Tanda Lahir

Pagi itu Fisya sudah duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memeriksa beberapa dokumen kantor di tablet miliknya.

Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya.

Seorang perawat baru saja selesai memeriksa keadaannya.

“Tekanan darah ibu sudah bagus dan kondisi ibu juga stabil,” ucap perawat itu.

Fisya langsung mengangguk.

“Kalau begitu saya boleh pulang hari ini kan, Sus?”

Perawat itu terlihat ragu.

“Nanti kami tanyakan dulu ke dokter ya Bu.”

“Baik.” ucap Fisya

Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa Fisya dan bayinya.

“Lukanya bagus dan Bayinya juga sehat,” ucap dokter.

Fisya langsung tersenyum tipis.

“Saya mau pulang hari ini, Dok.”

“Biasanya pasien melahirkan masih harus observasi dulu.” ucap sang Dokter

“Saya tidak nyaman terlalu lama di rumah sakit.” jawab Fisya

Dokter akhirnya mengangguk pelan.

“Kalau begitu nanti urusan administrasinya bisa segera diselesaikan.”

“Terima kasih, Dok.” ucap Fisya lagi

Setelah dokter pergi, Fisya langsung mengambil ponselnya lalu menelpon Bik Lili.

(“Bik, datang ke rumah sakit sekarang ya, saya mau pulang hari ini") ucap Fisya di telpon

Bik Lili langsung panik.

(“Iya Bu tapi kok cepat sekali Bu?”)

(“Aku sudah sehat bik dan ngapain lama-lama dirumah sakit”) ucapnya

(“Baik Bu, saya langsung ke sana.”) jawab bik Lili cepat

Fisya mematikan telepon lalu menatap bayi kecil yang tertidur di sampingnya.

Tatapannya berubah lembut namun ada sesuatu dalam matanya yang sulit dijelaskan.

***

Sementara itu… Jason sedang berada di kantor, ia duduk santai di kursi direktur sambil memainkan pulpen di tangannya dan wajahnya terlihat puas.

Beberapa hari terakhir membuatnya merasa semuanya berjalan sesuai rencana.

Bayinya sudah tertukar, tidak ada yang curiga dan yang paling membuatnya puas… Fisya sama sekali belum mengetahui apa pun.

Jason tersenyum kecil.

“Aku berharap Fisya tidak balik lagi ke kantor ini,” gumamnya.

Tatapannya beralih ke ruangan besar di depannya.

“Perusahaan ini seharusnya memang aku yang pegang karena aku suaminya"

Selama ini perusahaan keluarga Alexander memang lebih banyak diurus Fisya

Meski Jason adalah suaminya, keputusan terbesar tetap berada di tangan Fisya karena perusahaan itu warisan keluarga Alexander.

Hal itu selalu membuat Jason merasa rendah dan sekarang ia merasa semuanya akan berubah.

“Kalau anak Kasandra nanti dianggap pewaris keluarga Alexander…” gumamnya pelan.

Jason tersenyum licik.

“Semua harta itu akhirnya jatuh ke tangan kami.”

Tiba-tiba muncul ide lain di kepalanya.

“Ya…”

Ia menyandarkan tubuhnya santai.

“Aku harus merayu Fisya supaya tetap di rumah.”

Jason tersenyum tipis.

“Bilang saja fokus urus anak.”

Kalau Fisya berhenti bekerja maka ia bisa lebih leluasa menguasai perusahaan lebih awal

Ponselnya berbunyi, Jason melihat nama Kasandra muncul di layar.

Ia langsung mengangkatnya.

(“Halo sayang.”)

(“Kapan kamu ke sini?”) tanya Kasandra manja.

("Nanti sore.”) ucap Jason

(“Aku bosan di rumah sakit, aku mau segera pulang") kata Kasandra

Jason tersenyum kecil.

(“Sabar sedikit nanti aku urus.”)

Kasandra tertawa kecil.

(“Jangan lupa lihat anak kita nanti dan kabari padaku")

Jason mengangguk pelan.

(“Iya.”)

