Menikah tanpa cinta.

"Saya Terima nikah dan kawinnya Gladys Clara binti Bapak Kusuma dengan seperangkat alat shalat dan emas 100 gram tunai."

"Bagaimana saksi?"

"SAH!"

Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.

"Alhamdulillah..."

Ucapan syukur memenuhi ruangan akad yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.

Namun bagi Gladis, suara-suara itu terdengar semakin jauh.

Seolah berasal dari tempat yang berbeda.

Seolah bukan dirinya yang sedang duduk di sana.

Bukan dirinya yang baru saja resmi menjadi istri seorang pria bernama Arsen Wijaya.

Tangannya terasa dingin.

Kepalanya sedikit pusing.

Dan ketika kalimat ijab kabul itu selesai diucapkan, sesuatu di dalam dirinya seolah ikut runtuh.

Ia menikah.

Di usia dua puluh tahun.

Saat teman-temannya masih sibuk mengerjakan tugas kuliah, mengikuti organisasi kampus, dan merencanakan masa depan.

Sedangkan dirinya...

Baru saja menjadi istri seorang duda berusia tiga puluh tiga tahun.

Ayah dari tiga anak.

Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.

Bukan karena bahagia.

Bukan pula karena terharu.

Melainkan karena kenyataan yang begitu cepat mengubah hidupnya.

"Gladis menangis bahagia."

Salah seorang kerabat berbisik.

Yang lain ikut tersenyum.

Tak seorang pun tahu bahwa gadis itu sedang berusaha menahan sesak di dadanya.

Ibunya yang duduk di samping segera mengusap air mata Gladis.

"Jangan menangis lagi, Nak."

Justru kalimat itu membuat air matanya semakin deras.

Karena ia tahu.

Mulai hari ini tidak ada jalan untuk kembali.

Pernikahan ini nyata.

Benar-benar nyata.

"Pengantin wanita dipersilakan berjabat tangan dengan suaminya."

Suara penghulu membuat tubuh Gladis menegang.

Jantungnya langsung berdebar semakin cepat.

Suaminya.

Kata itu terasa asing.

Sangat asing.

Ibunya tersenyum lembut.

"Ayo, Nak."

Gladis mengangkat kepala perlahan.

Dan untuk pertama kalinya melihat pria yang kini menjadi suaminya dari jarak yang begitu dekat.

Arsen Wijaya.

Tinggi.

Sangat tinggi.

Mungkin hampir seratus sembilan puluh sentimeter.

Tubuhnya tegap dan proporsional.

Jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal dan sempurna.

Rahang tegas.

Hidung mancung.

Tatapan tajam.

Dan aura dingin yang membuat siapa pun sulit bernapas dengan tenang di dekatnya.

Pria itu tampan.

Sangat tampan.

Namun bukan tipe pria yang membuat seseorang merasa nyaman.

Justru sebaliknya.

Ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah dan tidak pernah menerima penolakan.

Gladis menelan ludah.

Tangannya mulai berkeringat.

"Ayo."

Bisik ibunya sekali lagi.

Dengan langkah pelan, Gladis bangkit.

Setiap langkah terasa berat.

Semakin dekat kepada Arsen.

Semakin keras pula detak jantungnya.

Deg.

Deg.

Deg.

Entah karena gugup.

Atau takut.

Mungkin keduanya.

Saat akhirnya berdiri tepat di hadapan pria itu, Gladis harus sedikit mendongak.

Terlalu tinggi.

Pria ini benar-benar tinggi.

Sementara Arsen memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Tatapan mata hitam pekat itu membuat Gladis semakin gugup.

Tangannya gemetar saat mengulurkan tangan.

"Assalamualaikum..."

Suaranya nyaris tak terdengar.

Arsen menatapnya beberapa detik.

Kemudian menjawab.

"Waalaikumsalam."

Suara baritonnya rendah dan dalam.

Membuat Gladis sedikit terkejut.

Suara itu terdengar lebih mengintimidasi daripada yang ia bayangkan.

Pria itu menerima uluran tangannya.

Hangat.

Kuat.

Dan jauh lebih besar dibanding tangannya.

Seketika Gladis menunduk.

Tidak berani menatap terlalu lama.

