WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Bab 1 – Kembali ke Titik Awal

---

Suara klakson bersahut-sahutan di luar gedung perkantoran.

Arga memijat pelipisnya yang terasa nyeri.

Jam di layar komputer menunjukkan pukul 23.47.

Lantai kantor sudah hampir kosong. Lampu di sebagian ruangan bahkan telah dimatikan.

Namun Arga masih duduk di depan meja kerjanya.

Tumpukan laporan setinggi hampir satu jengkal memenuhi sisi kanan meja.

Punggungnya terasa kaku.

Matanya panas.

Perutnya kosong sejak sore.

Tetapi pekerjaannya belum selesai.

"Kalau laporan ini belum masuk besok pagi, habis saya dimarahi lagi."

Arga tertawa kecil.

Tawa yang terdengar pahit.

Usianya tiga puluh lima tahun.

Sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di perusahaan ini.

Setiap tahun ia berharap hidupnya akan membaik.

Setiap tahun ia berpikir bahwa sedikit pengorbanan lagi akan membuat semuanya berubah.

Namun kenyataannya tidak pernah seperti itu.

Gajinya memang naik.

Tetapi biaya hidup juga naik.

Utang orang tua belum lunas.

Tabungan tidak seberapa.

Rumah belum punya.

Mobil pun tidak ada.

Bahkan hubungan yang telah dijalin selama lima tahun berakhir begitu saja.

Alasannya sederhana.

Ia dianggap tidak memiliki masa depan.

Arga menatap layar komputer.

Di sudut layar terdapat foto keluarganya.

Ayah.

Ibu.

Dan dirinya.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu ketika warung kecil milik ibunya masih buka.

Warung sederhana di depan rumah.

Warung yang dulu menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Namun karena berbagai masalah, warung itu akhirnya tutup.

Sejak saat itu kondisi ekonomi keluarga semakin sulit.

Arga menghela napas panjang.

Andai saja waktu bisa diulang.

Andai saja ia lebih berani mengambil keputusan.

Andai saja ia membantu orang tuanya mengembangkan usaha sejak dulu.

Mungkin hidupnya tidak akan seperti sekarang.

Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Arga mengernyit.

Rasa sakit itu datang tanpa peringatan.

Awalnya hanya seperti ditusuk jarum.

Namun dalam hitungan detik berubah menjadi nyeri luar biasa.

"Uhuk..."

Tangannya gemetar.

Napasnya menjadi pendek.

Keringat dingin membasahi dahinya.

Ia mencoba berdiri.

Tetapi pandangannya berputar.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Kursi terjatuh.

Laporan berserakan ke lantai.

Arga terjatuh bersama kursinya.

Matanya menatap langit-langit kantor.

Suara alarm dari komputer terdengar samar.

Semuanya menjadi kabur.

Sangat kabur.

Pikiran terakhir yang muncul di benaknya hanyalah satu.

"Aku... lelah..."

Lalu gelap.

---

"Arga!"

"Arga! Bangun!"

Seseorang mengguncang bahunya.

Arga membuka mata perlahan.

Cahaya matahari yang terang membuatnya refleks menyipitkan mata.

Ia berkedip beberapa kali.

Kepalanya masih terasa berat.

Namun rasa sakit di dada sudah hilang.

Ia menatap sekeliling.

Kamar sederhana.

Dinding bercat hijau yang mulai pudar.

Lemari kayu tua.

Kipas angin kecil di sudut ruangan.

Semua terlihat sangat familiar.

Arga membeku.

"Tidak mungkin..."

Ia langsung duduk.

Jantungnya berdegup kencang.

Kamar ini...

Bukankah ini kamar lamanya?

Kamar yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.

"Arga! Cepat bangun! Nanti terlambat!"

Suara wanita dari luar kamar kembali terdengar.

Arga menelan ludah.

Suara itu...

Suara ibunya.

Tubuhnya langsung bergerak.

Ia membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.

Seorang wanita paruh baya berdiri di depan rumah sambil membawa sapu.

Wanita itu tampak lebih muda dibandingkan yang ia ingat.

Tidak ada kerutan berlebihan.

Tidak ada rambut memutih.

Tidak ada wajah lelah akibat bertahun-tahun bekerja keras.

"Ibu..."

Wanita itu mengerutkan dahi.

"Kenapa lihat Ibu begitu?"

Arga tidak menjawab.

Matanya memerah.

Di kehidupan sebelumnya, ibunya meninggal karena komplikasi penyakit beberapa tahun lalu.

Ia bahkan tidak sempat menemani di hari-hari terakhir.

Karena saat itu dirinya terlalu sibuk bekerja.

Kini wanita itu berdiri tepat di depannya.

Sehat.

Hidup.

Nyata.

"Bu..."

"Hah?"

