DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Mahkota Abu-Abu di Langit Jakarta

Udara di lobi kedatangan Bandara Soekarno-Hatta terasa pengap, bercampur bau parfum murahan dan asap rokok yang tertinggal. Indri Izanami menarik napas dalam, udara yang sama yang ia rindukan dan benci selama lima tahun terakhir. Langit Jakarta di luar jendela kaca memang kelabu, persis seperti yang ia ingat. Namun, dirinya yang berdiri di sini, mengenakan gaun sutra hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, jelas bukan lagi gadis lugu yang diusir tanpa belas kasihan. Aura dingin memancar darinya, sebuah perisai yang ia bangun dari puing-puing kehancurannya.

Matanya menyapu kerumunan yang mencari penumpang, hingga akhirnya tertuju pada sosok yang berdiri sedikit menyendiri di dekat pilar, mengenakan setelan mahal yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ardika. Mantan kekasihnya. Pengacara elite yang pernah menguasai dunianya. Kini, ia akan menjadi alat pertamanya.

Langkah Indri mantap, setiap gerakan terukur, memancarkan keyakinan yang ia pupuk dalam kesendirian. Ia tidak terkejut saat mata Ardika melebar saat mengenali dirinya. Ada campuran keterkejutan, keingintahuan, dan sesuatu yang lebih gelap di sana—sesuatu yang dulu ia kenali sebagai nafsu yang posesif.

"Indri?" Suara Ardika serak, seolah tak percaya. Ia melangkah maju, tatapan matanya tak lepas dari Indri. "Kau... kau sudah berubah."

"Dunia terus berputar, Ardika," balas Indri, suaranya tenang, nadanya datar, tanpa emosi yang seharusnya mengalir. "Dan aku berputar bersamanya." Ia membiarkan jeda tercipta, membiarkan Ardika tenggelam dalam kebingungan. "Aku butuh tempat tinggal. Penthouse-mu masih kosong, kan?"

Ardika tertegun. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba, begitu blak-blakan. Ini bukan Indri yang dulu, yang akan meminta dengan malu-malu. Indri yang ini menuntut, seperti seorang ratu yang kembali ke tahtanya.

"Ya," jawab Ardika, suaranya sedikit tercekat. "Tentu saja kosong. Kau... kau bisa menginap di sana." Ia melirik sekeliling, seolah takut ada yang mendengar. "Kita bisa membicarakan ini nanti."

Indri mengangguk singkat, sebuah gerakan halus yang menyiratkan persetujuan sekaligus penolakan terhadap otoritas Ardika. "Bagus." Ia tidak menawarkan senyum, tidak ada kehangatan. Hanya tatapan dingin yang membuat Ardika merasa seperti serangga yang terperangkap dalam jaring laba-laba.

Di dalam mobil Ardika yang mewah, keheningan terasa berat. Indri menatap keluar jendela, mengamati siluet gedung-gedung Jakarta yang menjulang. Setiap bangunan adalah saksi bisu dari kekuasaan yang pernah direnggut darinya. Ardika sesekali meliriknya, tatapan matanya penuh perhitungan. Ia ingin tahu, ia ingin memahami, namun ia tahu Indri tidak akan memberikan jawaban mudah.

"Kenapa kau kembali, Indri?" tanya Ardika akhirnya, suaranya lebih rendah. "Setelah semua yang terjadi..."

Indri menoleh, matanya bertemu dengan mata Ardika. Ada kilatan tajam di sana, seperti belati terhunus. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi milikku."

Ardika merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya. Kata-kata itu bukan sekadar ancaman, melainkan janji yang mengerikan. Ia menyadari, Indri yang sekarang bukanlah permainan yang mudah. Ia adalah badai yang sedang merencanakan kehancurannya.

Sesampainya di penthouse, pemandangan kota yang terhampar di bawah terasa seperti lukisan yang menyakitkan namun memabukkan. Luas, megah, dan penuh dengan mereka yang membuangnya. Indri melangkah ke balkon, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.

"Indri," panggil Ardika dari belakangnya, suaranya berubah menjadi sesuatu yang lebih intim, lebih posesif. Ia mendekat, tangannya terulur, seolah ingin menyentuh lengan Indri.

Indri berbalik, matanya menyipit. "Jangan menyentuhku, Ardika." Nada suaranya tegas, tanpa celah keraguan. Ada perbedaan drastis dari Indri yang ia kenal. Gadis yang lemah lembut itu telah lenyap, digantikan oleh wanita yang memancarkan kekuatan yang menakutkan.

"Aku hanya ingin tahu," desaknya, suaranya sedikit bergetar. "Kau kembali... untukku?"

