Episode 2

Bab 2: Pulang

Pagi setelah Rey berkata ia tidak akan pergi, Citra justru tidak kembali ke Villa 9.

Ia pulang ke Puri Bojong Gede sebelum matahari naik tinggi, membawa satu tas kerja, dua potong pakaian, dan kepala yang terlalu penuh untuk diajak berdebat. Rumah lama Mama Ruyanti berdiri di ujung cluster, cat pagarnya mulai pudar, pot melati di teras sudah kering separuh karena tidak ada lagi tangan yang rajin menyiramnya setiap sore.

Begitu pintu dibuka, bau rumah lama menyambutnya. Bukan bau mewah seperti Villa 9, melainkan campuran minyak goreng, kayu lemari tua, dan sabun lantai yang selalu Mama beli di minimarket dekat warung.

Sepasang sandal jepit Mama masih ada di dekat rak sepatu.

Citra berhenti di ambang pintu.

Untuk sesaat, ia hampir memanggil, "Ma, aku pulang."

Tapi dapur sepi. Tidak ada suara spatula menyentuh wajan, tidak ada radio kecil memutar lagu lama, tidak ada Mama Ruyanti yang menoleh dari kompor sambil berkata, "Cuci tangan dulu, Ci."

Citra menutup pintu pelan.

Di pintu kulkas masih tertempel menu lama Warung Tentrem. Nasi campur, bakmi ayam jamur, cap cay kuah, kue lapis buatan hari Jumat. Di bawahnya ada catatan tulisan tangan Mama, sedikit miring, ditempel dengan magnet bentuk ayam: jangan lupa bayar gas.

Hal kecil seperti itu membuat dada Citra terasa lebih sakit daripada kabar Rafael semalam.

Di atas meja makan, ada toples kerupuk yang tutupnya tidak rapat. Citra membukanya, menemukan isinya sudah melempem. Dulu Mama selalu marah kalau kerupuk dibiarkan kena angin. Katanya, rumah boleh sederhana, tapi jangan sampai tamu makan kerupuk lembek.

Citra menutup toples itu rapat-rapat, seolah memperbaiki satu hal kecil bisa membuat rumah ini kembali bernapas.

Ponselnya berbunyi berkali-kali.

Ia membuka layar. Grup WhatsApp "Ibu-ibu Puri Bojong Gede" sedang ramai.

Bu Ninik: Ada yang lihat story bandara? Itu Rafael Gan ya?

Bu Tati: Iya, yang dulu sama Mbak Citra itu kan?

Bu Rina: Kasihan ya Mbak Citra, suaminya pergi sama perempuan lain.

Bu Ninik: Perempuannya hamil katanya. Ya ampun.

Citra menatap kalimat itu cukup lama sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Kasihan.

Kata itu terdengar lembut, tapi selalu punya ujung tajam. Orang-orang mengucapkannya seolah sedang mengusap kepala, padahal yang mereka lakukan adalah membuka luka di depan meja arisan.

Ia mematikan notifikasi grup.

Telepon lain masuk dari nomor tak dikenal. Citra tidak mengangkat. Ia sudah tahu dunia sedang lebih cepat daripada dirinya. Seseorang di bandara pasti memotret Rafael. Seseorang lain mengunggahnya. Lalu Jakarta melakukan pekerjaannya: membicarakan kehidupan orang lain sebelum orang itu sendiri sempat bernapas.

Ia duduk di sofa lama ruang tengah. Busanya sudah kempis di bagian tengah, bekas Mama sering duduk sambil menghitung uang warung. Citra membuka kalkulator di ponsel.

Biaya pengacara Mama masih kurang Rp 45 juta.

Gaji Citra TV bulan ini belum masuk.

Cicilan rumah tinggal delapan kali, tapi tetap terasa seperti delapan dinding.

BPJS menunggu jadwal kontrol Mama minggu depan.

Kartu hitam dari pendapatan MISSY masih terkunci di brankas Villa 9. Citra bisa saja mengambilnya. Secara praktis, tidak sulit. Tinggal kembali, membuka brankas, mengambil kartu, lalu pergi lagi.

Tapi semalam ia sudah meletakkan amplop di meja.

Ia sudah berkata selesai.

Dan Rey, dengan wajah basah dan mata yang terlalu tenang, berkata ia tidak akan pergi.

