Kontak Baru dan Debaran yang Tertinggal

Setelah puas basah-basahan, rasa dingin mulai menyergap kulit. Sebelum benar-benar menyudahi sesi main air, Karin tiba-tiba teringat sesuatu.

"Eh, fotoin Tante dulu dong!" seru Karin sambil menoleh ke arah keponakannya.

Reza yang baru naik ke daratan langsung menyahut, "Pake HP Arvin aja, Tan. Kamera HP-nya bagus banget, sering buat foto-foto estetik gitu."

"Oh, ya?" Karin beralih menatap Arvin dengan mata berbinar.

Arvin mengangguk pelan. "Iya, Tan. Pake HP gue aja."

"Ya udah, sana ambil terus fotoin Tante, ya," pinta Karin riang.

Arvin pun beranjak menuju batu besar tempat tas mereka diletakkan untuk mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama, cowok itu sudah kembali dan mulai mengarahkan kamera ke arah Karin. Cekrek. Cekrek. Arvin mengambil beberapa foto Karin dengan berbagai pose. Lewat kamera ponselnya, Arvin bisa melihat bagaimana senyum lepas Karin berpadu sempurna dengan latar belakang air terjun yang megah.

"Udah, ayo makan! Biar gak masuk angin," ajak Reza setelah sesi foto selesai.

Mereka akhirnya naik kembali ke area warung-warung kecil di pinggir curug. Dengan pakaian yang masih basah kuyup, mereka duduk di bangku kayu panjang. Hampir semuanya memesan mi instan rebus untuk menghangatkan tubuh. Namun, saat memesan minuman, Karin memilih susu jahe hangat, pilihan yang ternyata sama persis dengan yang dipesan oleh Arvin.

Karin kemudian menggeser duduknya, mengambil posisi tepat di sebelah Arvin. "Gimana fotonya? Bagus gak?" tanya Karin penasaran.

"Bagus," jawab Arvin singkat sambil menyalakan layar ponselnya dan memperlihatkan hasil jepretannya tadi.

Karin mendekat, ikut melihat layar ponsel Arvin. Jarak yang tipis membuat Arvin bisa mencium sisa wangi sampo dari rambut basah Karin. Karin menggeser beberapa foto dan tersenyum puas. "Wah, keren banget hasilnya! Puas deh. Kirim ke nomor Tante, ya."

Mendengar kalimat itu, Arvin sempat terpaku beberapa saat. Kirim ke nomornya? Berarti gue bakal punya nomor WhatsApp Karin?

Mencoba bersikap biasa saja, Arvin mengangguk lalu menyerahkan ponselnya agar Karin bisa mengetikkan nomor teleponnya sendiri. Setelah kontak baru dengan nama 'Tante Karin' itu tersimpan, Arvin langsung mengirimkan semua foto tadi lewat aplikasi pesan.

Sementara Karin dan Arvin sibuk dengan ponsel, di sudut bangku yang lain, Bima menyenggol lengan Reza sambil berbisik penuh selidik. "Ja, mungkin gak sih kalau si Arvin ini suka sama tante lo?"

Reza langsung mendengus geli. "Gak mungkin lah! Dia kan anti cewek banget di sekolah. Gak pernah mau nanggepin cewek."

"Eh, tapi tante lo beda, Ja," sahut Bima lagi, matanya mencuri pandang ke arah Karin. "Tubuhnya udah bukan tubuh anak sekolahan yang masih kecil. Matang banget. Gue aja mau punya cewek modelan kayak tante lo."

"Lo-nya aja yang mesum!" potong Fino cepat, yang langsung diangguki setuju oleh Dito. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu.

Di sisi lain, Arvin sama sekali tidak mendengar bisikan teman-temannya karena fokus oleh hal lain. Posisi duduk Karin yang agak condong ke arahnya membuat belahan dada wanita itu sedikit mengintip dari balik tank top hitamnya yang basah. Pemandangan sedekat itu seketika membuat Arvin menelan ludah dengan susah payah, dadanya bergemuruh hebat hingga dia buru-buru mengalihkan pandangan ke layar ponsel.

