Jimat yang Hilang

Keiko berdiri mematung di tengah jalan yang mulai lengang. Tangannya kembali merogoh setiap saku yukatanya, lalu membuka tas kecil yang sejak tadi dibawanya. Dompet, ponsel, dompet koin, sapu tangan... semuanya masih ada.

Hanya jimat pemberian ibunya yang menghilang.

Ia mengembuskan napas panjang sambil menoleh ke belakang, berusaha mengingat kembali setiap tempat yang sempat disinggahinya malam itu.

"Jangan panik dulu," gumamnya pelan. "Mungkin jatuh di sekitar panggung."

Ia segera berbalik menuju lokasi pertunjukan boneka. Sebagian besar pengunjung sudah mulai pulang. Beberapa pedagang tengah membereskan gerobak, sementara panitia festival menurunkan lampion yang sejak sore menghiasi jalan utama.

Keiko berjalan perlahan sambil sesekali menyorotkan senter ponselnya ke tanah. Setiap benda kecil yang berwarna merah langsung membuatnya berhenti, tetapi ternyata hanya bungkus permen atau potongan kain dari dekorasi festival.

"Permisi," sapanya kepada seorang panitia yang sedang menggulung kabel lampu. "Apa Bapak melihat jimat kecil berwarna merah? Bentuknya seperti kantong kain."

Pria itu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menggeleng. "Maaf. Sejak selesai pertunjukan kami belum menemukan barang seperti itu."

"Kalau ada yang menemukannya, biasanya dibawa ke mana?"tanya gadis ini gelisah

"Ke balai desa. Tapi malam ini sepertinya belum ada laporan barang hilang."

Keiko mengangguk pelan. "Terima kasih."

Ia kembali menyusuri jalan yang tadi dilewatinya. Semakin lama dicari, semakin besar pula keyakinannya bahwa jimat itu benar-benar hilang.

"Padahal Ibu sudah berkali-kali mengingatkanku..."

Ia menghela napas panjang. Bayangan wajah ibunya yang begitu serius siang tadi tiba-tiba terlintas di kepalanya.

"Jangan sampai hilang." Keiko menepuk dahinya pelan "Aku memang keras kepala."

Keiko mengembuskan napas pelan. Ia belum menyerah. Kalau memang jimat itu terjatuh di area festival, kemungkinan besar masih berada di sekitar sini.

Ia kembali menyusuri jalan utama dengan langkah lebih lambat. Kali ini perhatiannya tidak lagi tertuju pada keramaian, melainkan ke setiap sudut jalan yang diterangi lampion. Sesekali ia berhenti, membungkuk, lalu memungut benda kecil yang tampak mencolok di antara bebatuan. Sayangnya, setiap kali diperiksa, benda itu bukan jimat yang dicarinya.

Di depan sebuah kios taiyaki yang baru saja tutup, seorang nenek sedang menyapu halaman.

"Permisi, Nek," sapa Keiko sopan. "Apa Nenek melihat jimat kecil berwarna merah di sekitar sini?"

Perempuan tua itu menghentikan sapunya. Ia memperhatikan wajah Keiko beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

"Tidak nak. Tapi kalau itu jimat dari kuil, biasanya tidak mudah hilang."

Bibir Keiko melengkung tipis. "Bukan dari kuil nek, Itu pemberian ibu saya."

Nenek itu mengangguk pelan. "Begitu ya." Keiko lalu membungkuk sebelum ia hendak pamit, "Terimakasih nek, kalau begitu, saya permisi " tetapi nenek itu kembali bersuara.

"Kadang ada benda yang tidak benar-benar hilang Nak."

Keiko menoleh kembali ke wajah nenek tua itu

"Maksud Nenek?"

"Bisa saja... benda itu sedang dibawa oleh orang yang memang ingin kau temui."Sambung wanita tua tersenyum lembut

Keiko terkekeh pelan. "Kalau begitu saya berharap orang itu segera mengembalikannya."

Nenek tersebut hanya membalas dengan senyum yang nyaris tidak terlihat tanpa menjawab lagi.

Keiko kembali berjalan. Semakin jauh ia meninggalkan keramaian, suara festival mulai memudar. Yang tersisa hanyalah desir angin malam dan langkah kakinya sendiri.

Di sebuah persimpangan jalan, ia berhenti sejenak.

