Sudah tiga hari berlalu sejak malam penghinaan itu. Namun bagi Astrid, rasanya seperti tiga tahun.
Rumah yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi tempat yang membuatnya sesak. Setiap sudutnya mengingatkan pada Lucas. Setiap benda mengingatkan pada luka. Dan yang paling menyakitkan, Lucas bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah tidak pernah menghancurkan hati istrinya beberapa hari lalu.
Pagi itu, Astrid sedang menyiapkan sarapan ketika Lucas turun dari lantai atas dengan pakaian kerja yang rapi. Kemeja putih, celana abu-abu tua, dan sepatu mengilap. Pria itu terlihat sempurna seperti biasa.
"Aku berangkat." Hanya itu yang dikatakan Lucas.
Astrid berdiri di depan meja makan. Tangannya masih memegang spatula.
"Aku mau bertanya sesuatu."
Lucas berhenti. Tatapannya beralih kepada Astrid. "Apa?"
Jantung Astrid berdetak lebih cepat. Ia sebenarnya takut mendengar jawabannya. Namun, ia lebih takut hidup dalam kebohongan.
"Siapa Starla?"
Wajah Lucas berubah sepersekian detik. Begitu cepat hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.
Namun, Astrid melihatnya. Melihat keterkejutan dan kepanikan kecil yang muncul sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya.
"Starla?"
"Iya." Astrid berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Siapa dia?"
"Hanya kenalan." Lucas sambil mengambil tas kerjanya, menjawab singkat.
Astrid menggenggam spatula lebih erat. "Kenalan sampai kamu membelikannya kalung berlian?"
Lucas terdiam, terlihat kehilangan kata-kata. Namun, hanya sesaat. "Itu urusan pekerjaan."
Pekerjaan. Astrid hampir tertawa. Sejak kapan seorang dokter membeli kalung berlian untuk urusan pekerjaan?
Tetapi Lucas tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lebih jauh. "Aku harus segera pergi, ini sudah terlambat."
Pria itu langsung pergi meninggalkan Astrid yang berdiri sendirian di dapur.
Siang harinya, Marta datang ke rumah tanpa mengetuk, seperti biasa. Wanita paruh baya itu masuk begitu saja sambil membawa tas mahalnya.
Begitu melihat Astrid di ruang keluarga, Marta langsung mendecak. "Kamu tuh kerjaannya cuma duduk saja. Makanya badan kamu gendut."
Astrid memejamkan mata sesaat. Sungguh dia lelah.
Marta tidak berhenti bicara. Wanita itu duduk di sofa. "Kamu tidak malu?"
Astrid memilih diam. Akan tetapi, diamnya justru membuat Marta semakin bersemangat.
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti tidak berani muncul di acara apa pun."
Astrid menarik napas panjang. "Mungkin Ibu datang ke sini bukan untuk membicarakan tubuh saya."
"Tentu saja bukan." Marta tersenyum. "Hari ini ada arisan."
Astrid mengangguk singkat.
Lalu wanita itu kembali berbicara. "Kebetulan semua teman-temanku ingin bertemu Lucas."
Lagi-lagi Lucas. Astrid bahkan tidak terkejut lagi. Sering teman-teman ibu mertuanya itu konsultasi atau bertanya tips tentang kesehatan kepada Lucas ketika bertemu.
Dua jam kemudian. Astrid menyesali keputusannya menerima tamu Marta di rumahnya. Dia benar-benar menyesal.
Di ruang tamu kumpul temannya Marta, beberapa wanita paruh baya sedang duduk melingkar sambil menikmati makanan dan minuman.
Begitu Lucas disebut, mata Marta langsung berbinar.
"Anakku sekarang Kepala Departemen Bedah." Nada bangganya terdengar seperti seseorang yang baru memenangkan lotre.
"Wah, hebat sekali."
"Lucas memang pintar sejak kecil." Marta tertawa puas. "Untung dia lebih mirip ayahnya."
Beberapa wanita ikut tertawa.
Lalu salah satu dari mereka bertanya. "Mana menantumu?"
Marta melirik Astrid yang duduk di sudut ruangan sedang bermain bersama putrinya.
"Oh, itu."
"Sebenarnya Lucas pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."
Ucapan itu langsung membuat ruangan hening. Namun, Marta sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kalau saja dia menikah dengan dokter atau pengusaha, pasti lebih cocok," lanjut Marta lirih seolah bersedih.
Astrid menunduk. Tangannya gemetar di atas pangkuan. Sudah berkali-kali wanita itu mempermalukannya.Tetapi, entah kenapa tetap terasa sakit terasa seperti luka baru.
Saat itulah Astrid memutuskan pergi bermain bersama Ariana. Kalau ia bertahan lebih lama, mungkin ia benar-benar akan menangis di depan anaknya.
Cuaca sore itu mendung. Langit terlihat kelabu ketika Astrid berjalan tanpa tujuan di trotoar sambil menuntun putri kecilnya yang bernyanyi riang.
Pikiran Astrid penuh sampai kepalanya terasa berat. Dia juga merasa dadanya sesak.
Starla, nama itu terus berputar di benaknya. Bagaimana jika Lucas benar-benar berselingkuh? Bagaimana jika selama ini dirinya dibohongi? Bagaimana jika semua yang ia takutkan ternyata benar?
Tanpa sadar, langkah Astrid membawanya ke sebuah kafe. Saat itulah seseorang memanggil namanya.
