Bab 2 – Slime Rakus Bernama Pochi

Angin sejuk berembus pelan, menyibakkan dedaunan hijau setinggi manusia yang berdesir lembut. Sinar matahari menembus celah dedaunan pohon raksasa, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di permukaan air danau yang tenang.

Haruto masih berdiri terpaku di tepian air, menatap makhluk biru bulat yang baru saja menggigit ujung jarinya. Ia mengibas-ngibaskan tangan sambil meniup bagian yang memerah.

"Aduh... sakit tahu! Kau ini tidak tahu terima kasih ya!"

Sementara itu, slime kecil itu justru memantul-pantul di atas batu datar seolah sedang menari riang.

"Pyoo! Pyoo!"

"Jangan cuma bilang 'pyoo-pyoo'! Kau yang duluan menggigitku tanpa alasan!"

Haruto mengambil sebatang ranting kering di dekat kakinya, lalu mengulurkannya perlahan.

"Nah, dengarkan baik-baik. Kalau kau mengangguk tanda minta maaf, kita damai saja. Tidak perlu bermusuhan."

Slime itu memiringkan tubuh bulatnya ke samping, kepala kecilnya condong bingung.

"Pyu?"

"Jangan pura-pura tidak mengerti!" Haruto menghela napas panjang hingga dadanya terasa lega. "Aku bahkan belum lima menit berada di dunia ini, sudah digigit monster. Benar-benar awal yang menyedihkan."

Ia membuang ranting itu ke semak, lalu duduk di atas batu pipih yang hangat terkena sinar matahari. Belum sempat ia beristirahat sejenak, perutnya kembali berbunyi nyaring meminta isi.

"Kruuuk..."

Haruto memegangi perutnya yang terasa kosong melompong.

"Astaga... lapar sekali rasanya."

Tangannya merogoh saku seragam sekolah yang masih ia kenakan. Jari-jarinya menyentuh bungkusan kertas yang agak kusut. Matanya seketika berbinar terang.

"Syukurlah! Masih ada sisa roti melon yang belum sempat kumakan saat istirahat tadi."

Ia mengangkat roti itu setinggi wajah, seolah memandang harta karun paling berharga di dunia.

"Inilah penyelamat hidupku. Makanan pertama di dunia fantasi."

Baru saja ia membuka bungkusnya dan aroma manis tercium ke hidung...

Blur!

Sesuatu berwarna biru melesat secepat kilat melewati lengannya.

"Hah?!"

Dalam sekejap, roti di tangannya lenyap begitu saja. Di hadapannya kini berdiri slime kecil dengan pipi yang menggembung besar, sisa bungkus roti melayang jatuh ke tanah.

"Mmph... pyoo..."

Haruto membeku. Mulutnya terbuka lebar tak percaya.

"...Kembalikan rotiku!"

"Pyoo!"

Slime itu langsung melompat kabur menuju balik semak-semak, membawa sisa roti berharganya.

"Hei! Berhenti! Itu milikku!"

Haruto tanpa pikir panjang langsung berlari mengejarnya masuk ke dalam hutan lebat.

Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Slime kecil itu ternyata jauh lebih lincah dari yang terlihat. Ia melompat tinggi melewati akar pohon yang menjulang, menyelinap cepat di balik rimbunnya tanaman merambat, lalu muncul kembali di batang kayu mati sambil mengunyah sisa rotinya dengan santai.

"Pyoo!"

"Itu makanan penyelamatku! Berikan sedikit saja!"

Haruto melompati batang pohon tumbang yang cukup tebal. Namun kakinya tak sengaja tersangkut akar yang menjulur keluar tanah.

"Whoaa!"

Ia kehilangan keseimbangan dan terguling beberapa meter di tanah berlumut, sebelum akhirnya menghantam semak berduri kecil.

"Aduh... aduh... aduh... lututku, sikuku, punggungku..."

Ia meringis kesakitan sambil perlahan duduk kembali.

Slime itu tiba-tiba berhenti memantul. Ia berbalik perlahan, lalu melompat mendekati Haruto dengan langkah pelan.

"Pyu?"

Haruto mengangkat kepalanya, menatap makhluk kecil itu dengan pandangan curiga.

"Kau datang mau mengejekku ya? Senang sekali melihatku jatuh kan?"

Namun slime itu tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan sisa potongan roti terakhir yang masih tersimpan di dalam tubuh gelatinnya, lalu mendorongnya perlahan ke arah lutut Haruto.

Haruto menatap potongan roti itu. Hanya tersisa seukuran dua gigitan kecil.

"...Kau menyisakan ini untukku?"