Sementara beberapa tamu tersenyum melihat momen tersebut.

Namun tidak dengan Arsen.

Wajahnya tetap datar.

Nyaris tanpa ekspresi.

"Aku Arsen."

Kalimat sederhana itu membuat Gladis mengangkat kepala.

Hah?

Pria ini memperkenalkan diri?

Ia sempat mengira Arsen tidak akan berbicara sama sekali.

"Aku... Gladis."

Arsen mengangguk.

"Aku tahu."

Pipinya langsung memanas.

Bodoh sekali.

Tentu saja pria itu tahu namanya.

Mereka baru saja menikah.

Beberapa detik keheningan terjadi.

Hingga tanpa sadar Gladis berkata,

"Kamu Gladis?"

Begitu kalimat itu keluar, matanya langsung membulat.

Ya ampun.

Apa yang barusan ia katakan?

Karena terlalu gugup, kata-kata dalam kepalanya justru keluar dengan berantakan.

Wajahnya langsung merah.

"Iya Pak."

Lalu buru-buru menggeleng.

"Eh..."

"Om."

Begitu kata "Om" keluar, beberapa orang yang berada di dekat mereka langsung tersedak menahan tawa.

Bahkan penghulu sampai berdeham pelan.

Gladis berharap lantai segera terbuka dan menelannya hidup-hidup.

Ya Allah.

Kenapa dia memanggil suaminya om?

Arsen sendiri terlihat terdiam.

Tatapan dinginnya menatap Gladis beberapa saat.

Membuat jantung gadis itu semakin tidak karuan.

Namun yang mengejutkan.

Sudut bibir pria itu bergerak sedikit.

Sangat sedikit.

Seolah menahan sesuatu.

Apakah...

Dia hampir tersenyum?

"Kau gugup."

Suara Arsen terdengar tenang.

Gladis langsung mengangguk cepat.

"Sangat."

Jawaban jujur itu membuat beberapa tamu kembali tersenyum.

Biasanya pengantin perempuan akan berusaha terlihat anggun.

Namun Gladis terlalu gugup untuk berpura-pura.

"Aku tidak menggigit."

ucap Arsen datar.

Gladis berkedip.

Lalu beberapa detik kemudian baru menyadari maksud kalimat itu.

Beberapa kerabat langsung tertawa kecil.

Sedangkan Gladis justru semakin malu.

Ternyata CEO dingin ini bisa bercanda?

Meski ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Arsen lalu melepaskan tangannya perlahan.

Tatapannya kembali serius.

"Setelah acara selesai, kita akan langsung pulang."

Gladis mengangguk.

"Baik."

"Kampusmu?"

Gadis itu terkejut.

Pria ini tahu dirinya kuliah?

"Aku akan tetap kuliah, kalau boleh."

Arsen menatapnya.

Beberapa detik.

Kemudian menjawab singkat.

"Tidak ada yang melarang."

Gladis sedikit terkejut.

Jawaban itu jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.

"Terima kasih."

Arsen kembali mengangguk.

Lalu pandangannya beralih ke para tamu.

Percakapan mereka selesai.

Namun di dalam hati Gladis, rasa gugup justru semakin besar.

Karena sebentar lagi ia akan pergi bersama pria ini.

Ke rumahnya.

Ke kehidupan barunya.

Dan yang paling membuatnya cemas...

Pertemuannya dengan ketiga anak Arsen.

Anak-anak yang bahkan belum tahu bahwa ayah mereka baru saja menikah lagi.

Anak-anak yang mungkin tidak menginginkan kehadirannya.

Anak-anak yang mungkin membencinya.

Sementara itu, tanpa diketahui Gladis.

Arsen memperhatikannya dari sudut mata.

Gadis ini jauh berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui.

Tidak dibuat-buat.

Tidak mencoba menarik perhatiannya.

Bahkan terlalu polos.

Sangat polos.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir...

Arsen merasa sedikit penasaran.

Apakah gadis dua puluh tahun ini mampu bertahan di rumahnya?

Mampukah ia menghadapi si kembar yang keras kepala?

Atau si bungsu yang sangat lengket kepadanya?

Karena satu hal yang pasti.

Menjadi istrinya mungkin tidak sulit.