Indri tertawa. Tawa yang dingin, tanpa kehangatan sedikitpun. Itu adalah tawa kemenangan, tawa yang meremehkan. "Untukmu? Ardika, kau bahkan tidak masuk dalam daftar." Ia mundur selangkah, menjauh dari jangkauan Ardika. "Aku kembali untuk menghancurkan semua yang telah menyakitiku. Dan kau, Ardika, akan menjadi yang pertama."

Ardika terkesiap, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya. Ia tidak pernah menyangka akan disambut dengan permusuhan seperti ini. Obsesinya terhadap Indri berbenturan dengan rasa takut yang baru tumbuh. Ia melihat kilatan api dendam di mata Indri, sebuah api yang siap membakar segalanya.

"Kau tidak bisa melakukan itu," ucapnya, suaranya sedikit bergetar.

"Oh, aku bisa," balas Indri, senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Dan aku akan melakukannya. Permainan baru saja dimulai, Ardika. Dan kali ini, akulah yang memegang kendali."

Ia melangkah mundur ke dalam penthouse, meninggalkan Ardika yang membeku di balkon, diterpa angin malam Jakarta yang dingin. Di belakangnya, Indri mengambil sebuah amplop yang tergeletak di meja marmer. Kunci penthouse. Simbol kekuasaan yang kini ia pegang. Di tangannya, kunci itu terasa dingin, berat, seperti beban janji balas dendam yang harus ia tepati.

Ia menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang gemerlap. Di bawah sana, para pemain besar sedang menunggu. Dan ia, Indri Izanami, siap untuk membuat mereka bertekuk lutut. Ardika hanyalah permulaan. Masih ada Surya Rabinson, dan banyak lagi yang lainnya. Malam ini, ia akan memulai perhitungannya.

*

Kunci penthouse terasa dingin dan berat di tangan Indri. Ia menatap lampu-lampu kota yang gemerlap, lalu berbalik, meninggalkan Ardika yang masih membeku di balkon. Malam baru saja dimulai, dan ia punya banyak hal untuk mempersiapkan dirinya. Lima tahun telah mengukir dirinya menjadi senjata, dan setiap aspek dari keberadaannya, termasuk tubuhnya, akan menjadi bagian dari persenjataan itu.

Beberapa jam kemudian, uap hangat memenuhi kamar mandi marmer yang luas. Aroma melati dari minyak esensial yang Indri tambahkan ke dalam bak mandi mewah itu terasa memabukkan, menenangkan permukaan kulitnya yang tegang. Ia membenamkan diri lebih dalam, membiarkan air hangat memeluknya, membersihkan jejak perjalanan dan debu masa lalu. Matanya terpejam, namun pikirannya bekerja keras, menyusun strategi, memperhitungkan setiap langkah. Ardika hanyalah jembatan, dan jembatan harus dilintasi dengan hati-hati.

Bunyi pintu terbuka tanpa ketukan memecah ketenangan. Indri membuka mata. Tirai tipis di balik pintu kamar mandi sedikit bergerak, menampakkan siluet Ardika. Ia berdiri di ambang pintu, kemejanya sudah dilepas, memamerkan dada bidangnya. Di tangannya, sebotol anggur merah mahal berkilauan di bawah cahaya redup.

"Aku pikir kau butuh ini," kata Ardika, suaranya dalam, namun ada nada gugup yang terselip. Ia mendekat, meletakkan botol itu di tepi bak mandi, lalu menuangkan dua gelas.

Indri tidak menanggapi, hanya memperhatikannya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum hangat, melainkan undangan yang dingin. Sebuah tantangan.

"Kau terlihat... sempurna," bisik Ardika, matanya menelusuri tubuh Indri yang tersembunyi di balik air busa. Ada gairah yang membara di sana, gairah yang ia kenal baik.

