Bab 3 — Rumah yang Mendadak Sunyi

Mobil hitam milik keluarga Ardian berhenti perlahan di depan mansion megah bernuansa klasik. Gerbang besi besar terbuka otomatis, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang biasanya selalu membuat Sabrina tersenyum kagum.

Namun kali ini berbeda.

Alya hanya menatapnya datar dari balik jendela mobil.

Ia masih belum terbiasa dengan semua ini.

Kehidupan mewah.

Rumah besar.

Dan status sebagai istri Leon Ardian.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa pelayan segera berdiri rapi menyambut mereka.

“Selamat datang, Tuan Leon. Nyonya Sabrina.”

Alya turun perlahan sambil memegang perutnya yang mulai membesar. Tatapan para pelayan terlihat lega melihat keadaan Sabrina baik-baik saja.

“Nyonya, syukurlah Anda tidak apa-apa,” ujar salah satu pelayan tua bernama Bibi Mina. “Kami semua sangat khawatir.”

Alya tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Leon berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara. Seperti biasa, pria itu dingin dan sulit ditebak. Aura dinginnya langsung membuat suasana berubah kaku.

Biasanya Sabrina akan langsung mengikuti Leon seperti anak kecil yang takut ditinggal.

Namun hari ini Alya tidak melakukannya.

Ia justru berjalan ke arah sofa ruang tengah dan duduk perlahan.

Hal kecil itu membuat beberapa pelayan saling berpandangan heran.

Karena selama ini…

Dunia Sabrina selalu berputar mengelilingi Leon.

“Nyonya mau dibuatkan teh hangat?” tanya Bibi Mina lembut.

“Iya, boleh.”

Alya memandang sekeliling rumah besar itu.

Ingatan Sabrina perlahan kembali muncul.

Rumah ini dulunya terasa hangat karena Sabrina selalu berusaha menghidupkan suasana. Ia sering mengobrol dengan pelayan, menghias rumah, bahkan memasak sendiri meski hasilnya kadang gagal total.

Sabrina melakukan semuanya hanya untuk mendapat perhatian Leon.

Namun pria itu tidak pernah peduli.

Kadang Leon pulang larut malam tanpa bicara sepatah kata pun. Kadang ia bahkan tidak pulang sama sekali.

Dan Sabrina tetap menunggu.

Bodoh sekali.

Alya menghela napas pelan.

Mulai sekarang, ia tidak akan melakukan itu lagi.

Tangga besar terdengar berderit pelan. Leon turun dengan pakaian rumah berwarna hitam. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.

Tatapan pria itu otomatis mencari Sabrina.

Namun ia sedikit mengernyit saat melihat wanita itu justru sibuk membaca buku di sofa sambil memakan potongan buah.

Tidak menghampirinya.

Tidak bertanya apa pun.

Tidak tersenyum padanya seperti biasanya.

Aneh.

Leon berjalan menuju meja makan tanpa komentar.

“Nyonya, makan malam akan segera siap,” ujar salah satu pelayan.

“Baik.”

Biasanya Sabrina akan langsung duduk di samping Leon sambil mencoba membuka percakapan. Meski sering diabaikan, wanita itu tidak pernah menyerah.

Tapi malam ini…

Alya memilih duduk sedikit jauh.

Leon melirik sekilas.

“Kenapa duduk di sana?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja bahkan membuat Leon sendiri sedikit heran.

Alya mengangkat kepala.

“Hm? Memangnya kenapa?”

“Bukannya kau biasanya—”

Leon menghentikan kalimatnya sendiri.

Biasanya apa?

Biasanya menempel padanya?

Biasanya terus mencari perhatian?

Alya tersenyum kecil lalu memotong, “Aku cuma mau lebih nyaman.”

Leon terdiam.

Makan malam berlangsung sangat sunyi.

Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar pelan.

Para pelayan mulai merasa suasana rumah berubah aneh.

Karena untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi…

Sabrina berhenti mengejar Leon.

