
99 Main di kebun
100 Kenyataan Pahit
101 Masuk IGD
102 Cari Muka
103 Manda Melahirkan
104 Menjemput cucu
105 Tamu Asing
106 Kamu cucuku
107 Makan siang
108 Masih penghuni hati
109 Ikut ke Jakarta???
110 Kok beda yah?
111 Kecurigaan Bu Nimas
112 Siapa kamu???
113 Cucu kandung Tuan Guntur?
114 Angin topan?
115 Dikira mimpi, ternyata kenyataan
116 Sekar barbar
117 Tidak mudah ditindas
118 Harus main cantik
119 Ibu dan Anak, sama saja!
120 Kepo tentang Sekar
121 Kesal atau menyesal, Mas?
122 Menggantikan posisi kakek
123 Tidak adil
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Istri atau Babu?
2
Mertua vs Menantu
3
Kerja Remot???
4
Mencoba Bangkit
5
Sup Balungan
6
Nanti kena Azab Kubur
7
Melihat Ferdi
8
Fakta Sebenarnya
9
Ketahuan
10
Berkilah
11
Si Pelakor Muncul
12
Permainan Cantik Sekar
13
Menukar Kartu ATM
14
Misi Rahasia
15
Pembalasan Sekar
16
Misi Berhasil
17
Kebohongan Ferdi Terbongkar
18
Gaji Pertama
19
Calon Madu Beracun
20
Wajah Ibu Bonyok
21
Terpancing Emosi
22
Kedok Mertua Terbongkar
23
Meminta Restu
24
Rencana Busuk
25
Keceplosan
26
Pura-Pura tidak Tahu
27
Saldoku sisa Rp. 63.000???
28
Sidang Keluarga
29
Tamparan Sekar
30
Memaksa Menikah
31
Masih dicurigai
32
Kena Batunya
33
Suami Takut Istri
34
Roda Kehidupan Berputar
35
Pertengkaran 1
36
Pertengkaran 2
37
Aduan Nadine
38
Dihina? Ya dibalas
39
Sekar Ngamuk
40
Hasil Tes
41
Kawin lagi?
42
Membeli Seserahan
43
Sekar nguping
44
Kecurigaan Ferdi
45
Terekam CCTV
46
Rahasia Terbongkar
47
Rahasi Terbongkar 2
48
Celana Bau Aneh
49
Ketagihan
50
Melamar Manda
51
Adu Mulut antar Calon Besan
52
Pernikahan kedua Ferdi
53
Pernikahan Kedua Ferdi (2)
54
Misi Berhasil
55
Malam Pertama
56
Ribut
57
Menjijikan
58
Bapak mertua sint*ing
59
Mertua Bau Tanah
60
Kedatangan Manda
61
Diam-Diam direkam
62
Video Viral
63
Menghajar Ferdi
64
Fitnah
65
Ditalak
66
Status Baru
67
Bahagia jadi Janda
68
Kedatangan Mantan Suami
69
Kehidupan Baru Manda
70
Menantu rasa babu
71
Jangan bandingkan aku dengan Sekar
72
Nasi kucing
73
Beli Motor Baru
74
Tetangga Kepo
75
Mendaftarkan Gugatan Cerai
76
Di panggil bos
77
Surat dari pengadilan agama
78
Hari Persidangan
79
Ketuk Palu
80
Resmi jadi janda
81
Tabungan Ferdi
82
Tidak sesuai harapan
83
Ribut
84
Video Viral
85
Dipecat
86
Memulai Usaha
87
Sekar Mart
88
Kehidupan Baru Ferdi dan Manda
89
Bertemu Mantan
90
Ke Jakarta
91
Bertemu kembali
92
Adrian Dirgawiratama
93
Keluarga Wiratama
94
Kania
95
Yang sebenarnya
96
Kembalinya Sang Pewaris
97
Masa Lalu Ibu
98
Kalungp peninggalan Ibu
99
Main di kebun
100
Kenyataan Pahit
101
Masuk IGD
102
Cari Muka
103
Manda Melahirkan
104
Menjemput cucu
105
Tamu Asing
106
Kamu cucuku
107
Makan siang
108
Masih penghuni hati
109
Ikut ke Jakarta???
110
Kok beda yah?
111
Kecurigaan Bu Nimas
112
Siapa kamu???
113
Cucu kandung Tuan Guntur?
114
Angin topan?
115
Dikira mimpi, ternyata kenyataan
116
Sekar barbar
117
Tidak mudah ditindas
118
Harus main cantik
119
Ibu dan Anak, sama saja!
120
Kepo tentang Sekar
121
Kesal atau menyesal, Mas?
122
Menggantikan posisi kakek
123
Tidak adil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!