Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

KBB 1 Karang Bercahaya

Purwasaga adalah seorang pendekar muda nan tampan, gagah. Dia putra pejabat, yakni putra Demang Bungi Pitam yang diamanahi kekuasaan di Kademangan Kerangilo.

Rumah Demang Bungi Pitam tepat menghadap ke laut, berjarak hanya belasan tombak dari pantai.

Sebagai pendekar muda yang berambisi menjadi pendekar sakti yang digdaya, Purwasaga rajin berlatih, meski dia sudah dinyatakan lulus oleh gurunya.

Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu memilih malam sebagai waktu latihnya. Karena dia sudah pulang dari perguruan, jadi ia berlatih seorang diri. Pada awal-awal, ayah dan adik-adiknya suka menonton. Karena hanya menonton, akhirnya keluarganya pun lama-lama tidak antusias lagi. Jadilah Purwasaga berlatih seorang diri untuk malam-malam berikutnya.

Tidak hanya pasir pantai menjadi arena berlatih, tetapi Purwasaga juga sering berlatih di atas gugusan karang yang tersebar di pantai tersebut hingga di air laut.

Pada suatu malam, tepatnya di malam purnama penuh.

“Saga, apakah kau akan berlatih malam ini?” tanya Demang Bungi Pitam pada awal malam.

“Iya, Ayah,” jawab Purwasaga.

“Sepertinya akan ada badai malam ini,” kata Demang Bungi.

Memang, angin malam yang kencang dan tidak seperti biasanya memberi pesan awal bahwa kemungkinan akan datang badai dari lautan. Bagi orang pesisir, mereka semua tahu tanda-tanda awal akan datangnya badai, seperti salah satunya ombak tinggi dengan suara hantaman ke pantai dan batu karang terdengar kasar. Udara pun terasa lebih lembab dari malam-malam biasanya.

Biasanya tanda pun terlihat dari langit. Namun, karena malam hari, jadi tanda di langit tidak tampak.

“Tapi ini malam purnama sempurna, malam yang bagus untuk latihan, Ayah,” kata Purwasaga. “Jika badainya memburuk, tentu aku akan pulang.”

Maka, pada malam itu, Purwasaga tetap melakukan latihan di malam hari.

Benar kata Purwasaga, malam itu adalah malam bulan purnama. Namun, karena gelapnya langit oleh awan hitam, cahaya purnama hanya sesekali muncul, itupun mambayang di balik awan.

Betul juga kata Demang Bungi, badai mulai datang dengan kecepan angin yang setengah ekstrem dan hujan angin yang membuat menggigil. Namun, Purwasaga pantang mundur dan menyerah. Ia bertekad menyelesaikan latihannya dengan melakukan uji coba kesaktiannya.

“Hiat! Ciat ciat! Hiat!”

Di antara deru ombak yang keras, tiupan angin yang kencang, bisikan hujan yang menyiram, kebisingan suara dedaunan nyiur dan pohon pantai lainnya, terdengar pekik-pekik Purwasaga saat berlatih dan mengeluarkan tenaga ekstra.

Ternyata, semakin larut malam, badai semakin besar. Hantaman ombak ke batu karang semakin kencang dan semakin jauh naik ke pasir pantai.

Setelah cukup lama berlatih olah fisik, Purwasaga lalu berdiri memasang kuda-kuda di pasir pantai dan menghadap ke arah laut lepas yang tanpa cahaya lampu nelayan.

Sepasang batang tangan Purwasaga menyala kuning.

“Hiaaat!” teriak Purwasaga sambil menghentakkan kedua tinjunya lurus ke depan, ketika ombak tinggi melompat hendak menerkam garis pantai.

Meski kedua tangan Purwasaga menyala kuning, tetapi yang melesat dari kedua tinjunya adalah bola sinar hijau sebesar bola kaki. Kedua bola sinar hijau itu melesat secepat kilat menghantam ombak.

Ada fenomena yang terjadi dan terlihat sekilas saja. Ombak yang gelap itu terlihat sekejap membeku padat dengan warna hijau menyala. Namun, setelah sinar itu padam, hanya kegelapan yang tersisa.

Itu adalah ilmu Tinju Dingin Sunyi.

Setelah itu, Purwasaga berlari di dalam kegelapan pantai di bawah guyuran hujan deras. Ia berlari menuju gugusan batu karang.

Sezz!

Sambil berlari kencang seperti itu, Purwasaga mengeluarkan garis-garis sinar hijau seperti aliran listrik yang tidak mau tenang.

“Hiaat!” teriak Purwasaga sambil melempar tangan kanannya ke arah gugusan batu karang yang terlihat berupa siluet hitam yang lebih hitam di dalam kegelapan.