Di sana berdiri sebuah kuil kecil yang bahkan belum sempat ia perhatikan sebelumnya. Ukurannya tidak besar, hanya terdiri dari gerbang torii merah, kotak persembahan, dan beberapa papan kayu tempat warga menggantungkan ema berbentuk kepala kucing.

Karena penasaran, Keiko menghampiri.

Sebagian besar papan itu berisi tulisan tangan yang mulai pudar.

"Semoga panen tahun ini berhasil."

"Semoga ayah lekas sembuh."

"Terima kasih karena telah mempertemukanku dengannya lagi."

Keiko tersenyum kecil membaca doa-doa sederhana itu.

"Masih banyak juga yang percaya begini."

Tangannya tanpa sadar menyentuh salah satu ema yang sudah kusam dimakan usia.

Di bagian bawah papan itu tertulis sebuah kalimat yang berbeda dari yang lain.

"Jangan pernah mengingkari janji yang diucapkan pada malam Festival Dewa Kucing."

Keiko mengernyit."Pesan apa an ini,, Serius sekali."

Ia menganggap kalimat itu hanya bagian dari tradisi desa. Tanpa berpikir panjang, ia melanjutkan perjalanan pulang.

Namun baru beberapa langkah berjalan, ada perasaan aneh yang membuatnya menoleh ke belakang. Entah mengapa, ia merasa sedang diperhatikan.

Di bawah cahaya lampion, beberapa orang masih mengenakan topeng kucing. Mereka berdiri berjauhan di sisi jalan tanpa saling berbicara. Tidak ada yang membeli makanan ataupun menikmati pertunjukan yang masih berlangsung di kejauhan.

Mereka hanya... berdiri.

Keiko sempat mengamati salah seorang di antaranya, seorang pria bertopeng putih dengan kimono hitam yang menghadap ke arah jalan. Sikapnya begitu tenang hingga tampak seperti patung.

"Aneh..."

Begitu Keiko berkedip dan menoleh sesaat ke arah lain, pria itu sudah tidak ada.

Ia spontan melihat ke kiri dan kanan.

Jalan itu lurus. Tidak ada gang kecil maupun rumah yang cukup dekat untuk dimasuki dalam hitungan detik.

"Mungkin aku terlalu lelah."

Keiko menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul. Ia mempercepat langkah menuju rumah neneknya tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata keemasan diam-diam mengikuti setiap langkahnya hingga ia menghilang di balik tikungan.

Ia memilih mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Keiko langsung merebahkan tubuh di ruang tamu. Rumah tua peninggalan neneknya terasa jauh lebih sunyi dibanding siang tadi. Tanpa suara ibunya, hanya bunyi jam dinding dan desir angin yang menemani malam.

Ia mengambil ponsel, berniat menelepon ibunya, tetapi jarinya berhenti di atas layar.

"Besok saja."

Kalau ibunya tahu jimat itu hilang malam ini, perempuan itu pasti langsung memintanya pulang ke Tokyo.

"Besok pagi aku cari lagi. Pasti ketemu."

Setelah menenangkan diri, Keiko mematikan lampu ruang tamu dan masuk ke kamar.

Di luar rumah, angin pegunungan bertiup lebih kencang daripada sebelumnya.

Di kejauhan, dari arah gunung, terdengar dentang lonceng kuil.

Dung...

Dung...

Dung...

Keiko membuka sebelah matanya, dengan mata yang khas orang bangun tidur ia melirik jam di samping tempat tidur.

Pukul dua belas tepat. "Kuil masih buka selarut ini?"

Tak lama kemudian suara itu menghilang, berganti keheningan yang kembali menyelimuti desa. Keiko menarik selimut hingga menutupi bahunya. "Mungkin memang ada upacara malam."

Dengan pikiran itu, ia akhirnya memejamkan mata.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, di puncak gunung yang diselimuti kabut, pintu gerbang Kuil Dewa Kucing perlahan terbuka dengan sendirinya. Dan di anak tangga batu paling atas... Seseorang sedang memegang jimat merah miliknya.

