Ia menoleh pada Amira sekilas. Istrinya tampak tegang sejak tadi, seolah menunggu keputusan yang belum tentu baik untuk dirinya sendiri.
Sementara Umi Salma masih menunggu dengan sabar.
Akhirnya Mirza berdeham pelan. “Kalau memang itu bisa membantu bayi itu…” katanya hati-hati, “kami insyaAllah tidak keberatan.”
Amira langsung menoleh cepat. “Mas?”
Mirza memberi isyarat kecil agar istrinya tenang.
Umi Salma tampak sedikit lega. “Alhamdulillah.”
“Saya juga tidak ingin memberatkan,” lanjut Mirza sopan. “Kalau memang ada kebutuhan untuk Amira tinggal sementara di ndalem atau bolak-balik ke sana, insyaAllah kami usahakan.”
Amira makin terdiam. Cepat sekali. Ia bahkan belum benar-benar memahami semuanya, tetapi suaminya sudah menjawab.
Umi Salma mengangguk pelan. “Tentu kami tidak akan membiarkan panjenengan membantu tanpa penghargaan yang layak.”
Mirza menunduk sopan, meski di dalam kepalanya kalimat itu terasa jauh lebih besar. Penghargaan. Artinya memang ada imbalan. Dan itu semakin menguatkan keyakinannya. Ini bisa menjadi jalan keluar untuk kehidupan mereka.
Sudah lama Mirza ingin mendapat tempat mengajar yang lebih baik. Selama ini ia hanya mengisi pengajian kecil dari kampung ke kampung dengan bayaran yang tidak menentu. Kadang cukup. Kadang tidak. Sementara setelah ini mereka tetap harus hidup, meski anak mereka sudah tiada.
Mirza menatap Umi Salma dengan lebih hormat. “Kalau boleh tahu…” ucapnya hati-hati, “Habibi tinggal di ndalem bersama Kyai?”
“Iya,” jawab Umi Salma pelan.
Mirza mengangguk perlahan. Pikirannya mulai menyusun sesuatu. Kalau Amira dekat dengan keluarga ndalem, kalau Habibi bergantung pada Amira maka bukan tidak mungkin dirinya juga akan lebih mudah masuk ke lingkungan pesantren itu.
Apalagi ia memang lulusan pesantren dan cukup sering diminta mengisi kajian. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Sementara Amira justru semakin merasa gelisah. Karena entah kenapa, keputusan yang baru saja dibuat suaminya terasa terlalu cepat untuk sesuatu yang akan mengubah hidup mereka.
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Umi Salma menjelaskan banyak hal, tentang kebutuhan Habibi, jadwal kontrol bayi itu, sampai kemungkinan Amira harus sering berada di ndalem agar Habibi tidak stres karena berpindah-pindah pengasuh.
Dan Mirza menyetujui hampir semuanya.
Amira lebih banyak diam. Sesekali ia mencoba ikut bicara, tetapi pembahasan selalu berlanjut sebelum ia benar-benar sempat menyampaikan isi hatinya sendiri.
Sampai akhirnya mereka mencapai keputusan. “Kalau begitu,” ucap Umi Salma pelan, “Besok pagi kami jemput Amira ke rumah.”
Mirza mengangguk mantap. “InsyaAllah siap, Umi.”
Amira menoleh cepat pada suaminya. Besok pagi? Secepat itu?
Namun sebelum ia sempat bicara, Umi Salma kembali melanjutkan, “Untuk malam ini, Habibi akankami bawa pulang.” Ia menatap Amira dengan hati-hati. “Kalau panjenengan berkenan… kami ingin meminta ASI yang dipompa dulu untuk kebutuhan malam ini.”
Amira langsung menegang kecil. Entah kenapa kalimat itu terasa sangat pribadi. Tubuhnya tiba-tiba sadar bahwa air susu yang selama ini hanya menjadi pengingat kehilangan mulai malam ini akan menjadi sumber hidup untuk bayi lain. Ia menunduk pelan. “Iya, Umi…” Jawabannya lirih sekali.
Perawat yang sejak tadi menunggu akhirnya maju mendekat sambil membawa alat pompa ASI. “Kalau begitu nanti saya bantu, Bu.”
Amira mengangguk kecil. Sementara Mirza justru tampak jauh lebih tenang sekarang. Bahkan ada sedikit cahaya di wajah lelahnya sejak tadi. Harapan.
Sudah lama Amira tidak melihat tatapan seperti itu di mata suaminya.
Umi Salma berdiri perlahan sebelum pamit. “Terima kasih,” ucapnya tulus. “Panjenengan sudah menyelamatkan cucu saya.”
