Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

chapter 1 — Lukisan di Kuil Tua

Di tengah hutan pegunungan yang dipenuhi kabut tipis, berdiri sebuah kuil tua yang masih dikunjungi orang-orang meski bangunannya sudah dimakan usia. Tangga batu menuju kuil dipenuhi lumut hijau, sementara lonceng kecil yang tergantung di depan pintu terus berbunyi pelan tertiup angin sore. Aroma dupa bercampur udara lembab memenuhi setiap sudut tempat itu, menciptakan suasana tenang sekaligus sunyi.

Beberapa pengunjung datang silih berganti membawa doa dan harapan mereka masing-masing. Seorang ibu paruh baya menyalakan dupa sambil memejamkan mata, seorang anak kecil berlari kecil di halaman kuil sebelum dimarahi ayahnya, sementara pasangan muda terlihat menuliskan harapan pada papan kayu doa yang tergantung di dekat pohon tua. Suara langkah kaki, bisikan pelan, dan gemerisik daun menjadi satu-satunya hal yang terdengar di tempat itu.

Di sudut ruangan utama kuil, seorang wanita muda duduk diam di dekat sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding kayu tua. Wajahnya cantik dengan kulit pucat dan mata gelap yang tenang seperti malam. Rambut hitam panjangnya jatuh lurus hingga pinggang, bergerak pelan tertiup angin yang masuk dari celah jendela.

Ia mengenakan pakaian putih sederhana yang terlihat kontras dengan ruangan tua di sekitarnya.

Wanita itu hanya memperhatikan para pengunjung dalam diam. Tatapannya mengikuti setiap manusia yang datang dan pergi, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar tiba. Sesekali bibirnya membentuk senyum tipis saat melihat anak kecil tertawa, namun senyum itu selalu menghilang dengan cepat. Tidak ada satu pun orang di kuil itu yang menyadari keberadaannya. Tidak ada yang menoleh ke arahnya. Karena wanita itu bukan manusia biasa.

Ia adalah arwah yang telah terikat di kuil

“Katanya wanita di lukisan itu dulu pengkhianat,” bisik seorang ibu pada temannya sambil melirik ke arah lukisan. “Aku dengar dia suka menipu laki-laki sampai banyak pria kehilangan nyawa karenanya.”

Temannya langsung mendekat penasaran. “Serius? Tapi wajahnya cantik sekali…”

“Justru itu yang menyeramkan. Orang-orang bilang dia memakai wajah cantiknya untuk mempermainkan pria. Makanya arwahnya dikutuk dan disegel di kuil ini, gosipnya seperti.”

Wanita muda di bawah lukisan itu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin mendengar ucapan mereka.

“Manusia memang selalu suka menyebarkan rumor sama gosip gak jelas,” gumamnya pelan dengan nada kesal.

Ia menatap lukisan di atas kepalanya cukup lama sebelum tersenyum tipis penuh sindiran.

“Pengkhianat… penipu pria…” bisiknya lirih. “Padahal mereka bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi 500 tahun lalu.”

Angin dingin tiba-tiba berhembus pelan di dalam kuil, membuat lilin kecil di sudut ruangan bergoyang.

Wanita muda itu perlahan berdiri. Tatapannya berubah dingin mendengar ucapan mereka. Ia mengepalkan tangannya pelan, berusaha menahan amarah yang selama ratusan tahun terus mendengar cerita palsu tentang dirinya.

“Aku tidak pernah mempermainkan apalagi menipu siapa pun…” bisiknya lirih.

Tiba-tiba angin dingin berhembus kuat di dalam kuil. Pintu kayu tertutup sendiri dengan suara keras membuat seluruh pengunjung terkejut. Dalam sekejap, semua lilin di dalam kuil padam bersamaan hingga ruangan berubah gelap. Suasana mendadak menjadi dingin dan mencekam. Anak kecil mulai menangis ketakutan sementara beberapa pengunjung langsung mundur panik.

“Roh kutukan itu marah!”

“Cepat pergi dari sini!”

Orang-orang berlarian keluar meninggalkan kuil dengan wajah pucat. Setelah suasana kembali sunyi, wanita itu berdiri perlahan di bawah lukisan besar tersebut. Tatapannya kosong menatap cahaya bulan yang masuk dari celah jendela tua.

“Aku bukan pengkhianat…” ucapnya pelan.

Rambut hitamnya bergerak tertiup angin malam saat bibir pucatnya kembali berbisik lirih.

“Aku kan Roh Bulan yang di hukum…”

Senyum tipis muncul di wajah cantiknya yang dingin.

