BAB 4: Pemimpin dalam Kekacauan

Dinding partisi yang naik dari bawah lantai tidak hanya memutus pandangan, melainkan juga menelan seluruh suara. Di dalam bilik isolasi yang sempit itu, atmosfer mendadak berubah menjadi kedap dan dingin. Cahaya biru safir memancar dari permukaan meja, menerangi wajah setiap peserta yang kini hanya bisa mengandalkan isi kepala mereka sendiri.

“Tahap Kedua: Simulasi Kepemimpinan dalam Situasi Krisis,” suara asisten virtual bergema langsung melalui sepasang headphone konduksi tulang yang otomatis aktif di pelipis mereka. “Kalian telah dimasukkan ke dalam ruang komunikasi virtual acak yang terdiri dari lima peserta. Identitas kalian disamarkan menjadi Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan Epsilon. Waktu kalian tiga puluh menit untuk menyelesaikan krisis tanpa melanggar batas etika minimum.”

Di layar meja Keisya, sebuah skenario rumit langsung terbentang.

Skenario: Sebuah kota satelit fiktif sedang dihantam badai siber yang melumpuhkan sistem navigasi reaktor nuklir lokal. Dalam waktu dua puluh menit, reaktor akan mengalami meltdown. Ada dua pilihan evakuasi: mengalihkan radiasi ke zona pemukiman kumuh berpenduduk padat untuk menyelamatkan pusat kendali kota, atau mengunci reaktor dengan konsekuensi mengorbankan seluruh tim teknisi di dalam gedung yang berjumlah lima puluh orang.

Layar di hadapan Keisya langsung dipenuhi oleh indikator grafik yang bergerak kacau, disertai dengan saluran audio tim yang mendadak bising oleh kepanikan.

"Kita harus korbankan teknisinya! Lima puluh orang lebih sedikit dibanding satu kota!" suara dari kode peserta Beta terdengar tinggi dan panik.

"Tapi itu pelanggaran hak asasi! Kalau yayasan menilai etika, kita langsung gugur!" potong Gamma tidak kalah histeris.

Keisya menarik napas dalam-dalam. Matanya dengan cepat memindai angka-angka statis, laju penyebaran radiasi, dan kecepatan enkripsi sistem yang jebol. Di saat anggota timnya yang lain mulai saling berteriak dan menyalahkan, Keisya menekan tombol interupsi utama pada layarnya, mengambil alih kendali audio.

"Diam dan dengarkan aku," suara Keisya terdengar begitu tenang, jernih, namun memiliki otoritas yang mutlak. "Debat moral tidak akan menghentikan hitung mundur ini. Beta, kamu fokus pada kalkulasi waktu evakuasi perimeter luar jika kita memilih opsi kedua. Gamma, cari tahu apakah ada celah manual untuk menurunkan batang kendali reaktor tanpa lewat jaringan siber. Aku yang akan menghitung algoritma enkripsinya. Kita punya waktu dua puluh menit, dan aku tidak berencana gagal di sini karena kepanikan kalian."

Kekuatan vokal dan ketegasan Keisya seketika membungkam ruangan virtual itu. Efisiensi komunikasinya membuat anggota tim yang semula buta arah mulai bergerak seperti roda gigi yang saling bertautan. Keisya tidak hanya memimpin; ia mendikte ritme permainan.

Sementara itu, di bilik yang berbeda, Atharva menghadapi skenario yang sama persis. Namun, saluran komunikasi virtualnya justru sunyi senyap.

Nama samaran Atharva adalah Delta. Di jalurnya, peserta Alpha dan Beta sedang sibuk berargumen dengan ego yang tinggi, saling berebut untuk menjadi ketua tim agar mendapat poin kepemimpinan tertinggi dari sistem.