Serzz!

Yang melesat cepat dari tangan kanan Purwasaga adalah seperti kumpulan tali sinar hijau yang kusut, tetapi seperti sebuah gulungan bola.

Bluarr!

Sinar itu menghantam dan menghancurkan gugusan batu karang, tetapi hanya sebagian kecil karena itu batu karang yang besar.

“Apa itu?” tanya Purwasaga seraya berhenti berlari dan memusatkan arah netranya memandangi batu karang yang dihantam ombak.

Hal yang dilihat oleh Purwasaga dan menarik perhatiannya adalah keberadaan cahaya biru redup di batu karang, tetapi semuanya terendam oleh ombak yang menghantam.

“Bagaimana mungkin karang bisa mengeluarkan cahaya? Yang mungkin adalah benda atau binatang laut bercahaya yang sedang tersangkut di batu karang,” pikir Purwasaga di dalam hati.

Pemuda tampan itu lalu berlari naik ke gugusan batu karang untuk pergi melihat dengan jelas cahaya biru.

Bruss!

Ombak besar menghantam gugusan karang itu. Air laut datang dan merendam kaki Purwasaga sebatas betis. Ia terus mendekati posisi cahaya biru yang terendam air secara penuh ketika ombak datang menghempas.

Ketika air laut itu bergerak menarik diri, maka tampak jelas sisi atas cahaya.

Purwasaga akhirnya berada hanya beberapa langkah dari cahaya biru redup yang menyala.

Cahaya biru itu bukan binatang, tetapi sebuah lubang atau bolongan batu karang. Uniknya, bolongan itu sempurna seperti lubang cincin raksasa dan pinggiran lingkarannya menyala biru. Diameter lubang batu karang itu sepanjang satu depa.

Purwasaga jadi penasaran ingin menyentuh bagian lubang karang yang bercahaya seperti batu alam yang unik.

Brusss!

Ombak keras kembali datang menghantam gugusan karang tersebut. Air sampai merendam Purwasaga sepinggang dan mendorongnya dua tindak, tetapi hantaman ombak tersebut tidak sampai menghanyutkan si pemuda.

“Jangan-jangan ini pintu gerbang siluman,” pikir Purwasaga mulai mengada-ada.

Dia lalu maju dan turun demi menyentuh bibir lubang karang. Sebelum ombak datang lagi, Purwasaga bergerak tergesa-gesa turun ke air lebih dalam dan bergerak masuk ke dalam lubang. Air laut hingga sedada.

Namun, tidak ada hal aneh yang terjadi. Purwasaga bahkan menyentuh bagian batu karang yang bercahaya redup seperti batu fosfor. Rasanya biasa saja, tidak ada yang aneh.

Purwasaga buru-buru kembali naik saat mendengar suara ombak besar datang mendekat, lalu menghantam.

Brusss!

Purwasaga terhempas oleh ombak hingga jatuh terduduk di batu karang.

Posisi duduk itu ternyata tidak memberi Purwasaga daya bertahan. Ia terkejut saat air menarik dirinya. Tubuhnya terbawa dan jatuh ke dalam air yang ada lubang karang bercahayanya.

Karena tubuhnya terbawa hanyut, Purwasaga hanya mengikuti kehendak arus. Ia sampai tenggelam di sekitar cincin karang yang menyala.

Dug!

“Aklelep!” pekik Purwasaga saat dahinya menghantam batu karang. Pekikan di dalam air laut itu membuat si pemuda kemasukan air asin di dalam tenggorokannya dan dilanda kepanikan.

Brusss!

Di saat tubuh Purwasaga dipermainkan arus air di sekitar lubang karang bercahaya biru, datang lagi ombak yang lebih kecil, tetapi cukup untuk menghempaskan tubuh pemuda itu menghantam karang lagi.

Tiba-tiba, cincin karang yang bercahaya biru itu menyala kian terang, lalu muncullah lapisan sinar biru yang benar-benar adalah cahaya. Cahaya baru yang muncul itu kemudian memenuhi lubang meski ada air laut yang bergerak menenggelamkannya.