"Pyoo," jawab slime itu lembut, seolah mengangguk pelan.

"Dasar rakus," gumam Haruto sambil tersenyum tipis. Rasa kesal di hatinya perlahan luntur berganti rasa hangat yang aneh. "Sudahlah. Setidaknya kau tidak pelan-pelan menghabiskannya semua."

Ia mengambil potongan roti itu dan memakannya perlahan. Rasa manis dan lembut di lidah membuat rasa laparnya sedikit berkurang, meski belum sepenuhnya hilang.

Slime itu masih berdiri di dekatnya, menatap dengan mata bulat berbinar. Haruto mengulurkan tangannya perlahan.

"Kita mulai dari awal ya. Namaku Haruto Kazehara."

Slime itu memantul satu kali pelan.

"Pyoo."

"Hmm..." Haruto menunduk berpikir sejenak. "Aku tidak tahu nama slime dalam bahasa monster di sini. Kalau begitu, aku beri nama baru ya."

Ia menunjuk makhluk kecil itu dengan jari telunjuknya.

"Mulai sekarang namamu Pochi. Cocok kan dengan tubuhmu yang bulat gemuk?"

Slime itu diam beberapa detik, seolah merenungi nama itu. Lalu tiba-tiba melompat sangat tinggi hingga menyentuh daun rendah di atasnya.

"Pyoooo! Pyoo!"

"Wah, sepertinya kau suka ya," Haruto tertawa lepas. "Mulai sekarang kita teman seperjalanan."

Begitu kata "teman" keluar dari mulutnya, Pochi langsung melesat naik dan mendarat tepat di atas kepala Haruto.

"Hei! Apa-apaan ini!"

Tubuh lunak Pochi menutupi seluruh wajahnya, membuat pandangannya gelap gulita.

"Aku tidak bisa melihat! Turunlah dulu!"

Haruto panik sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Untungnya Pochi segera melompat turun dan mendarat di bahu kanannya dengan santai.

"Pyoo."

"Kau memang makhluk paling aneh yang pernah kutemui," keluh Haruto sambil tersenyum pasrah.

Mereka pun melanjutkan perjalanan perlahan menembus hutan lebat. Belum berjalan jauh, telinga Haruto tiba-tiba menangkap suara geraman rendah yang berat.

Grrrr...

Haruto langsung berhenti melangkah. Jantungnya seketika berdegup kencang.

"Pochi... kau dengar itu?"

Pochi juga berhenti memantul, tubuhnya menegang sejenak di bahu Haruto.

Suasana hutan yang tadi hidup dan riuh berubah seketika menjadi sunyi senyap. Burung-burung yang tadi berkicau riang kini terbang menjauh dengan sayap yang berdesir cepat. Daun-daun bergoyang pelan seolah menahan napas. Angin yang tadi sejuk kini terasa dingin menusuk tulang.

Lalu...

Dari balik rimbunnya semak berduri dan pohon besar, muncul sesosok makhluk raksasa.

Itu adalah seekor serigala hitam sebesar sapi dewasa. Bulu-bulannya tampak kasar dan hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Matanya menyala merah menyala penuh amarah, taringnya panjang dan tajam berkilauan di bawah cahaya matahari. Di sekujur tubuhnya, terdapat garis-garis bercahaya berwarna ungu gelap yang berdenyut perlahan seperti denyut nadi.

Haruto menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas seketika.

"Itu... itu apa..."

Serigala itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu menggeram keras mengguncang tanah di bawah kaki mereka.

"GRAAAARRR!"

Haruto langsung berbalik badan tanpa berpikir dua kali.

"Lariiiii!"

Ia berlari sekuat tenaga memacu kakinya yang masih terasa lelah. Pochi melompat turun dari bahunya dan berlari memantul-pantul tepat di sampingnya.

"Hari pertamaku di dunia ini sudah dikejar monster buas! Ini sama sekali bukan isekai impian yang kubaca di novel!"

Serigala itu mengejar dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali kakinya menghentak tanah, terdengar suara berat yang mendekat. Dalam hitungan detik, jarak antara mereka tinggal beberapa meter saja. Bau anyir dan napas panas makhluk itu sudah mulai tercium di belakang lehernya.

Haruto melirik ke samping dan melihat sebuah pohon besar dengan dahan yang cukup rendah.

"Aku harus memanjatnya! Itu satu-satunya jalan!"

Ia melompat setinggi mungkin dan tangannya berhasil mencengkeram dahan kayu itu dengan kuat. Namun...

Krek!

Suara kayu retak terdengar jelas. Dahan itu ternyata sudah lapuk dimakan usia.

"Aaaaaaaaa!"