Telpon ditutup oleh Jason

***

Sementara itu… Bik Lili akhirnya tiba di rumah sakit, ia langsung menuju kamar rawat Fisya.

Begitu pintu dibuka, ia melihat Fisya sedang menggendong bayinya.

Wajah Fisya terlihat tenang.

“Bik, bantu bereskan barang-barang ya,” ucap Fisya.

“Iya Bu.” Bik Lili segera membereskan perlengkapan bayi dan pakaian Fisya.

Saat itu Fisya berjalan mendekat sambil menggendong bayinya.

“Bik…”

“Iya Bu?” ucap Bik Lili

Fisya tersenyum tipis lalu sedikit membuka selimut bayinya.

“Lihat tanda lahir anak perempuanku.”

Bik Lili langsung melihat ke arah bahu bayi kecil itu, ada tanda lahir kecil berbentuk seperti bulan sabit.

Mata Bik Lili langsung membesar, ia langsung memahami maksud Fisya dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.

Fisya perlahan meletakkan telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat agar diam.

Bik Lili langsung mengangguk pelan, ia benar-benar paham sekarang.

Fisya memang sudah tahu dari awal kalau bayinya itu sudah ditukar

Dan sekarang… Fisya telah menukar kembali bayinya diam-diam, Bik Lili langsung merasa lega luar biasa.

Tanpa banyak bicara mereka melanjutkan membereskan barang, tidak lama kemudian semua selesai.

Mereka meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi.

Sepanjang perjalanan, Fisya terus menggendong bayinya dengan erat.

Sedangkan Bik Lili sesekali melirik Fisya diam-diam.

Ia masih bingung bagaimana majikannya bisa menukar kembali bayinya

Namun ia tidak berani bertanya, setibanya di rumah…

Fisya langsung masuk ke dalam sambil menggendong bayinya, rumah terasa sangat sepi.

Jason memang belum pulang dari kantor.

“Bik, tolong bersihkan kamar sebelah ya bik" ucap Fisya.

Bik Lili mengangguk

“Iya Bu?”

Kamar itu memang sudah dipersiapkan Fisya jauh-jauh hari untuk bayinya.

Lalu Bik Lili segera membersihkan kamar bayi itu sedangkan Fisya duduk di sofa sambil menatap putrinya.

Tatapannya berubah dingin beberapa detik.

“Tidak akan ada yang bisa mengambil kamu dari Mama, Nak” gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian kamar bayi selesai dibersihkan.

Fisya masuk ke dalam lalu perlahan meletakkan putrinya di tempat tidur bayi.

Ia tersenyum tipis melihat anak kecil itu tertidur tenang.

“Cantik sekali…” gumam Bik Lili.

Fisya mengangguk.

“Besok aku mulai kerja lagi.”

Bik Lili langsung kaget.

“Besok Bu? Tapi ibu baru melahirkan"

Fisya duduk di kursi dekat tempat tidur bayi

“Aku sudah cuti seminggu dan aku sudah sehat bik dan aku juga mau lihat keadaan perusahaan.”

Bik Lili terdiam dan ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh majikannya itu

Selama seminggu terakhir perusahaan dipegang Jason dan entah kenapa Fisya mulai takut membayangkan apa saja yang dilakukan pria itu di kantor.

Fisya menatap lurus ke depan.

“Aku terlalu percaya sama orang" nada suaranya terdengar dingin.

Bik Lili hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun

***

Sementara itu… Jason masih berada di kantor sambil memandangi laporan perusahaan, ia terlihat sangat santai baginya semuanya mulai berjalan sempurna.

“Nanti tinggal sedikit demi sedikit setelah itu aku akan singkirkan Fisya,” gumamnya.

Ia bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi pemilik penuh perusahaan Alexander.

Jason tersenyum lalu berdiri.

“Sore ini aku akan menjenguk Kasandra dulu, baru setelah itu ke Fisya" gumamnya

Ia mengambil jasnya lalu keluar kantor, perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu hampir satu jam karena jalanan cukup macet.

Sesampainya di sana, Jason langsung menuju kamar Kasandra.

