2 Kamu Itu Bukan Siapa-Siapa.

Musik di runway masih terus berjalan.

Lampu-lampu terang memantul di lantai mengilap. Tepuk tangan sesekali terdengar. Kamera berkilatan tanpa henti.

Di kursi VIP paling depan, Bella sibuk berdiri di atas kursinya sendiri. “Papa! Papa! Itu Tante Cintya lagi!”

Satriya mengangkat ponsel sambil tertawa kecil. “Iya, Papa lihat.”

“Cantik banget ya…”

“Hm.”

Dan seperti biasa, mereka terlalu menikmati dunia mereka sendiri sampai tidak sadar satu orang hilang dari tempat duduk belakang. Tidak ada yang bertanya 'Mama ke mana?'

Karena keberadaan Anjani memang sering terasa otomatis. Seolah perempuan itu akan selalu ada di titik yang seharusnya. Di saat dibutuhkan.

Sementara itu, backstage berubah seperti ruang operasi darurat. Semua orang mengelilingi Anjani. Tangan perempuan itu bergerak cepat di atas kain mahal bernilai ratusan juta. Jarum kecil menembus lapisan dalam dengan gerakan yang begitu terbiasa. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Beberapa staf mulai saling pandang.

“Dia siapa sebenarnya?”

“Nggak tahu…”

“Kok bisa ngerti konstruksi gaunnya?”

“Ini bahkan tim kita tadi nggak kepikiran…”

Anjani tidak mendengar semua itu. Atau mungkin memilih tidak peduli karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kepalanya terasa sunyi. Tidak ada suara mesin cuci, tidak ada jadwal memasak, tidak ada tangisan anak, tidak ada nada datar Satriya yang memintanya melakukan sesuatu. Yang ada hanya kain, jarum, dan insting lamanya yang perlahan bangun dari tidur panjang.

“Gunting kecil.”

Seseorang buru-buru memberikannya.

“Pin.”

Diberikan lagi.

Ren berdiri beberapa langkah darinya. Diam, tapi tatapannya belum lepas sedetik pun sejak tadi. Awalnya ia mengira perempuan itu hanya sok tahu. Tapi sekarang?

Gerakan tangan Anjani terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Bahkan beberapa staf senior mulai memperhatikan dengan wajah tegang. Karena mereka tahu…teknik yang dipakai perempuan itu bukan teknik sembarangan.

Anjani menggigit ujung benang, lalu mengangkat gaun tersebut. “Coba.”

Staf yang tadi hampir menangis buru-buru memeriksa gaun itu, lalu semua orang terdiam.

Sobekannya… hilang. Tidak benar-benar hilang tentu saja. Tapi tersamarkan sempurna di balik permainan layer dan payet baru. Bahkan terlihat lebih bagus dibanding desain awalnya.

Salah satu staf sampai refleks berucap pelan, “Luar biasa…”

Yang lain langsung mengangguk kecil tanpa sadar.

Ren berjalan mendekat. Matanya memperhatikan detail jahitan itu cukup lama, lalu berkata. “Siapa yang ngajarin kamu?”

Anjani mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya mata mereka bertemu penuh.

Dan sialnya, lelaki itu benar-benar menyeramkan kalau dilihat dekat. Tatapannya tajam. Rahangnya keras. Wajahnya tampan dengan cara yang membuat orang malas mendekat. Tipe lelaki yang kelihatannya tidak pernah meminta maaf dalam hidupnya.

“Belajar sendiri,” jawab Anjani singkat.

Ren menyipit sedikit. Dia tahu Anjani berbohong. Itu jelas bukan level belajar sendiri biasa. Namun sebelum ia sempat bicara lagi, suara seorang staf terdengar

“Miss Cintya siap!”

Suasana kembali sibuk. Model berikutnya mulai bersiap keluar runway. Dan gaun yang baru diperbaiki Anjani ternyata dipakai Cintya.

Ah. Lucu sekali.  Perempuan yang diam-diam ingin memamerkan hidup gemilangnya pada Anjani, justru sedang mengenakan hasil tangan perempuan yang ia remehkan.