“Dan sebentar lagi… aku akan bebas.”

Seorang pria muda berdiri di depan gedung kampus sambil memegang buket bunga kecil di tangannya. Langit sore mulai berubah gelap setelah hujan turun sejak tadi, membuat halaman kampus terlihat basah dan dipenuhi genangan air tipis. Meski begitu, pria itu tetap berdiri di dekat tangga gedung utama dengan wajah tegang sekaligus gugup.

Ia mengenakan kemeja putih rapi yang dipadukan dengan jaket hitam sederhana. Rambutnya ditata dengan rapi seperti sengaja dipersiapkan untuk hari penting. Di tangannya, buket bunga berwarna lembut dibungkus kertas cokelat sederhana, tidak terlalu mewah tetapi terlihat dipilih dengan penuh perhatian.

Sementara di dalam saku jaketnya, tersimpan sebuah kotak cincin kecil yang sejak tadi beberapa kali disentuhnya pelan karena gugup.

Cincin itu bukan barang mahal. Ia membelinya dari hasil menabung dan kerja keras selama hampir satu tahun penuh. Mengambil pekerjaan tambahan sepulang kuliah, mengurangi pengeluaran, bahkan menahan banyak keinginan kecil hanya untuk mempersiapkan hari ini.

Tatapan pria itu terus mengarah ke pintu kampus dengan harapan seseorang akan segera muncul dari sana. Sesekali ia tersenyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi wanita itu nanti.Baginya, malam ini bukan sekadar pertemuan biasa.Ia sudah memutuskan bahwa hari ini dirinya akan menyatakan perasaan dan melamar wanita yang paling ia cintai.

“Tenang… tenang…” gumamnya pelan mencoba menenangkan diri sendiri.

Namun semakin menunggu, rasa gugup itu malah semakin besar.

Sampai tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar memanggil namanya dari kejauhan.

“Ravin!”

Ravin langsung menoleh cepat.

Seorang wanita cantik berjalan mendekatinya sambil tersenyum lembut. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin sore, sementara gaun putih sederhana yang dikenakannya membuatnya terlihat begitu anggun di bawah cahaya lampu kampus yang mulai menyala.

Melihat wanita itu datang, wajah Ravin langsung berubah gugup. Tangannya bahkan hampir menjatuhkan buket bunga yang sejak tadi dipegangnya.

Wanita itu tertawa kecil melihat ekspresinya.

“Kamu kenapa tegang banget?” tanyanya sambil berdiri tepat di depan Ravin.

Namun Ravin justru semakin salah tingkah saat menatap wajah wanita yang selama ini selalu memenuhi pikirannya itu

Dewi tersenyum lebar begitu melihat buket bunga di tangan Ravin. Tanpa ragu ia langsung mengambilnya dengan wajah senang seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah yang sudah lama diinginkan.

“Ini buat aku kan?” tanyanya sambil menatap Ravin penuh harap.

Ravin hanya tersenyum gugup lalu mengangguk pelan. “Iya… selamat ulang tahun.”

Wajah Dewi langsung terlihat semakin bahagia. Ia memeluk buket bunga itu dengan hati-hati sambil mencium aroma bunga yang masih segar. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin malam, sementara senyum di wajah cantiknya terlihat begitu cerah di bawah lampu halaman kampus.

“Makasih, Ravin. Cantik banget bunganya,” ucapnya tulus.

Ravin sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Tangannya bahkan sempat menyentuh saku jas tempat kotak cincin itu berada. Namun keberaniannya langsung menghilang saat Dewi kembali berbicara lebih dulu dengan wajah penuh semangat.

“Eh iya! Hari ini aku gak jadi pulang cepat,” katanya antusias. “Papa sama mama lagi keluar kota, jadi aku mau rayain ulang tahun di villa keluarga.”

“Villa?” Ravin sedikit terdiam.

Dewi mengangguk cepat. “Aku ngajak teman-teman juga, tapi yang paling penting kamu harus ikut.” Ia lalu tersenyum jahil. “Oh iya, Juna juga datang nanti.”

Mendengar nama itu, Ravin hanya menghela napas kecil sambil tersenyum tipis. Juna memang sahabat dekat mereka sejak lama, jadi ia tidak terlalu terkejut.

Dewi terlihat sangat bersemangat membicarakan pesta kecil yang sudah ia siapkan. Sesekali ia menggenggam lengan Ravin sambil terus bercerita tentang dekorasi villa, makanan, dan rencana mereka menghabiskan malam bersama.

Sementara Ravin hanya memperhatikan wajah Dewi diam-diam.