Namun menjadi ibu bagi ketiga anaknya...

Adalah tantangan yang sama sekali berbeda.

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Aku suka ceritanya 👍

2026-08-17

0

Anonim

Anonim

💪💪

2026-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pengantin Pengganti.
2 Menikah tanpa cinta.
3 Rumah yang tak menyambutmu
4 Tugas Pertamaku
5 Pagi pertama menjadi seorang Ibu
6 Sarapan Pertama
7 Dijemput Mama
8 Takut Menerima
9 pulang ke rumah orang tua
10 tiba-tiba dijemput.
11 kembali pulang
12 Senyuman tipis
13 Kembali Kuliah
14 Roy yang hampir pingsan
15 Undangan untuk sahabat
16 Sikembar
17 Kedatangan sahabat absurd
18 Pertanyaan Roy
19 kamu boleh pergi kalau Rania kembali.
20 Kenapa Papa tidak peluk mama gladis
21 Permintaan si Kembar
22 Kedatangan Roy
23 Bermain Di Taman.
24 Rindu anak-anak atau rindu....
25 Maling!! kok tampan?
26 Gladis yang Salting
27 mau saya antar?
28 Pulang telat
29 ada yang khawatir
30 menunggu
31 Maaf sudah menunggu lama
32 Tunggu Aku
33 Kenapa Papa dan Mama tidur terpisah?
34 Dijemput Roy
35 Tiba-tiba dijemput Kuliah
36 Disangka Adik
37 Kamu suka cowok muda dan tampan?
38 Mas rindu ibu Anak-anak?
39 Panggilan telfon yang menggetarkan dada
40 Pulangnya Rania
41 pilihan Arsen
42 Ayo Pulang
43 Apa mas menyukaiku?
44 Terimakasih
45 Ditembak cowok
46 Kemasi barang-barangmu
47 Tidak sengaja
48 Bunga
49 Mejanya bergeser?
50 Senyum dan Tawa itu bukan untukku
51 Jangan Pergi
52 Terbiasa memelukmu
53 Sudah terbiasa
54 Bos yang anehh
55 pulang tepat waktu
56 Tiba-tiba saja.
57 Cemburu?
58 Kabar baik
59 Anak-anak pintar
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1 Pengantin Pengganti.
2
Menikah tanpa cinta.
3
Rumah yang tak menyambutmu
4
Tugas Pertamaku
5
Pagi pertama menjadi seorang Ibu
6
Sarapan Pertama
7
Dijemput Mama
8
Takut Menerima
9
pulang ke rumah orang tua
10
tiba-tiba dijemput.
11
kembali pulang
12
Senyuman tipis
13
Kembali Kuliah
14
Roy yang hampir pingsan
15
Undangan untuk sahabat
16
Sikembar
17
Kedatangan sahabat absurd
18
Pertanyaan Roy
19
kamu boleh pergi kalau Rania kembali.
20
Kenapa Papa tidak peluk mama gladis
21
Permintaan si Kembar
22
Kedatangan Roy
23
Bermain Di Taman.
24
Rindu anak-anak atau rindu....
25
Maling!! kok tampan?
26
Gladis yang Salting
27
mau saya antar?
28
Pulang telat
29
ada yang khawatir
30
menunggu
31
Maaf sudah menunggu lama
32
Tunggu Aku
33
Kenapa Papa dan Mama tidur terpisah?
34
Dijemput Roy
35
Tiba-tiba dijemput Kuliah
36
Disangka Adik
37
Kamu suka cowok muda dan tampan?
38
Mas rindu ibu Anak-anak?
39
Panggilan telfon yang menggetarkan dada
40
Pulangnya Rania
41
pilihan Arsen
42
Ayo Pulang
43
Apa mas menyukaiku?
44
Terimakasih
45
Ditembak cowok
46
Kemasi barang-barangmu
47
Tidak sengaja
48
Bunga
49
Mejanya bergeser?
50
Senyum dan Tawa itu bukan untukku
51
Jangan Pergi
52
Terbiasa memelukmu
53
Sudah terbiasa
54
Bos yang anehh
55
pulang tepat waktu
56
Tiba-tiba saja.
57
Cemburu?
58
Kabar baik
59
Anak-anak pintar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!