Cintya muncul tergesa dari sisi lain backstage. Terlihat cantik, anggun, sempurna seperti biasa. Namun langkahnya melambat saat melihat kerumunan di sekitar Anjani.

“Kak Anjani?” Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Tatapan Cintya turun pada gaun yang sudah kembali sempurna, lalu pada Ren. Seketika senyum perempuan itu terlihat agak kaku.

“Ada apa?” tanya Cintya.

Salah satu staf langsung menjawab penuh lega. “Untung ada beliau, Miss. Kalau nggak, gaunnya anda nggak bisa dipakai.”

Cintya menoleh cepat pada Anjani. Detik itu juga, sesuatu berubah kecil di matanya. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak nyaman karena malam yang seharusnya menjadi panggungnya mendadak dicuri seseorang yang bahkan tidak ia anggap sebuah ancaman.

Namun Cintya terlalu pintar untuk tidak menunjukkannya terang-terangan. Ia tersenyum lembut lagi.

“Kak Anjani hebat banget…”

Anjani hanya mengangguk kecil. Wajahnya datar. Tanpa ia sadari itulah yang paling mengganggu Cintya diam-diam. Karena ia tidak terlihat sedang mencari pengakuan, tidak haus pujian, tidak berusaha bersinar. Seolah semua ini hanyalah refleks kecil dari seseorang yang pernah kehilangan dunianya.

“Miss, waktunya!”

Cintya akhirnya kembali fokus lalu berjalan menuju entrance runway. Sebelum pergi, perempuan itu sempat melirik Ren. Dan sayangnya, Cintya cukup mengenal lelaki itu untuk menyadari satu hal. Ren Aksara sedang tertarik pada sesuatu.

Anjani.

Sementara di sisi lain backstage, Ren masih memandangi Anjani. Terlalu lama, sampai salah satu staf memanggil penuh kehati-hatian, takut bos besarnya itu meledak.

“Pak Ren?”

“Hm.”

“Show-nya mulai lagi.”

Ren tetap tidak mengalihkan mata. Tatapannya turun pada tangan Anjani yang masih memegang jarum kecil. Jari-jari itu dipenuhi bekas tusukan halus yang samar.

Tangan pekerja. Bukan tangan sosialita. Bukan juga tangan perempuan yang hanya hidup dari uang suami.

Aneh sekali.

Perempuan seperti ini seharusnya tidak berada di kursi penonton belakang dengan pakaian sesederhana itu. Dan Ren paling benci hal-hal yang terasa tidak pada tempatnya.

Lampu utama akhirnya meredup perlahan. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan besar itu saat seluruh model keluar untuk penutupan acara. Musik mengalun megah. Kamera berkilatan tanpa jeda.

Dan di tengah semua sorotan itu, Cintya benar-benar bersinar. Gaun gold yang tadi hampir gagal tampil kini justru menjadi salah satu outfit paling dipuji malam itu. Potongannya jatuh sempurna di tubuh Cintya, membuat langkahnya terlihat mahal, anggun, dan nyaris tanpa cela.

Bella sampai berdiri di atas kursinya sendiri. “Papa! Tante Cintya paling cantik! Kerenn!”

Satriya tertawa kecil masih sambil merekam runway. “Iya. Dia memang beda.”

Kalimat biasa, tapi nyatanya terasa seperti sesuatu yang menghantam dada Anjani pelan-pelan. Di kursi belakang sana, ia hanya duduk diam. Tangannya dingin. Matanya memandang panggung tanpa benar-benar fokus karena semakin terang Cintya bersinar, semakin Anjani sadar betapa redup dirinya sekarang.

Acara selesai hampir tengah malam.

Backstage kembali sibuk. Wartawan berlalu-lalang. Sponsor berdatangan. Beberapa model tertawa sambil menerima bunga.