Citra menutup kalkulator. Angka-angka itu tidak hilang dari kepala. Mereka hanya pindah tempat, dari layar ke dada.

Ia berjalan ke kamar Mama. Seprai masih rapi karena tidak ada yang tidur di sana sejak Ruyanti dipindahkan ke Lapas Perempuan Tangerang. Di meja rias, ada sisir bergagang kayu, bedak tabur murah, dan foto Citra waktu wisuda UI. Dalam foto itu, Mama Ruyanti memeluknya dari samping, senyumnya lebar sekali sampai matanya menyipit.

"Nanti kamu jangan cuma jadi orang pintar, Ci," kata Mama waktu itu. "Jadi orang yang hatinya tetap pulang."

Citra mengambil foto itu, mengusap debu tipis di bingkainya, lalu meletakkannya kembali.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini dari Nolan.

Citra menekan tombol voice note. Ia tidak berniat bicara banyak, tapi begitu suara rekam menyala, kalimat-kalimat keluar terlalu cepat.

"Nol, Rafael sudah pulang. Sama Lianna. Dia hamil. Orang perumahan sudah bahas di grup. Aku sekarang di rumah Mama. Aku belum tahu harus apa dulu. Pengacara Mama belum lunas, gaji belum masuk, dan aku... aku capek."

Ia berhenti. Napasnya terdengar di rekaman.

"Tapi aku baik. Jangan khawatir."

Ia mengirim voice note itu.

Balasan Nolan datang kurang dari sepuluh detik kemudian.

Nol: Bohong. Orang baik-baik saja tidak kirim voice note dengan napas kayak dikejar debt collector.

Lalu satu pesan lagi.

Nol: Ke Bar Janji yuk, malam ini. Aku traktir. Kopi susu, kentang goreng, dan hak untuk maki-maki orang yang pantas dimaki.

Citra tertawa kecil. Suaranya terdengar asing di rumah kosong itu.

Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta, Rafael Gan keluar dari pintu kedatangan internasional dengan kemeja biru muda dan wajah yang tampak lebih tirus dari ingatan Citra.

Di sampingnya, Lianna Halim menggenggam lengan Rafael.

Perutnya memang belum besar, tapi cukup jelas untuk membuat orang yang melihat menoleh dua kali. Ia mengenakan gaun longgar warna putih tulang, rambutnya jatuh rapi di bahu, wajahnya pucat manis seperti perempuan yang perlu dilindungi dari segala hal.

"Rafa, pelan sedikit," katanya lembut.

Rafael langsung memperlambat langkah. "Kamu capek?"

Lianna menggeleng, lalu tersenyum kecil. "Tidak. Cuma ramai."

Di sisi lain area kedatangan, seorang perempuan muda mengangkat ponsel. Ia mengenali Rafael dari artikel bisnis tentang Keluarga Gan. Rekaman pendek itu langsung naik ke IG story.

Rafael Gan pulang bawa cewek cantik. Ini siapa? Bukannya istrinya Citra?

Dalam dua jam, story itu berpindah dari satu akun ke akun lain.

Menjelang sore, Citra melihat potongan video itu dari kiriman Nolan.

Nol: Jangan buka kalau belum makan.

Citra tetap membukanya.

Rafael terlihat menunduk membantu Lianna membetulkan selendangnya. Gerakan itu sederhana, tapi intim. Jenis perhatian yang dulu pernah Citra tunggu dari Rafael di banyak malam dan tidak pernah datang.

Ia menutup video sebelum selesai.

Sakitnya tidak datang seperti ledakan. Lebih mirip air dingin yang dituang perlahan ke dalam tubuh.

Ia berdiri, mengambil tas, lalu mematikan lampu ruang tengah.

Bar Janji menunggu.

Tepat saat Citra mengunci pintu, ponselnya berdering.

Nama di layar membuat jari Citra berhenti di atas gagang pintu.

Tante Fenny.

Citra mengangkat.

Suara Fenny Gan terdengar sangat sopan, terlalu hati-hati untuk sekadar menanyakan kabar.

"Ci, besok malam ada makan malam keluarga di rumah. Kamu datang ya."

Citra menatap jalan cluster yang mulai gelap.

Ia tahu.

Makan malam itu bukan undangan.

Itu panggilan untuk menyaksikan tempatnya diberikan kepada perempuan lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!