Selesai makan, Alya langsung berdiri.

“Aku naik duluan.”

Leon sedikit mengernyit. “Kau tidak menungguku?”

Pertanyaan itu spontan keluar begitu saja.

Alya hampir tertawa kecil.

Menunggu?

Sabrina yang dulu memang selalu menunggu Leon. Menunggu pria itu selesai bekerja. Menunggu dia makan. Menunggu dia pulang.

Bahkan menunggu dicintai.

Namun Alya bukan Sabrina yang lama.

“Aku mengantuk,” jawabnya santai.

Lalu ia benar-benar pergi meninggalkan Leon di meja makan.

Pria itu menatap punggung Sabrina cukup lama.

Perasaan asing mulai muncul di dadanya.

Aneh.

Sangat aneh.

---

Malam semakin larut.

Alya berdiri di balkon kamar sambil memegang perutnya perlahan. Angin malam menerpa rambutnya lembut.

Ia memikirkan banyak hal.

Tentang kehidupannya dulu.

Tentang keluarganya.

Dan tentang takdir Sabrina yang mengerikan.

“Aku nggak boleh mati,” bisiknya pelan.

Di novel asli, Sabrina meninggal karena depresi dan kondisi tubuhnya memburuk setelah melahirkan. Tidak ada yang benar-benar peduli padanya selain bayi itu.

Termasuk Leon.

Alya menatap langit gelap.

Kalau ia ingin bertahan hidup, ia harus berhenti bergantung pada Leon mulai sekarang.

Pintu kamar terbuka.

Leon masuk sambil melonggarkan dasinya. Tatapan pria itu langsung tertuju pada Sabrina di balkon.

Biasanya wanita itu akan menyambutnya dengan senyum cerah.

Namun sekarang…

Sabrina hanya melirik sekilas sebelum kembali memandang langit.

Leon mengerutkan kening.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

“Kau terlihat aneh sejak bangun dari rumah sakit.”

Alya menahan senyum kecil.

Kalau saja Leon tahu istrinya yang sekarang memang sudah berbeda.

“Aku cuma capek,” jawabnya pelan.

Leon berjalan mendekat beberapa langkah. Tatapan tajam pria itu seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah Sabrina.

Namun yang ia temukan hanya ketenangan.

Tidak ada lagi mata penuh harapan yang biasanya menatapnya dengan cinta.

Dan entah kenapa…

Rumah besar itu mendadak terasa lebih sunyi dari biasanya.

Terpopuler

Comments

Nia Nara

Nia Nara

Suka saat perempuan lebih nemilih dirinya sendiri daripada laki-laki yg tidak mencintainya

