Episode 2

Bab 2 - Teman Sebangku Baru

"Keiko, kamu duduk di sebelah Kelvin."

Begitu suara Pak Arif jatuh, seluruh Kelas XI-IPA 4 mendadak sunyi.

Sunyi yang aneh. Bukan sunyi karena murid-murid patuh pada guru, melainkan sunyi karena semua orang serentak menahan napas. Beberapa kepala langsung menoleh ke barisan paling belakang, ke kursi dekat jendela yang sejak tadi tampak seperti wilayah terlarang.

Di sana, seorang cowok duduk menyamping dengan punggung bersandar ke dinding.

Seragam putih abu-abunya dipakai asal. Kemeja bagian atas tidak dikancingkan rapi, lengan dilipat sampai siku, dasi sekolah tergantung longgar seperti benda yang tidak ada gunanya. Di meja, sebuah buku terbuka menutupi sebagian wajahnya. Dari sela buku itu, Keiko hanya melihat rambut hitam yang sedikit berantakan dan rahang yang tajam.

Kelvin Susanto.

Nama itu sudah Keiko dengar sebelum masuk kelas.

Di ruang guru, saat Pak Arif membantunya mengurus berkas pindahan, dua murid yang lewat sempat berbisik dengan suara terlalu keras.

"Anak baru itu nanti sekelas sama Kelvin?"

"Kasihan. Baru pindah langsung duduk dekat bom waktu."

Pak Arif waktu itu hanya mengetuk meja dengan ujung pulpen, membuat dua murid itu buru-buru pergi. Namun bisikan mereka tertinggal di kepala Keiko, berdampingan dengan aroma kertas administrasi, obat di dalam tasnya, dan detak jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.

Sekarang, semua mata menunggu reaksinya.

Keiko mengencangkan genggaman pada tali tas. Telapak tangannya agak dingin. Bukan karena takut pada cowok di belakang sana, melainkan karena terlalu banyak tatapan menempel di tubuhnya sekaligus.

Pak Arif menoleh padanya. Suara wali kelas itu dibuat ringan, tetapi matanya berhenti sebentar di wajah Keiko, seolah bertanya tanpa kata.

Kamu tidak apa-apa?

Keiko membalas dengan anggukan kecil.

"Iya, Pak."

Dia berjalan menyusuri lorong di antara meja.

Bisik-bisik langsung hidup lagi, pelan tapi rapat.

"Serius dia duduk situ?"

"Pak Arif tega banget."

"Kelvin bangun nggak, tuh?"

Keiko pura-pura tidak mendengar. Dia berhenti di samping kursi kosong. Meja itu bersih, berbeda dari yang dia bayangkan. Tidak ada coretan kasar, tidak ada bekas rokok, tidak ada benda aneh. Hanya ada satu buku tulis hitam, satu pulpen, dan sebuah buku Bahasa Inggris yang sudutnya kusut.

Cowok di sebelahnya masih tidak bergerak.

Keiko menunggu beberapa detik, lalu berkata pelan, "Permisi."

Buku yang menutupi wajah cowok itu turun sedikit.

Sepasang mata gelap terbuka.

Keiko akhirnya melihat Kelvin Susanto dengan jelas.

Matanya tajam, seperti orang yang terbiasa membuat orang lain mundur sebelum mereka sempat mendekat. Kulitnya agak pucat, hidungnya tinggi, bibirnya tipis dan hampir tidak punya lengkung. Tidak ada ekspresi ramah di wajahnya. Bahkan tidak ada rasa ingin tahu.

Dia menatap Keiko sebentar, lalu menatap kursi kosong di sebelahnya.

"Kamu yakin?" tanyanya.

Suaranya rendah. Datar. Tidak seperti ancaman, tapi juga jelas bukan sambutan.

Keiko berkedip. "Pak Arif yang menyuruh."

"Aku tanya kamu."

Beberapa murid di depan langsung pura-pura sibuk membuka buku, padahal telinga mereka jelas mengarah ke belakang.

Keiko menatap kursi kosong itu, lalu menatap Kelvin lagi. "Aku murid baru. Aku belum tahu tempat duduk lain."

Kelvin diam.

Keiko berpikir dia akan menyuruhnya pergi, atau setidaknya memasang wajah kesal seperti orang yang wilayahnya diganggu. Namun cowok itu hanya menarik kakinya yang tadi menghalangi sedikit jalan, lalu menyingkirkan buku hitamnya ke sisi meja sendiri.

Gerakannya kecil.

Tetapi cukup.

Keiko duduk.

Aroma sabun cuci seragam yang tipis bercampur dengan bau kertas lama dari buku di meja Kelvin. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi Keiko tetap bisa melihat luka kecil di buku-buku jari cowok itu, bekas merah yang tampak belum lama mengering.

Pak Arif berdeham di depan.

"Baik. Kita lanjutkan perkenalan singkat. Keiko pindahan dari Jakarta. Mulai hari ini dia resmi bergabung di Kelas XI-IPA 4. Tolong bantu dia menyesuaikan diri."

"Baik, Pak," jawab sekelas, tidak kompak.

