"Kenapa gue setega itu?" lirih Viana. Air mata terus mengalir di pipinya.
Bayangan Aura yang perlahan menghilang bersama arus sungai terus terulang di kepalanya.
"Dia satu-satunya sahabat yang dimiliki tubuh ini..." Viana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Gak!" teriak gadis itu sembari menggeleng. "Gue nggak boleh diam aja!"
Ia lalu berdiri meski tubuhnya masih gemetar akibat kelelahan.
"Gue bakal meminta bantuan warga sekitar. Bukannya mereka tinggal di sekitar sini ya? Mereka pasti tahu sesuatu tentang sungai ini. Gue harus pergi sekarang." Viana menarik napas panjang. "Gue yakin Aura masih bisa diselamatkan."
Baru saja hendak melangkah, matanya menangkap sesuatu di antara rerumputan.
Deg!
Seekor ular hitam yang sedang melingkar tenang di atas sebuah batu sambil menatap ke arahnya. Untuk beberapa saat, Viana hanya diam. Bukannya berlari ketakutan, ia malah berjongkok perlahan di hadapan reptil tersebut.
Tok.
Jari telunjuknya mengetuk pelan kepala sang ular.
"Gue butuh bantuan lo."
Anehnya, ular itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang. Ia justru mengangkat kepalanya sebelum berbalik dan mulai merayap menjauh. Tanpa membuang waktu, gadis itu segera mengikuti ular tersebut.
Mereka melewati semak belukar, jalan setapak, hingga area hutan yang semakin jarang ditumbuhi pepohonan. Kakinya terasa nyeri akibat berjalan tanpa henti, namun ia terus memaksa dirinya bergerak maju.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, beberapa rumah kayu mulai terlihat di kejauhan. Viana langsung menghela napas lega. Ular hitam itu berhenti di depan gerbang desa sebelum menghilang ke balik semak-semak.
"Terima kasih," gumam Viana pelan.
Viana menatap ke arah semak-semak tempat ular itu menghilang. Ternyata kemampuan menaklukkan ular masih ada. Bahkan di tubuh ini, ia masih bisa menggunakan kemampuan tersebut.
Namun sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Aura masih menunggunya. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari memasuki desa. Kedatangannya langsung menarik perhatian warga.
"Siapa itu?"
"Bukannya itu murid dari rombongan camping?"
"Dia kenapa?"
Warga-warga segera mendekatinya. Viana yang masih terengah-engah menatap mereka dengan mata memerah.
"Tolong..." ucapnya. "Sahabat saya terseret arus sungai terlarang."
Suasana desa yang semula ramai mendadak hening. Beberapa warga saling bertukar pandang. Ekspresi mereka perlahan berubah ketakutan.
Seorang pria paruh baya berjalan keluar dari kerumunan. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menunjukkan kewibawaan seorang pemimpin. Ia adalah kepala desa.
"Kau bilang sungai terlarang?" tanyanya serius.
Viana mengangguk cepat.
"Saya juga melihat sesuatu di sana. Sosok yang menyerupai manusia. Dia yang membawa sahabat ku."
Mendengar itu, wajah beberapa warga langsung memucat. Ada yang saling bertukar pandang. Bahkan ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Sementara kepala desa hanya terdiam. Tatapannya perlahan mengarah ke hutan di kejauhan.
"Bukankah aku sudah melarang kalian mendekati sungai itu?" tanyanya dengan nada berat.
"Kami tidak berniat ke sana, Pak. Aura dibully oleh teman-teman sekolah saya," ujar Viana sambil menundukkan kepalanya.
"Dibully?" Kepala desa mengernyit.
Viana mengangguk.
"Mereka mendorongnya ke sungai. Saya berusaha menolongnya, tapi..." suaranya mulai bergetar. "Saya juga ikut jatuh ke sungai. Saya berhasil menyelamatkan diri tapi tidak berhasil menyelamatkannya."
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Kepala desa menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya.
"Anak-anak zaman sekarang..." gumamnya pelan. Pandangannya kemudian tertuju pada pakaian Viana yang masih basah kuyup.
"Kau kedinginan. Mari ikut denganku."
"Tapi Aura—"
"Kau tidak akan bisa menolong siapa pun dalam kondisi seperti ini."
Viana terdiam. Pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pelan. Pak Kades kemudian membawanya menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari balai desa.
Rumah itu cukup sederhana namun terlihat terawat. Begitu memasuki rumah, seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu ruang tamu langsung menghampiri mereka.
"Ya ampun!" serunya kaget. "Anak ini kenapa?"
"Ia baru keluar dari sungai terlarang," jawab Pak Kades.