Sementara Purwasaga hanya melihat warna biru dari cahaya yang baru muncul tanpa mengetahui apa yang terjadi. Namun kemudian, tubuhnya lenyap di dalam air. (RH)

Terpopuler

Comments

Om Rudi

Om Rudi

assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏🙏

2026-06-18

2

😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎

😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎

pasti suuueeegeeerrr tu air 🤣🤣🤣😁🤪

2026-06-18

5

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

wehhh kenapa namanya g bugil sekalian om 🤣🤣🤣

dan kok ya karanggilo
opo ngilani ngono to om 🤣🤣🤣🤭

2026-06-22

2

lihat semua
Episodes
1 KBB 1 Karang Bercahaya
2 KBB 2 Azhmar dan Elindra
3 KBB 3 Tentang Karang Bolong
4 KBB 4 Rumah Makan Darah Biru
5 KBB 5 Petarung Darah Merah
6 KBB 6 Purwasaga vs Rendhang
7 KBB 7 Mendadak Kawin
8 KBB 8 Pengantin yang Tersiksa
9 KBB 9 Bertemu Azhmar Lagi
10 KBB 10 Sahabat Cantik
11 KBB 11 Berangkat Berburu
12 KBB 12 Menghukum Purwasaga
13 KBB 13: Rumput Kecup Sial
14 KBB 14 Mencari Lubang
15 KBB 15 Binatang Lolot
16 KBB 16 Pelanggaran dan Hukuman
17 KBB 17 Cerita Rahasia
18 KBB 18 Mencari Bukit Telur
19 KBB 19 Bukit Telur Lolot
20 KBB 20 Semut dan Telur
21 KBB 21 Pengaman Segel Terbuka
22 KBB 22 Menjemput Purwasaga
23 KBB 23 Petunjuk Cangkang Telur
24 KBB 24 Perwira Singa
25 KBB 25 Pulau Hekhek
26 KBB 26 Dua Lintha
27 KBB 27 Naga Paraha
28 KBB 28 Gerbang Buana Terbuka
29 KBB 29 Kuis Benar Salah
30 KBB 30 Bajak Laut Tiga Kodok
31 KBB 31 Bukti di Dalam Celana
32 KBB 32 Purwasaga Pulang, Keluarga Riang
33 KBB 33 Pendekar Cebol
34 KBB 34 Malaikat Serba Tahu
35 KBB 35 Sasumi Janda Kembang
36 KBB 36 Niat Purwasaga
37 KBB 37 Melanggar Peringatan
38 KBB 38 Janji Sasumi
39 KBB 39 Sahabat Sejantan Sejati
40 KBB 40 Tamu Asing Makan Cumi
41 41 KBB 41 Seorang Telik Sandi
42 KBB 42 Kronlogi Sukrowo
43 KBB 43 Tiga Kodok Bertemu
44 KBB 44 Perintah Ketua Atas
45 KBB 45 Dua Telik Sandi
46 KBB 46 Misi untuk Sasumi
47 KBB 47 Pembunuh Sadis
48 KBB 48 Pesona Sasumi
49 KBB 49 Pemangsa di Laut
50 KBB 50 Pasukan Pulang
51 KBB 51 Asmara Satu Malam
52 KBB 52 Tawaran Purwasaga
53 KBB 53 Kapal Bajak Laut Datang
54 KBB 54 Kapal Ribut Karo Mungsuh
55 KBB 55 Saling Tembak Dua Kapal
56 KBB 56 Kapal Kodok Merah
57 KBB 57 Sambut Bajak Laut
58 KBB 58 Ketegangan di Pantai
59 KBB 59 Purwasaga Bikin Marah
60 KBB 60 Pasukan Berkuda
61 KBB 61 Perang Panah
62 KBB 62 Pasukan Bantuan
63 KBB 63 Jadi Wilayah Militer
64 KBB 64 Ke Luar Desa Cemplung
65 KBB 65 Komandan Turun Tangan
66 KBB 66 Bajak Laut Datang
67 KBB 67 Sekutu Karang Bolong
68 KBB 68 Pertempuran Laut Pecah
69 KBB 69 Tanduk Kodok
70 KBB 70 Sembur Ulat vs Kebo Air
71 KBB 71 Nyanyian Kemenangan
72 KBB 72 Anak Fatara
73 KBB 73 Disambut Hujan Panah
74 KBB 74 Anak Panah Terakhir
75 KBB 75 Gugurnya Anggota Senior
76 KBB 76 Udang Pemancing Petir
77 KBB 77 Udang Tua Mundur
78 KBB 78 Lautan Api
79 KBB 79 Penggal Elang
80 KBB 80 Duel Jago Pedang
81 KBB 81 Prajurit Wira Gugur
82 KBB 82 Pasukan Perbatasan Timur
83 KBB 83 Perundingan Empat Ketua
84 KBB 84 Kembali ke Bajak Laut
85 KBB 85 Siasat Lebah Merah
86 KBB 86 Perundingan Tiga Perahu
87 KBB 87 Pendekar Cantik
88 KBB 88 Sasumi Kabur
89 KBB 89 Utusan dari Istana
90 KBB 90 Ayu Menerobos Masuk
91 KBB 91 Panglima Takluk
92 KBB 92 Jarum Lapar
Episodes