2026-08-07

5

Ray

Ray

kalau sudah tiada baru terasa.....😄

2026-08-15

2

Yuli Ana

Yuli Ana

pengen nya seperti itu juga 😄

2026-08-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Kehidupan Kedua
2 Bab 2 — Pernikahan Tanpa Cinta
3 Bab 3 — Rumah yang Mendadak Sunyi
4 Bab 4 — Rencana untuk Pergi
5 Bab 5 — Meja Makan Keluarga Ardian
6 Bab 6 — Anak Perempuan
7 Bab 7 — Rencana yang Menghancurkan
8 Bab 8 — Tempat untuk Pergi
9 Bab 9 — Surat yang Ditinggalkan
10 Bab 10 — Penyesalan yang Terlambat
11 Bab 11 — Dua Bulan Tanpa Jejak
12 Bab 12 — Lahirnya Seorang Putri
13 Bab 13 — Kehidupan Baru
14 Bab 14 — Gadis Kecil di Taman
15 Bab 15 — Pertemuan yang Hampir Terjadi
16 Bab 16 — Percakapan yang Tertunda Tiga Tahun
17 Bab 17 — Jejak yang Ditemukan
18 Bab 18 — Pertemuan Setelah Tiga Tahun
19 Bab 19 — Obat Pahit dan Pelukan Hangat
20 Bab 20 — Ayah yang Datang Terlambat
21 Bab 21 — Nama yang Belum Terucap
22 Bab 22 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
23 Bab 23 — Rumah Kecil di Pinggir Roma
24 Bab 24 — Perasaan yang Tidak Nyaman
25 Bab 25 — Rasa yang Mulai Memiliki
26 Bab 26 — Takut Kehilangan
27 Bab 27 — Tamu Tetap di Toko Bunga
28 Bab 28 — Tatapan yang Berubah
29 Bab 29 — Malam yang Terasa Hangat
30 Bab 30 — Takut Kehilangan Lagi
31 Bab 31 — Perpisahan Sementara
32 Bab 32 — Panggilan Setiap Malam
33 Bab 33 — Kabar yang Membuat Panik
34 Bab 34 — Tangisan yang Tidak Bisa Disembunyikan
35 Bab 35 — Pagi yang Berbeda
36 Bab 36 — Permintaan Ryan
37 Bab 37 — Rumah Baru Leon
38 Bab 38 — Aroma Rumah
39 Bab 39 — Percakapan yang Lama Hilang
40 Bab 40 — Ciuman yang Mengubah Segalanya
41 Bab 41 — Ketahuan
42 Bab 42 — Malam yang Hangat
43 Bab 43 — Pintu yang Sedikit Terbuka
44 Bab 44 — Malam yang Tidak Bisa Dihindari
45 Bab 45 — Pagi yang Panik
46 Bab 46 — Jangan Pergi Lama-Lama
47 Bab 47 — Kepindahan yang Tidak Terduga
48 Bab 48 — Belajar Menjadi Ayah
49 Bab 49 — Tangan yang Kembali Bebas
50 Bab 50 — Jangan Pergi Lagi
51 Bab 51 — Tinggal Lebih Lama
52 Bab 52 — Kedatangan Sang Mami
53 Bab 53 — Alasan yang Selama Ini Disimpan
54 Bab 54 — Penyesalan Leon
55 Bab 55 — Meja Makan yang Lama Hilang
56 Bab 56 — Malam yang Mulai Hangat
57 Bab 57 — Pembicaraan Tengah Malam
58 Bab 58 — Rasa yang Kembali Tumbuh
59 Bab 59 — Pagi yang Berbeda
60 Bab 60 — Belanja Bersama Nenek
61 Bab 61 — Waktu yang Tepat
62 Bab 62 — Kata “Papa”
63 Bab 63 — Papa
64 Bab 64 — Hari Pertama Sebagai Papa
65 Bab 65 — Keluarga Kecil Mereka
66 Bab 66 — Pertanyaan dari Liora
67 Bab 67 — Langkah yang Perlahan Mendekat
68 Bab 68 — Jawaban yang Belum Terucap
69 Bab 69 — Kabar Kepulangan
70 Bab 70 — Kesibukan dan Kerinduan
71 Bab 71 — Akhirnya Pulang
72 Bab 72 — Jawaban yang Mulai Terlihat
73 Bab 73 — Pulau untuk Liora
74 Bab 74 — Senja di Pulau Liora