Begitu pintu dibuka, ia melihat Kasandra sedang marah-marah pada seorang perawat.

“Sus bilang sama dokter aku mau pulang hari ini juga!” ucap Kasandra manja.

Perawat itu tetap sibuk memeriksa infus tanpa peduli.

“Maaf Bu, dokter belum mengizinkan.”

Kasandra langsung kesal.

“Aku sudah sehat!”

Jason masuk sambil menghela napas.

“Ada apa?”

Kasandra langsung menunjuk perawat itu.

“Dia gak mau izinin aku pulang.”

Perawat itu langsung menjelaskan.

“Maaf Pak, kata dokter lihat perkembangan sampai besok pagi.”

Jason langsung menatap perawat itu kesal.

“Sus gak dengar istri saya bilang apa?”

Perawat itu tetap tenang.

“Maaf Pak. Ini aturan rumah sakit.”

Jason mulai emosi.

“Keadaan istri saya sudah sehat.”

“Kalau memang sehat besok pasti dokter izinkan pulang.” ucap perawat tersebut

Kasandra mendecih kesal.

“Aku bosan di sini.”

Perawat itu tetap tidak peduli.

“Saya permisi dulu.”

Setelah perawat keluar, Kasandra langsung cemberut.

“Aku mau pulang sekarang.” ucap Kasandra

Jason mendekat lalu duduk di samping ranjang.

“Sabar sedikit.”

Kasandra memeluk lengan Jason manja.

“Aku mau cepat tinggal di rumah kamu.”

Jason tersenyum kecil.

“Nanti kita bersabar dulu, yang terpenting Fisya tidak curiga dengan kita dan kamu masih bisa leluasa kerumah"

“Aku capek sembunyi-sembunyi terus dan harus berpura-pura terus di depan Fisya" ucap Kasandra lagi

Jason mengusap rambut Kasandra pelan.

“Sedikit lagi semuanya jadi milik kita.”

Kasandra tersenyum puas.

“Fisya masih belum curiga?”

Jason tertawa kecil.

“Dia mana mungkin curiga.”

Namun saat mengatakan itu entah kenapa tiba-tiba Jason teringat tatapan Fisya semalam, tatapan yang membuatnya tidak nyaman.

Jason langsung mengusir pikiran itu.

“Fisya terlalu percaya sama kita berdua sayang karena kamu sahabat dekatnya" ucapnya yakin.

Kasandra tertawa kecil.

“Baguslah.”

Jason mengangguk.

“Nanti kalau dia sudah berhenti kerja dan fokus urus anak, perusahaan itu bakal sepenuhnya di tangan kamu,” sambung Kasandra cepat.

Jason tersenyum puas.

“Benar.”

Kasandra lalu menatap Jason serius.

“Kamu yakin bayinya gak ketukar lagi?”

Jason langsung mengangguk.

“Tenang saja, ku pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana kita" ucap Jason sambil tersenyum

