DENDAM ISTRI YANG DIMADU

​Layar ponsel pintar yang tergeletak di atas meja kerja jati milikku mendadak menyala, menampilkan nama yang seketika membuat atmosfer sejuk di dalam ruangan kerjaku terasa berubah menjadi pengap.

​Ibu Mertua.

​Aku menatap layar yang bergetar itu dengan pandangan mata yang sedingin es. Hanya butuh waktu dua detik bagi logikaku untuk mengunci seluruh emosi sebelum akhirnya aku menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telingaku.

​"Halo, Assalamualaikum, Ibu," sapaku, suaranya mengalun begitu tenang, sangat santun, dan tanpa cela. Persis seperti imej menantu berbakti yang selama sepuluh tahun ini selalu kupelihara di hadapan keluarga besar Mas Hanif.

​"Waalaikumussalam, Hanum," suara di seberang sana terdengar meninggi, sarat akan nada superioritas dan kepuasan yang tertahan. Tidak ada lagi basa-basi menanyakan kabarku atau kedua cucu kembarnya. Ibu mertuaku langsung masuk ke inti tujuannya dengan nada yang terkesan mendikte.

​"Hanum, sore ini kamu tidak usah lembur di kantor. Ibu minta kamu datang ke rumah Ibu jam empat sore tepat. Ada hal penting yang harus kita selesaikan. Mas Hanif-mu juga sudah ada di sini sejak siang. Ibu mau mengenalkan kamu secara langsung dengan Sarah, calon madumu."

​Aku terdiam sejenak, membiarkan keheningan di seberang telepon menjadi bentuk penegasan bahwa aku mendengarnya dengan sangat jelas. Ibu mertuaku seolah tidak sabar untuk menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di atas kepalaku, memanfaatkan momen di mana benteng pelindung utamaku sedang tidak ada di tempat.

​Ya, Papa tiri Mas Hanif pria bijaksana yang selama ini selalu berdiri di depanku untuk membelaku dari segala bentuk intimidasi terselubung Ibu mertua saat ini sedang berada di luar negeri untuk mengurus ekspansi bisnis dan menghadiri beberapa konferensi manufaktur global selama satu bulan penuh.

Ketidakhadiran Papa di tanah air adalah kesempatan emas yang sudah dihitung dengan sangat matang oleh Ibu mertuaku dan Mas Hanif. Mereka sengaja bergerak di bawah tanah, merancang pertemuan ini dan kemungkinan besar memang berniat melangsungkan pernikahan siri atau akad cepat itu tepat di saat Papa masih berada jauh di luar negeri. Mereka tahu, jika Papa ada di sini, rencana busuk ini tidak akan pernah mendapatkan lampu hijau.

​"Baik, Ibu. Saya akan datang tepat waktu," jawabku pendek, tanpa ada nada penolakan atau getaran sedih yang mungkin sangat dinantikan oleh Ibu mertuaku untuk memuaskan egonya.

​"Bagus kalau begitu. Jaga sikapmu nanti sore, Hanum. Jangan mempermalukan Mas Hanif di depan calon istri barunya," sahut Ibu mertua ketus sebelum langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

​Aku menurunkan ponsel dari telingaku, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kerja. Sebuah senyuman tipis, senyuman manis yang mematikan, perlahan terbit di bibirku. Aku bangkit dari kursi kebesaran, berjalan menuju lemari kaca tempat aku menyimpan koleksi hijab premium terbaru yang belum dirilis ke publik.

​Untuk pertemuan sore ini, aku memilih mengenakan gamis berbahan sutra satin premium berwarna hitam pekat yang jatuh dengan anggun membungkai tubuhku, dipadukan dengan hijab pashmina berwarna maroon tua yang disampirkan dengan keanggunan seorang ratu. Riasan wajahku kubuat sedikit lebih tegas pada bagian mata, memancarkan aura intimidasi yang tenang namun tak terbantahkan. Ibu mertuaku berpikir dia bisa bertindak semena-mena dan memperlakukanku seperti menantu tertindas yang pasrah? Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya akan mendikte jalannya permainan di rumah itu nanti sore.