Tanpa sadar Arga memeluk ibunya.

Wanita itu terkejut.

"Eh? Kenapa ini?"

Arga menggigit bibir.

Air matanya hampir jatuh.

Namun ia segera menahannya.

Kalau sampai menangis sekarang, ibunya pasti mengira dirinya gila.

"Tidak apa-apa."

"Dasar anak aneh."

Ibunya tertawa kecil.

"Lagipula kamu tidak berangkat sekolah?"

Sekolah?

Arga langsung menoleh.

"Sekolah?"

"Iya."

Ibunya memukul pelan bahunya.

"Masih ngantuk ya?"

Arga buru-buru masuk kembali ke kamar.

Di atas meja terdapat kalender.

Tahun 2010.

Matanya membelalak.

2010.

Enam belas tahun yang lalu.

Tangannya gemetar.

Ia segera mencari cermin.

Wajah yang muncul membuatnya membeku.

Wajah muda.

Kulit yang lebih bersih.

Tubuh kurus khas remaja.

Usia delapan belas tahun.

"Aku... kembali?"

Arga menatap bayangannya tanpa berkedip.

Ini bukan mimpi.

Semua terasa terlalu nyata.

Ia mencubit pipinya sendiri.

Sakit.

Benar-benar sakit.

Jadi ini kenyataan.

Ia benar-benar kembali ke masa lalu.

Ke titik awal kehidupannya.

Ke masa ketika semuanya belum terlambat.

Perlahan napas Arga menjadi berat.

Ingatan masa depan masih utuh.

Ia ingat seluruh kegagalan yang pernah dialami.

Ia ingat peluang-peluang yang pernah terlewat.

Ia ingat keputusan-keputusan bodoh yang menghancurkan hidupnya.

Dan yang terpenting...

Ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Tatapan Arga perlahan berubah.

Dari kebingungan.

Menjadi tekad.

Kuat.

Sangat kuat.

"Kalau aku benar-benar kembali..."

"Aku tidak akan mengulang hidup yang sama."

Ia mengepalkan tangan.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia selalu bermain aman.

Selalu takut mengambil risiko.

Selalu menunggu kesempatan datang.

Namun kesempatan tidak pernah menunggu siapa pun.

Kali ini berbeda.

Ia tahu masa depan.

Ia tahu peluang mana yang akan berhasil.

Ia tahu kesalahan mana yang harus dihindari.

Mungkin ia tidak bisa langsung menjadi kaya.

Namun setidaknya ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki orang lain.

Pengetahuan.

Dan pengalaman.

Suara ibunya kembali terdengar dari luar.

"Arga! Sarapan dulu!"

"Aku datang, Bu!"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga tersenyum tulus.

Ia berjalan keluar kamar.

Di meja makan sederhana sudah tersedia nasi goreng dan teh hangat.

Ayahnya juga duduk di sana.

Masih sehat.

Masih kuat.

Masih tersenyum.

Dada Arga kembali terasa hangat.

Pemandangan sederhana ini dahulu sering ia abaikan.

Kini justru terasa sangat berharga.

Saat sedang makan, tanpa sengaja ia mendengar percakapan kedua orang tuanya.

"Kalau warung tidak ramai minggu ini, mungkin kita harus pinjam uang lagi."

Suara ayahnya terdengar pelan.

Ibunya mengangguk lemah.

"Semoga saja ada jalan."

Arga menghentikan gerakan makannya.

Warung.

Ia langsung teringat sesuatu.

Warung keluarganya memang sedang mengalami masa sulit pada tahun ini.

Tak lama kemudian warung itu tutup.

Utang mulai menumpuk.

Masalah demi masalah datang tanpa henti.

Namun sekarang...

Ia sudah mengetahui semuanya.

Ia tahu kesalahan yang dulu dilakukan.

Ia tahu bagaimana warung itu seharusnya dijalankan.

Bahkan ia tahu tren bisnis yang akan muncul beberapa tahun ke depan.

Perlahan senyum muncul di sudut bibirnya.

Mungkin ia belum punya modal.

Mungkin ia masih seorang siswa SMA.

Tetapi itu bukan masalah.

Karena perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Dan langkah pertama akan dimulai dari warung kecil milik keluarganya.

Arga menatap kedua orang tuanya.

Dalam hati ia membuat sebuah janji.

"Kali ini aku akan mengubah nasib keluarga kita."

"Kali ini warung itu tidak akan tutup."

"Kali ini aku akan menjadi kaya."

Di luar rumah, angin pagi berembus pelan.

Sementara itu Arga belum menyadari satu hal.

Keputusannya hari ini akan menjadi awal dari perjalanan yang mengubah hidupnya selamanya.