Kotak cincin di dalam sakunya terasa semakin berat.

Malam ini seharusnya menjadi hari dimana ia menyatakan perasaannya. Namun kini ia hanya bisa tersenyum sambil mengikuti langkah Dewi yang berjalan lebih dulu dengan wajah penuh kebahagiaan.

Dewi tersenyum lebar sambil memeluk buket bunga pemberian Ravin dengan wajah penuh kebahagiaan. Tanpa sadar ia langsung mengeluarkan ponselnya lalu menekan nama seseorang di layar. Tidak lama kemudian panggilan itu tersambung dan wajah Dewi langsung berubah semakin cerah.

“Juna! Kamu jadi datang kan malam ini?” ucapnya antusias sambil tertawa kecil.

Ravin yang berdiri di sampingnya perlahan terdiam. Ia memperhatikan bagaimana mata Dewi berbinar hanya karena mendengar suara dari seberang telepon.

“Iya, semuanya udah siap di villa,” lanjut Dewi dengan nada ceria. “Kamu harus datang, pokoknya gak boleh nolak.”

Entah apa jawaban Juna di sana sampai membuat Dewi tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya sebentar. Hujan tipis mulai turun lagi di halaman kampus, sementara Ravin hanya berdiri diam memandangi jalanan basah di depannya. Tangannya perlahan masuk ke dalam saku jas dan menyentuh kotak cincin kecil yang sejak tadi ia simpan dengan hati-hati.

“Ravin juga ikut kok,” kata Dewi lagi sambil melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus pada teleponnya. “Iya, nanti kita ketemu di sana.”

Panggilan itu akhirnya selesai. Dewi menurunkan ponselnya masih dengan senyum bahagia yang belum hilang dari wajah cantiknya.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya saat menyadari Ravin sejak tadi diam.

Ravin langsung memaksakan senyum kecil. “Kenapa emangnya?”

“Kamu keliatan aneh.”

“Cuma capek.”

Dewi mengangguk pelan tanpa curiga, lalu kembali memeluk buket bunga itu dengan senang.

Sementara Ravin hanya menatap wanita di depannya dalam diam.

Ia sudah cukup lama mengenal Dewi untuk memahami satu hal yang selama ini pura-pura tidak ia sadari. Cara Dewi menyebut nama Juna selalu berbeda. Lebih hangat dan Lebih bahagia.

Episodes
1 chapter 1 — Lukisan di Kuil Tua
2 chapter 2 Malam di Bawah Bulan Purnama
3 chapter 3 Malam Saat Segalanya Dimulai
4 chapter 4 Lilin yang Dipadamkan
5 chapter 5 Roh Bulan Yang Telah Bebas
6 chapter 6 Roh Bulan Yang Kesepian
7 Chapter 7 — Ciuman di Bawah Langit Malam
8 Chapter 8 — Kebahagiaan yang Terganggu
9 Chapter 9 — Kehadiran yang Mengusik
10 Chapter 10 Saat Ravin Melindunginya Dan Tangisan Pertama Arum
11 Chapter 11 — Jiwa yang Tertinggal di Antara Hidup dan Mati
12 Chapter 12 Kesempatan Kedua untuk Hidup
13 Chapter 13 Ravin dan Arum di 500 Tahun Lalu
14 Chapter 14 Wajah yang Sama dengan Dewi
15 Chapter 15 Arum dan Pangeran yang Hilang
16 Chapter 16 Dua Saudara, Satu Wanita
17 chapter 17 Rasa Khawatir yang Tak Bisa Disembunyikan
18 chapter 18 Pelukan Pertama di Taman Senja
19 Chapter 19 Malam Pertemuan Rahasia
20 Chapter 20 Bulan, Kenangan, dan Kebohongan
21 chapter 21 Ratu, Takhta, dan Rahasia Lama
22 chapter 22 Cemburu nya Putra Mahkota
23 chapter 23 Ibu yang Akan Melindungi Anaknya
24 chapter 24 Ungkapan Perasaan 2 Saudara
25 chapter 25 Saat Takdir Mulai Mendekat
26 chapter 26 Cemburu Putra Mahkota
27 chapter 27 Pertemuan Pertama Dengan Selir Ratih
28 chapter 28 Tameng Pondasi Pelindung
29 chapter 29 ungkapan Hati Arum
30 chapter 30 Arum Menjadi Cenayang
31 chapter 31 Aura Selir Ratih Masih Seorang Ratu
32 chapter 32 Air Suci Himawari
33 chapter 33 Di Balik Tahta: Luka Seorang Putra Mahkota
34 chapter 34 30 hari Menuju Kejatuhan Istana
35 chapter 35 Tanda yang Tak Dianggap
36 chapter 36 kenangan yang tak kembali
37 chapter 37 harapan yang rapuh
38 chapter 38 bukan karna tahta
39 chapter 39 kebenaran dan kesetiaan
40 chapter 40 Misi
41 chapter 41 kencan pertama
42 chapter 42 yudra yang membuka hati untuk ajeng
43 chapter 43 bunga lotus ungu
44 chapter 44 kedekatan sesama saudara
45 chapter 45 3 hari lagi
46 chapter 46 semakin dekat
47 chapter 47 memilih jalannya sendiri
48 chapter 48 telah tiba
49 chapter 49 benar terjadi
50 chapter 50 harapan yang hilang
51 chapter 51 kembali ke dunia asal
52 chapter 52 menunggu nya
53 chapter 53 selalu menunggu
54 chapter 54 beberapa tahun kemudian
55 chapter 55 kedatangan yasmin
56 chapter 56 pertemuan pertama
57 chapter 57 mengelak
58 chapter 58 tidak lagi bertemu
59 chapter 59 akhir penantian
Episodes