​Pukul empat sore tepat, mobil sedan mewah yang dikendarai sopir pribadiku berhenti di pelataran rumah mewah berarsitektur klasik milik Ibu mertuaku. Begitu melangkah turun, aku langsung bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Rumah ini tampak sepi, sengaja dikondisikan agar tidak ada kerabat lain yang tahu tentang agenda rahasia sore ini.

​Aku melangkah masuk setelah asisten rumah tangga membukakan pintu. Begitu menjejakkan kaki di ruang tamu utama yang luas, aku langsung disuguhkan oleh pemandangan tiga orang yang sudah duduk melingkar di atas sofa beludru berwarna krem.

​Ibu mertuaku duduk di posisi tengah dengan dagu yang terangkat tinggi, mengenakan gamis brokat mewah seolah sedang menghadiri acara perayaan besar. Di sebelah kanannya, duduk Mas Hanif yang tampak mengenakan kemeja batik formal. Gurat wajah suamiku terlihat agak tegang, namun ada binar kelegaan saat melihatku datang sendirian tanpa membawa anak-anak. Dan di sebelah kiri Ibu mertua, duduk seorang wanita muda yang penampilannya sangat kontras denganku.

​Wanita itu... Sarah. Dia tampak berusia awal dua puluhan, berwajah polos tanpa riasan tebal, dan mengenakan gamis katun sederhana bermotif bunga kecil dengan jilbab instan besar yang menutupi dada. Dia duduk dengan kepala tertunduk, meremas jemari tangannya sendiri di atas pangkuan, menampilkan citra seorang wanita salihah yang lugu, pemalu, dan tidak berdaya. Sebuah taktik visual yang sangat cerdas untuk memikat hati seorang pria mapan yang bosan dengan kemandirian istrinya, sekaligus memikat hati seorang ibu mertua yang mendambakan menantu yang mudah disetir.

​"Nah, ini dia Hanum sudah datang," ucap Ibu mertuaku dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, memecah keheningan ruangan.

​Aku melangkah mendekat dengan ritme sepatu hak tinggi yang konstan dan tenang. Aku tidak menunjukkan kemarahan, tidak juga menunjukkan keterkejutan. Aku mengulas senyum formal, lalu mengulurkan tangan untuk menyalami Ibu mertuaku terlebih dahulu, kemudian mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapan mereka bertiga. Posisiku saat ini persis seperti seorang CEO yang sedang mengaudit calon mitra bisnis barunya.

​"Hanum," Mas Hanif membuka suara, nadanya terdengar agak canggung dan berhati-hati. "Kenalkan, ini... ini Sarah. Wanita yang semalam Mas ceritakan kepadamu."

​Mendengar namanya disebut, Sarah perlahan mengangkat wajahnya. Dia menatapku dengan sepasang mata yang sengaja dibuat berbinar penuh rasa bersalah dan hormat yang berlebihan. Wanita muda itu langsung menggeser duduknya, berlutut di dekat karpet di bawah kakiku, lalu mencoba meraih tanganku untuk dicium dengan takzim.

​"Mbak Hanum..." suara Sarah terdengar bergetar lembut, sangat merdu dan penuh kepasrahan. "Sarah mohon maaf jika kehadiran Sarah mengejutkan Mbak Hanum. Sarah sama sekali tidak ada niat untuk merebut Mas Hanif dari Mbak. Sarah tahu diri... Sarah hanya wanita biasa yang ingin mencari berkah ibadah. Sarah sangat menghormati Mbak Hanum sebagai istri pertama yang sukses dan Sarah berjanji akan selalu patuh pada aturan yang Mbak tetapkan di dalam keluarga ini."

​Ibu mertuaku tersenyum puas melihat aksi berlutut Sarah. Dia menatapku dengan pandangan mata yang seolah berkata. Lihat, wanita ini jauh lebih penurut dan tahu diri dibandingkan kamu yang selalu sibuk dengan kariermu.