"Astrid?"
Astrid menoleh, lalu membeku. Seorang pria berpostur tinggi, berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tubuhnya terlihat atletis.
"M-Mateo?"
Pria itu tertawa. "Rupanya kamu masih ingat aku."
"Ya Tuhan. Benaran ini kamu, Mateo?" Astrid masih tidak percaya.
Tentu saja Astrid masih ingat kepadanya. Mateo adalah teman satu kampus. Pria yang dulu terkenal karena kepintaran dan kepribadiannya yang menyenangkan.
Mereka adalah teman dekat sejak sekolah. Namun, hidup membawa mereka ke jalan masing-masing. Mateo harus pergi ke Inggris menjalankan usaha keluarganya.
"Sudah berapa tahun, ya, kita tidak bertemu?" tanya Astrid.
"Hampir sepuluh tahun," jawab Mateo. "Ini anak kamu?" Tatapannya terarah kepada Ariana.
"Iya. Namanya Ariana. Baru dua tahun," balas Astrid.
Mereka akhirnya duduk bersama di dalam kafe. Awalnya hanya percakapan ringan. Tentang pekerjaan dan kenangan masa lalu mereka.
Perlahan Mateo menyadari sesuatu. "Astrid, kamu baik-baik saja?"
Wanita itu mengangkat wajah. Pertanyaan sederhana itu justru membuat matanya memanas. Karena selama beberapa hari terakhir, tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu.
Mateo memperhatikan wajahnya. Lalu, menghela napas pelan. "Ada masalah dengan apa? Ceritakan kepadaku, siapa tahu aku bisa membantu."
Astrid terdiam. Entah kenapa ia merasa ingin bercerita.
Dua jam kemudian. Mateo sudah mengetahui semuanya. Tentang penghinaan Marta, dugaan perselingkuhan Lucas dengan Starla. Juga tentang kalung berlian. Semakin banyak Mateo mendengar, semakin gelap wajahnya.
"Kurang ajar." Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Mateo. Dia sangat marah sahabatnya diperlukan seperti itu.
Astrid menunduk. "Aku belum punya bukti."
"Bagaimana kalau kita cari bukti itu?"
Astrid mengernyit.
Mateo mengeluarkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, seorang pria masuk ke dalam kafe. Usianya sekitar empat puluh tahun. Tatapannya tajam dan gerak-geriknya tenang.
"Kenalkan, ini Julio." Mateo berdiri.
Pria itu mengulurkan tangan. "Julio Fernandez."
Astrid menyambutnya. "Astrid."
"Dia temanku. Dulu dia polisi, sekarang detektif swasta." Mateo tersenyum dan Julio terkekeh.
Mateo mencondongkan tubuh. "Kalau Lucas memang berselingkuh, Julio akan menemukan buktinya. Tak akan aku biarkan ada orang yang menyakitimu, Astrid."
Mata Astrid membesar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasa senang karena ada secercah harapan muncul. Harapan untuk mengetahui kebenaran. Apa pun hasilnya, Astrid sudah lelah hidup dalam keraguan.
"Ada satu hal lagi," lanjut Mateo. "Aku sedang membangun perusahaan di sini."
Astrid menatapnya, lalu mengernyit. "Lalu?"
Mateo tersenyum tipis. "Aku butuh partner."
Astrid tertawa kecil. "Aku?"
"Iya." Mateo menjawab tanpa ragu. "Kamu."
Astrid tertawa kecil. Dia mengira pria itu sedang bercanda.
Mateo terlihat sangat serius. "Aku mengenalmu dan aku yakin kamu pasti bisa."
"Tapi itu dulu," kata Astrid lirih
Mateo menggeleng. Tatapannya lurus menatap wanita itu.
"Kamu tetap Astrid yang sama. Perempuan cerdas yang dulu lulus dengan nilai terbaik di jurusan manajemen bisnis."
Astrid membeku. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang mengingat hal itu. Tidak ada yang peduli. Semua orang hanya melihat dirinya sebagai ibu rumah tangga yang gemuk. Namun, Mateo justru mengingat prestasinya.
"Aku sudah lama mencari orang yang tepat. Dan akhirnya aku menemukanmu." Mateo tersenyum.
Mata Astrid mulai berkaca-kaca karena ia merasa dihargai. "Kamu terlalu melebih-lebihkan aku."
"Tidak." Mateo menjawab tegas. Pria itu bersandar di kursinya. "Lagipula. Aku tidak suka melihat orang baik direndahkan oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu nilai dirinya."
Ucapan Mateo itu membuat Astrid terdiam. Astrid belum menyadarinya pertemuan sore itu akan mengubah hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
V3
Alhamdulillah ketemu Mateo JD bisa membantu permasalahan Astrid 🤗
smg Julio dpt menemukan bukti-bukti kebusukan si suami lucknut 🤬
11 - 12 tuh sama emak nya ,, sama-sama lucknut 🤬🤬
2026-06-14
1
Erni Kusumawati
bagus Astrid jgn jadi wanita bodoh yg hanya menangis lalu merasa sakit hati,tekanan bathin endingnya meninggal Krn stress..balaskan dendammu,buat mrk yg selama ini menghinamu bungkam dg kesuksesanmu Astrid.
2026-06-15
1
Les Tary
klu didektif udh menemukan bukti gugat cerai aja pergi dari rmh itu udh ga sehat buat mentalmu
2026-06-13
1