"Astaga... untung masih bisa keluar."
"Benar. Dia benar-benar diberikan kesempatan untuk hidup," ucap kepala desa.
"Apa maksudnya?" tanya Viana penasaran.
"Semua orang yang sudah masuk ke dalam sungai terlarang, tidak ada yang bisa keluar apalagi dalam keadaan selamat," jelas wanita itu.
"Lia, tolong carikan pakaian untuknya."
Wanita bernama Lia itu langsung mengangguk. "Tentu," sahutnya.
Beberapa menit kemudian, Lia kembali sambil membawa satu set pakaian milik putrinya.
"Kebetulan ukuran tubuh kalian hampir sama," ujarnya ramah.
"Tidak apa jika saya pakai Bu?" tanya Viana pelan.
"Tidak apa-apa Nak. Putri ibu juga sedang tidak ada di desa."
"Oh..." ucap Viana pelan.
Viana menerima pakaian itu dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian baru.
Ia mengenakan baju kaos putih yang pas di tubuhnya serta celana panjang berwarna gelap. Viana sempat menatap dirinya beberapa saat. Ternyata selera berpakaian putri Pak Kades tidak jauh berbeda dengannya.
Setelah merasa sedikit lebih nyaman, Viana kembali duduk di ruang tamu bersama Pak Kades dan Lia.
"Pak..." panggilnya pelan. "Apa Aura masih bisa diselamatkan?"
Pak Kades terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
"Nanti sore saya akan mengajak beberapa warga untuk mencarinya."
"Benarkah?" tanya Viana dengan mata yang langsung berbinar.
Pria itu mengangguk.
"Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa pun."
Harapan yang baru muncul di wajah Viana perlahan memudar.
"Saya ikut!" seru Viana.
"Jika hingga malam kami tidak menemukannya, maka pencarian akan dihentikan."
"Kenapa?" tanya Viana cepat.
Pak Kades dan Lia saling pandang. Ekspresi keduanya terlihat serius.
"Kau berhasil lolos dari sungai itu, bukan?" tanya Pak Kades.
Viana mengangguk.
"Itulah masalahnya."
Kening Viana langsung berkerut mendengar ucapan Pak Kades.
"Aku tidak mengerti."
Pak Kades menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Selama puluhan tahun, tidak pernah ada orang yang berhasil lolos setelah ditarik ke sungai itu."
Jantung Viana berdegup lebih cepat. "Maksud Bapak?"
"Jika dugaan kami benar, makhluk yang menyeret kalian ke sungai akan menyadari bahwa kau berhasil melarikan diri."
"Lalu?"
"Untuk malam ini, kau boleh tinggal di rumah kami." Pak Kades menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lalu besok?"
"Besok malam kau harus pindah."
"Pindah ke mana?"
"Ke rumah dukun desa."
Viana membeku. Lia yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Itu demi keselamatanmu."
"Keselamatanku?"
Wanita itu mengangguk pelan.
"Makhluk itu bisa saja datang mencarimu," ujar Lia pelan. "Bahkan ada kemungkinan ia dapat mengetahui keberadaanmu jika terus menerus berada di tempat yang sama."
Viana langsung menegang.
"Satu-satunya cara yang kami tahu adalah tinggal bersama dukun desa," jawab Pak Kades. "Dia akan menggunakan ilmunya untuk melindungimu. Jika makhluk itu benar-benar datang mencarimu, dia akan berusaha mengusirnya."
Wajah Viana sedikit memucat. Ia sudah mendengar kata Dukun sejak tadi. Entah kenapa kata itu terdengar menakutkan baginya. Seolah memahami apa yang sedang dipikirkannya, Lia tersenyum lembut.
"Jangan khawatir. Dia orang baik."
"Benarkah?"
"Tentu. Dia tidak akan mengganggumu," jawab Lia meyakinkan. "Sebaliknya, dia akan melindungimu."
Hening sejenak.
"Jadi selama ini warga desa tahu tentang makhluk itu?"
"Kami tahu cukup banyak untuk takut padanya," jawab Pak Kades pelan.
"Tapi kami tidak tahu cara mengalahkannya," timpal Lia.
"Kalau begitu kenapa sungai itu tidak ditutup saja?" tanya Viana.
"Kami sudah mencoba." Pak Kades menatap ke luar jendela. "Namun setiap kali kami mencoba menutup akses menuju sungai itu, selalu terjadi hal-hal aneh."
Viana terdiam.
"Karena itulah kami hanya bisa melarang siapa pun mendekatinya." Lia kemudian menatap gadis itu dengan wajah lembut. "Kau pasti lelah. Istirahatlah dulu."
