5

"Arin! Cepat keluar kamu!"

Arin buru-buru mematikan kran, dia tidak jadi berwudhu, Arin buru-buru membuka pintu.

"Ada apa mas?"

Aga melemparkan sebuah tespek yang masih terbungkus rapi ke arah Arin.

"Apa maksud kamu beli ini ha? Kamu mau ibu maksa aku sentuh kamu!"

"ini bukan ....."

"Bukan apa? kamu sudah saya beri tahu sejak awal kan? Pernikahan ini hanya demi ibu, kenapa kamu tidak mengerti!"

Aga melempar tespek itu ke lantai dengan keras, Aku sampai memejamkan mata. amarah Aga begitu meluap-luap membuatku tidak berani berbicara apapun.

Hati yang masih menganga penuh luka, kini bak di beri air garam. Dia sama sekali tidak menghargai diriku sebagai istrinya sama sekali. Bisakah dia bertanya dengan nada pelan? kenapa dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara?

"Maaf mas"

Jawabku singkat, menjelaskan juga percuma, aku bergegas kembali ke kamar mandi, aku mandi sambil menahan tangis. Rasanya dada ini seperti di desak batu besar, rasanya begitu sesak hingga membuat ku sulit bernafas.

Ku ambil air wudhu agar hati ini tenang, aku keluar dari kamar mandi, Mas Aga langsung masuk bergantian dengan ku. Aku mengambil al Qur'an kecil ku yang ku simpan di belakang buku-buku Mas Aga. Jika dia tahu dia pasti marah, karena aku menaruh barangku di tempatnya, tapi ini al Qur'an, aku tidak mungkin menaruh nya di dalam koper kecil ku.

Aku ambil buku besar yang ada sofa, ku pakai mukena ku, aku mulai membaca Alqur'an dengan suara lirih, Mas Aga tidak suka aku berisik di kamarnya, jadi aku selalu memakai buku besar ini untuk menutupi al Qur'an kecil yang ku baca.

Hanya dengan ini aku menenangkan diri, hanya dengan membacanya hati ini bisa tenang.

Sambil menunggu adzan Maghrib, aku terus membaca Al Qur'an.

Ku lirik Mas Aga yang sudah rapi keluar dari kamar mandi. Dia mengambil ponsel yang aku lihat tadi.

Ku lihat dia tersenyum begitu lebar saat membaca pesan di ponsel itu, hati ini kembali nyeri melihat nama Bidadari di kontak ponsel itu. Hatiku kembali tak tenang. Mas Aga sengaja keluar ke teras kamar dan menutup pintu saat dia menelfon bidadari nya.

Hati mas Aga sudah terisi wanita lain, apa aku masih bisa masuk ke sana? Apa itu mungkin? Lalu untuk apa aku jadi istrinya? Dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini.

Hatiku semakin pilu, tidak tahu sampai kapan semua ini akan berakhir.

****

"Di mana pakaian dalamku?"

Mas Aga bertanya dengan begitu kesal, dia menatap ku nyalang saat melihat lemari kecil yang biasa terisi pakaian dalamnya berganti dengan baju ku. Sebelum nya, meski aku yang selalu mengurus semua pakaiannya, tapi aku tidak pernah mengotak-atik barang-barang miliknya. Aku segera menunjukkan di mana tempat dalaman itu.

Kemarin Ibu masuk ke kamar kami, Ibu melihat koper kecil milik ku yang sedikit terbuka, Ibu bisa melihat ada beberapa baju ku ada di sana.

"Lo itu koper kamu kan Rin? kenapa bajunya nggak di masukin ke lemari?" Tanya ibu membuat aku gelagapan, pasalnya mas Aga tidak pernah mengizinkan baju ku bercampur dengan bajunya, dia tidak memberiku ruang di lemari bajunya sama sekali. Jadi koper itu aku gunakan untuk lemari ku, sebagian masih di kamar toko kue, tiap Minggu aku selalu mengganti isinya saat ibu sedang keluar.