Haruto jatuh telentang ke tanah yang keras. Punggungnya terasa nyeri hebat.

Serigala hitam itu sudah berdiri tepat di hadapannya, membuka mulut lebar siap menerkam. Haruto memejamkan mata erat, pasrah pada nasibnya.

"Selesai sudah hidupku di dunia baru ini..."

Namun tiba-tiba...

"PYOOOO!"

Sebuah suara melengking terdengar di udara. Pochi melompat setinggi-tingginya dan mendarat tepat di wajah serigala itu.

Plak!

Serigala itu panik seketika. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan liar, mengaum bingung karena tubuh lunak Pochi menempel erat tepat di hidung dan matanya, menutup seluruh pandangannya.

Haruto melongo tak percaya.

"Pochi?!"

"Pyoooo! Pyoo!"

Pochi terus bergerak lincah di wajah makhluk raksasa itu, membuat serigala itu makin bingung dan marah namun tak bisa berbuat apa-apa.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Haruto. Ia segera bangkit berdiri, meraih tubuh Pochi dengan cepat, lalu berlari kembali sekuat tenaga.

"Ayo kabur sekarang juga!"

Mereka berdua kembali berlari menembus belantara hutan yang tak berujung. Di belakang mereka, raungan kemarahan serigala hitam itu terus menggema, memecah keheningan hutan.

Petualangan Haruto di dunia sihir ternyata baru saja dimulai, dan hari pertamanya sudah dipenuhi kekacauan yang bahkan jauh lebih gila daripada semua cerita isekai yang pernah ia baca. Namun ia belum tahu, di balik pepohonan gelap yang semakin lebat itu, sepasang mata lain sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan penuh rasa ingin tahu—dan bukan sekadar satu pasang mata.

 