Episodes
1 Jimat yang Tak Pernah Dipercaya
2 Peringatan Terakhir
3 Lelaki Tua di Festival
4 Jimat yang Hilang
5 Jalan Menuju Kuil
6 Penunggu kuil
7 MIMPI BURUK
8 Langkah Kedua Menuju Kuil
9 KUCING GALAK
10 MENGEJAR KUCING ABU
11 TAMU PERTAMA
12 Bulan Purnama
13 KUCING YANG MENUNGGU
14 Bakar ikan dan pertemuan rahasia
15 Hujan Pertama
16 Ku panggil kau shiro
17 Jalan Jalan sama shiro
18 Kecupan terimakasih untuk shiro
19 Aku pulang..
20 Siaran pertama keiko
21 Ikatan
22 Gonggongan anjing di gang sempit
23 Jangan tinggalkan aku
24 Perjalanan berakhir
25 Harapan Keiko
26 Pagi yang di nanti
27 Di dalam pelukan
28 menanti Pulang
29 Bulan belum penuh
30 Aroma harum gadis itu
31 Shiro jadi penurut
32 Aroma yang tidak terlihat
33 curhat sebelum tidur
34 Pertanda
35 penelpon iseng
36 shiro berubah
37 Bakeneko hanya dongeng anak anak
38 ini bukan candaan
39 kekacauan dunia bakeneko
40 Rumah yang selalu terbuka
41 perubahan keiko pada kucing
42 Rutinitas yang berubah
43 aku pergi
44 kunjungan ke kuil
45 Oleh oleh dari Renji
46 Coklat panas di bawah langit malam
47 Aturan bakeneko
48 Hanya Beberapa Sentimeter
49 Baru Menyadari
50 Kesadaran yang Memalukan
51 Usapan Pagi
52 pelukan hangat
53 Jadi pusat perhatian
54 ultimatum Shiro
55 makan malam bertiga
56 terbang
57 semua ditanyakan
58 Semua terungkap
59 Kedatangan tamu dari tokyo
60 ajakan makan malam
61 Makan malam kacau
62 Mabuk
63 Salju
64 Arti mimpi yang selama ini hadir
65 permintaan maaf dari takesi
66 keiko mengantuk
67 peringatan Shiro
68 gelisah
69 sarapan yang hangat
70 sudah dimulai
71 berada dalam pelukan shiro
72 keheningan di atas rooftop
73 pelukan sebelum melepas mu
74 Sang Pengintai
75 Jimat merah
76 Gerbang bakeneko terbuka
77 Pertarungan Tanpa penghalang
78 Antara Logika dan perasaan
79 perhatian kecil keiko pada renji
80 Secangkir Teh hijau
81 membasuh luka
82 Tidak ada yang kebetulan
83 Debaran tengah malam
84 Merona
85 seharian bersama Boruno
86 Boruno Ngomel
87 Jejak darah yang tertinggal
88 kecurigaan boruno
89 hanya berdua dengan shiro
90 Bangun tidur yang nyaman
91 yukata
92 berkunjung Ke kampung renji
93 kunjungan Keiko ke rumah renji
94 Aku pulang
95 Keiko gelisah mengetahui sedikit rahasia
96 kembali satu team
97 reaksi yang berubah
98 Suara samar dibalik ruang tertutup
99 Langkah dalam tidur
100 pertemuan tidak terduga
101 Kepercayaan yang di uji
102 kejujuran
103 lambang klan buangan
104 tidak ada paksaan
105 Pagi yang Terlambat
106 kejujuran diantara keduanya
107 Sebelum bulan purnama
108 Kepolosan shiro
109 Reaksi shiro akan kenyataan
110 Shiro ingat tosha
111 Siluet pagi keiko
112 memori Shiro
113 Pulang ke tsukimori
114 bertemu pendeta
115 menghapus akar awal kutukan
116 sedikit ada harapan
117 pelukan dipagi hari
118 pergi memancing
119 ikan bakar untuk renji dan puto
120 kiriman paket
121 kawan lama
122 memori indah yang tersimpan
123 keputusan yang melegakan
124 melepaskan kodotama