Updated 59 Episodes

1
chapter 1 — Lukisan di Kuil Tua
2
chapter 2 Malam di Bawah Bulan Purnama
3
chapter 3 Malam Saat Segalanya Dimulai
4
chapter 4 Lilin yang Dipadamkan
5
chapter 5 Roh Bulan Yang Telah Bebas
6
chapter 6 Roh Bulan Yang Kesepian
7
Chapter 7 — Ciuman di Bawah Langit Malam
8
Chapter 8 — Kebahagiaan yang Terganggu
9
Chapter 9 — Kehadiran yang Mengusik
10
Chapter 10 Saat Ravin Melindunginya Dan Tangisan Pertama Arum
11
Chapter 11 — Jiwa yang Tertinggal di Antara Hidup dan Mati
12
Chapter 12 Kesempatan Kedua untuk Hidup
13
Chapter 13 Ravin dan Arum di 500 Tahun Lalu
14
Chapter 14 Wajah yang Sama dengan Dewi
15
Chapter 15 Arum dan Pangeran yang Hilang
16
Chapter 16 Dua Saudara, Satu Wanita
17
chapter 17 Rasa Khawatir yang Tak Bisa Disembunyikan
18
chapter 18 Pelukan Pertama di Taman Senja
19
Chapter 19 Malam Pertemuan Rahasia
20
Chapter 20 Bulan, Kenangan, dan Kebohongan
21
chapter 21 Ratu, Takhta, dan Rahasia Lama
22
chapter 22 Cemburu nya Putra Mahkota
23
chapter 23 Ibu yang Akan Melindungi Anaknya
24
chapter 24 Ungkapan Perasaan 2 Saudara
25
chapter 25 Saat Takdir Mulai Mendekat
26
chapter 26 Cemburu Putra Mahkota
27
chapter 27 Pertemuan Pertama Dengan Selir Ratih
28
chapter 28 Tameng Pondasi Pelindung
29
chapter 29 ungkapan Hati Arum
30
chapter 30 Arum Menjadi Cenayang
31
chapter 31 Aura Selir Ratih Masih Seorang Ratu
32
chapter 32 Air Suci Himawari
33
chapter 33 Di Balik Tahta: Luka Seorang Putra Mahkota
34
chapter 34 30 hari Menuju Kejatuhan Istana
35
chapter 35 Tanda yang Tak Dianggap
36
chapter 36 kenangan yang tak kembali
37
chapter 37 harapan yang rapuh
38
chapter 38 bukan karna tahta
39
chapter 39 kebenaran dan kesetiaan
40
chapter 40 Misi
41
chapter 41 kencan pertama
42
chapter 42 yudra yang membuka hati untuk ajeng
43
chapter 43 bunga lotus ungu
44
chapter 44 kedekatan sesama saudara
45
chapter 45 3 hari lagi
46
chapter 46 semakin dekat
47
chapter 47 memilih jalannya sendiri
48
chapter 48 telah tiba
49
chapter 49 benar terjadi
50
chapter 50 harapan yang hilang
51
chapter 51 kembali ke dunia asal
52
chapter 52 menunggu nya
53
chapter 53 selalu menunggu
54
chapter 54 beberapa tahun kemudian
55
chapter 55 kedatangan yasmin
56
chapter 56 pertemuan pertama
57
chapter 57 mengelak
58
chapter 58 tidak lagi bertemu
59
chapter 59 akhir penantian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!