Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak petang menyisakan genangan air di sepanjang kaca jendela restoran privat lantai atas kawasan Menteng. Di sudut ruangan bertemaram cahaya lampu gantung tembaga, Adam memutar-mutar gelas wiskinya. Cahaya amber minuman beralkohol itu memantul di mata tajamnya—mata seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, namun selalu tersiksa oleh satu-satunya hal yang pernah luput dari genggamannya.

Di atas meja, layar ponselnya menyala, menampilkan artikel hiburan yang hangat dibicarakan: keberhasilan pengambilan gambar pertama film Cinta Dua Batas, lengkap dengan foto Elsa yang tampak lelah namun memukau, serta Ajo yang berdiri kaku di latar belakang.

Adam terkekeh pelan. Sebuah tawa tanpa rasa humor, dingin dan sarat dengan kepahitan yang telah mengendap selama lebih dari satu dekade.

Bagi publik, Adam adalah pengusaha muda sukses, tunangan sekaligus sosok berpengaruh di balik karier Elsa. Namun bagi Ajo, Adam adalah hantu masa lalu yang pernah menghancurkan separuh jiwanya.

Memori itu tak pernah benar-benar mati. Sepuluh tahun lalu, di koridor kampus berarsitektur tua yang dingin, Ajo dan Adam adalah dua nama yang selalu berbenturan. Ajo dengan ketenangan kaku dan keidealisan yang keras, sementara Adam dengan karisma penuh pesona yang sanggup memikat siapa saja. Persaingan mereka bukan sekadar tentang siapa yang meraih nilai tertinggi atau siapa yang memenangkan kompetisi, melainkan tentang seorang wanita bernama Maya.

Ajo mencintai Maya dengan kedalaman yang pendiam—cinta yang diwujudkan lewat tindakan tersembunyi, perhatian tanpa suara, dan kesetiaan yang kaku. Namun Adam tidak bisa membiarkan Ajo memiliki sesuatu yang berharga. Bagi Adam, merebut Maya dari Ajo bukan hanya soal perasaan, melainkan tentang penaklukan. Tentang membuktikan bahwa ketenangan Ajo bisa diretas dan dihancurkan hingga tak tersisa.

Adam menggunakan segalanya: manipulasi yang halus, karisma yang memabukkan, hingga akhirnya berhasil menarik Maya ke dalam pelukannya. Dan ketika Ajo akhirnya mundur dengan luka mendalam yang mengubahnya menjadi pria bertangan dingin tanpa emosi, Adam justru merasa bosan. Maya hanyalah piala bergilir yang kehilangan kilaunya setelah berhasil dimenangkan.

Kini, sejarah seolah mengulang dirinya sendiri dengan pola yang mengerikan.

Pintu privat restoran berderit terbuka. Elsa melangkah masuk dengan gaun hitam polos, wajahnya tampak pucat dan kedua matanya masih menyisakan jejak keletihan dari lokasi syuting di Bogor. Ada ruang jarak yang tak kasat mata saat wanita itu mengambil tempat duduk di seberang Adam.

"Kamu terlambat, Elsa," ujar Adam pelan, suaranya halus namun menyimpan tekanan yang menuntut.

"Syuting hari ini sangat menguras emosi, Adam. Jalur dari Bogor juga padat," jawab Elsa, suaranya datar, tanpa riak kehangatan yang biasa ia tunjukkan di depan media.

Adam menatap Elsa dalam-dalam. Sebagai pria yang secara finansial dan manajemen memegang kendali atas sebagian besar kontrak Elsa, ia mengenali perubahan sekecil apa pun pada wanita itu. Dan malam ini, Elsa tidak tampak seperti 'Sang Dewi' yang bisa ia kendalikan. Ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya—sesuatu yang lepas dari cengkeramannya.

Adam menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan jemarinya yang terjalin. "Aku membaca laporan dari lapangan. Ajo membuatmu menangis di depan semua kru?"

Tangan Elsa yang sedang meraih cangkir teh mendadak terhenti di udara. "Itu bagian dari tuntutan peran. Ajo hanya ingin hasil yang jujur."