125 permintaan sato
126 beberapa jam menuju ritual
127 Menjelang Purnama
128 festival mulai ramai
129 Festival dan Malam Terakhir Sato
130 jeritan memilukan hati
131 kepanikan para pria lanjut dua
132 setelah purnama
133 Setelah pingsan
134 pertemuan yang indah sato
135 pemeriksaan hati
136 minuman segar
137 sungai punya cerita
138 jawaban keiko
139 TANDA TANYA DI TENGAH MALAМ
140 RAHASIA DI BALIK PURNAMA
141 PERTEMUAN DI BALIK POHON CENDANA
142 DINDING PELINDUNG DARI HITAM
143 SADARLAH, SHIRO
144 MENYEMBUHKAN LUKA
145 DI BAWAH PILAR CAHAYA BIRU
146 PENANDAAN BAKENEKO
147 RAHASIA YANG TERKUBUR
148 RAHASIA YANG TERBONGKAR
149 KESALAHAN YANG SAMA
150 JANGAN MENCARI TAHU
151 CINTAKU LEBIH BESAR
152 MALAM SIARAN NIGHT LETTER
153 HARUS ISTIRAHAT
154 SIARAN BERITA PAGI
155 MEJA DI DEKAT JENDELA
156 KETERTARIKAN TAKUMI
157 BAYANGAN GAGAK
158 KEJUTAN DI UJUNG MALAM
159 BAYANGAN DI BALIK CERMIN
160 KERTAS RESEP DAN RASA LEGA
161 KUCING DAN PERCAKAPAN PAGI
162 KETIKA TUBUH TAK LAGI KOMPROMI
163 OBSERVASI DAN KETEGANGAN DI IGD
164 PERCAKAPAN DI PANTRY DAN PENOLAKAN
165 KESADARAN YANG KEMBALI
166 PELUKAN DI REMANG MALAM
167 JEJAK MASA LALU DALAM DARAH
168 PERTANYAAN DI BALIK PINTU
169 PENGAKUAN DI KALA REMANG
170 SEGEL YANG RETAK
171 BUNGAN LIAR DAN RAHASIA DARAH
172 KETIKA BUNGA BICARA
173 SETETES MERAH DI ANTARA TAWA
174 DUA DUNIA, SATU PENGAKUAN
175 RAGU DI UJUNG LORONG
176 KETIKA PERPISAHAN JADI PILIHAN
177 RENCANA DI BALIK MEJA KELUARGA
178 SALJU, JANJI, DAN AIR MATA YANG BASAH
179 DUA JIWA DI UJUNG RINDU
180 RAHASIA DI BALIK PUPIL MATA
181 RUMAH YANG KOSONG DAN CEMAS YANG KEMBALI
182 HANGATNYA MEJA MAKAN MALAM
183 BISIKAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
184 RENCANA DI MEJA MAKAN
185 SERANGAN DI KARUIZAWA
186 JANJI DI BALIK PEKATNYA MALAM
187 PANGGILAN DARURAT
188 GELOMBANG BANTUAN
189 TERLUKA DAN TERPISAH ANTAR DUA DUNIA
190 DI ANTARA AMBANG BATAS
191 KEMBALI DARI AMBANG BATAS
192 PAGI YANG TENANG
193 PAGI YANG MEMBAWA KABAR BAIK
194 kenyataan pahit dibalik kesembuhan
195 penampilan baru
196 Aroma tembakau
197 menutupi kenyataan dari keiko
198 IBU DATANG
199 BUNGA DAN NAMA DARI MASA LALU
200 TETUA GUNUNG
201 PENGAKUAN SHIRO
202 KEMBALI SEBELUM FAJAR
203 MENUJU BANDARA
204 DI DALAM KERETA
205 ANCAMAN TERSELUBUNG
206 ITU CUMAN KEBETULAN
207 AROMA LAIN DAN TAWA DI ROOFTOP
208 KEIKO TAU JATI DIRI NYA
209 MENUJU GUNUNG TERLARANG
210 GERBANG KEDIAMAN REIZEN
211 PENJELASAN REIZEN DAN KETAKUTAN KEIKO
212 KONSEKUENSI DAN PILIHAN TAKDIR
213 JAWABAN SHIRO DAN KEMBALI KE ROOFTOP
214 PENGAKUAN KEPADA ORANG TUA KEIKO
215 SIARAN TERAKHIR DAN ISAK TANGIS DI STUDIO
216 PERJALANAN KE BANDARA DAN AJAKAN KE PANTAI
217 FOTO KELUARGA DAN KILAUAN DI JARI KEIKO
218 SIRENE DAN CINCIN DI TANDU DARURAT
219 AMBULANS UTUSAN DAN PERJALANAN KE DUNIA BAKENEKO
220 BANDARA
221 Kenangan yang kembali
222 Dunia yang Kini Menjadi Rumahnya
223 Rumah shiro
224 Tamu di malam hari
Episodes