"Udah semua terkirim. Kamu bisa hapus foto-fotonya dari HP kamu," ucap Karin membuyarkan lamunan Arvin.

Arvin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Tepat setelah itu, Karin tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengacak-ngacak rambut Arvin dengan gemas.

"Makasih ya, Arvin," ucap Karin manis, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah menuju pemilik warung untuk membeli camilan tambahan.

Sentuhan ringan di rambutnya itu seperti menyengat tubuh Arvin. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada biasanya. Arvin kembali menatap layar ponselnya yang masih menampilkan galeri foto Karin. Jarinya bergerak lambat, menggeser beberapa foto wajah Karin yang sedang tersenyum lebar di curug tadi.

Alih-alih menuruti ucapan Karin untuk menghapusnya, Arvin justru memencet tombol home dan mengunci ponselnya. Sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menghapus satu pun foto wanita itu dari sana.

Di tengah kepulan asap mi instan yang hangat, Dito membuka obrolan baru sambil menatap Karin dengan penasaran. "Tante, kalau boleh tahu... kerjanya apa sih?"

Karin menelan kunyahan mi instan di mulutnya lalu menjawab santai, "Tante nulis cerita, sama kerja freelance di web gitu."

"Oh, berarti kerjanya dari rumah dong, Tan?" timpal Fino yang duduk di ujung bangku. Karin mengangguk mengiyakan sambil meraih sepotong roti bakar yang baru dihidangkan pemilik warung.

"Kalau... pacar Tante gimana?"

Pertanyaan random dari Bima itu seketika membuat suasana meja makan mendadak hening. Semua anak cowok di sana langsung menoleh serentak ke arah Bima dengan tatapan horor. Merasa dipandangi seperti itu, Bima langsung gelagapan membela diri, "Ya... ya kan ini weekend. Tante malah main sama anak-anak SMA kayak kita, siapa tahu pacar Tante nanti marah, kan?"

Reza yang duduk tepat di samping Bima langsung menyenggol keras lengan temannya itu dengan tatapan tajam. “Ngapain sih lo nanya-nanya privasi tante gue?” bisiknya.

Bukannya marah, Karin justru terkekeh geli melihat kepanikan anak-anak remaja di depannya. "Gak ada pacar, kok. Makanya Tante bebas bisa main sama kalian hari ini."

"Padahal Tante cantik banget, lho," sahut Dito polos, jujur dari lubuk hatinya.

Mendengar pujian itu, Karin tiba-tiba membuka kamera depan ponselnya. “Ah…” Dia mendadak menutup kedua matanya dengan tangan, berlagak terkejut dan syok yang membuat anak-anak itu sempat panik.

Namun sedetik kemudian, Karin membuka pelan telapak tangannya sambil menatap layar ponsel, lalu bergumam kagum pada dirinya sendiri, "Ah... iya, ternyata cantik banget aku ini."

Uhuk!

Fino, Dito, dan Bima seketika terkekeh melihat tingkat kepedean Karin yang di luar dugaan. Sementara itu, Arvin yang duduk di sebelahnya hanya menyunggingkan senyum tipis, merasa terhibur dengan sisi humoris dan narsis wanita dewasa tersebut.

Reza langsung menepuk jidatnya sendiri, malu dengan kelakuan tantenya. "Dih, narsis banget jadi orang!"

Karin mengerucutkan bibirnya sambil merapikan rambutnya yang setengah basah dengan jemari tangan. "Apaan? Bener kata temenmu, Tante ini emang cantik."

"Dah ah, lain kali gue gak mau ajak lo lagi. Malu-maluin!" gerutu Reza ketus.

Karin langsung mencubit pelan lengan keponakannya itu. "Eh, kok gitu sih ngomongnya ke Tante sendiri?" protes Karin yang disambut tawa renyah dari teman-teman Reza, termasuk Arvin yang diam-diam makin terpesona dengan sifat Karin yang apa adanya.