---

Terpopuler

Comments

Mey-mey89

Mey-mey89

andai itu bisa terjadi,,😁

2026-07-11

2

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Ndak kebayang ya bs ktm lg ama ibu yg sudah meninggal. Kesempatan utk berbuat baik lg ke ibu😢

2026-06-23

3

Dewiendahsetiowati

Dewiendahsetiowati

hadir thor

2026-06-19

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 – Kembali ke Titik Awal
2 Bab 2 – Warung yang Hampir Tutup
3 Bab 3 – Peluang Pertama
4 Bab 4 – Rival Pertama
5 Bab 5 – Keunggulan yang Tidak Bisa Ditiru
6 Bab 6 – Kesuksesan yang Mulai Menekan
7 Bab 7 – Uang yang Terjebak di Rak
8 Bab 8 – Pesanan Pertama
9 Bab 9 – Reputasi yang Harus Dijaga
10 Bab 10 – Fondasi yang Kuat
11 Bab 11 – Pelanggan yang Mulai Berubah
12 Bab 12 – Peluang di Tengah Kesulitan
13 Bab 13 – Tanda-Tanda Perubahan
14 Bab 14 – Tawaran dari Seberang Jalan
15 Bab 15 – Jalan yang Ditutup
16 Bab 16 – Pelanggan Baru di Tengah Krisis
17 Bab 17 – Usaha yang Mulai Diuji
18 Bab 18 – Keputusan yang Tidak Bisa Ditunda
19 Bab 19 – Sistem atau Ketergantungan
20 Bab 20 – Orang Baru, Cara Baru
21 Bab 21 – Orang di Balik Rencana
22 Bab 22 – Tawaran yang Mengubah Segalanya
23 Bab 23 – Langkah yang Terlalu Besar
24 Bab 24 – Kesalahan yang Membuka Mata
25 Bab 25 – Peluang yang Datang Terlalu Cepat
26 Bab 26 – Menghitung Harga Sebuah Kesempatan
27 Bab 27 – Persiapan Sebelum Melompat
28 Bab 28 – Pesanan yang Tidak Bisa Ditolak
29 Bab 29 – Ujian Pertama Sistem
30 Bab 30 – Hari yang Menentukan
31 Bab 31 – Keuntungan yang Tidak Terlihat
32 Bab 32 – Pelanggan yang Tidak Biasa
33 Bab 33 – Kesempatan yang Datang dari Reputasi
34 Bab 34 – Batas yang Mulai Terlihat
35 Bab 35 – Keputusan yang Tidak Sempurna
36 Bab 36 – Ujian Konsistensi
37 Bab 37 – Harga yang Mulai Bergerak
38 Bab 38 – Pesaing Baru di Ujung Jalan
39 Bab 39 – Apa yang Tidak Bisa Ditiru
40 Bab 40 – Pelanggan yang Mulai Berubah
41 Bab 41 – Kesalahan
42 Bab 42 – Pelajaran yang Mahal
43 Bab 43 – Orang yang Datang Melamar
44 Bab 44 – Masa Percobaan
45 Bab 45 – Kesalahan yang Hampir Tak Terlihat
46 Bab 46 – Aturan yang Tidak Tertulis
47 Bab 47 – Kepercayaan Pertama
48 Bab 48 – Tawaran yang Menggiurkan
49 Bab 49 – Harga Sebuah Kesempatan
50 Bab 50 – Pintu yang Lebih Besar
51 Bab 51 – Keputusan Kecil yang Mengubah Arah
52 Bab 52 – Batas Kemampuan
53 Bab 53 – Retakan Pertama
54 Bab 54 – Orang yang Datang Membeli Rahasia
55 Bab 55 – Penjaga Janji
56 Bab 56 – Kesalahan Seratus Kilogram
57 Bab 57 – Pesan Tengah Malam
58 Bab 58 – Perang Tanpa Wajah
59 Bab 59 – Nama di Balik Topi Hitam
60 Bab 60 – Tulisan yang Tidak Salah Tempat
61 Bab 61 – Umpan Pertama
62 Bab 62 – Orang Dalam atau Orang Luar
63 Bab 63 – Jejak Menuju Minimarket
64 Bab 64 – Harga untuk Berdamai
65 Bab 65 – Catatan Lama Ayah
66 Bab 66 – Orang yang Akhirnya Bicara
67 Bab 67 – Balasan Pertama
68 Bab 68 – Orang yang Menyimpan Dokumen Asli
69 Bab 69 – Dua Medan Perang
70 Bab 70 – Orang Pertama yang Membocorkan Warung
71 Bab 71 – Buku yang Dicuri Leonard
72 Bab 72 – Nama yang Tak Pernah Disebut
73 Bab 73 – Darmawan yang Dihapus dari Keluarga