Updated 224 Episodes

1
Jimat yang Tak Pernah Dipercaya
2
Peringatan Terakhir
3
Lelaki Tua di Festival
4
Jimat yang Hilang
5
Jalan Menuju Kuil
6
Penunggu kuil
7
MIMPI BURUK
8
Langkah Kedua Menuju Kuil
9
KUCING GALAK
10
MENGEJAR KUCING ABU
11
TAMU PERTAMA
12
Bulan Purnama
13
KUCING YANG MENUNGGU
14
Bakar ikan dan pertemuan rahasia
15
Hujan Pertama
16
Ku panggil kau shiro
17
Jalan Jalan sama shiro
18
Kecupan terimakasih untuk shiro
19
Aku pulang..
20
Siaran pertama keiko
21
Ikatan
22
Gonggongan anjing di gang sempit
23
Jangan tinggalkan aku
24
Perjalanan berakhir
25
Harapan Keiko
26
Pagi yang di nanti
27
Di dalam pelukan
28
menanti Pulang
29
Bulan belum penuh
30
Aroma harum gadis itu
31
Shiro jadi penurut
32
Aroma yang tidak terlihat
33
curhat sebelum tidur
34
Pertanda
35
penelpon iseng
36
shiro berubah
37
Bakeneko hanya dongeng anak anak
38
ini bukan candaan
39
kekacauan dunia bakeneko
40
Rumah yang selalu terbuka
41
perubahan keiko pada kucing
42
Rutinitas yang berubah
43
aku pergi
44
kunjungan ke kuil
45
Oleh oleh dari Renji
46
Coklat panas di bawah langit malam
47
Aturan bakeneko
48
Hanya Beberapa Sentimeter
49
Baru Menyadari
50
Kesadaran yang Memalukan
51
Usapan Pagi
52
pelukan hangat
53
Jadi pusat perhatian
54
ultimatum Shiro
55
makan malam bertiga
56
terbang
57
semua ditanyakan
58
Semua terungkap
59
Kedatangan tamu dari tokyo
60
ajakan makan malam
61
Makan malam kacau
62
Mabuk
63
Salju
64
Arti mimpi yang selama ini hadir
65
permintaan maaf dari takesi
66
keiko mengantuk
67
peringatan Shiro
68
gelisah
69
sarapan yang hangat
70
sudah dimulai
71
berada dalam pelukan shiro
72
keheningan di atas rooftop
73
pelukan sebelum melepas mu
74
Sang Pengintai
75
Jimat merah
76
Gerbang bakeneko terbuka
77
Pertarungan Tanpa penghalang
78
Antara Logika dan perasaan
79
perhatian kecil keiko pada renji
80
Secangkir Teh hijau
81
membasuh luka
82
Tidak ada yang kebetulan
83
Debaran tengah malam
84
Merona
85
seharian bersama Boruno
86
Boruno Ngomel
87
Jejak darah yang tertinggal
88
kecurigaan boruno
89
hanya berdua dengan shiro
90
Bangun tidur yang nyaman
91
yukata
92
berkunjung Ke kampung renji
93
kunjungan Keiko ke rumah renji
94
Aku pulang
95
Keiko gelisah mengetahui sedikit rahasia
96
kembali satu team
97
reaksi yang berubah
98
Suara samar dibalik ruang tertutup
99
Langkah dalam tidur
100
pertemuan tidak terduga
101
Kepercayaan yang di uji
102
kejujuran
103
lambang klan buangan
104
tidak ada paksaan
105
Pagi yang Terlambat
106
kejujuran diantara keduanya
107
Sebelum bulan purnama
108
Kepolosan shiro
109
Reaksi shiro akan kenyataan
110
Shiro ingat tosha
111
Siluet pagi keiko
112
memori Shiro
113
Pulang ke tsukimori
114
bertemu pendeta
115
menghapus akar awal kutukan
116
sedikit ada harapan
117
pelukan dipagi hari
118
pergi memancing
119
ikan bakar untuk renji dan puto
120
kiriman paket
121
kawan lama
122
memori indah yang tersimpan
123
keputusan yang melegakan
124
melepaskan kodotama
125
permintaan sato
