Perjalanan Pertama ke Kota Qingfeng

Di bawah naungan pohon bambu besar yang rindang itu, tangis anak laki-laki itu

perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian hutan yang hanya dipecahkan oleh

desau angin gunung.

Sambil menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, Luo Chen

berdiri tegak di hadapan batang bambu hijau yang kokoh. Tangan kecilnya mengepal

erat, lalu menghantam permukaan batang bambu tersebut dengan seluruh kekuatan

fisik yang ia miliki.

Hentakan pukulan pertama itu terasa menyakitkan bagi jemarinya yang masih lunak,

namun ia tidak berhenti dan kembali melayangkan pukulan kedua, ketiga, hingga

kulit buku jarinya mulai memerah. Hari demi hari, bulan demi bulan, ia terus

kembali ke tempat yang sama di dalam hutan, menjadikan setiap batang bambu

sebagai sasaran latihan fisiknya demi melatih kekuatan otot dan tulangnya secara

mandiri.

Dua belas tahun bergulir tanpa henti sejak hari pertamanya memukul batang bambu

di dalam hutan tersebut.

Kini, di tempat yang sama, seorang pemuda tampan berusia delapan belas tahun

berdiri tegak dengan postur tubuh yang tinggi dan liat hasil dari latihan fisik

ekstrem yang dijalaninya setiap hari. Kulitnya berwarna sawo matang yang sehat,

dan otot-otot di lengan serta dadanya tampak padat terdefinisi dengan jelas di

balik jubah katun abu-abu miliknya yang telah memudar.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Luo Chen mengambil posisi kuda-kuda rendah dan

melancarkan "Tinju Dasar klan Luo" secara beruntun ke arah udara kosong. Setiap

pukulan yang dilepaskannya menghasilkan suara desau angin yang tajam akibat

kecepatan dan kekuatan murni dari otot lengannya, meskipun di dalam dantiannya

tetap kosong tanpa ada aliran energi Qi sedikit pun.

Dari balik rimbunnya pohon bambu yang berjarak sekitar lima puluh meter, sesosok

pria paruh baya bertubuh kurus memperhatikan gerakan pemuda tersebut dengan

pandangan mata yang redup. Luo Hao berdiri bersandar pada tongkat kayu

penyangganya, mengawasi setiap pukulan anaknya dengan perasaan bersalah yang

mendalam karena tidak bisa memberikan bimbingan kultivasi yang layak bagi

putranya.

Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya menggunakan ujung lengan

jubah, Luo Chen menghentikan latihannya setelah melepaskan pukulan keseratus

hari itu. Ia berbalik arah untuk berjalan kembali menuju gubuk keluarganya di

pinggiran desa, namun langkah kakinya kembali terhenti saat mendengar suara

berisik dari arah semak-semak liar di depannya.

Langkah kaki yang berisik dan tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul dengan

kemunculan tiga orang pemuda desa yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh

gempal berwajah kasar. "Lihat siapa yang kita temukan di sini," ujar Hu San

melangkah menghalangi jalan setapak dengan seringai meremehkan di

wajahnya. "Si anak buangan yang masih saja berpura-pura menjadi praktisi hebat

di tengah hutan."

Dengan tatapan tenang yang dingin, Luo Chen menatap wajah pemuda gempal tersebut

tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Permisi, aku harus lewat," ujarnya

dengan suara datar.

"Kenapa terburu-buru?" sahut salah satu teman Hu San yang bertubuh kurus

melangkah maju, mencoba menarik kerah jubah Luo Chen. "Kudengar ibumu hari ini

mendapatkan banyak upah dari mencuci pakaian warga. Bagaimana kalau kau membagi

sedikit uang itu kepada kami sebagai biaya lewat jalan setapak ini?"

Satu ayunan tangan Luo Chen bergerak cepat menepis cengkeraman pemuda kurus

tersebut, membuat tangan lawannya terlempar ke samping dengan suara hantaman

kulit yang cukup keras. "Jangan sentuh aku," ujarnya dengan nada suara yang

mulai mendingin.

"Aduh, gatal sekali!" teriak Hu San tiba-tiba melompat-lompat liar dan

menggaruk leher belakangnya dengan panik. "Sialan! Apa yang jatuh di leherku?"