Sementara itu, Cintya baru selesai sesi foto ketika melihat Ren berdiri di dekat area staff. Lelaki itu tampak dingin seperti biasa. Satu tangan masuk saku celana. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tetap menyeramkan dan sulit didekati. Dan justru karena itulah perhatian Ren terasa mahal.

Cintya berjalan mendekat dengan senyum lembut andalannya. “Pak Ren…”

Ren melirik sekilas.

“Show tadi lancar banget ya.” Cintya tertawa kecil. “Aku sampai takut bikin kecewa.”

“Hm.” Ren hanya merespon pendek.

Cintya masih tersenyum. “Untung gaunnya masih bisa dipakai. Tadi aku benar-benar panik.”

“Untung ada orang yang ngerti kerja.”

Deg.

Senyum Cintya nyaris retak sepersekian detik karena jelas sekali pujian itu bukan untuk dirinya. Dan lebih menyebalkannya lagi tatapan Ren bahkan tidak benar-benar tertuju padanya. Lelaki itu justru melihat ke arah pintu keluar. Cintya mengikuti arah matanya.

Anjani.

Perempuan itu sedang berjalan pergi dengan pakaian sederhananya sembari membawa tas lama. Rambut sedikit berantakan. Tidak tampak seperti seseorang yang baru saja membuat seluruh backstage terselamatkan.

Dan yang paling mengganggu, Anjani pergi tanpa berusaha menarik perhatian siapa pun. Padahal biasanya perempuan-perempuan di industri ini rela melakukan apa saja demi mendapat tatapan Ren Aksara.

Cintya perlahan mengepalkan jemarinya. Oh. Jadi ini masalahnya.

“Ma!” Bella langsung memeluk tangan Anjani saat perempuan itu mendekat ke area parkir.

“Kita tadi nyariin Mama!”

Anjani hampir tertawa getir. Ia tidak yakin mereka benar-benar mencarinya. Dan ia sudah terlalu lelah untuk menampilkan sikap kecewanya.

Satriya berdiri di dekat mobil sambil memainkan kunci kendaraan. “Kamu dari mana?”

“Nggak ke mana-mana--” Belum selesai ia menjawab seseorang memotong.

“Kak Anjani.” Suara lembut itu datang lagi.

Cintya berjalan mendekat sambil tersenyum kecil, anggun, cantik. Bahkan saat lelah pun perempuan itu masih terlihat seperti tokoh utama dunia.

Bella langsung girang, memeluk Cintya. “Tante Cintya!”

Cintya membelai kepala Bella lembut sebelum memandang Anjani. “Aku boleh ngomong sebentar?”

Satriya otomatis memperhatikan.

“Kenapa?” tanya Anjani singkat.

Cintya terlihat ragu-ragu. Dan perempuan seperti dia memang berbahaya saat terlihat ragu karena orang-orang jadi merasa harus memihaknya.

“Nggak tahu ya… mungkin aku terlalu kepikiran.” Cintya tersenyum kecil canggung. “Aku cuma takut nanti jadi omongan staff.”

Satriya mulai mengernyit, tapi masih memilih diam mengamati.

“Omongan apa?”

“Ya itu…” Cintya tertawa pelan seolah merasa tidak enak. “Tadi Kak Anjani masuk backstage terus… cukup menarik perhatian.”

Menarik perhatian, bukan membantu, bukan menyelamatkan. Sekali lagi, menarik perhatian. Dan sialnya, kalimat itu jauh lebih kotor.

Anjani menatap Cintya datar. Sementara perempuan itu melanjutkan dengan nada selembut kapas.

“Aku ngerti kok mungkin Kak Anjani cuma excited lihat dunia fashion lagi. Apalagi dulu Kak Anjani memang suka desain.” Ia tersenyum tipis. “Cuma backstage tadi jadi agak ribut karena Pak Ren terus merhatiin Kak Anjani.”

Sunyi.

Satriya perlahan menoleh pada istrinya. Tatapannya berubah dengan tukikan tajam pada sepasang alisnya.

“Terus?” tanya Anjani dingin.