Setelah puas mengisi perut dan mengeringkan badan sebentar, matahari di langit curug mulai bergerak naik. Anak-anak remaja itu mulai berkemas untuk bersiap pulang.

Saat berjalan menuju tempat parkir motor, Karin mendadak menghentikan langkahnya dan meregangkan kedua tangannya ke atas. Efek berkendara pagi tadi ditambah main air seharian ternyata langsung membuat otot-ototnya terasa kaku.

"Ja, bawain motor Tante dong. Tante males nyetir, nih, pegel," pinta Karin sambil menyodorkan kunci motor matic-nya ke arah sang keponakan.

Reza yang sedang memakai jaket langsung menggelengkan kepala cepat. "Gak ah! Gak mau nyetir. Males."

"Gue aja, Tan, yang bawa motornya," sahut Fino tiba-tiba, menawarkan diri dengan semangat.

"Nah, iya! Lo aja yang bawa motor Tante gue, No," potong Reza cepat, langsung menyusun strategi posisi pulang agar dia bisa bersantai. "Jadi biar gue boncengan sama Bima aja ya. Tante sama si Arvin aja tuh, pegel juga kalau gue musti duduk di belakang Arvin terus."

Karin hanya bisa menghela napas pasrah melihat keponakannya yang tidak mau direpotkan itu. "Ya udah deh, iya," jawab Karin mengiyakan.

Arvin yang sejak tadi diam langsung berjalan mendekati motor sport-nya. Dia menaiki motor tersebut, menyalakan mesin yang langsung menderu halus, lalu menoleh ke arah Karin yang sedang bersiap untuk naik ke jok belakang.

Karena model jok belakang motor sport Arvin cukup tinggi dan menungging, Karin agak kesulitan untuk menyeimbangkan badannya. Kedua telapak tangan Karin langsung bertumpu dan memegang erat kedua bahu tegap Arvin sebagai pegangan.

Merasakan sentuhan tiba-tiba di bahunya, tubuh Arvin sempat menegang sedetik. Dia mencengkeram stang motornya lebih kuat, mencoba menahan debaran dadanya yang kembali berulah.

Arvin sedikit melirik dari kaca spion, memastikan Karin sudah duduk dengan posisi yang nyaman di belakangnya.

"Hati-hati, Tan," ucap Arvin lembut dengan suara ngebasnya, memperingatkan sebelum dia mulai menarik gas motornya perlahan membelah jalanan pulang.

Terpopuler

Comments

SANG

SANG

Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/

2026-07-16

0

❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy

❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy

pasti semua penasaran. apakah karin punya pacar

2026-07-21

1

Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)

Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)