Atharva sama sekali tidak menyalakan mikrofonnya. Ia memilih menyandarkan punggung, membiarkan kebisingan itu menjadi latar belakang, sementara matanya fokus pada hal lain yang luput dari perhatian rekan-rekan timnya. Ia tidak melihat simulasi ini sebagai masalah moral atau pilihan sulit.

Bagi Atharva, simulasi ini adalah sebuah program komputer dengan parameter yang pasti.

Jemari Atharva mulai bergerak di atas layar, menyusun baris demi baris logika matematika murni. Ia mengabaikan dua pilihan ekstrem yang disodorkan oleh sistem. Mengapa harus memilih antara mengorbankan warga atau teknisi, jika esensi dari krisis ini adalah badai siber itu sendiri?

Atharva membedah kode sumber dari virus fiktif yang melumpuhkan reaktor. Hanya dalam waktu delapan menit, ia berhasil menemukan sebuah fungsi invers yang sengaja disembunyikan oleh pembuat soal di dalam baris kode terdalam. Jika fungsi ini diaktifkan, sistem reaktor akan melakukan total, mematikan ancaman tanpa harus mengorbankan siapa pun.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tanpa koordinasi yang bertele-tele, Atharva mengeksekusi strategi diamnya. Ia memasukkan rumus invers tersebut ke dalam pusat data simulasi.

BZZZ.

Di layar tim Atharva, indikator krisis tiba-tiba berubah menjadi hijau. Angka hitung mundur berhenti di menit ke-twelve.

"Lho? Kok krisisnya selesai? Siapa yang melakukan ini?!" suara terdengar kebingungan di saluran audio.

Atharva tetap diam, lalu menekan tombol dari simulasi. Baginya, tugasnya sudah selesai. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di depan mikrofon, melainkan siapa yang mampu membawa tim keluar dari badai dengan korban paling minimal.

Di ruang kontrol utama, Profesor Adrian menatap layar pemantau dengan ketertarikan yang semakin besar. Di layar sebelah kiri, Keisya berhasil menyelesaikan simulasi dengan efisiensi komunikasi tertinggi, menyelamatkan kota dengan tingkat akurasi koordinasi mencapai 96%. Di layar sebelah kanan, Atharva menyelesaikan krisis lebih cepat tanpa mengucapkan satu kata pun, memanipulasi sistem simulasi itu sendiri.

"Dua metode yang bertolak belakang," gumam Profesor Adrian, jemarinya mengetuk dagu. "Yang satu mengendalikan manusia, yang satu mengendalikan sistem."

Ketika waktu tiga puluh menit berakhir, dinding partisi pembatas kembali turun secara otomatis. Cahaya benderang aula kembali menyala, membuat beberapa peserta mengerjapkan mata karena silau.

Keisya segera menoleh ke belakang, instingnya langsung mengarah pada posisi Atharva. Ia melihat pemuda itu sedang membersihkan layar mejanya yang sedikit berdebu dengan ujung lengan jaketnya, tampak begitu santai seolah baru saja menyelesaikan permainan arkade sederhana.

Rasa penasaran yang besar mulai merayap di dada Keisya. Gadis itu tahu, untuk bisa bertahan dan mengungkap misteri kematian ayahnya di Nexus Academy, ia harus memahami siapa saja ancaman terbesar di ruangan ini. Dan sejauh ini, Atharva Mahendra adalah teka-teki terbesar yang belum bisa ia pecahkan.

Di sisi lain, Atharva yang merasakan tatapan tajam itu, perlahan mengalihkan pandangannya ke depan. Mata mereka kembali bertemu. Kali ini, bukan lagi sekadar tatapan persaingan nilai, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa di tengah ratusan jenius di aula ini, mereka telah menandai satu sama lain sebagai orang yang harus diwaspadai.

...****************...