Hari ini aku benar-benar terkejut saat ibu tiba-tiba masuk ke kamar ini, aku bingung ingin menjawab apa.

"Kog ngalamun lagi Rin? Ada masalah ya?"

"eee tidak Bu, Lemari Mas Aga kurang besar, jadi sebagian baju Arin tidak bisa masuk, jadi Arin pakai itu aja"

Mendengar itu ibu langsung memeluk ku, dia langsung mengajak ku ke Mall.

"Kenapa tidak bilang? Harusnya dari awal kamu bilang sayang. Aga benar-benar tidak peka pada istri, Ayo ke Mall sekarang. Maaf ya ibu tidak mengecek dari awal, jadi kamu harus mengalah begini"

Aku merasa lega karena ibu percaya dengan ucapan ku, kamipun ke mall membeli lemari dan beberapa baju untuk ku. Ibu juga membelikan baju beberapa baju dinas malam, agar aku bisa lebih menggoda mas Aga. Aku menerimanya dengan hati hancur. Entah Mas Aga akan marah atau tidak jika melihat baju ini nantinya.

Memiliki mertua yang perhatian pada menantunya benar-benar suatu keberuntungan. Jika saja sikap mas Aga sama seperti ini, aku pasti sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia.

"Kembalikan barang-barang ku ke tempat semula!"

Ucapan Mas Aga cukup keras, seperti biasa dia sama sekali tidak melihat ku yang hampir menangis karena bentakan nya. Tidak bisakah dia berkata dengan nada lebih rendah? Kenapa selalu membentak seperti aku ini adalah musuhnya? Aku ini istrinya yang sah. Tidak bisakah dia menghargai ku sedikit saja. Aku sudah melakukan banyak hal untuknya, mengurusnya, mengurus rumahnya, bahkan mengurus Ibunya. Tidakkah dia bisa menghargai itu dengan sedikit bersikap halus padaku? Aku juga manusia biasa yang punya hati.

"Aku...."

"Cepat pindah!"

Aku akhirnya mengagguk pasrah, seperti biasa dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan jika semua ini kemauan Ibunya.

Aku mengeluarkan semua bajuku yang ada di lemari kecilnya dan memindahkan pakaian dalamnya kembali ke sana. Aku memindahkan ini karena aku ingin dia yang menempati lemari baru pembelian ibunya, aku tidak menyangka dia justru marah karena ini.

Untung saja baju dinas malam itu aku simpan di kamar toko kue, kalau sampai mas Aga melihatnya, pasti dia akan semakin murka. Aku tidak tahu apa aku berani memakainya di depan mas Aga. Melihat sikapnya saja aku sudah melempem dan Ciut hati, yang ada bukannya dia tergoda, dia mungkin akan mengeluarkan aku dari kamarnya ini, mengunci ku di luar, di teras kamar yang begitu dingin.

Saat aku memindahkan barang-barangnya ke tempat semula, aku melihat ada panggilan telfon di ponselnya, dia lagi-lagi langsung ke teras kamar kami, mengunci pintu dari luar.

Aku kembali menangis, setiap ingat nama Bidadari di ponsel itu, hati ku selalu resah dan takut. Aku tidak punya apapun yang bisa dia banggakan, aku bukanlah penghafal Al-Quran, bukan pula gadis berjilbab seperti wanita yang dia idamkan, apa suatu saat nanti dia mau memilihku? Bahkan setelah apa yang aku korbankan, dia sama sekali tidak pernah melihatku. Dia selalu menganggap ku tidak ada.

Aku tidak boleh terus menerus begini, aku harus melangkah maju, jika tidak bisa ku miliki makan aku akan mundur. Sepertinya aku harus menemui Bidadari itu. Dia harus tahu kalau Mas Aga sudah punya istri, aku tidak mau hidupku sia-sia begini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!