karin ingat umur rin

2026-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 Tamu Pagi Hari
2 Jaga Mata Lo
3 Kontak Baru dan Debaran yang Tertinggal
4 Genggaman di Puncak Bukit
5 Pembicaraan di Puncak Bukit
6 Hujan dan Rumah yang Sepi
7 Dibawah Temaram Lampu
8 Godaan Pagi Hari
9 Wallpaper Khusus
10 Sabtu yang dinanti
11 Rating 18+
12 Gue suka sama lo, Tan
13 Sensasi yang terlupakan
14 Dress pantai tanpa lengan
15 Seperti keluarga kecil
16 Modus di atas motor
17 Sisi gelap rumah mewah
18 Boleh aku tinggal di rumah tante?
19 Janda matamu!
20 Dekapan penyembuh luka
21 Boleh lebih dari ini, Tante?
22 Rebut kalau bisa!
23 Tante kok gak manggil gue sayang?
24 Barang terlarang di tas Bima
25 Lo suka sama tante gue?
26 Kalau iya, kenapa?
27 Tampar gue kalau lo gak setuju
28 Lima tahun, tungguin gue
29 Jangan dimarahin ya, Tan
30 Tante gak lagi nungguin Arvin, kan?
31 Jelasin apa lagi, vin?
32 Sekarang aku udah dewasa, Tan
33 Boleh aku tidur di sini, Tante?
34 Iya, Sayang
35 Tante mau gak jadi pacar aku?
36 Aku mau tidur bareng Tante lagi
37 Sayang, kenapa?
38 Karin, kamu sudah tidur?
39 Pelan-pelan saja, Karin...
40 Hubungan kita cukup sampai di sini
41 Pulang lebih awal
42 Tante habis dari LA?
43 Pelampiasan
44 Siapa bilang ga ada yang mau?
45 Siapa sangka dia direkturnya
46 kak Arvin nikah saja dengan tante Karin
47 Biar bisa lupain kamu
48 Pertahanan runtuh total
49 kepergok di atas pangkuan
50 Gue tau kalian suka dari dulu
51 Undangan makan malam
52 wanita berambut pirang
53 Cemburu buta
54 Katanya cuma mau peluk
55 Mau main lagi
56 Pria Jepang di depan kasir
57 Kapan kalian nikah?
58 Kenapa belum melamarnya?
59 Waktuku cuma buatmu
60 Jangan berpikir untuk pergi lagi
61 Dia Tante dari temanku
62 Dia adalah calon istri saya
63 Kalau kamu pergi, aku tidur sama siapa?
64 Pagi-pagi udah kdrt
65 Wajahnya sama persis dengan di foto
66 Bukan urusan ranjang
67 Pintu yang terbuka kembali
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Tamu Pagi Hari
2
Jaga Mata Lo
3
Kontak Baru dan Debaran yang Tertinggal
4
Genggaman di Puncak Bukit
5
Pembicaraan di Puncak Bukit
6
Hujan dan Rumah yang Sepi
7
Dibawah Temaram Lampu
8
Godaan Pagi Hari
9
Wallpaper Khusus
10
Sabtu yang dinanti
11
Rating 18+
12
Gue suka sama lo, Tan
13
Sensasi yang terlupakan
14
Dress pantai tanpa lengan
15
Seperti keluarga kecil
16
Modus di atas motor
17
Sisi gelap rumah mewah
18
Boleh aku tinggal di rumah tante?
19
Janda matamu!
20
Dekapan penyembuh luka
21
Boleh lebih dari ini, Tante?
22
Rebut kalau bisa!
23
Tante kok gak manggil gue sayang?
24
Barang terlarang di tas Bima
25
Lo suka sama tante gue?
26
Kalau iya, kenapa?
27
Tampar gue kalau lo gak setuju
28
Lima tahun, tungguin gue
29
Jangan dimarahin ya, Tan
30
Tante gak lagi nungguin Arvin, kan?
31
Jelasin apa lagi, vin?
32
Sekarang aku udah dewasa, Tan
33
Boleh aku tidur di sini, Tante?
34
Iya, Sayang
35
Tante mau gak jadi pacar aku?
36
Aku mau tidur bareng Tante lagi
37
Sayang, kenapa?
38
Karin, kamu sudah tidur?
39
Pelan-pelan saja, Karin...
40
Hubungan kita cukup sampai di sini
41
Pulang lebih awal
42
Tante habis dari LA?
43
Pelampiasan
44
Siapa bilang ga ada yang mau?
45
Siapa sangka dia direkturnya
46
kak Arvin nikah saja dengan tante Karin
47
Biar bisa lupain kamu
48
Pertahanan runtuh total
49
kepergok di atas pangkuan
50
Gue tau kalian suka dari dulu
51
Undangan makan malam
52
wanita berambut pirang
53
Cemburu buta
54
Katanya cuma mau peluk
55
Mau main lagi
56
Pria Jepang di depan kasir
57
Kapan kalian nikah?
58
Kenapa belum melamarnya?
59
Waktuku cuma buatmu
60
Jangan berpikir untuk pergi lagi
61
Dia Tante dari temanku
62
Dia adalah calon istri saya
63
Kalau kamu pergi, aku tidur sama siapa?
64
Pagi-pagi udah kdrt
65
Wajahnya sama persis dengan di foto
66
Bukan urusan ranjang
67
Pintu yang terbuka kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!