​"Kamu lihat sendiri kan, Hanum?" Ibu mertuaku menimpali dengan nada semena-mena yang sangat kentara. "Sarah ini anak yang baik, sangat menjaga adab. Dia tidak seperti wanita-wanita karier di luar sana yang keras kepala. Pernikahan ini sudah Ibu restui sepenuhnya. Dan karena Papa-mu saat ini sedang berada di luar negeri untuk waktu yang lama, Ibu rasa tidak perlu menunggu Papa pulang untuk meresmikan hubungan mereka. Kita akan melangsungkan akad nikah siri yang sederhana minggu depan, agar mereka terhindar dari fitnah."

​Mendengar kalimat Ibu mertua yang begitu gamblang meremehkan keberadaan Papa mertuaku, dan melihat Mas Hanif yang hanya diam seribu bahasa tanpa berani menyela ibunya, aku hanya bisa mencibir di dalam hati. Betapa pengecutnya pria ini dan betapa liciknya wanita tua di hadapanku ini. Mereka sengaja memanfaatkan kepergian Papa untuk mengeksekusi pernikahan ini agar tidak ada yang bisa menghentikannya.

​Aku tidak menarik tanganku dari genggaman Sarah, namun aku juga tidak membiarkannya mencium punggung tanganku terlalu lama. Dengan gerakan yang sangat halus dan anggun, kutarik tanganku kembali lalu mengusap bahu Sarah dengan kelembutan palsu yang sangat meyakinkan.

​"Berdirilah, Sarah. Jangan berlutut seperti ini, tidak enak dilihat orang," ucapku lembut, senyum manisku sama sekali tidak pudar dari wajahku.

​Sarah mendongak, tampak agak terkejut melihat reaksiku yang begitu tenang dan bersahabat. Dia perlahan bangkit dan kembali duduk di samping Ibu mertua, meskipun matanya tetap menatapku dengan pandangan yang dibuat sayu.

​Kutatap wajah polos Sarah lurus-lurus, mengunci pandangan matanya dengan intensitas yang perlahan membuat senyuman di wajah Ibu mertuaku sedikit membeku.

​"Sarah..." panggilku, suaranya terdengar begitu merdu namun memiliki ketajaman yang sanggup menguliti setiap lapisan kepura-puraan di ruangan ini. "Aku sangat menghargai niat baikmu untuk beribadah dan membangun rumah tangga bersama Mas Hanif. Semalam, Mas Hanif sudah menceritakan banyak hal tentangmu kepadaku. Dia bilang... kamu adalah wanita yang sangat tulus, salihah dan tidak memandang harta benda sama sekali. Benar begitu?"

​Sarah mengangguk cepat, menaruh tangannya di dada dengan ekspresi penuh keyakinan. "Benar, Mbak Hanum. Demi Allah, Sarah menerima Mas Hanif bukan karena apa yang dia miliki saat ini. Sarah hanya ingin menjadi istri yang berbakti."

​"Luar biasa," puji ku sambil bertepuk tangan pelan satu kali, menimbulkan efek dramatis yang membuat Mas Hanif berdeham gelisah di kursinya.

​"Mas Hanif juga bilang padaku," lanjutku, tatapan mataku kini beralih menatap Mas Hanif sejenak sebelum kembali mengunci Sarah. "Bahwa kamu... bersedia dan tulus menemani Mas Hanif untuk berjuang dari bawah. Benar-benar dari nol, dari titik terendah sekalipun. Apakah kalimat itu keluar langsung dari bibirmu sendiri, Sarah?"

​"Iya, Mbak. Sarah siap menemani Mas Hanif dalam keadaan apa pun. Mau hidup sederhana di rumah kecil sekalipun, Sarah ikhlas, asalkan pernikahan ini mendapatkan rida Allah dan restu dari Ibu," jawab Sarah dengan nada bicara yang sangat meyakinkan, tampak sangat bangga dengan narasi kesalehannya di depan Ibu mertuaku.

​Ibu mertuaku mengangguk-angguk bangga. "Kamu dengar sendiri kan, Hanum? Sarah ini tidak matre seperti wanita jaman sekarang. Dia tulus mencintai Hanif karena agamanya!"

​Aku menyunggingkan senyuman paling manis yang kupunya pagi ini, sebuah senyuman yang menjadi tanda bahwa mangsaku baru saja masuk ke dalam lubang jebakan yang sudah kugali dengan rapi.