Amira buru-buru menggeleng. “Jangan begitu, Umi…”
Namun perempuan sepuh itu tersenyum lembut. “Mungkin panjenengan belum sadar,” katanya pelan, “tapi Allah sedang mempertemukan dua kehilangan.” Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening. Lalu Umi Salma memberikan sebuah amplop coklat ke tangan Amira. Umi Salma lalu keluar bersama perawat dan bayi kecil itu.
Kini kamar rawat inap itu kembali sunyi. Hanya tersisa Amira dan Mirza. Mirza duduk kembali di kursi dekat ranjang sambil memandang pintu yang baru saja tertutup. Lalu pandangannya jatuh pada amplop cokelat yang tadi ditinggalkan Umi Salma di atas meja kecil. Tanpa banyak pikir, ia langsung mengambilnya.
Amira yang sejak tadi diam menoleh sekilas. “Mas…”
Namun Mirza sudah membuka amplop itu. Matanya langsung melebar. Di dalamnya tersusun rapi lembaran uang merah. Banyak sekali.
Mirza buru-buru menghitungnya dengan napas sedikit berubah. “Satu… dua… tiga…”
Amira memperhatikan wajah suaminya perlahan berubah. Dari lelah. Menjadi terkejut.
“Lima juta!” Suara Mirza nyaris berbisik.
Amira ikut terdiam. Jumlah itu terlalu besar untuk mereka. Biasanya Mirza harus mengisi pengajian berhari-hari untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Dan itu baru untuk malam ini.
Mirza kembali melihat isi amplop itu seolah memastikan dirinya tidak salah hitung. “MasyaAllah…” Nada suaranya terdengar kagum.
Entah kenapa, dada Amira justru terasa tidak nyaman. Ia memalingkan wajah pelan. “Mas…” panggilnya lirih.
Mirza masih memandangi uang itu. “Iya?”
Amira menatap suaminya beberapa detik sebelum akhirnya berkata hati-hati, “Serius… aku akan dikirim ke pesantren?” Kalimat itu akhirnya keluar juga. Pertanyaan yang sejak tadi tertahan di dadanya.
Mirza menoleh. “Kirim bagaimana?”
“Aku tinggal di sana.” Suara Amira mulai terdengar gelisah. “Tadi Umi bilang aku mungkin harus sering di ndalem.”
“Itu kan buat membantu bayi.”
“Tapi cepat sekali…” Amira menggenggam ujung selimutnya. “Aku bahkan baru kehilangan anak kita, Mas.”
Kalimat terakhir itu membuat Mirza diam sebentar. Namun hanya sebentar. “Justru mungkin ini cara Allah menghibur kamu,” katanya pelan.
Amira menatap suaminya tak percaya. “Menghibur?”
Mirza menghela napas pendek lalu duduk lebih dekat. “Mira, dengar.” Suaranya mulai terdengar serius. “Kita juga harus pikirkan hidup ke depan.”
Amira terdiam.
“Ini kesempatan baik.” Mirza melirik amplop di tangannya. “Tidak semua orang bisa sedekat ini dengan keluarga ndalem.”
Amira langsung tahu arah pembicaraan suaminya. Dan ia tidak menyukainya. “Mas senang karena uangnya?”
Mirza cepat menggeleng. “Bukan begitu.”
.
“Tapi Mas kelihatan sangat senang sejak tadi.”
“Aku cuma berpikir realistis.” Nada suara Mirza mulai berubah defensif. "Kamu tahu kan berapa gajiku mengisi pengajian? Tidak pernah sampai seratus ribu. Nominal yang sangat kecil. Dan panggilan mengisi kajian juga tidak tiap hari datang. Kadang sebulan cuma dua kali. Sementara kebutuhan hidup kita besar. Berkali lipat dari pendapatanku. Ini saja untuk lahiran aku harus berhutang, untungnya Allah kasih rezeki lewat asimu."
Amira menunduk, matanya memanas lagi. Ia tidak tahu kenapa malam ini terasa semakin sesak. Baru beberapa jam lalu mereka kehilangan anak. Namun sekarang rasanya mereka sedang membicarakan sesuatu yang jauh dari duka itu sendiri. “Aku takut, Mas…” Akhirnya itu yang keluar dari bibirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Tamirah
Ternyata Mirza suaminya Amira punya maksud tertentu yg tdk diketahui istri nya,dgn membuka Amplop yg isinya 5 juta pikiran nya sdh kemana mana.honor pengajian gak sampai ratusan ribu, sekarang istri nya menyusui bayi cucu kiyai honornya gede banget, dia Gak mikir baru kehilangan' anaknya yg dipikir dpt uang banyak, tentu istrinya akan dimanfaatkan kasihan banget istrinya.
2026-08-22
0