Updated 92 Episodes

1
KBB 1 Karang Bercahaya
2
KBB 2 Azhmar dan Elindra
3
KBB 3 Tentang Karang Bolong
4
KBB 4 Rumah Makan Darah Biru
5
KBB 5 Petarung Darah Merah
6
KBB 6 Purwasaga vs Rendhang
7
KBB 7 Mendadak Kawin
8
KBB 8 Pengantin yang Tersiksa
9
KBB 9 Bertemu Azhmar Lagi
10
KBB 10 Sahabat Cantik
11
KBB 11 Berangkat Berburu
12
KBB 12 Menghukum Purwasaga
13
KBB 13: Rumput Kecup Sial
14
KBB 14 Mencari Lubang
15
KBB 15 Binatang Lolot
16
KBB 16 Pelanggaran dan Hukuman
17
KBB 17 Cerita Rahasia
18
KBB 18 Mencari Bukit Telur
19
KBB 19 Bukit Telur Lolot
20
KBB 20 Semut dan Telur
21
KBB 21 Pengaman Segel Terbuka
22
KBB 22 Menjemput Purwasaga
23
KBB 23 Petunjuk Cangkang Telur
24
KBB 24 Perwira Singa
25
KBB 25 Pulau Hekhek
26
KBB 26 Dua Lintha
27
KBB 27 Naga Paraha
28
KBB 28 Gerbang Buana Terbuka
29
KBB 29 Kuis Benar Salah
30
KBB 30 Bajak Laut Tiga Kodok
31
KBB 31 Bukti di Dalam Celana
32
KBB 32 Purwasaga Pulang, Keluarga Riang
33
KBB 33 Pendekar Cebol
34
KBB 34 Malaikat Serba Tahu
35
KBB 35 Sasumi Janda Kembang
36
KBB 36 Niat Purwasaga
37
KBB 37 Melanggar Peringatan
38
KBB 38 Janji Sasumi
39
KBB 39 Sahabat Sejantan Sejati
40
KBB 40 Tamu Asing Makan Cumi
41
41 KBB 41 Seorang Telik Sandi
42
KBB 42 Kronlogi Sukrowo
43
KBB 43 Tiga Kodok Bertemu
44
KBB 44 Perintah Ketua Atas
45
KBB 45 Dua Telik Sandi
46
KBB 46 Misi untuk Sasumi
47
KBB 47 Pembunuh Sadis
48
KBB 48 Pesona Sasumi
49
KBB 49 Pemangsa di Laut
50
KBB 50 Pasukan Pulang
51
KBB 51 Asmara Satu Malam
52
KBB 52 Tawaran Purwasaga
53
KBB 53 Kapal Bajak Laut Datang
54
KBB 54 Kapal Ribut Karo Mungsuh
55
KBB 55 Saling Tembak Dua Kapal
56
KBB 56 Kapal Kodok Merah
57
KBB 57 Sambut Bajak Laut
58
KBB 58 Ketegangan di Pantai
59
KBB 59 Purwasaga Bikin Marah
60
KBB 60 Pasukan Berkuda
61
KBB 61 Perang Panah
62
KBB 62 Pasukan Bantuan
63
KBB 63 Jadi Wilayah Militer
64
KBB 64 Ke Luar Desa Cemplung
65
KBB 65 Komandan Turun Tangan
66
KBB 66 Bajak Laut Datang
67
KBB 67 Sekutu Karang Bolong
68
KBB 68 Pertempuran Laut Pecah
69
KBB 69 Tanduk Kodok
70
KBB 70 Sembur Ulat vs Kebo Air
71
KBB 71 Nyanyian Kemenangan
72
KBB 72 Anak Fatara
73
KBB 73 Disambut Hujan Panah
74
KBB 74 Anak Panah Terakhir
75
KBB 75 Gugurnya Anggota Senior
76
KBB 76 Udang Pemancing Petir
77
KBB 77 Udang Tua Mundur
78
KBB 78 Lautan Api
79
KBB 79 Penggal Elang
80
KBB 80 Duel Jago Pedang
81
KBB 81 Prajurit Wira Gugur
82
KBB 82 Pasukan Perbatasan Timur
83
KBB 83 Perundingan Empat Ketua
84
KBB 84 Kembali ke Bajak Laut
85
KBB 85 Siasat Lebah Merah
86
KBB 86 Perundingan Tiga Perahu
87
KBB 87 Pendekar Cantik
88
KBB 88 Sasumi Kabur
89
KBB 89 Utusan dari Istana
90
KBB 90 Ayu Menerobos Masuk
91
KBB 91 Panglima Takluk
92
KBB 92 Jarum Lapar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!