74 Bab 74 – Hadiah dari Raden Hartono
75 Bab 75 – Pertemuan Sebelum Pertemuan
76 Bab 76 – Loker Tujuh Belas
77 Bab 77 – Pewaris yang Tidak Meminta Warisan
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 – Kembali ke Titik Awal
2
Bab 2 – Warung yang Hampir Tutup
3
Bab 3 – Peluang Pertama
4
Bab 4 – Rival Pertama
5
Bab 5 – Keunggulan yang Tidak Bisa Ditiru
6
Bab 6 – Kesuksesan yang Mulai Menekan
7
Bab 7 – Uang yang Terjebak di Rak
8
Bab 8 – Pesanan Pertama
9
Bab 9 – Reputasi yang Harus Dijaga
10
Bab 10 – Fondasi yang Kuat
11
Bab 11 – Pelanggan yang Mulai Berubah
12
Bab 12 – Peluang di Tengah Kesulitan
13
Bab 13 – Tanda-Tanda Perubahan
14
Bab 14 – Tawaran dari Seberang Jalan
15
Bab 15 – Jalan yang Ditutup
16
Bab 16 – Pelanggan Baru di Tengah Krisis
17
Bab 17 – Usaha yang Mulai Diuji
18
Bab 18 – Keputusan yang Tidak Bisa Ditunda
19
Bab 19 – Sistem atau Ketergantungan
20
Bab 20 – Orang Baru, Cara Baru
21
Bab 21 – Orang di Balik Rencana
22
Bab 22 – Tawaran yang Mengubah Segalanya
23
Bab 23 – Langkah yang Terlalu Besar
24
Bab 24 – Kesalahan yang Membuka Mata
25
Bab 25 – Peluang yang Datang Terlalu Cepat
26
Bab 26 – Menghitung Harga Sebuah Kesempatan
27
Bab 27 – Persiapan Sebelum Melompat
28
Bab 28 – Pesanan yang Tidak Bisa Ditolak
29
Bab 29 – Ujian Pertama Sistem
30
Bab 30 – Hari yang Menentukan
31
Bab 31 – Keuntungan yang Tidak Terlihat
32
Bab 32 – Pelanggan yang Tidak Biasa
33
Bab 33 – Kesempatan yang Datang dari Reputasi
34
Bab 34 – Batas yang Mulai Terlihat
35
Bab 35 – Keputusan yang Tidak Sempurna
36
Bab 36 – Ujian Konsistensi
37
Bab 37 – Harga yang Mulai Bergerak
38
Bab 38 – Pesaing Baru di Ujung Jalan
39
Bab 39 – Apa yang Tidak Bisa Ditiru
40
Bab 40 – Pelanggan yang Mulai Berubah
41
Bab 41 – Kesalahan
42
Bab 42 – Pelajaran yang Mahal
43
Bab 43 – Orang yang Datang Melamar
44
Bab 44 – Masa Percobaan
45
Bab 45 – Kesalahan yang Hampir Tak Terlihat
46
Bab 46 – Aturan yang Tidak Tertulis
47
Bab 47 – Kepercayaan Pertama
48
Bab 48 – Tawaran yang Menggiurkan
49
Bab 49 – Harga Sebuah Kesempatan
50
Bab 50 – Pintu yang Lebih Besar
51
Bab 51 – Keputusan Kecil yang Mengubah Arah
52
Bab 52 – Batas Kemampuan
53
Bab 53 – Retakan Pertama
54
Bab 54 – Orang yang Datang Membeli Rahasia
55
Bab 55 – Penjaga Janji
56
Bab 56 – Kesalahan Seratus Kilogram
57
Bab 57 – Pesan Tengah Malam
58
Bab 58 – Perang Tanpa Wajah
59
Bab 59 – Nama di Balik Topi Hitam
60
Bab 60 – Tulisan yang Tidak Salah Tempat
61
Bab 61 – Umpan Pertama
62
Bab 62 – Orang Dalam atau Orang Luar
63
Bab 63 – Jejak Menuju Minimarket
64
Bab 64 – Harga untuk Berdamai
65
Bab 65 – Catatan Lama Ayah
66
Bab 66 – Orang yang Akhirnya Bicara
67
Bab 67 – Balasan Pertama
68
Bab 68 – Orang yang Menyimpan Dokumen Asli
69
Bab 69 – Dua Medan Perang
70
Bab 70 – Orang Pertama yang Membocorkan Warung
71
Bab 71 – Buku yang Dicuri Leonard
72
Bab 72 – Nama yang Tak Pernah Disebut
73
Bab 73 – Darmawan yang Dihapus dari Keluarga
74
Bab 74 – Hadiah dari Raden Hartono
75
Bab 75 – Pertemuan Sebelum Pertemuan
76
Bab 76 – Loker Tujuh Belas
77
Bab 77 – Pewaris yang Tidak Meminta Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!