Riyan masih berdiri terpaku di bawah tiang listrik, menatap layar ponselnya yang retak dengan pandangan kosong. Dunia di sekitarnya seolah mendadak hening, meskipun di dalam pasar suara emak-emak yang berebut jengkol gratis masih terdengar riuh rendah.
Jam digital transparan di sudut matanya terus berkedip tanpa ampun: [19 Jam : 02 Menit : 15 Detik].
"Setengah triliun..." bisik Riyan, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan seluruh harapan hidup.
"Gua traktir satu pasar habis ratusan juta, tapi si Sistem sialan ini malah balikin duitnya berkali-kali lipat lewat jalur pahala sosial. Kalau kayak begini caranya, kapan gua miskinnya?!"
Belum sempat Riyan meredakan detak jantungnya yang menggila, suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat ke arahnya. Riyan mendongak dan seketika membeku.
Tiga orang berpakaian batik rapi, lengkap dengan ID card yang tergantung di leher dan sebuah kamera video besar yang lensa panjangnya langsung mengarah tepat ke wajah Riyan, sudah berdiri di depannya.
"Permisi, Mas! Apa Benar dengan Mas Riyan Sadewa?" tanya seorang wanita muda berambut kuncir kuda yang memegang mikrofon dengan logo stasiun televisi berita lokal Bandung.
Riyan berkedip heran, badannya refleks mundur satu langkah hingga punggungnya membentur tiang listrik.
"Eh... iya, saya Riyan. Ada apa ya, Mbak? Saya gak ikut tawuran pasar kok, cuma lagi neduh."
Wanita itu langsung tersenyum sangat lebar, seolah baru saja menemukan bongkahan emas di tengah tumpukan sampah.
"Luar biasa! Pemirsa, saat ini saya sudah bersama dengan Mas Riyan, sosok kuli bangunan viral yang baru saja melakukan aksi filantropi luar biasa dengan memborong dan menggratiskan seluruh isi pasar tradisional Dago!"
Kamera di samping wanita itu lampu indikator merahnya menyala, menandakan bahwa wajah Riyan yang masih belepotan debu semen kini sedang disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok daerah.
"Mas Riyan," lanjut si reporter dengan nada suara yang dibuat dramatis dan penuh kekaguman.
"Aksi Anda siang ini benar-benar menggerakkan hati jutaan netizen di media sosial. Video amatir saat Anda membayar ratusan juta menggunakan QRIS dengan kaus proyek ini sudah ditonton lebih dari lima juta kali dalam waktu setengah jam! Banyak netizen yang menyebut Anda sebagai Real Crazy Rich yang sesungguhnya karena memilih menyamar jadi kuli demi menyerap aspirasi ekonomi masyarakat kecil."
"Apa motivasi terbesar Anda melakukan aksi se-mulia ini, Mas?"
Riyan melongo dengan mulut sedikit terbuka. Otaknya mendadak blank. Motivasi? batin Riyan menjerit.
Motivasi gua itu karena takut mati kena denda Sistem, Mbak! Gua gak mau organ tubuh gua mogok kerja! Gua gak lagi nyamar, gua emang aslinya kuli miskin!
Tentu saja, Riyan tidak mungkin menyuarakan isi hatinya itu secara gamblang kalau tidak mau langsung diseret ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua. Riyan menelan ludahnya yang terasa kesat, mencoba menyusun kalimat se-absurd mungkin agar citranya hancur dan orang-orang menganggapnya gila yang diharapkan bisa membuat Sistem mendeteksi kerugian reputasi.
"Motivasi saya?" Riyan berdeham, mencoba memasang wajah sedatar mungkin.
"Gak ada motivasi apa-apa sih, Mbak. Saya cuma... lagi gabut aja siang ini. Kebetulan dompet saya rasanya agak kepenuhan dan berat, jadi saya pikir membuang-buang uang di pasar tradisional adalah cara terbaik untuk meringankan beban pundak saya."