Episodes
1 Bab 1 – Terbangun di Dunia Sihir
2 Bab 2 – Slime Rakus Bernama Pochi
3 Bab 3 – Slime Peniru
4 Bab 4 – Menuju Kota Pertama
5 Bab 5 – Petualang Peringkat A
6 Bab 6 – Pemeriksaan di Guild Petualang
7 Bab 7 – Slime yang Telah Punah
8 Bab 8 – Petualang yang Ditolak?
9 Bab 9 – Sang Pengendali Sihir Air
10 Bab 10 – Latihan Keras
11 Bab 11 – Kenangan di Bawah Langit Malam
12 Bab 12 – Ketenangan
13 Bab 13 – Pengujian Sihir
14 Bab 14 – Water Ball
15 Bab 15 – Petunjuk dari Dalam Mimpi
16 Bab 16 – Persiapan Menuju Langkah Baru
17 Bab 17 – Sesi Latihan Terakhir
18 Bab 18 – Kembali ke Guild Petualang
19 Bab 19 – Misi Pertama
20 Bab 20 – Jamur Bulan
21 BAB 21 – PERTARUNGAN PERTAMA
22 BAB 22 – Para Petualang Senior
23 BAB 23 – MISI PERTAMA SELESAI
24 BAB 24 – TEKNIK SIHIR AIR TINGKAT 2
25 BAB 25 – SOSOK MISTERIUS
26 BAB 26 – MUSUH LAMA
27 BAB 27 – PERTEMUAN DENGAN SANG MASTER
28 BAB 28 – GERBANG DIMENSI AIR
29 BAB 29 – MAKHLUK LEGENDA YANG HILANG
30 BAB 30 – LATIHAN YANG SESUNGGUHNYA
31 BAB 31 – KEDATANGAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
32 BAB 32 – HARUTO KAZEHARA VS KAEL
33 BAB 33 – AKHIR PERTARUNGAN
34 BAB 34 – MISI SELANJUTNYA
35 BAB 35 — BAHAYA DI DESA TEPI HUTAN
36 BAB 36 — SANG PELINDUNG
37 BAB 37 — KESEMPATAN YANG TERLEWAT
38 BAB 38 — HADIAH DAN PERINGKAT BARU
39 BAB 39 — MISI PERTAMA PERINGKAT C
40 BAB 40 — PENGAWALAN
41 BAB 41 — SERANGAN BANDIT DAN KERJA SAMA BARU
42 BAB 42 — SERANGAN DI TENGAH MALAM
43 BAB 43 — KOTA PASIR PUTIH DAN PERTEMUAN YANG DINANTI
44 BAB 44 — KOTA PASIR PUTIH
45 BAB 45 — TOKO SENJATA DAN BOTOL AIR SIHIR
46 BAB 46 — PERTEMUAN DENGAN SESAMA PENYIHIR AIR
47 BAB 47 — NAMA YANG MEMBAWA KAGUM
48 BAB 48 — RAHASIA ORDE AIR KUNO
49 BAB 49 — PERTEMUAN PARA PENYIHIR AIR TINGKAT SS
50 BAB 50 — PERTEMUAN PARA PENYIHIR AIR TINGKAT SS (BAGIAN KEDUA)
51 BAB 51 — KISAH LAMPAU DAN KEISTIMEWAAN MIZUNA
52 BAB 52 — PERINGKAT BUKANLAH UKURAN KEKUATAN
53 BAB 53 — RENUNGAN DI BAWAH LANGIT SENJA
54 BAB 54 — GADIS DARI RAS LYONIN
55 BAB 55 — GADIS DARI RAS LYONIN (BAGIAN KEDUA)
56 BAB 56 — TEMAN BARU
57 BAB 57 — TEMAN BARU (BAGIAN KEDUA)
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 – Terbangun di Dunia Sihir
2
Bab 2 – Slime Rakus Bernama Pochi
3
Bab 3 – Slime Peniru
4
Bab 4 – Menuju Kota Pertama
5
Bab 5 – Petualang Peringkat A
6
Bab 6 – Pemeriksaan di Guild Petualang
7
Bab 7 – Slime yang Telah Punah
8
Bab 8 – Petualang yang Ditolak?
9
Bab 9 – Sang Pengendali Sihir Air
10
Bab 10 – Latihan Keras
11
Bab 11 – Kenangan di Bawah Langit Malam
12
Bab 12 – Ketenangan
13
Bab 13 – Pengujian Sihir
14
Bab 14 – Water Ball
15
Bab 15 – Petunjuk dari Dalam Mimpi
16
Bab 16 – Persiapan Menuju Langkah Baru
17
Bab 17 – Sesi Latihan Terakhir
18
Bab 18 – Kembali ke Guild Petualang
19
Bab 19 – Misi Pertama
20
Bab 20 – Jamur Bulan
21
BAB 21 – PERTARUNGAN PERTAMA
22
BAB 22 – Para Petualang Senior
23
BAB 23 – MISI PERTAMA SELESAI
24
BAB 24 – TEKNIK SIHIR AIR TINGKAT 2
25
BAB 25 – SOSOK MISTERIUS
26
BAB 26 – MUSUH LAMA
27
BAB 27 – PERTEMUAN DENGAN SANG MASTER
28
BAB 28 – GERBANG DIMENSI AIR
29
BAB 29 – MAKHLUK LEGENDA YANG HILANG
30
BAB 30 – LATIHAN YANG SESUNGGUHNYA
31
BAB 31 – KEDATANGAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
32
BAB 32 – HARUTO KAZEHARA VS KAEL
33
BAB 33 – AKHIR PERTARUNGAN
34
BAB 34 – MISI SELANJUTNYA
35
BAB 35 — BAHAYA DI DESA TEPI HUTAN
36
BAB 36 — SANG PELINDUNG
37
BAB 37 — KESEMPATAN YANG TERLEWAT
38
BAB 38 — HADIAH DAN PERINGKAT BARU
39
BAB 39 — MISI PERTAMA PERINGKAT C
40
BAB 40 — PENGAWALAN
41
BAB 41 — SERANGAN BANDIT DAN KERJA SAMA BARU
42
BAB 42 — SERANGAN DI TENGAH MALAM
43
BAB 43 — KOTA PASIR PUTIH DAN PERTEMUAN YANG DINANTI
44
BAB 44 — KOTA PASIR PUTIH
45
BAB 45 — TOKO SENJATA DAN BOTOL AIR SIHIR
46
BAB 46 — PERTEMUAN DENGAN SESAMA PENYIHIR AIR
47
BAB 47 — NAMA YANG MEMBAWA KAGUM
48
BAB 48 — RAHASIA ORDE AIR KUNO
49
BAB 49 — PERTEMUAN PARA PENYIHIR AIR TINGKAT SS
50
BAB 50 — PERTEMUAN PARA PENYIHIR AIR TINGKAT SS (BAGIAN KEDUA)
51
BAB 51 — KISAH LAMPAU DAN KEISTIMEWAAN MIZUNA
52
BAB 52 — PERINGKAT BUKANLAH UKURAN KEKUATAN
53
BAB 53 — RENUNGAN DI BAWAH LANGIT SENJA
54
BAB 54 — GADIS DARI RAS LYONIN
55
BAB 55 — GADIS DARI RAS LYONIN (BAGIAN KEDUA)
56
BAB 56 — TEMAN BARU
57
BAB 57 — TEMAN BARU (BAGIAN KEDUA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!