Cintya buru-buru menggeleng. “Eh tapi jangan salah paham dulu. Aku cuma takut staff mikir aneh-aneh. Pak Ren itu kan CEO besar, image perusahaan juga sensitif.”

Anjani nyaris tertawa. Hebat sekali.

Tidak ada satu kata kasar keluar dari bibir tipis Cintya. Namun setiap kalimatnya seperti sengaja disusun untuk membuat Anjani terlihat murahan, haus validasi, dan memalukan.

Bella bahkan ikut memandang ibunya aneh sekarang.

“Lagi pula, tidak sembarangan orang boleh masuk backstage," tambah Cintya lembut, tapi begitu terasa kalau itu kalimat menusuk.

Anjani belum sempat menjawab. Satriya lebih dulu bicara.

“Ngapain lancang?” Nada suaranya mulai keras.

Anjani menatapnya pelan. “Ada gaun rusak.”

“Dan itu urusan kamu?”

“Aku cuma bantu.”

Satriya tertawa sinis. “Bantu?” Rahangnya mengeras. “Atau cari perhatian?”

Anjani diam. Dadanya berdenyut perih.

Sementara Cintya buru-buru menyela dengan wajah panik palsu. “Satriya, jangan ngomong begitu. Kak Anjani pasti nggak ada niat buruk—”

“Tapi hasilnya sama aja.” Tatapan Satriya tetap pada Anjani. “Kamu sadar nggak sih posisi kamu apa?”

Anjani membeku. Dan kalimat berikutnya berhasil menghantam tepat ke harga dirinya.

“Kamu itu cuma ibu rumah tangga. Bukan model seperti Cintya.” Satriya melanjutkan dingin. “Bukan bagian dari industri mereka. Jadi kenapa harus ikut campur sampai jadi perhatian CEO segala?”

Anjani perlahan mengepal jemarinya.

Bukan karena marah, tapi karena malu. Malu sekali. Di depan perempuan yang diam-diam sedang merendahkannya… suaminya sendiri justru ikut menginjaknya lebih dalam.

“Aku nggak caper," sanggah Anjani.

“Oh ya?” Satriya mendekat sedikit. “Terus kenapa Pak Ren sampai merhatiin kamu?” Pertanyaannya terdengar seperti tuduhan murahan. Seolah mustahil ada lelaki hebat memperhatikan Anjani karena kemampuan.

Di mata Satriya…istrinya sudah lama berhenti punya sesuatu untuk dibanggakan.

Dan Cintya? Perempuan itu berdiri di sana dengan wajah bersalah paling sempurna sedunia. Padahal di balik sorot matanya, ia sedang menikmati kemenangan kecilnya pelan-pelan.

Bersambung~~

Terpopuler

Comments

Najwa Aini

Najwa Aini

Bukannya bikang makasih Ren..
Tapi benar Sih..orang cerdas melihat sesuatu itu langsung memahami. Tapi orang jenius, saat melihat sesuatu, ia menelusuri

