5

Larik-larik rumus logaritma di papan tulis tampak seperti barisan semut hitam yang membosankan bagi Aira. Di pojok belakang kelas, ia menunduk dalam, tangannya bergerak lincah di atas buku catatan yang seharusnya berisi angka. Namun, alih-alih angka, sebuah gaun malam dengan potongan 'A-line' dan detail bordir mawar di bagian dada perlahan terbentuk.

Ini adalah satu-satunya pelariannya. Tempat di mana ia bukan "cacat produksi", melainkan pencipta keindahan.

"Aira Maheswari!"

Suara menggelegar Ibu Ratmi, guru matematika mereka, memecah konsentrasi Aira. Jantungnya mencelos. Sebelum Aira sempat menutup bukunya, tangan kurus Ibu Ratmi sudah menyambar buku itu dengan kasar.

"Pantas saja nilai kamu empat puluh dua! Otakmu cuma diisi sampah kain seperti ini?" Ibu Ratmi mengangkat buku itu tinggi-tinggi, memamerkan sketsa Aira ke seluruh kelas.

Gelak tawa pecah. Aira merasa wajahnya terbakar. Ia melihat Airin di barisan depan hanya tersenyum tipis, sementara Alvaro yang duduk di sebelah Airin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—dingin dan meremehkan.

"Ikut saya ke kantor! Saya sudah lelah memperingatkanmu. Hari ini, orang tuamu harus tahu apa yang kamu kerjakan di kelas saya!"

*

Ruang tamu kediaman Maheswari terasa mencekam sore itu. Sialnya, Alvaro sedang berkunjung, duduk di sofa mewah bersama Airin sembari menikmati teh. Kehadiran pemuda itu justru membuat penghinaan ini terasa berkali-kali lipat lebih pedas bagi Aira.

"Jadi ini alasan kamu selalu dicap bodoh di sekolah?" Ratna, sang ibu, berdiri dengan wajah merah padam setelah mendengar laporan guru lewat telepon. Ia memegang buku sketsa Aira seolah-olah benda itu adalah bangkai tikus yang menjijikkan.

"Ma, itu hanya hobi... aku melakukannya setelah selesai belajar," bohong Aira dengan suara bergetar.

"Belajar apa?! Nilaimu hancur! Kamu memalukan nama Maheswari di depan keluarga Pratama!" Ratna menunjuk ke arah Alvaro yang hanya diam memperhatikan.

"Benda ini," Ratna mengangkat buku sketsa itu, "adalah racun. Kamu pikir kamu bisa jadi desainer? Kamu bahkan tidak punya selera untuk merawat dirimu sendiri, Aira! Lihat wajah kusammu itu!"

Sret!

Bunyi kertas yang robek terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu. Aira mematung. Matanya melebar saat melihat ibunya merobek lembaran sketsa gaun malamnya menjadi dua bagian.

"Mama, jangan!" Aira berteriak, mencoba menggapai bukunya.

Tapi Ratna justru semakin beringas. Ia merobek sketsa itu berkali-kali, melemparkan serpihan kertasnya ke lantai seolah-olah itu adalah sampah yang tak berharga.

"Jangan pernah sentuh pensil gambar lagi! Mulai besok, kamu fokus belajar untuk ujian perbaikan. Jika tidak, Papa akan membakar semua kain-kain sampahmu di gudang!"

Ratna kemudian berbalik, menatap Alvaro dengan wajah yang dipaksakan tersenyum. "Maafkan kegaduhan ini, Alvaro. Aira memang sulit diatur. Berbeda sekali dengan Airin yang selalu membanggakan."

Alvaro hanya mengangguk kaku. Tatapannya jatuh pada Aira yang kini sudah luruh di lantai, berlutut sembari mengumpulkan potongan-potongan mimpinya yang hancur. Isak tangis Aira terdengar begitu menyayat, namun tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berniat mengulurkan tangan.

"Ayo, Varo. Kita lanjut belajar di taman belakang saja, di sini udaranya jadi tidak enak," ajak Airin manis, seolah-olah kesedihan kembarannya hanyalah gangguan kecil.

Alvaro berdiri. Saat ia melangkah melewati Aira, selembar potongan kertas yang robek mendarat tepat di atas sepatu mahalnya. Secara refleks, Alvaro menunduk dan mengambil potongan kertas itu.

Di potongan kertas itu, terlihat bagian kecil dari sebuah desain—sebuah pita kecil dengan pola jahitan menyilang yang sangat spesifik.

Jantung Alvaro berdesir aneh. Bayangan masa kecil tiba-tiba melintas. Ia ingat seorang gadis kecil yang selalu menggambar pola pita yang persis seperti itu di tanah, tepat di samping lukanya yang sedang diobati.

Pola ini... Ai selalu menggambarnya dulu.

Alvaro menatap punggung Aira yang bergetar hebat karena tangis. Namun, sedetik kemudian, ia teringat wajah Airin yang cantik dan penuh prestasi. Ia teringat betapa Airin tahu semua hal tentang masa kecil mereka.

"Tidak mungkin," gumam Alvaro dalam hati. "Hanya kebetulan. Gadis berantakan ini tidak mungkin sahabat kecilku yang berharga."

Alvaro meremas potongan kertas itu dalam genggamannya, lalu membuangnya kembali ke tumpukan sampah sebelum melangkah pergi mengikuti Airin, meninggalkan Aira yang hancur sendirian di bawah kaki meja.

Terpopuler

Comments

Lely Zuryani

Lely Zuryani

/Angry//Angry//Angry/

2026-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!