Dari atas cabang pohon bambu yang bergoyang pelan di atas kepala mereka, sesosok

pemuda berpakaian berantakan tampak sedang duduk santai sambil mengunyah buah

liar berwarna merah. "Aduh, maaf sekali," ujar Ye Feng seraya melemparkan

sebatang ranting kecil yang dipenuhi oleh ulat bulu hijau beracun ke arah wajah

Hu San. "Tanganku tidak sengaja terpeleset saat sedang memanen ulat-ulat lucu

ini."

"Ye Feng!" teriak Hu San dengan wajah yang mulai memerah dan membengkak akibat

rasa gatal yang luar biasa dari racun ulat bulu tersebut. "Kau selalu saja ikut

campur urusan kami!"

Dengan tawa lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih, pemuda jenaka

itu melompat turun dari cabang pohon setinggi tiga meter dengan sangat ringan,

mendarat tepat di antara Luo Chen dan kelompok Hu San. "Bagaimana bisa kau

menyebut ini ikut campur? Aku hanya sedang berbagi keindahan alam liar dengan

kalian semua," sahutnya mengibaskan seikat daun gatal ke arah wajah kedua

teman Hu San.

"Sialan! Gatal sekali! Ayo pergi dari sini!" teriak salah satu teman Hu San

sambil berlari menjauh menuju arah desa, diikuti oleh rekan-rekannya yang terus

menggaruk seluruh bagian tubuh mereka dengan panik.

Sambil melompat turun dan membersihkan sisa daun kering di pundaknya, Ye Feng

menepuk bahu Luo Chen dengan akrab. "Kau terlalu lembut pada mereka, Chen'er.

Jika aku jadi kau, aku sudah memberikan mereka satu pukulan di hidung agar

mereka tahu bagaimana rasanya menghirup tanah berlumpur."

"Mereka hanya pengganggu tidak berguna, Feng'er," jawab Luo Chen kembali

berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke arah gubuk mereka yang berjarak

delapan puluh meter dari tempat tinggal Ye Feng. "Tidak ada gunanya membuang

energi fisik untuk meladeni mereka."

Dengan kening berkerut, Ye Feng menatap wajah sahabatnya dengan pandangan heran dan

mengeluarkan sepotong pancake kering dari balik jubahnya. "Kau selalu

saja terlalu tenang. Apakah latihan fisikmu hari ini membuatmu lapar? Aku punya

sisa sarapan yang sangat lezat di sini."

"Tentu saja lapar," sahut Luo Chen menerima potongan pancake tersebut dan

menggigitnya dengan cepat. "Terima kasih."

"Bagaimana kalau kita berkunjung ke Kota Qingfeng hari ini?" tanya Ye Feng

tiba-tiba menyikut lengan Luo Chen dengan senyum lebar penuh rencana.

"Kota itu hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari sini. Di sana ada pasar

besar yang menjual berbagai macam sumber daya kultivasi, tanaman obat langka,

dan tentu saja... kedai makanan yang sangat lezat."

Sambil merapikan jubah abu-abunya yang sedikit kotor, Luo Chen tampak menimbang

usulan tersebut dengan ragu. "Aku tidak memiliki uang untuk membeli apa pun di

kota, Feng'er. Untuk apa kita pergi ke sana?"

"Jangan khawatir tentang uang, Chen'er," balas Ye Feng mengedipkan satu

matanya dengan jenaka. "Pergi ke sana bukan hanya tentang membeli barang. Kita

perlu memperluas wawasan kita dan melihat bagaimana para praktisi di luar sana

berlatih. Siapa tahu kau bisa menemukan cara baru untuk mengaktifkan energi Qi

di dalam tubuhmu setelah melihat pasar kota."

Setelah beberapa saat terdiam, Luo Chen akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.

"Baiklah. Mari kita pergi ke Kota Qingfeng."