Di baris ketiga dari belakang, Nareswara tampak meregangkan otot-otot lehernya hingga berbunyi. Di ruang virtualnya tadi, ia menggunakan nama Epsilon. Bukannya memimpin dengan pidato, Nareswara justru memilih memanipulasi hak akses audio rekan-rekan timnya yang terlalu berisik. Setiap kali ada yang mulai panik dan berteriak tak jelas, Nareswara dengan tega menekan tombol pada panel virtualnya dan mengetikkan instruksi singkat lewat teks.

"Memimpin orang-orang panik itu melelahkan," gumam Nareswara sambil melirik ke arah Gavin yang duduk tak jauh darinya.

Gavin sendiri tampak tenang. Di timnya, ia langsung memotong pembicaraan di detik pertama dengan menyodorkan kalkulasi fisika murni mengenai laju penyebaran radiasi. Dingin dan absolut. Timnya patuh bukan karena Gavin pandai merangkai kata, melainkan karena angka-angka yang dilemparkan Gavin ke dalam forum tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.

Sementara itu, napas Nabila masih tersengal-sengal di biliknya. Di timnya, ia mendapatkan peran Gamma. Ia tidak berhasil menjadi pemimpin utama posisi itu direbut oleh seorang anak laki-laki ambisius dari faksi sekolah internasional. Namun, Nabila menjadi satu-satunya orang yang berhasil mempertahankan kewarasan tim ketika dua anggota lainnya mulai menangis hystoris karena waktu yang menyusut. Dengan suara yang gemetar namun tulus, Nabila terus membacakan data manual evakuasi, memastikan tidak ada langkah teknis yang terlewat. Ia tidak memimpin di depan, melainkan menyangga timnya dari bawah agar tidak runtuh.

Peringkat Sementara: 520.

Nabila melihat namanya naik beberapa baris di layar utama yang kini memperbarui data. Ia masih hidup di kompetisi ini, meskipun energinya sudah terkuras hampir habis.

"Hei, kamu hebat juga tadi," Dimas tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik sekat meja yang baru saja turun. Wajah Dimas terlihat jauh lebih segar dibanding babak pertama. "Aku tadi kebagian tim yang isinya orang-orang keras kepala semua. Akhirnya kupakai taktik pasrah: kubiarkan mereka berantem, lalu pas mereka buntu, aku masuk bawa solusi tengah-tengah sambil bercanda. Ternyata sistem Nexus menghargai fungsi penengah." Nama Dimas melesat ke peringkat 350.

Keisya tidak memedulikan keriuhan di sekitarnya. Langkah kakinya bergerak tegas menyusuri koridor antar-meja, berjalan lurus menuju barisan belakang tempat Atharva berada. Beberapa peserta lain termasuk Raka yang sejak tadi mengamati pergerakan orang-orang potensial langsung mengalihkan perhatian mereka pada interaksi kedua orang di puncak itu.

"Delta," Keisya berhenti tepat di depan meja Atharva, menyebutkan nama kode yang ia tebak digunakan oleh pemuda itu berdasarkan log penyelesaian krisis tercepat di layar utama. "Kamu tidak menyentuh saluran audio sama sekali, kan?"

Atharva yang sedang melipat kartu pesertanya menjadi dua bagian simetris, mendongak. "Memangnya wajib?"

"Sistem penilaian simulasi ini mengukur indeks komunikasi verbal sebanyak tiga puluh persen," Keisya bertopang kegigihan pada tepi meja Atharva, menatapnya dengan pandangan menuntut jawaban. "Dengan memilih diam, kamu sengaja membuang tiga puluh persen nilai itu. Tapi skormu tetap sempurna karena kamu menghancurkan struktur krisisnya dari dalam. Kamu... tahu struktur kode itu dari mana?"

Atharva memasukkan kartu pesertanya ke dalam saku. Pertanyaan Keisya terlalu spesifik, membuktikan bahwa gadis ini juga mengerti tentang pemrograman atau setidaknya mampu membaca log aktivitas sistem dengan sangat baik.

