SHIRAYUKI ACADEMY : RESONANCE OF HEARTS

SHIRAYUKI ACADEMY : RESONANCE OF HEARTS

IBARAKI HIGH SCHOOL

Sekolah Menengah Ibaraki bukanlah institusi pendidikan biasa. Bagi mata luar, tempat ini tampak seperti reruntuhan bangunan tua yang suram, penuh dengan coretan grafiti dan gerbang besi yang berkarat. Tidak ada plang nama modern yang mengilap, hanya papan kayu usang bertuliskan aksara Kanji "茨城学校" (Sekolah Ibaraki) yang tergantung miring di atas pintu masuknya. Suasananya selalu tegang, seolah-olah pertarungan bisa meletus kapan saja.

​Di sinilah para murid laki-laki, yang sebagian besar tampak seperti berandalan dengan seragam gakuran hitam mereka, berkumpul. Namun, jangan salah sangka. Meskipun mereka kelihatannya keras dan suka bertarung, mereka memiliki kode etik sendiri. Mereka membagi diri ke dalam fraksi-fraksi, di mana kekuatan dan loyalitas adalah segalanya. Sistem OSIS yang formal adalah konsep asing di sini; hierarki ditentukan oleh siapa yang bisa bertahan dalam pertempuran antar sekolah.

​Uniknya, di tengah kerasnya kehidupan sekolah ini, ada satu keanehan: tidak ada yang merokok. Sebagai gantinya, mereka justru sering terlihat berkumpul di toko kelontong terdekat, berebut jajanan manis atau minuman kaleng berperisa buah. Tapi di lapangan, saat nama "Ibaraki" dipertaruhkan, mereka berubah menjadi pasukan yang solid dan tak kenal takut.

​Hari Pertarungan: Ibaraki vs. Minamoto

​Suatu sore, di bawah langit yang sedikit mendung, Sekolah Ibaraki seperti biasa melakukan pertarungan di lapangan luas yang membentang di dekat aliran sungai. Lawan mereka kali ini adalah Sekolah Minamoto. Dua kelompok besar murid laki-laki sudah saling berhadapan, dipisahkan oleh garis imajiner di tengah lapangan yang berdebu.

​Para Murid Ibaraki saling memanas keadaan. "Ayo! Tunjukkan pada mereka siapa penguasa sungai ini!" teriak seorang murid bertubuh kekar, memukul-mukul telapak tangannya sendiri. "Jangan biarkan anak-anak berseragam aneh itu menang!" sahut yang lain. Murid Minamoto juga saling memanaskan keadaan, tak mau kalah garang meski jumlah mereka tampak sedikit lebih sedikit.

​Di barisan belakang murid Ibaraki, Tomoki Hatsuaki sedang mengomentari murid Minamoto dengan nada santai tapi tajam. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena angin sungai, dan mata birunya yang cerah mengamati lawan dengan cermat.

​"Aragoto, kau lihat itu?" kata Tomoki, bersandar pada sebatang pohon tua sambil melipat tangan di dada. "Anak-anak Minamoto itu... mereka semua memakai seragam warna ungu tua yang sok keren itu. Apa mereka pikir warna itu akan membuat mereka lebih kuat?"

​Aragoto Otsuki, si Lone Wolf, hanya mendengarkan sambil menganalisis. Matanya yang merah menyala, kontras dengan rambut hitamnya yang rapi, terus memindai formasi lawan, mengukur kekuatan masing-masing individu, mencari titik lemah mereka. Dia tidak menjawab Tomoki, tapi ekspresi diamnya menandakan dia sedang menyerap setiap informasi.

​Tiba-tiba, dari tengah barisan Minamoto, melangkah maju ketua mereka, seorang murid bernama Kizana. Rambutnya putih keperakan, tertata rapi, dan dia mengenakan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya tampak lebih seperti mahasiswa universitas daripada ketua geng sekolah. Dia berjalan dengan santai, mengisap sebatang rokok dengan gaya yang meremehkan.

​"Halo, Aragoto," sapa Kizana dengan nada yang terlalu ramah untuk suasana tegang seperti ini. Dia berhenti beberapa meter dari garis tengah, mematikan rokoknya perlahan di tanah dengan ujung sepatu pantofelnya yang mengilat. "Selamat sore. Cuaca yang bagus untuk... oh, kalian tahu, aktivitas fisik. Jadi," lanjutnya, menatap Aragoto dengan mata ungu yang tajam di balik kacamatanya, "bagaimana? Apa kalian sudah sempat membeli manisan manis kesukaan kalian sebelum kemari? Aku dengar ada toko permen baru di dekat stasiun."

​Tomoki yang mendengar ejekan itu langsung berdiri tegak, senyum sinisnya semakin lebar. "Ah, Kizana. Kau selalu punya waktu untuk memperhatikan hal-hal kecil, ya?" jawab Tomoki, melangkah sedikit ke depan, mendekati Aragoto. "Terima kasih atas sarannya. Tapi," suaranya mendadak berubah menjadi tajam, "kami tidak butuh manisan untuk menang dari banci berseragam warna anggur busuk seperti kalian."

​Kizana hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban itu, seolah-olah sudah menduganya. Dia tidak tampak marah, hanya sedikit bosan. "Baiklah, kalau itu pilihanmu," gumamnya, lalu perlahan mengangkat tangan kirinya, memberi kode kepada semua murid Minamoto di belakangnya.

​Melihat gerakan itu, Tomoki tidak menunggu lebih lama lagi. Dia menarik nafas dalam-dalam, senyum provokatifnya kini berubah menjadi teriakan komando yang menggelegar.

​"IBARAKI! MAJUUUU!"

​Kizana melihat ke arah pasukan Ibaraki yang mulai bergerak, lalu menggerakan tangannya lagi, kali ini memberi kode yang lebih tegas kepada semua murid Minamoto untuk maju juga. Pertarungan besar di lapangan dekat sungai pun resmi dimulai.

Terpopuler

Comments

Del Rosa

Del Rosa

mampir, smngt selalu ya

2026-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!