Episodes
1 Mahkota Abu-Abu di Langit Jakarta
2 Penanda di Atas Penthouse
3 Bayang-Bayang Sang Predator
4 Sentuhan di Balik Tirai Beludru
5 Kemunculan Sang Kaisar Dingin
6 Kontrak di Atas Sutra
7 Api Cemburu Sang Pengacara
8 Debut Sang Ratu Baru
9 Permainan Api
10 Di Balik Pintu Kantor Adicambra
11 Perangkap Sang Singa
12 Debu di Atas Villa Puncak
13 Topeng Ardika yang Retak
14 Sumpah di Balik Meja Mahoni
15 Rapat Rahasia di Balik Kabut
16 Simfoni Kehancuran Ibu Kalinda
17 Malam Tanpa Ampun
18 Intervensi Sang Kaisar
19 Pengkhianatan di Balik Ranjang
20 Pertemuan dengan Ardika
21 Pesta Topeng yang Mematikan
22 Langit Jakarta yang Baru
23 Jejak di Balik Kematian
24 Pengkhianatan di Bandara
25 Aliansi yang Dipaksakan
26 Jebakan di Ruang Sidang
27 Bayang-Bayang Sang Korban
28 Di Bawah Ancaman Kegelapan
29 Rahasia Keluarga Izanami
30 Perang Melawan Sindikat
31 Pertarungan Terakhir di Puncak Menara
32 Fajar di Jakarta
33 Warisan dalam Bayang-Bayang
34 Topeng Sang Pengacara
35 Jebakan di Pulau Sunyi
36 Siasat di Ujung Maut
37 Malam di Villa Kaca
38 Runtuhnya Benteng Hukum
39 Sang Buronan Elite
40 Labirin Pengkhianatan
41 Serangan di Balik Bayangan
42 Duel di Lorong Waktu
43 Keadilan yang Berdarah
44 Fajar Baru
45 Warisan dalam Bayang-BayangJantung
46 Perjamuan Singa Tua
47 Strategi di Balik Jeruji
48 Perburuan di Kota Hujan
49 Malam Penentuan di Dermaga
50 Luka di Bawah Sumpah
51 Simfoni Kehancuran
52 Fajar Kebebasan
53 Konfrontasi Akhir
54 Langit di Balik Cakrawala
55 Bayang-Bayang Hisoka
56 Sandiwara Pengacara
57 Villa Kaca
58 Pelarian Hujan
59 Kehancuran Sang Elite
60 Labirin Kota
61 Bayang-Bayang Digital
62 Sekolah Masa Lalu
63 Pengadilan Berdarah
64 Fajar Baru Indri
65 Kembali ke Jakarta
66 Negosiasi Singa
67 Penjara Ardika
68 Kejaran Kota Hujan
69 Dermaga Akhir
70 Cahaya Baru
71 Surat dari Balik Jeruji
72 Jejak yang Hilang
73 Mata-Mata dalam Bayangan
74 Rahasia Firma Hukum yang Mati
75 Kunci yang Dicuri
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Mahkota Abu-Abu di Langit Jakarta
2
Penanda di Atas Penthouse
3
Bayang-Bayang Sang Predator
4
Sentuhan di Balik Tirai Beludru
5
Kemunculan Sang Kaisar Dingin
6
Kontrak di Atas Sutra
7
Api Cemburu Sang Pengacara
8
Debut Sang Ratu Baru
9
Permainan Api
10
Di Balik Pintu Kantor Adicambra
11
Perangkap Sang Singa
12
Debu di Atas Villa Puncak
13
Topeng Ardika yang Retak
14
Sumpah di Balik Meja Mahoni
15
Rapat Rahasia di Balik Kabut
16
Simfoni Kehancuran Ibu Kalinda
17
Malam Tanpa Ampun
18
Intervensi Sang Kaisar
19
Pengkhianatan di Balik Ranjang
20
Pertemuan dengan Ardika
21
Pesta Topeng yang Mematikan
22
Langit Jakarta yang Baru
23
Jejak di Balik Kematian
24
Pengkhianatan di Bandara
25
Aliansi yang Dipaksakan
26
Jebakan di Ruang Sidang
27
Bayang-Bayang Sang Korban
28
Di Bawah Ancaman Kegelapan
29
Rahasia Keluarga Izanami
30
Perang Melawan Sindikat
31
Pertarungan Terakhir di Puncak Menara
32
Fajar di Jakarta
33
Warisan dalam Bayang-Bayang
34
Topeng Sang Pengacara
35
Jebakan di Pulau Sunyi
36
Siasat di Ujung Maut
37
Malam di Villa Kaca
38
Runtuhnya Benteng Hukum
39
Sang Buronan Elite
40
Labirin Pengkhianatan
41
Serangan di Balik Bayangan
42
Duel di Lorong Waktu
43
Keadilan yang Berdarah
44
Fajar Baru
45
Warisan dalam Bayang-BayangJantung
46
Perjamuan Singa Tua
47
Strategi di Balik Jeruji
48
Perburuan di Kota Hujan
49
Malam Penentuan di Dermaga
50
Luka di Bawah Sumpah
51
Simfoni Kehancuran
52
Fajar Kebebasan
53
Konfrontasi Akhir
54
Langit di Balik Cakrawala
55
Bayang-Bayang Hisoka
56
Sandiwara Pengacara
57
Villa Kaca
58
Pelarian Hujan
59
Kehancuran Sang Elite
60
Labirin Kota
61
Bayang-Bayang Digital
62
Sekolah Masa Lalu
63
Pengadilan Berdarah
64
Fajar Baru Indri
65
Kembali ke Jakarta
66
Negosiasi Singa
67
Penjara Ardika
68
Kejaran Kota Hujan
69
Dermaga Akhir
70
Cahaya Baru
71
Surat dari Balik Jeruji
72
Jejak yang Hilang
73
Mata-Mata dalam Bayangan
74
Rahasia Firma Hukum yang Mati
75
Kunci yang Dicuri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!