Mendengar jawaban yang sangat tidak lazim itu, si reporter wanita sempat tertegun selama satu detik. Namun, dasar jurnalis berpengalaman, dia langsung memutar balik narasi jawaban Riyan menjadi sesuatu yang terdengar jauh lebih filosofis.
"Luar biasa! Sebuah jawaban yang sangat sarat akan makna satir!" seru si reporter ke arah kamera dengan mata berbinar.
"Pemirsa, Anda dengar sendiri? Mas Riyan mengibaratkan kekayaan materi sebagai 'beban' yang harus dilepaskan demi menolong sesama! Ini adalah sebuah tamparan keras bagi para konglomerat di luar sana yang selalu memamerkan kemewahan demi validasi sosial!"
Riyan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Tamparan keras dari Hongkong! umpatnya dalam hati. Gua beneran ngomong harfiah, kenapa malah dianggap majas satir?!
"Baik, Mas Riyan, satu pertanyaan terakhir," desak si reporter lagi, semakin mendekatkan mikrofonnya ke bibir Riyan.
"Ada rumor yang beredar di forum bisnis online bahwa aksi Anda hari ini adalah langkah awal dari konsorsium rahasia untuk mengambil alih sektor real di Bandung Utara. Apakah itu benar?"
"Gak benar! Saya cuma kuli yang kebetulan dapet—"
Belum sempat Riyan menyelesaikan kalimat bantahannya, sebuah klakson mobil bernada berat dan nyaring memotong pembicaraan mereka.
HOOONKKK!
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik dengan kaca super gelap yang memantulkan cahaya matahari tiba-tiba berhenti tepat di pinggir trotoar, hanya berjarak dua meter dari tempat Riyan berdiri. Kehadiran mobil mewah berlogo eropa yang harganya dipastikan menembus angka miliaran rupiah itu seketika menarik perhatian orang-orang di sekitar pasar.
Pintu penumpang bagian belakang terbuka perlahan secara otomatis. Dari dalam mobil, muncul sebuah kaki yang mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hitam mengilat, diikuti oleh sesosok wanita muda berambut pendek dengan setelan blazer formal berwarna navy yang sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun.
Wanita itu memiliki garis wajah yang tegas, hidung bangir, dan sepasang mata elang yang memancarkan aura dingin sekaligus dominasi yang sangat kuat. Kecantikannya tampak begitu kontras dengan latar belakang pasar tradisional yang becek dan berbau amis.
Wanita itu adalah Kezia Zevan, anak gadis tertua sekaligus calon penerus dari Keluarga Zevan salah satu dari empat keluarga rahasia yang mengendalikan roda ekonomi tingkat atas di negeri ini.
Kezia melangkah turun dengan anggun, mengabaikan sorot kamera wartawan yang langsung berbalik mengarah kepadanya. Sepasang matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada sosok Riyan yang masih memakai sandal jepit swau tipis sebelah.
Si reporter wanita dan krunya langsung menahan napas. Mereka mengenali siapa wanita itu. Kezia Zevan adalah sosok yang sangat jarang muncul di media massa, seorang ratu bisnis dingin yang terkenal kejam di meja perundingan.
Kezia berdiri tepat di depan Riyan, menciptakan jarak sekitar satu meter. Dia menatap kaus proyek Riyan yang kotor, lalu beralih menatap ponsel retak di tangan Riyan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi..." Kezia membuka suara. Suaranya terdengar sangat tenang, bening, namun memiliki tekanan psikologis yang sanggup membuat nyali orang awam menciut.
"Kamu pria misterius yang dengan sengaja mengacaukan index harga pasar ritel di kawasan Bandung Utara hari ini?"
Riyan hanya bisa melongo dengan bodohnya. Di dalam otaknya, suara mekanis dari Sistem sialan itu kembali berdenting kecil, seolah-olah memberikan sinyal bahwa masalah yang jauh lebih besar dan lebih rumit dari sekadar membuang uang baru saja dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments