Pelindung kepala Konoha milik Minato berdenting pelan saat menyentuh permukaan altar batu. Suara besi beradu dengan batu itu terdengar begitu nyaring di dalam keheningan kuil Nakano, seperti suara palu hakim yang baru saja mengetuk vonis terakhir.
Fugaku yang berdiri di dekat pilar hanya menatap benda itu dengan mata tiga tomoe-nya yang perlahan memudar kembali menjadi hitam biasa. Ada helaan napas berat dari dadanya. Sebagai pria yang bertahun-tahun memikul beban prasangka desa terhadap klannya, melihat lambang Hokage diletakkan dengan sukarela di depan anaknya sendiri memicu perasaan campur aduk yang sulit dia jelaskan.
"Kau bisa tetap menjaga ketertiban harian desa, Minato," suara Fugaku memecah keheningan, nadanya rendah, tidak ada nada mengejek atau sombong. "Faksi Hitam tidak tertarik mengurusi laporan pajak pedagang atau jadwal ronda genin. Otoritas yang kami ambil adalah kebijakan luar negeri dan komando militer tertinggi."
Minato menegakkan tubuhnya, merapikan jubah putihnya yang kini terasa lebih ringan—atau mungkin justru lebih hampa. "Aku tahu, Fugaku. Tapi kau dan aku sama-sama tahu, begitu berita ini keluar dari pintu kuil ini, wajah Konoha di mata klan-klan lain tidak akan pernah sama lagi."
"Mereka akan terbiasa," timpal Mikoto sambil melangkah mendekati meja batu. Tangannya yang halus mengambil pelindung kepala Minato, lalu menyerahkannya kembali kepada pria itu. "Pakai ini lagi, Minato. Desa masih membutuhkan wajah ramahmu agar anak-anak tidak ketakutan saat keluar rumah besok pagi."
Minato menerima besi itu, menatap Mikoto sejenak, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang dipaksakan oleh keadaan.
Sementara para orang tua berbicara tentang birokrasi yang rumit, Naruto masih berdiri terpaku di tempatnya. Matanya beralih dari Veil ke arah Itachi, lalu ke Izumi. Gadis itu, Izumi, tidak lagi terlihat seperti remaja yang sering dia lihat membelikan dango untuk Itachi di kedai pinggir jalan. Ada kedewasaan yang dingin di bahunya, dan cara dia memegang gagang katana pendek di pinggangnya menunjukkan bahwa dia telah melewati simulasi pertempuran yang tak terhitung jumlahnya di dalam dimensi latihan milik Veil.
"Hei," panggil Naruto pelan, suaranya agak serak karena tenggorokannya masih terasa kering akibat tekanan ruang hampa tadi. Dia menatap Veil. "Tiga bola di belakangmu itu... bisa dipakai buat main tangkap bola tidak?"
Pertanyaan bodoh itu membuat Shikaku hampir tersedak ludahnya sendiri di pojok ruangan. Namun, itulah Naruto. Bahkan di bawah tekanan dewa, otaknya yang taktis selalu mencoba mencari batas kewarasan dari musuh—atau dalam hal ini, sepupunya.
Veil melirik Naruto. Salah satu bola Gudodama di punggungnya meluncur pelan, berhenti tepat beberapa senti di depan hidung Naruto. Bola itu tidak memancarkan panas atau dingin, tapi indra sensorik Naruto mendeteksi bahwa benda kecil ini mengandung massa yang cukup untuk meruntuhkan satu bukit jika dijatuhkan begitu saja.
"Jika kau menyentuhnya dengan chakramu yang sekarang, tanganmu akan terurai sampai ke tingkat sel, Naruto," ucap Veil datar. Bola hitam itu kemudian meluncur kembali ke posisinya semula di balik punggung jubahnya. "Tapi kalau kau mau berlatih denganku besok, mungkin kau bisa belajar cara agar tidak mati saat berada di dekatnya."
Naruto menelan ludah, tapi matanya justru berkilat tertarik. "Boleh juga. Lagipula, membosankan kalau cuma latihan lari cepat bersama Ayah setiap hari."
Shikaku melangkah maju, memutus interaksi aneh antara dua bocah itu sebelum situasinya menjadi semakin tidak masuk akal. "Hokage-sama... maksudku, Minato. Kita harus segera menyusun dokumen resmi sebelum faksi tetua Homura dan Koharu mencium bau aneh dari pertemuan ini. Dua orang tua itu pasti akan berteriak histeris jika tahu kita menyerahkan desa tanpa ada satu pun kunai yang patah."
"Mereka tidak akan berteriak, Shikaku-san," sela Shisui yang sejak tadi bersandar di pintu masuk ruang bawah tanah. "Itachi sudah mengunci kediaman mereka sejak dua jam yang lalu dengan Kotoamatsukami skala halus. Mereka akan berpikir bahwa pengalihan wewenang ini adalah ide murni dari mereka sendiri demi kebaikan ekonomi desa."
Shikaku terdiam, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Klan kalian ini... benar-benar menakutkan jika sedang tidak malas."
Veil berjalan melewati rombongan Minato, jubah hitam Asura-nya berdesir lembut di atas lantai kuil yang berdebu. "Pertemuan selesai. Paman Minato, urus sisa dokumennya. Mulai besok, kita akan mulai membangun jalur logistik terpusat yang menghubungkan lima negara. Dunia ini sudah terlalu lama terkotak-kotak oleh pembatas buatan manusia."
Saat Veil melangkah naik menuju permukaan, langit Konoha perlahan mulai menembus awan abu-abu, menjatuhkan berkas cahaya matahari pertama yang menerangi lambang kipas Uchiha di punggung jubahnya. Zaman baru telah dimulai, bukan dengan perang yang berdarah-darah, melainkan dengan sebuah kesepakatan sunyi di bawah tanah.
Naruto : Reinkarnasi Saudara Kembar Uchiha Itachi
Episode 68
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 102 Episodes
Comments