​"Mendengar komitmenmu yang begitu mulia, Sarah... hatiku rasanya sangat tersentuh," ujarku, nadanya beralih menjadi sangat serius dan mendalam. "Sebagai istri pertama yang sudah menemani Mas Hanif selama sepuluh tahun, aku merasa wajib untuk memastikan bahwa kamu benar-benar memegang teguh janjimu hari ini di depan Ibu dan di depan Mas Hanif sendiri."

​Aku memperbaiki posisi dudukku, memajukan tubuh ke depan meja, menatap Sarah dengan tatapan mata yang tidak lagi menyembunyikan dinginnya logika hukumku.

​"Karena jika kamu benar-benar siap menerima Mas Hanif dari nol, maka mulai hari ini... kamu harus bersiap untuk membuktikannya secara nyata, Sarah. Kebetulan sekali, kemarin saya baru saja bertemu dengan pengacara keluarga kami, Pak Baskoro. Kami sedang memproses surat perjanjian pasca-nikah untuk pemisahan harta gono-gini secara mutlak antara saya dan Mas Hanif."

​DEG.

​Kalimat yang meluncur dari bibirku seketika membuat atmosfer di ruang tamu itu membeku. Senyuman bangga di wajah Ibu mertuaku langsung lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kerutan dalam penuh keterkejutan. Sementara Mas Hanif langsung menegakkan tubuhnya, matanya terbelalak menatapku dengan kepanikan yang teramat nyata. Bahkan Sarah yang tadi berwajah polos, sempat kehilangan kendali atas ekspresi wajahnya selama satu detik, matanya berkedip cepat karena terkejut.

​"Hanum! Apa-apaan ini?!" Ibu mertuaku langsung membentak, suaranya melengking tinggi penuh amarah. "Pemisahan harta apa maksudmu?! Kamu mau menguasai seluruh kekayaan rumah tangga kalian hanya karena Hanif mau menikah lagi?! Jangan keterlaluan kamu ya!"

​Aku tidak membalas bentakan Ibu mertuaku dengan kemarahan. Aku hanya menatapnya dengan ketenangan yang luar biasa, lalu beralih menatap Mas Hanif yang kini tampak berkeringat dingin di tempat duduknya.

​"Mas Hanif tahu betul apa maksud surat itu, Ibu," ujarku tenang, suaraku tetap konstan berwibawa. "Seluruh aset Amara Modest, rumah mewah yang kami tempati saat ini, serta seluruh tabungan masa depan Kayla dan Kenzie adalah mutlak hak milik saya yang berbadan hukum terpisah. Kemarin, saat sarapan, Mas Hanif sendiri yang bilang di depan saya kalau saya tidak memiliki kekurangan apa pun sebagai istri dan dia mengakui bahwa semua kesuksesan ini adalah hasil keringat saya sendiri."

​Kutatap Mas Hanif dengan pandangan yang menuntut kepatuhan atas egonya yang kemarin sempat kupermainkan. "Bukankah begitu, Mas? Kamu sendiri yang bilang kalau tanpa kamu pun, aku akan selalu baik-baik saja karena aku mandiri. Maka dari itu, surat pemisahan harta ini dibuat agar tidak ada kerancuan hak waris di masa depan antara anak kembarku dan calon anak-anakmu dari Sarah nanti. Ini demi kebaikan kita bersama, bukan?"

​Mas Hanif menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun dengan cepat. Di depan ibu kandungnya dan di depan calon istri mudanya, egonya sebagai seorang pria mapan kini sedang dipertaruhkan. Jika dia menolak menandatangani surat itu sekarang, dia akan terlihat seperti seorang pria matre yang mengincar harta istri pertamanya, dan itu akan merusak narasi pernikahan suci karena ibadah yang sejak tadi dia agung-agungkan di depan Sarah.

​"Iya, Bu..." jawab Mas Hanif akhirnya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, tidak berani menatap mata ibunya sendiri. "Hanum... Hanum benar. Aset Amara Modest memang mutlak milik Hanum sejak sebelum pernikahan kita berkembang pesat. Mas... Mas tidak keberatan untuk menandatanganinya."