Pak Arif menatap barisan belakang. "Kelvin."

Cowok itu mengangkat mata malas.

"Jangan bikin teman sebangkumu menyesal di hari pertama."

Kelas langsung menahan tawa.

Kelvin tidak ikut tertawa. Dia hanya menjawab, "Iya, Pak."

Keiko menoleh sedikit. Jawaban itu pendek, tetapi tidak melawan. Tidak sinis. Hanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering dianggap salah sampai malas menjelaskan apa pun.

Bel pergantian jam berbunyi tidak lama setelah itu.

Pak Arif keluar, digantikan guru Bahasa Inggris yang membawa setumpuk kertas fotokopi. Suasana kelas berubah menjadi lebih ribut. Murid-murid membuka tas, menyeret kursi, saling meminjam pulpen. Keiko juga membuka tasnya, mencari buku paket yang tadi disebut dalam daftar pelajaran.

Tidak ada.

Dia baru ingat, bagian administrasi mengatakan semua buku paket akan diberikan setelah data pindahannya selesai masuk sistem. Hari ini dia hanya membawa buku catatan kosong, kotak pensil, dan map berisi berkas.

"Open your textbook, page forty-six," kata guru Bahasa Inggris dari depan.

Kertas-kertas berdesir.

Keiko menatap meja kosong di depannya.

Di sebelahnya, Kelvin melirik sekilas. Tidak mengatakan apa pun. Tangannya bergerak mendorong buku Bahasa Inggris kusut itu ke tengah meja.

Keiko menoleh.

Buku itu sekarang berada tepat di antara mereka.

"Pakai aja," kata Kelvin, masih menatap papan tulis.

"Kamu?"

"Aku bisa lihat."

Keiko mengikuti arah pandangnya. Dari posisi Kelvin, setengah halaman masih terlihat, tetapi jelas tidak nyaman. Apalagi tulisan di bukunya penuh coretan kecil dan beberapa bagian hampir lepas dari jilidan.

"Terima kasih," ucap Keiko.

Kelvin tidak menjawab.

Guru mulai membaca dialog contoh di halaman itu. Keiko menunduk, mencatat kata-kata penting dengan pulpen ungu muda. Dia terbiasa menulis rapi, menandai kalimat utama, membuat garis bawah kecil. Di sampingnya, Kelvin hanya menopang dagu, matanya tampak mengarah ke papan tulis, tetapi entah benar-benar memperhatikan atau tidak.

Setelah beberapa menit, guru Bahasa Inggris berjalan mengitari kelas.

Langkahnya berhenti di meja mereka.

"Kelvin."

Keiko mengangkat wajah.

Guru itu menatap meja Kelvin yang tampak tidak punya buku karena buku satu-satunya berada di sisi Keiko.

"Lagi-lagi tidak bawa buku?"

Beberapa murid tertawa kecil.

Keiko segera berkata, "Bu, ini sebenarnya buku Kelvin. Saya yang belum dapat buku, jadi dia..."

"Keiko, kamu baru pindah, tidak perlu membela dia." Guru itu memotong, suaranya tidak keras tapi dingin. "Kelvin, berdiri di luar. Kalau tidak niat belajar, jangan mengganggu murid lain."

Keiko terdiam.

Kelvin bahkan tidak terlihat terkejut.

Seolah kejadian ini terlalu biasa baginya.

Dia menarik buku dari tengah meja dan meletakkannya kembali di depan Keiko. "Lanjut baca."

"Tapi..."

Kelvin sudah berdiri.

Kursinya berderit pelan. Tingginya membuat bayangan jatuh sebentar di atas halaman buku Keiko. Saat melewati meja, dia berhenti setengah detik, cukup dekat sampai Keiko bisa mendengar napasnya.

"Nggak usah jelasin," katanya pelan.

Lalu dia berjalan keluar kelas.

Tidak membanting pintu. Tidak membantah guru. Tidak menatap murid-murid yang menertawakannya. Dia hanya keluar, lalu berdiri di koridor dengan satu tangan masuk ke saku celana.

Guru Bahasa Inggris melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Keiko tidak lagi bisa fokus.

Di halaman empat puluh enam, dialog tentang memperkenalkan diri tiba-tiba terlihat buram. Pulpen ungu mudanya berhenti di tengah garis bawah. Dari jendela, dia bisa melihat sisi wajah Kelvin di luar kelas. Cowok itu menatap halaman sekolah, matanya kosong, punggungnya tegak seakan terbiasa berdiri sendirian di tempat hukuman.

Murid-murid bilang dia bom waktu.

Pembuat onar.

Anak yang tidak peduli pada siapa pun.

Tetapi buku yang sekarang terbuka di hadapan Keiko adalah miliknya.

Dan dia memilih dihukum daripada menarik kembali buku itu.

Keiko menunduk, menyentuh sudut halaman yang kusut dengan ujung jari.

Untuk pertama kalinya sejak masuk SMA Bina Bangsa, dia bertanya-tanya apakah rumor tentang Kelvin Susanto benar-benar sesederhana itu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!