2026-05-27

1

Ayuwidia

Ayuwidia

Omongan Ren makjleb, langsung menghujam ulu hati 😄

2026-05-28

1

Najwa Aini

Najwa Aini

Disini aku senang

2026-05-27

1

lihat semua
Episodes
1 1 Yang Dianggap Remeh
2 2 Kamu Itu Bukan Siapa-Siapa.
3 3 Ditinggal Sendiri
4 4 Musuh Bebuyutan Beda Usia
5 5 TALAK!
6 6. Bahkan Sampai Akhir Tak Dipilih
7 7 Harga Diri Hancur Total
8 8 Di depan Ren Dan Sae
9 9 Ini Benar-benar Kamu, Anjani?
10 10. Telinga Ren Memerah
11 11 Mode Modus Sae
12 12 Penguntit Versi Elit
13 13 Tawaran Solusi Ala Ren Aksara
14 14 Dunia Keras Untuk Anjani
15 15 Disakiti Anak Kandung
16 16 Genggaman Kecil Sae
17 17 Misi Menguntit Ketahuan
18 18 CEO Galak
19 19 Anjani Mulai Bersinar, Ren Semakin Tertarik
20 20
21 21
22 22 Lomba Anak, Mama, Dan Papa
23 23 Perhatian Khas Ren
24 24 Anjani, Model Yang Dipilih
25 25 Rencana Besar Ren Untuk Anjani
26 26 Peluncuran Teaser Anjani
27 27 Rencana Satriya
28 28 Ajakan Rujuk
29 29 Anjani Menghilang
30 30 Rencana Licik Cintya
31 31 Bebas
32 32 Tepat Waktu
33 33 Suara Perut Di Saat Yang Tepat
34 34 Rasa Hangat, Tapi Aneh
35 35 Pelukan Ren Sebelum Naik Panggung
36 36 Panggung Anjani
37 37 Kemenangan Anjani
38 38 Anjani Bersinar
39 39 Semakin Perhatian
40 40 Sidang
41 41 Kalah Telak
42 42 Kalau Perhatian Bilang Saja
43 43 Salah Paham Legendaris
44 44 Ren Difitnah Otak Anjani
45 45 Investigasi Tante Anjani
46 46 Dinas Kerja Di Pulau Bali
47 47 Aksi Protes Sae
48 48
49 49 Anjani, Wilayah Kekuasaan Ren Aksara
50 50 Intrik Ren
51 51 Teori Liar Anjani Yang Retak
52 52 Ngacir Pun Tidak Menyelamatkan
53 53 Ren Yang Retak
54 54 Hangat Yang Tidak Berani Diakui
55 55 Bukan Sekadar Perhatian Seorang Atasan
56 56 Akhirnya Menyadari
57 57 Rasa Yang Ingin Diakui
58 58 Ren Cemburu
59 59 Ingin Dekat
60 60 Ren Selalu Siaga
61 61 Mantan Mertua Ingin Bertemu
62 62 Semua Ikut
63 63 Kesaksian Polos Sae
64 64 Amanah Atau Posesif?
65 65 Aroma Yang Tertinggal
66 66 Wanita Yang Memeluk Ren
67 67 Anjani Diam, Ren Tidak Tenang
68 68 Rebutan Kursi Dan Tamu
69 69 Ibu Kandung Sae
70 70 Khawatir Ren Yang berbeda Ke Anjani
71 71 CEO Manjat Pohon
72 72 Mas Ren, Boleh Dicoba
73 73 Cemburu
74 74 Lepaskan!
75 75 Kamu Akan Punya Hak
76 76 Aku Belum Selesai Mengejarmu
77 77 Jangan Cemburu, Dia Hanya Klien
78 78 Operasi Elang Romantis
79 79 Mulai Terang-terangan
80 80 Maharani Mulai
81 81 Maharani Menemui
82 82 Jangan Ganggu Anjani. Aku Yang Mengejarnya
83 83 Cup Cup Muaach
84 84 Kenapa Harus Di Belakang?
85 85 Permintaan Natalia
86 86 Anak-Anak Tidak Melihat.
87 87 Yang Sulit Diterima
88 88 Fakta Yang Disusun Menjadi Racun
89 89 Maharani, Adisri, Dan Ibu Anjani
90 90 Satu Panggilan Sebelum Pulang
91 91 Makan Malam Bersama
92 92 Menikah?
93 93 Ketika Dunia Mulai Mengenal Anjani
94 94 Sesuatu Yang Mulai Retak
95 95 Anjani Menang, Cintya Malu
96 96 Ukuran Cincin
97 97 Ketahuan
98 98 Paris, Tempat Anjani Akhirnya Berdiri