​"Hanif! Kamu bodoh ya?!" Ibu mertuaku kembali berteriak, wajah tuanya memerah menahan dongkol melihat anak laki-lakinya begitu mudah ditekuk oleh kata-kataku. "Kalau semua aset dipisah, lalu apa yang tersisa untukmu dan Sarah nanti?!"

​Aku langsung memotong kalimat Ibu mertuaku sebelum dia sempat menghasut Mas Hanif lebih jauh. Pandangan mataku kembali kuarahkan sepenuhnya pada Sarah, yang kini tampak duduk dengan tubuh yang semakin kaku.

​"Itulah mengapa saya bertanya tentang ketulusanmu sejak awal, Sarah," ucapku dengan nada bicara yang sangat santai, hampir menyerupai bisikan yang menusuk. "Setelah surat pemisahan harta itu ditandatangani minggu ini, maka Mas Hanif yang akan kamu nikahi minggu depan adalah seorang pria yang... secara hukum tidak memiliki hak sepeser pun atas rumah mewah, mobil sport di garasi, atau keuntungan dari Amara Modest. Ditambah lagi, saat ini pabrik manufaktur tekstil milik Mas Hanif sedang mengalami kendala finansial dan terlilit utang operasional yang cukup besar di bawah tanah."

​Aku menjeda kalimatku, membiarkan kenyataan pahit itu meresap ke dalam benak Sarah yang polos. "Jadi, Sarah... Mas Hanif yang akan kamu terima nanti adalah pria yang benar-benar memulai semuanya dari nol lagi. Dari bawah, bersama utang-utang pabriknya yang harus kamu bantu selesaikan lewat doa dan kesalehanmu. Kamu tidak akan menikmati rumah mewah, tidak akan ada uang bulanan puluhan juta dari rekening saya, dan tidak akan ada fasilitas kelas atas seperti yang selama ini dinikmati Mas Hanif."

​Kutatap mata Sarah dengan senyuman manis yang paling intimidatif. "Kamu tadi sudah berjanji di depan Allah dan di depan Ibu, bukan? Bahwa kamu ikhlas menerima Mas Hanif dari nol dan siap hidup sederhana di rumah kecil sekalipun? Maka dari itu, tolong pegang teguh janjimu hari ini, ya? Jangan sampai setelah kalian menikah nanti, kamu mendadak mengeluh karena Mas Hanif-mu ini tidak sekaya yang kamu bayangkan."

​Sarah mematung di tempatnya berdiri. Wajah polosnya kini tampak sedikit pucat, dan bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan satu kata pembelaan pun. Jebakan kata-kata yang kususun telah mengunci mati pergerakannya. Jika dia menarik kembali kalimatnya sekarang, dia akan dicap sebagai wanita matre yang kedok kesalehannya terbongkar di depan Mas Hanif dan Ibu mertuaku. Namun jika dia tetap melanjutkan pernikahan ini, dia harus siap menghadapi kenyataan pahit bahwa dia benar-benar akan hidup menderita bersama seorang pria yang sebentar lagi akan kubuat bangkrut tanpa sisa.

​Ibu mertuaku menatap Sarah dengan pandangan menuntut, menanti calon menantu kesayangannya itu untuk mengeluarkan kalimat pembelaan yang cerdas. Namun Sarah hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung jilbab instannya dengan rasa frustrasi yang teramat sangat di dalam hati. Dia tidak pernah menyangka bahwa istri pertama yang dia kira akan menangis histeris memohon suaminya kembali, justru datang sebagai malaikat pencabut nyawa bagi seluruh ambisi finansial tersembunyinya.

​Aku bangkit dari sofa beludru itu dengan gerakan yang sangat anggun, merapikan kembali lipatan blazer hitamku yang tanpa noda. Aku memandang mereka bertiga dari atas dengan tatapan kemenangan yang dingin mutlak.

​"Karena semuanya sudah jelas dan Sarah juga sudah berjanji untuk menerima Mas Hanif apa adanya dari nol, maka saya rasa pertemuan sore ini sudah selesai," ucapku dengan suara yang begitu merdu dan tenang.