75 Bab 75 — Malam di Bawah Langit Bintang
76 Bab 76 — Janji di Tepi Laut
77 Bab 77 — Rencana Besar Leon
78 Bab 78 — Pulang ke Indonesia
79 Bab 79 — Kakek yang Menunggu
80 Bab 80 — Opa yang Ternyata Sehat
81 Bab 81 — Permintaan Seorang Ayah
82 Bab 82 — Jawaban yang Ditunggu
83 Bab 83 — Persiapan Ulang Tahun dan Sebuah Rencana
84 Bab 84 — Kejutan Kecil dari Liora
85 Bab 85— Lamaran di Hadapan Keluarga
86 Bab 86 — Setelah Jawaban "Iya"
87 Bab 87 — Pagi yang Penuh Rencana
88 Bab 88 — Keluarga yang Semakin Lengkap
89 Bab 89 — Persiapan Pernikahan
90 Bab 90 — Memilih Hari Bahagia
91 Bab 91 — Undangan dari Roma
92 Bab 92 — Hari-Hari Terakhir di Indonesia
93 Bab 93 — Kembali ke Roma
94 Bab 94 — Rumah yang Menunggu
95 Bab 95 — Gaun Pengantin dan Air Mata Bahagia
96 Bab 96 — Undangan yang Mulai Disebar
97 Bab 97 — Gladi Bersih dan Kejutan Kecil
98 Bab 98 — Tamu-Tamu yang Berdatangan
99 Bab 99 — Lima Hari Menuju Hari Bahagia
100 Bab 100 — Empat Hari Menuju Altar
101 Bab 101 — Tiga Hari Lagi
102 Bab 102 — Dua Hari Sebelum Pernikahan
103 Bab 103 — Satu Hari Sebelum Pernikahan
104 Bab 104 — Hari yang Dinanti
105 Bab 105 — Janji yang Diucapkan Kembali
106 Bab 106 — Perayaan Kebahagiaan
107 Extra Part 1 — Honeymoon
108 Extra Part 2 — Pagi Pertama di Honeymoon
109 Extra Part 3 — Kabar Gembira
110 Extra Part 4 — Ngidam Pertama
111 Extra Part 5 — Kehadiran Lion
112 Ending — Rumah yang Selalu Mereka Cari
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Bab 1 — Kehidupan Kedua
2
Bab 2 — Pernikahan Tanpa Cinta
3
Bab 3 — Rumah yang Mendadak Sunyi
4
Bab 4 — Rencana untuk Pergi
5
Bab 5 — Meja Makan Keluarga Ardian
6
Bab 6 — Anak Perempuan
7
Bab 7 — Rencana yang Menghancurkan
8
Bab 8 — Tempat untuk Pergi
9
Bab 9 — Surat yang Ditinggalkan
10
Bab 10 — Penyesalan yang Terlambat
11
Bab 11 — Dua Bulan Tanpa Jejak
12
Bab 12 — Lahirnya Seorang Putri
13
Bab 13 — Kehidupan Baru
14
Bab 14 — Gadis Kecil di Taman
15
Bab 15 — Pertemuan yang Hampir Terjadi
16
Bab 16 — Percakapan yang Tertunda Tiga Tahun
17
Bab 17 — Jejak yang Ditemukan
18
Bab 18 — Pertemuan Setelah Tiga Tahun
19
Bab 19 — Obat Pahit dan Pelukan Hangat
20
Bab 20 — Ayah yang Datang Terlambat
21
Bab 21 — Nama yang Belum Terucap
22
Bab 22 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
23
Bab 23 — Rumah Kecil di Pinggir Roma
24
Bab 24 — Perasaan yang Tidak Nyaman
25
Bab 25 — Rasa yang Mulai Memiliki
26
Bab 26 — Takut Kehilangan
27
Bab 27 — Tamu Tetap di Toko Bunga
28
Bab 28 — Tatapan yang Berubah
29
Bab 29 — Malam yang Terasa Hangat
30
Bab 30 — Takut Kehilangan Lagi
31
Bab 31 — Perpisahan Sementara
32
Bab 32 — Panggilan Setiap Malam
33
Bab 33 — Kabar yang Membuat Panik
34
Bab 34 — Tangisan yang Tidak Bisa Disembunyikan
35
Bab 35 — Pagi yang Berbeda
36
Bab 36 — Permintaan Ryan