"Aku tidak tahu," jawab Atharva tenang, suaranya sedatar permukaan air di dalam gelas. "Aku hanya melihat polanya. Jika ada pintu yang dikunci dengan dua pilihan kunci yang sama-sama merusak, biasanya ada engsel yang longgar di bagian belakang. Aku hanya melepas engselnya."

Keisya tertegun sejenak mendengar analogi itu. Sederhana, namun mengerikan jika diterapkan dalam kalkulasi real-time di bawah tekanan waktu. Before Keisya sempat menguliti isi kepala Atharva lebih dalam, lantai aula kembali bergetar pelan.

Di atas podium, Profesor Adrian maju satu langkah mendekati mikrofon. Ekspresi wajahnya yang kaku tidak menunjukkan kepuasan sedikit pun, meskipun enam ratus remaja di hadapannya baru saja melakukan keajaiban-keajaiban logika yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang dewasa.

"Dua tahap telah selesai," suara Profesor Adrian menggema, memotong seluruh konfrontasi dan bisik-bisik di dalam ruangan. "Tiga ratus dua puluh dari kalian telah membuktikan bahwa kalian memiliki otak yang cukup cepat untuk tidak mati di hari pertama. Dan bagi dua ratus delapan puluh sisanya... silakan angkat barang-barang kalian. Lampu merah kalian akan menyala dalam tiga detik."

BZZZ—

Gelombang warna merah kembali menyapu separuh aula. Kali ini tidak ada lagi suara tangisan yang keras; yang tersisa hanyalah kelelahan yang teramat sangat dan kepasrahan. Separuh dari pasukan elite itu kembali disaring tanpa ampun.

Di bawah sisa pencahayaan yang kini menyisakan tiga ratus dua puluh kursi berlampu hijau, Atharva melirik kembali ke sudut bawah layarnya yang mulai meredup untuk bersiap ke tahap berikutnya. Di sana, sebelum sistem benar-benar melakukan refresh, berbentuk segitiga terbalik itu berkedip sekali lagi, seolah-olah sedang menertawakan perjuangan keras para remaja yang berpikir mereka sedang bertarung demi masa depan, tanpa tahu bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih besar.

Episodes
1 BAB 1: Gerbang 1%
2 BAB 2: Waktu yang Tak Pernah Cukup
3 BAB 3: Mereka yang Pulang Lebih Awal
4 BAB 4: Pemimpin dalam Kekacauan
5 BAB 5: Orang Asing Bernama Artharva
6 BAB 6: Keinginan yang Disembunyikan
7 BAB 7: 24 Jam
8 BAB 8: Retakan Pertama
9 BAB 9: Jawaban yang Salah
10 BAB 10: Peserta Nomor 417
11 BAB 11: Garis Tipis Kepercayaan
12 BAB 12: Strategi atau Pengkhianatan
13 BAB 13: Angka yang Tidak Masuk Akal
14 BAB 15: Di Balik Pintu Ruang Sidang
15 BAB 16: Nama-Nama yang Bertahan
16 BAB 17: Kota Veridian
17 BAB 18: Menara di Balik Kabut
18 BAB 19: Selamat Datang di Nexus
19 BAB 20: Elite One
20 BAB 21: Asrama Putra
21 BAB 22: Asrama Putri
22 BAB 23: Foto yang Hilang
23 BAB 24: Pertemuan Dua Peringkat Teratas
24 BAB 25: Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
25 BAB 26: Pagi Pertama Tanpa Bel
26 BAB 27: Papan Peringkat
27 BAB 28: Kelas Alpha
28 BAB 29: Aturan yang Tak Tertulis
29 BAB 30: Ketua Dewan Siswa
30 BAB 31: Pelajaran yang Mustahil
31 BAB 32: Infinity Library
32 BAB 33: Jejak Digital
33 BAB 34: Pertandingan Pertama
34 BAB 35: Senyum Vanessa
35 BAB 36: Surat Tanpa Nama
36 BAB 37: Tekanan dari Rumah
37 BAB 38: Pertarungan Kata
38 BAB 39: Lorong Timur
39 BAB 40: Hasil yang Berbeda
40 BAB 41: Luka Lama Gavin
41 BAB 42: Simulasi Malam
42 BAB 43: Orang yang Mengawasi
43 BAB 44: Klub Penelitian
44 BAB 45: Persahabatan yang Mulai Tumbuh
45 BAB 46: Nama Alvaro
46 BAB 47: Kelas yang Terbelah
47 BAB 48: Ujian Tanpa Jawaban
48 BAB 49: Rekaman Lama
49 BAB 50: Elite Tidak Pernah Tidur
50 BAB 51: Awal Semester yang Membunuh
51 BAB 52: Hak Istimewa Sang Juara
52 BAB 53: Zona Merah
53 BAB 54: Ujian Kolaborasi
54 BAB 55: Rumor Tentang Alumni
55 BAB 56: Luka di Balik Prestasi
56 BAB 57: Simulasi Bertahan Hidup
Episodes