​Aku menatap Mas Hanif yang masih duduk terpaku dengan wajah kuyu. "Mas, besok jam sembilan pagi, Pak Baskoro akan datang ke rumah kita membawa draf resmi perjanjian pasca-nikah itu. Pastikan kamu ada di rumah untuk menandatanganinya sebelum kamu mempersiapkan pernikahan sirimu dengan Sarah minggu depan."

​Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku berbalik dan melangkah meninggalkan ruang tamu mewah itu dengan langkah kaki yang konstan dan berwibawa. Di setiap derap langkahku menuju pintu keluar, logikaku menari-nari dalam kepuasan yang dingin.

​Mereka mengira mereka bisa bertindak semena-mena memanfaatkan kepergian Papa ke luar negeri untuk melangsungkan pernikahan pengkhianatan ini? Silakan saja. Menikahlah di atas penderitaan palsu kalian. Ikatlah diri kalian dalam janji suci yang sebentar lagi akan berubah menjadi tali gantungan yang mematikan bagi masa depan finansial kalian.

​Aku, Hanum, akan memastikan bahwa kalian berdua mendapatkan persis apa yang kalian janjikan sore ini sebuah kehidupan dari bawah, dari nol, di mana tidak akan ada lagi sisa kejayaan yang pernah kubagi bersama pria pengkhianat itu. Selamat datang di dalam neraka kemiskinan yang kalian ciptakan sendiri dengan dalil ibadah, Mas Hanif dan Sarah. Mari kita lihat seberapa lama cinta dan kesalehan palsu kalian akan bertahan saat seluruh kemewahan hidup ini kutarik habis tanpa sisa.

Terpopuler

Comments

juwita

juwita

sarah mau krn hanif ky. klo kere mah mana mau dia. skrg dia mau krn terjebak omongan dia sendiri. mau menemani hanif dr nol. kop leugleug tah laki" cm modal mokondo doang skrg🤣🤣🤣

2026-08-02

2

Loly Askhara

Loly Askhara

Keren badas Hanum, mati kutu tuh si Hanif, Bumer toxic dan si Pelakor Syar'i Sarah seperti memakan buah simalakama mundur kena maju pun kena.

2026-08-22

0

YuWie

YuWie

woww..kupikir kau akan diam2 Num..ternyata kau seterbuka itu menerangkan secara gamblang apa ituu mulai dari Nol

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
2 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
3 DENDAM ISTRI YANG DIMADU
4 DENDAM ISTRI YANG DIMADU
5 DENDAM ISTRI YANG DIMADU
6 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
7 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
8 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
9 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
10 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
11 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
12 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
13 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
14 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
15 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
16 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
17 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
18 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
19 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
20 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
21 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
22 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
23 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
24 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
25 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
26 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
27 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
28 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
29 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
30 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
31 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
32 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
33 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
34 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
35 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
36 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
37 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
38 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
39 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
40 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
41 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
42 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
43 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
44 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
45 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
46 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
47 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
48 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
49 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
50 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
51 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
52 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
53 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
54 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
55 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
56 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
57 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
58 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
59 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
60 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
61 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
62 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
63 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
64 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
65 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
66 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
67 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
68 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
69 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
70 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
71 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
72 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
73 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
74 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
75 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
76 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
77 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
78 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
79 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
80 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
81 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
82 DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Episodes

Updated 82 Episodes

1
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
2
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
3
DENDAM ISTRI YANG DIMADU
4
DENDAM ISTRI YANG DIMADU
5
DENDAM ISTRI YANG DIMADU
6
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
7
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
8
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
9
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
10
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
11
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
12
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
13
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
14
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
15
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
16
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
17
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
18
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
19
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
20
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
21
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
22
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
23
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
24
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
25
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
26
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
27
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
28
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
29
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
30
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
31
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
32
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
33
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
34
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
35
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
36
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
37
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
38
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
39
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
40
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
41
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
42
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
43
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
44
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
45
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
46
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
47
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
48
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
49
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
50
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
51
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
52
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
53
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
54
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
55
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
56
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
57
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
58
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
59
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
60
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
61
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
62
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
63
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
64
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
65
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
66
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
67
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
68
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
69
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
70
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
71
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
72
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
73
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
74
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
75
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
76
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
77
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
78
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
79
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
80
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
81
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
82
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!