Episodes
1 Mimpi Yang Hilang
2 Sosok Misterius
3 Tanda Lahir
4 Perubahan Fisya
5 Jason Menggantikan Fisya
6 Kembalinya Fisya
7 Fisya Bertemu Sebastian Harrington
8 Kepulangan Kasandra
9 Mengupload Photo Tina Callista Alexander
10 Dendam Fisya Yang Membara
11 Sebastian Mulai Masuk Kerja
12 Pesta Perayaan Kelahiran Tina
13 Pewaris Crown Empire Grup
14 Sebastian Pulang Kerumah
15 James Harrington
16 Meninggalnya Tuan Besar Harrington
17 Sebastian Kembali Bekerja
18 Kerjasama Dengan Crown Empire Group
19 Pengkhianatan Yang Berulang
20 Tekad Yang Bulat
21 Ketakutan Jason dan Kasandra
22 Kemarahan Jason
23 Tiba Di Swiss
24 Memorie Kelam
25 Rahasia Masa Lalu
26 Permainan Sudah Di Mulai
27 Mencari Tina
28 Fisya Membantu Nisa
29 Tangisan Yang Memilukan
30 Penderitaan Agnes
31 Kebohongan Yang Menyakitkan
32 Cinta Sebastian
33 Tina Sudah Siap Pulang
34 Kebahagiaan Jason Mendengar Tina Akan Kembali
35 Agnes Dirawat
36 Pertemuan Tina Dan Agnes
37 Kesombongan Kasandra
38 Jason Dipermalukan Lagi
39 Mengerjai Jason
40 Kasandra Mencari Agnes
41 Tina Mulai Akrab Dengan Sebastian
42 Kesan Pertama Tina Bertemu Kasandra
43 Kehangatan Yang Tidak Bisa dijelaskan
44 Mendaftar Kuliah
45 Kebimbangan Sebastian
46 Undangan Dari Crown Empire Group
47 Masa Lalu Fisya
48 Fisya Mulai Mencurigai Sebastian
49 Agnes Mendengar Segalanya
50 Keberanian Agnes
51 Luka yang Tak Berdarah
52 Jejak Masalalu
53 Jebakan Yang Sudah Direncanakan
54 Sebastian Tertembak
55 Tina Berduka
56 Polisi Meminta Kesaksian
57 Rencana Kejam Jason
58 Kewaspadaan Arman Dan Anton
59 Angel Terluka
60 Rahasia Yang Diketahui Tina
61 Tina Mendekati Jason
62 Ayah Angel Mencarinya
63 Anton Diserang
64 Ketegangan Di Rumah Sakit
65 Kehilangan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Mimpi Yang Hilang
2
Sosok Misterius
3
Tanda Lahir
4
Perubahan Fisya
5
Jason Menggantikan Fisya
6
Kembalinya Fisya
7
Fisya Bertemu Sebastian Harrington
8
Kepulangan Kasandra
9
Mengupload Photo Tina Callista Alexander
10
Dendam Fisya Yang Membara
11
Sebastian Mulai Masuk Kerja
12
Pesta Perayaan Kelahiran Tina
13
Pewaris Crown Empire Grup
14
Sebastian Pulang Kerumah
15
James Harrington
16
Meninggalnya Tuan Besar Harrington
17
Sebastian Kembali Bekerja
18
Kerjasama Dengan Crown Empire Group
19
Pengkhianatan Yang Berulang
20
Tekad Yang Bulat
21
Ketakutan Jason dan Kasandra
22
Kemarahan Jason
23
Tiba Di Swiss
24
Memorie Kelam
25
Rahasia Masa Lalu
26
Permainan Sudah Di Mulai
27
Mencari Tina
28
Fisya Membantu Nisa
29
Tangisan Yang Memilukan
30
Penderitaan Agnes
31
Kebohongan Yang Menyakitkan
32
Cinta Sebastian
33
Tina Sudah Siap Pulang
34
Kebahagiaan Jason Mendengar Tina Akan Kembali
35
Agnes Dirawat
36
Pertemuan Tina Dan Agnes
37
Kesombongan Kasandra
38
Jason Dipermalukan Lagi
39
Mengerjai Jason
40
Kasandra Mencari Agnes
41
Tina Mulai Akrab Dengan Sebastian
42
Kesan Pertama Tina Bertemu Kasandra
43
Kehangatan Yang Tidak Bisa dijelaskan
44
Mendaftar Kuliah
45
Kebimbangan Sebastian
46
Undangan Dari Crown Empire Group
47
Masa Lalu Fisya
48
Fisya Mulai Mencurigai Sebastian
49
Agnes Mendengar Segalanya
50
Keberanian Agnes
51
Luka yang Tak Berdarah
52
Jejak Masalalu
53
Jebakan Yang Sudah Direncanakan
54
Sebastian Tertembak
55
Tina Berduka
56
Polisi Meminta Kesaksian
57
Rencana Kejam Jason
58
Kewaspadaan Arman Dan Anton
59
Angel Terluka
60
Rahasia Yang Diketahui Tina
61
Tina Mendekati Jason
62
Ayah Angel Mencarinya
63
Anton Diserang
64
Ketegangan Di Rumah Sakit
65
Kehilangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!