126
beberapa jam menuju ritual
127
Menjelang Purnama
128
festival mulai ramai
129
Festival dan Malam Terakhir Sato
130
jeritan memilukan hati
131
kepanikan para pria lanjut dua
132
setelah purnama
133
Setelah pingsan
134
pertemuan yang indah sato
135
pemeriksaan hati
136
minuman segar
137
sungai punya cerita
138
jawaban keiko
139
TANDA TANYA DI TENGAH MALAМ
140
RAHASIA DI BALIK PURNAMA
141
PERTEMUAN DI BALIK POHON CENDANA
142
DINDING PELINDUNG DARI HITAM
143
SADARLAH, SHIRO
144
MENYEMBUHKAN LUKA
145
DI BAWAH PILAR CAHAYA BIRU
146
PENANDAAN BAKENEKO
147
RAHASIA YANG TERKUBUR
148
RAHASIA YANG TERBONGKAR
149
KESALAHAN YANG SAMA
150
JANGAN MENCARI TAHU
151
CINTAKU LEBIH BESAR
152
MALAM SIARAN NIGHT LETTER
153
HARUS ISTIRAHAT
154
SIARAN BERITA PAGI
155
MEJA DI DEKAT JENDELA
156
KETERTARIKAN TAKUMI
157
BAYANGAN GAGAK
158
KEJUTAN DI UJUNG MALAM
159
BAYANGAN DI BALIK CERMIN
160
KERTAS RESEP DAN RASA LEGA
161
KUCING DAN PERCAKAPAN PAGI
162
KETIKA TUBUH TAK LAGI KOMPROMI
163
OBSERVASI DAN KETEGANGAN DI IGD
164
PERCAKAPAN DI PANTRY DAN PENOLAKAN
165
KESADARAN YANG KEMBALI
166
PELUKAN DI REMANG MALAM
167
JEJAK MASA LALU DALAM DARAH
168
PERTANYAAN DI BALIK PINTU
169
PENGAKUAN DI KALA REMANG
170
SEGEL YANG RETAK
171
BUNGAN LIAR DAN RAHASIA DARAH
172
KETIKA BUNGA BICARA
173
SETETES MERAH DI ANTARA TAWA
174
DUA DUNIA, SATU PENGAKUAN
175
RAGU DI UJUNG LORONG
176
KETIKA PERPISAHAN JADI PILIHAN
177
RENCANA DI BALIK MEJA KELUARGA
178
SALJU, JANJI, DAN AIR MATA YANG BASAH
179
DUA JIWA DI UJUNG RINDU
180
RAHASIA DI BALIK PUPIL MATA
181
RUMAH YANG KOSONG DAN CEMAS YANG KEMBALI
182
HANGATNYA MEJA MAKAN MALAM
183
BISIKAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
184
RENCANA DI MEJA MAKAN
185
SERANGAN DI KARUIZAWA
186
JANJI DI BALIK PEKATNYA MALAM
187
PANGGILAN DARURAT
188
GELOMBANG BANTUAN
189
TERLUKA DAN TERPISAH ANTAR DUA DUNIA
190
DI ANTARA AMBANG BATAS
191
KEMBALI DARI AMBANG BATAS
192
PAGI YANG TENANG
193
PAGI YANG MEMBAWA KABAR BAIK
194
kenyataan pahit dibalik kesembuhan
195
penampilan baru
196
Aroma tembakau
197
menutupi kenyataan dari keiko
198
IBU DATANG
199
BUNGA DAN NAMA DARI MASA LALU
200
TETUA GUNUNG
201
PENGAKUAN SHIRO
202
KEMBALI SEBELUM FAJAR
203
MENUJU BANDARA
204
DI DALAM KERETA
205
ANCAMAN TERSELUBUNG
206
ITU CUMAN KEBETULAN
207
AROMA LAIN DAN TAWA DI ROOFTOP
208
KEIKO TAU JATI DIRI NYA
209
MENUJU GUNUNG TERLARANG
210
GERBANG KEDIAMAN REIZEN
211
PENJELASAN REIZEN DAN KETAKUTAN KEIKO
212
KONSEKUENSI DAN PILIHAN TAKDIR
213
JAWABAN SHIRO DAN KEMBALI KE ROOFTOP
214
PENGAKUAN KEPADA ORANG TUA KEIKO
215
SIARAN TERAKHIR DAN ISAK TANGIS DI STUDIO
216
PERJALANAN KE BANDARA DAN AJAKAN KE PANTAI
217
FOTO KELUARGA DAN KILAUAN DI JARI KEIKO
218
SIRENE DAN CINCIN DI TANDU DARURAT
219
AMBULANS UTUSAN DAN PERJALANAN KE DUNIA BAKENEKO
220
BANDARA
221
Kenangan yang kembali
222
Dunia yang Kini Menjadi Rumahnya
223
Rumah shiro
224
Tamu di malam hari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!