99 99 Milikmu, Sepenuhnya
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1 Yang Dianggap Remeh
2
2 Kamu Itu Bukan Siapa-Siapa.
3
3 Ditinggal Sendiri
4
4 Musuh Bebuyutan Beda Usia
5
5 TALAK!
6
6. Bahkan Sampai Akhir Tak Dipilih
7
7 Harga Diri Hancur Total
8
8 Di depan Ren Dan Sae
9
9 Ini Benar-benar Kamu, Anjani?
10
10. Telinga Ren Memerah
11
11 Mode Modus Sae
12
12 Penguntit Versi Elit
13
13 Tawaran Solusi Ala Ren Aksara
14
14 Dunia Keras Untuk Anjani
15
15 Disakiti Anak Kandung
16
16 Genggaman Kecil Sae
17
17 Misi Menguntit Ketahuan
18
18 CEO Galak
19
19 Anjani Mulai Bersinar, Ren Semakin Tertarik
20
20
21
21
22
22 Lomba Anak, Mama, Dan Papa
23
23 Perhatian Khas Ren
24
24 Anjani, Model Yang Dipilih
25
25 Rencana Besar Ren Untuk Anjani
26
26 Peluncuran Teaser Anjani
27
27 Rencana Satriya
28
28 Ajakan Rujuk
29
29 Anjani Menghilang
30
30 Rencana Licik Cintya
31
31 Bebas
32
32 Tepat Waktu
33
33 Suara Perut Di Saat Yang Tepat
34
34 Rasa Hangat, Tapi Aneh
35
35 Pelukan Ren Sebelum Naik Panggung
36
36 Panggung Anjani
37
37 Kemenangan Anjani
38
38 Anjani Bersinar
39
39 Semakin Perhatian
40
40 Sidang
41
41 Kalah Telak
42
42 Kalau Perhatian Bilang Saja
43
43 Salah Paham Legendaris
44
44 Ren Difitnah Otak Anjani
45
45 Investigasi Tante Anjani
46
46 Dinas Kerja Di Pulau Bali
47
47 Aksi Protes Sae
48
48
49
49 Anjani, Wilayah Kekuasaan Ren Aksara
50
50 Intrik Ren
51
51 Teori Liar Anjani Yang Retak
52
52 Ngacir Pun Tidak Menyelamatkan
53
53 Ren Yang Retak
54
54 Hangat Yang Tidak Berani Diakui
55
55 Bukan Sekadar Perhatian Seorang Atasan
56
56 Akhirnya Menyadari
57
57 Rasa Yang Ingin Diakui
58
58 Ren Cemburu
59
59 Ingin Dekat
60
60 Ren Selalu Siaga
61
61 Mantan Mertua Ingin Bertemu
62
62 Semua Ikut
63
63 Kesaksian Polos Sae
64
64 Amanah Atau Posesif?
65
65 Aroma Yang Tertinggal
66
66 Wanita Yang Memeluk Ren
67
67 Anjani Diam, Ren Tidak Tenang
68
68 Rebutan Kursi Dan Tamu
69
69 Ibu Kandung Sae
70
70 Khawatir Ren Yang berbeda Ke Anjani
71
71 CEO Manjat Pohon
72
72 Mas Ren, Boleh Dicoba
73
73 Cemburu
74
74 Lepaskan!
75
75 Kamu Akan Punya Hak
76
76 Aku Belum Selesai Mengejarmu
77
77 Jangan Cemburu, Dia Hanya Klien
78
78 Operasi Elang Romantis
79
79 Mulai Terang-terangan
80
80 Maharani Mulai
81
81 Maharani Menemui
82
82 Jangan Ganggu Anjani. Aku Yang Mengejarnya
83
83 Cup Cup Muaach
84
84 Kenapa Harus Di Belakang?
85
85 Permintaan Natalia
86
86 Anak-Anak Tidak Melihat.
87
87 Yang Sulit Diterima
88
88 Fakta Yang Disusun Menjadi Racun
89
89 Maharani, Adisri, Dan Ibu Anjani
90
90 Satu Panggilan Sebelum Pulang
91
91 Makan Malam Bersama
92
92 Menikah?
93
93 Ketika Dunia Mulai Mengenal Anjani
94
94 Sesuatu Yang Mulai Retak
95
95 Anjani Menang, Cintya Malu
96
96 Ukuran Cincin
97
97 Ketahuan
98
98 Paris, Tempat Anjani Akhirnya Berdiri
99
99 Milikmu, Sepenuhnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!