37
Bab 37 — Rumah Baru Leon
38
Bab 38 — Aroma Rumah
39
Bab 39 — Percakapan yang Lama Hilang
40
Bab 40 — Ciuman yang Mengubah Segalanya
41
Bab 41 — Ketahuan
42
Bab 42 — Malam yang Hangat
43
Bab 43 — Pintu yang Sedikit Terbuka
44
Bab 44 — Malam yang Tidak Bisa Dihindari
45
Bab 45 — Pagi yang Panik
46
Bab 46 — Jangan Pergi Lama-Lama
47
Bab 47 — Kepindahan yang Tidak Terduga
48
Bab 48 — Belajar Menjadi Ayah
49
Bab 49 — Tangan yang Kembali Bebas
50
Bab 50 — Jangan Pergi Lagi
51
Bab 51 — Tinggal Lebih Lama
52
Bab 52 — Kedatangan Sang Mami
53
Bab 53 — Alasan yang Selama Ini Disimpan
54
Bab 54 — Penyesalan Leon
55
Bab 55 — Meja Makan yang Lama Hilang
56
Bab 56 — Malam yang Mulai Hangat
57
Bab 57 — Pembicaraan Tengah Malam
58
Bab 58 — Rasa yang Kembali Tumbuh
59
Bab 59 — Pagi yang Berbeda
60
Bab 60 — Belanja Bersama Nenek
61
Bab 61 — Waktu yang Tepat
62
Bab 62 — Kata “Papa”
63
Bab 63 — Papa
64
Bab 64 — Hari Pertama Sebagai Papa
65
Bab 65 — Keluarga Kecil Mereka
66
Bab 66 — Pertanyaan dari Liora
67
Bab 67 — Langkah yang Perlahan Mendekat
68
Bab 68 — Jawaban yang Belum Terucap
69
Bab 69 — Kabar Kepulangan
70
Bab 70 — Kesibukan dan Kerinduan
71
Bab 71 — Akhirnya Pulang
72
Bab 72 — Jawaban yang Mulai Terlihat
73
Bab 73 — Pulau untuk Liora
74
Bab 74 — Senja di Pulau Liora
75
Bab 75 — Malam di Bawah Langit Bintang
76
Bab 76 — Janji di Tepi Laut
77
Bab 77 — Rencana Besar Leon
78
Bab 78 — Pulang ke Indonesia
79
Bab 79 — Kakek yang Menunggu
80
Bab 80 — Opa yang Ternyata Sehat
81
Bab 81 — Permintaan Seorang Ayah
82
Bab 82 — Jawaban yang Ditunggu
83
Bab 83 — Persiapan Ulang Tahun dan Sebuah Rencana
84
Bab 84 — Kejutan Kecil dari Liora
85
Bab 85— Lamaran di Hadapan Keluarga
86
Bab 86 — Setelah Jawaban "Iya"
87
Bab 87 — Pagi yang Penuh Rencana
88
Bab 88 — Keluarga yang Semakin Lengkap
89
Bab 89 — Persiapan Pernikahan
90
Bab 90 — Memilih Hari Bahagia
91
Bab 91 — Undangan dari Roma
92
Bab 92 — Hari-Hari Terakhir di Indonesia
93
Bab 93 — Kembali ke Roma
94
Bab 94 — Rumah yang Menunggu
95
Bab 95 — Gaun Pengantin dan Air Mata Bahagia
96
Bab 96 — Undangan yang Mulai Disebar
97
Bab 97 — Gladi Bersih dan Kejutan Kecil
98
Bab 98 — Tamu-Tamu yang Berdatangan
99
Bab 99 — Lima Hari Menuju Hari Bahagia
100
Bab 100 — Empat Hari Menuju Altar
101
Bab 101 — Tiga Hari Lagi
102
Bab 102 — Dua Hari Sebelum Pernikahan
103
Bab 103 — Satu Hari Sebelum Pernikahan
104
Bab 104 — Hari yang Dinanti
105
Bab 105 — Janji yang Diucapkan Kembali
106
Bab 106 — Perayaan Kebahagiaan
107
Extra Part 1 — Honeymoon
108
Extra Part 2 — Pagi Pertama di Honeymoon
109
Extra Part 3 — Kabar Gembira
110
Extra Part 4 — Ngidam Pertama
111
Extra Part 5 — Kehadiran Lion
112
Ending — Rumah yang Selalu Mereka Cari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!