"Tapi Aura..."
"Kami akan membangunkan mu sebelum kami berangkat mencarinya," ujar Pak Kades tegas. "Untuk saat ini, yang harus kau lakukan adalah menjaga dirimu sendiri."
Viana menunduk. Meski hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, ia tahu Pak Kades benar. Tubuhnya sudah mencapai batasnya. Jika ia memaksakan diri sekarang, ia tidak akan bisa membantu siapa pun.
"Terima kasih..." ucapnya pelan.
Pak Kades hanya mengangguk.
Sementara itu, jauh di dalam hutan, arus sungai terlarang masih terus mengalir seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa pun. Namun tak seorang pun menyadari bahwa di dasar sungai tersebut, sepasang mata perlahan terbuka. Dan mata itu sedang mencari seseorang yang berhasil lolos dari genggamannya.
...****************...
Menjelang sore, beberapa warga desa berkumpul di depan balai desa.
Sesuai janjinya, Pak Kades memimpin pencarian Aura. Mereka membawa beberapa peralatan sederhana. Meski sebagian warga terlihat takut, tidak ada yang tega membiarkan seorang gadis hilang begitu saja.
Viana tentu ikut. Sejak siang tadi, pikirannya terus dipenuhi rasa bersalah. Ia harus memastikan sendiri keadaan Aura. Rombongan mulai memasuki hutan dan menyusuri aliran sungai terlarang.
"Periksa area sekitar semak-semak!"
"Tolong lihat bagian hilir!"
"Jangan jalan sendiri!"
Beberapa warga mulai berpencar. Sementara itu, Viana berjalan di dekat Pak Kades sambil sesekali memanggil nama sahabatnya.
"Au!"
"Aura!"
"Lo di mana?!"
Suaranya menggema di antara pepohonan. Namun tidak ada jawaban. Semakin lama, wajah Viana semakin pucat. Bukan karena lelah, tetapi karena terlalu khawatir.
'Gimana kalau Aura benaran...
'Gak. Gak boleh!'
Ia menggeleng keras.
'Aura pasti masih hidup..Aura harus hidup.'
"AU! LO DI MANA?!" Teriaknya sekali lagi.
Kresek!
Tiba-tiba suara semak-semak bergerak terdengar tidak jauh dari mereka. Seluruh warga langsung membeku. Beberapa pria bahkan refleks mengangkat tongkat yang mereka bawa. Pak Kades langsung memasang wajah waspada.
"Kalian dengar itu?"
Kresek...
Kresek...
Suara itu semakin dekat. Jantung Viana berdegup kencang.
Semua orang menahan napas. Hingga akhirnya dua sosok muncul dari balik semak-semak. Mata Viana membelalak.
"Aura?!" Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari.
Bruk!
Tubuh Aura langsung dipeluk erat olehnya. Air mata Viana hampir jatuh saat itu juga.
"Aura! Lo nggak pa-pa?!"
Aura yang terlihat lelah hanya menggeleng pelan. Viana menghela napas lega. Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari ada seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang Aura. Seseorang yang sangat dikenalnya. Mata Viana langsung membelalak.
"Lo?!"
Aura refleks menoleh. Sementara gadis yang berdiri di belakangnya tetap diam dengan ekspresi datar.
"Ngapain lo di sini?!" teriak Viana kepada Aleta.
"Dia siapa, Nak? Kenapa kau terlihat sangat membencinya?" tanya Pak Kades.
Viana langsung menunjuk Aleta. "Dia orangnya, Pak!"
"Orang apa?"
"Dia yang mendorong Aura ke sungai!"
Suasana langsung berubah. Beberapa warga saling pandang. Wajah mereka menunjukkan ketidaksukaan. Pak Kades sendiri tampak terkejut. Viana melangkah maju sambil menatap Aleta tajam.
"Ngapain lo ada di sini? Pergi!"
"Viana..." ucap Aura lembut berusaha menenangkan Viana.
"Pergi dari sini!" teriak Viana.
Aleta masih tidak menjawab. Sikap itu justru membuat Viana semakin kesal. Namun sebelum ia sempat melanjutkan omelannya, Aura langsung menarik ujung bajunya.
"Udah, Na..."
Viana menoleh. Aura terlihat ragu-ragu.
"Dia yang nyelamatin gue."
Hening.
"Apa?" Viana berkedip.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
enak banget bisa ngetok pala ular kayak ngetok pintu 😭
2026-08-17
1
Renn
lanjut kaa, baca juga cerita pertama ku juga yaa
2026-07-08
1
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lanjut thor,, mampir punyaku juga yaa
2026-07-07
1