Updated 56 Episodes

1
BAB 1: Gerbang 1%
2
BAB 2: Waktu yang Tak Pernah Cukup
3
BAB 3: Mereka yang Pulang Lebih Awal
4
BAB 4: Pemimpin dalam Kekacauan
5
BAB 5: Orang Asing Bernama Artharva
6
BAB 6: Keinginan yang Disembunyikan
7
BAB 7: 24 Jam
8
BAB 8: Retakan Pertama
9
BAB 9: Jawaban yang Salah
10
BAB 10: Peserta Nomor 417
11
BAB 11: Garis Tipis Kepercayaan
12
BAB 12: Strategi atau Pengkhianatan
13
BAB 13: Angka yang Tidak Masuk Akal
14
BAB 15: Di Balik Pintu Ruang Sidang
15
BAB 16: Nama-Nama yang Bertahan
16
BAB 17: Kota Veridian
17
BAB 18: Menara di Balik Kabut
18
BAB 19: Selamat Datang di Nexus
19
BAB 20: Elite One
20
BAB 21: Asrama Putra
21
BAB 22: Asrama Putri
22
BAB 23: Foto yang Hilang
23
BAB 24: Pertemuan Dua Peringkat Teratas
24
BAB 25: Pintu yang Tidak Boleh Dibuka
25
BAB 26: Pagi Pertama Tanpa Bel
26
BAB 27: Papan Peringkat
27
BAB 28: Kelas Alpha
28
BAB 29: Aturan yang Tak Tertulis
29
BAB 30: Ketua Dewan Siswa
30
BAB 31: Pelajaran yang Mustahil
31
BAB 32: Infinity Library
32
BAB 33: Jejak Digital
33
BAB 34: Pertandingan Pertama
34
BAB 35: Senyum Vanessa
35
BAB 36: Surat Tanpa Nama
36
BAB 37: Tekanan dari Rumah
37
BAB 38: Pertarungan Kata
38
BAB 39: Lorong Timur
39
BAB 40: Hasil yang Berbeda
40
BAB 41: Luka Lama Gavin
41
BAB 42: Simulasi Malam
42
BAB 43: Orang yang Mengawasi
43
BAB 44: Klub Penelitian
44
BAB 45: Persahabatan yang Mulai Tumbuh
45
BAB 46: Nama Alvaro
46
BAB 47: Kelas yang Terbelah
47
BAB 48: Ujian Tanpa Jawaban
48
BAB 49: Rekaman Lama
49
BAB 50: Elite Tidak Pernah Tidur
50
BAB 51: Awal Semester yang Membunuh
51
BAB 52: Hak Istimewa Sang Juara
52
BAB 53: Zona Merah
53
BAB 54: Ujian Kolaborasi
54
BAB 55: Rumor Tentang Alumni
55
BAB 56: Luka di Balik Prestasi
56
BAB 57: Simulasi Bertahan Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!