Episodes
1 Tragedi di Atas Panggung Turnamen
2 Runtuhnya Sang Pilar Kehormatan
3 Luka yang Belum Pulih
4 Perjalanan Pertama ke Kota Qingfeng
5 Langkah Menuju Awal yang Baru
6 Jalinan Takdir di Malam Sunyi
7 Kitab Maha Tahu
8 Pil Menempa Sumsum dan Teknik Kuno
9 Lempengan Aksara Kuno
10 Pemburuan Pertama di Lereng Gunung
11 Pertempuran di Lembah Utara
12 Kepercayaan dan Seni Kuno
13 Langkah Petir dan Ikatan Darah
14 Teknik Kelas Bumi dan Langkah Alkemis
15 Kualifikasi Alkemis
16 Pil Kualitas Sempurna
17 Ning Wushuang
18 Proposal Kerja Sama
19 Reuni di Kedai Bambu
20 Harapan yang Pulih
21 Resep Kuno dan Formasi Sembilan Putaran Naga
22 Keluarga Lin
23 Pil Penawar Roh Es dan Kota Bintang Jatuh
24 Medan Perang Kuno
25 Reputasi dan Ketenaran
26 Evolusi Xiao Lin
27 Herba Embun Beku dan Formasi Naga
28 Konflik Keluarga Lin
29 Peta Misterius dan Awal Perjalanan
30 Kota Bintang Jatuh
31 Empat Klan Besar
32 Perebutan di Aula Kuno
33 Pohon Emas dan Terobosan Beruntun
34 Evolusi Kitab Maha Tahu
35 Pilar Penekan Langit
36 Yue Lan (1)
37 Yue Lan (2)
38 Perjalanan Terakhir di Medan Perang Kuno
39 DAFTAR TINGKATAN RANAH KULTIVASI
40 Keluar dari Medan Perang Kuno
41 Perjalanan Pulang Menuju Kota Qingfeng
42 Kabar dari Keluarga Inti
43 Keajaiban di Ruang Pemurnian
44 Rencana Membeli Kediaman
45 Tombak Petir Naga Azure
46 Warisan Sang Kaisar
47 Segel Naga Penekan Surga
48 Ancaman di Kediaman Baru
49 Kabar Turnamen dan Formasi Tujuh Bintang
50 Sembilan Putaran Naga Tahap Kedua
51 Petunjuk Api Surgawi Wilayah Timur
52 Evolusi Kedua Xiao Lin
53 Rahasia Kaisar Salju
54 Kota Tungku Hitam
55 Persiapan Pemurnian Pil Tingkat 5
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Tragedi di Atas Panggung Turnamen
2
Runtuhnya Sang Pilar Kehormatan
3
Luka yang Belum Pulih
4
Perjalanan Pertama ke Kota Qingfeng
5
Langkah Menuju Awal yang Baru
6
Jalinan Takdir di Malam Sunyi
7
Kitab Maha Tahu
8
Pil Menempa Sumsum dan Teknik Kuno
9
Lempengan Aksara Kuno
10
Pemburuan Pertama di Lereng Gunung
11
Pertempuran di Lembah Utara
12
Kepercayaan dan Seni Kuno
13
Langkah Petir dan Ikatan Darah
14
Teknik Kelas Bumi dan Langkah Alkemis
15
Kualifikasi Alkemis
16
Pil Kualitas Sempurna
17
Ning Wushuang
18
Proposal Kerja Sama
19
Reuni di Kedai Bambu
20
Harapan yang Pulih
21
Resep Kuno dan Formasi Sembilan Putaran Naga
22
Keluarga Lin
23
Pil Penawar Roh Es dan Kota Bintang Jatuh
24
Medan Perang Kuno
25
Reputasi dan Ketenaran
26
Evolusi Xiao Lin
27
Herba Embun Beku dan Formasi Naga
28
Konflik Keluarga Lin
29
Peta Misterius dan Awal Perjalanan
30
Kota Bintang Jatuh
31
Empat Klan Besar
32
Perebutan di Aula Kuno
33
Pohon Emas dan Terobosan Beruntun
34
Evolusi Kitab Maha Tahu
35
Pilar Penekan Langit
36
Yue Lan (1)
37
Yue Lan (2)
38
Perjalanan Terakhir di Medan Perang Kuno
39
DAFTAR TINGKATAN RANAH KULTIVASI
40
Keluar dari Medan Perang Kuno
41
Perjalanan Pulang Menuju Kota Qingfeng
42
Kabar dari Keluarga Inti
43
Keajaiban di Ruang Pemurnian
44
Rencana Membeli Kediaman
45
Tombak Petir Naga Azure
46
Warisan Sang Kaisar
47
Segel Naga Penekan Surga
48
Ancaman di Kediaman Baru
49
Kabar Turnamen dan Formasi Tujuh Bintang
50
Sembilan Putaran Naga Tahap Kedua
51
Petunjuk Api Surgawi Wilayah Timur
52
Evolusi Kedua Xiao Lin
53
Rahasia Kaisar Salju
54
Kota Tungku Hitam
55
Persiapan Pemurnian Pil Tingkat 5

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!