Nama itu. Cara Elsa menyebut nama "Ajo" tanpa selipan kata formalitas "Pak" atau "Produser" menyengat saraf Adam seperti cipratan api. Rahang Adam mengetat, pembuluh darah di pelipisnya menegang samar.

"Jujur?" Adam terkekeh, nada bicaranya berubah penuh cemooh. "Ajo tidak tahu apa pun tentang kejujuran, Elsa. Pria itu hanyalah sosok mahluk terluka yang gagal menjaga hidupnya sendiri. Perceraiannya yang hancur itu buktinya. Dan sekarang, dia berpura-pura menjadi penilai moral di atas penderitaanmu?"

Elsa menatap Adam dengan mata membelalak tipis. Ada rasa muak yang mendadak menyeruak di dadanya saat mendengar Adam merendahkan Ajo. "Ini bukan tentang masa lalu kalian, Adam. Ini tentang karya."

"Ini selalu tentang aku dan Ajo, Elsa!" potong Adam, suaranya memotong keheningan ruangan bagai belati. Untuk sekejap, topeng pria berkelas yang ia pakai luruh, menampilkan riak amarah dan kecemburuan lama yang membara.

Adam memajukan tubuhnya, menatap Elsa dengan pandangan yang mengunci. "Dulu, dia pikir dia bisa menyembunyikan Maya dariku. Tapi aku mengambilnya dengan mudah. Dan sekarang, kalau dia berpikir bisa menyentuhmu—bahkan hanya lewat emosi di balik kamera—dia sangat salah."

Elsa merasakan dingin merayap di tengkuknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat dengan sangat jelas bahwa hubungan mereka selama ini bukanlah tentang cinta, melainkan tentang status dan kepemilikan. Bagi Adam, Elsa adalah mahkota kebanggaan yang tak boleh disentuh oleh siapa pun—terutama oleh Ajo.

"Aku bukan milik siapa-siapa, Adam," bisik Elsa dengan suara yang bergetar namun tegas, menyuarakan perlawanan pertamanya setelah sekian tahun menjadi boneka. "Dan Ajo tidak sedang merebut apa pun darimu. Dia hanya satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia, bukan sebagai piala."

Kata-kata Elsa menghantam Adam tepat di ulu hati. Rasa dingin mengaliri darahnya, berganti menjadi kepulan amarah yang beracun. Pria di depannya ini—wanita yang selama bertahun-tahun tunduk pada setiap aturan arah kariernya—baru saja membela musuh terbesarnya.

Adam tersenyum tipis, sebuah senyuman kelam yang tidak sampai ke matanya. Ia meraih jemari Elsa, meremasnya dengan tekanan yang cukup kuat untuk memberi ancaman implisit.

"Kita lihat seberapa jauh Ajo bisa bertahan saat aku menghancurkan proyek ini dari akarnya, Elsa," bisik Adam dingin. "Ajo pernah kehilangan segalanya karena aku dulu. Dan aku tidak akan segan-segan membuatnya merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya."

Elsa menarik tangannya dengan napas tersengal, namun Adam hanya menatapnya penuh kemenangan. Di balik kegelapan malam Jakarta, benang persaingan lama antara dua pria itu kini kembali terikat kencang—dan Elsa tahu, ia berada tepat di tengah-tengah badai yang siap meledak.

Episodes
1 Di Balik Kaca dan Kilatan Kamera
2 Retakan di Balik Meja Jati
3 Gema di Luar Batas Kamera
4 Bayang-Bayang dari Masa Lalu
5 Hujan di Atas Lembar Kertas Tua
6 Tragedi Lift VIP dan Harga Diri yang Menguap
7 Reuni Bertumit Tinggi dan Rebutan Mainan
8 Saling Kunci di Bawah Sorot Lampu
9 Bintang yang Menemukan Langitnya
10 Racun di Atas Panggung Karpet Merah
11 Jenderal yang Hilang dalam Badai
12 Penguasa di Balik Bayang-Bayang
13 Bayang-Bayang di Rumah Kayu Tua
14 Abu di Rumah Tua Sang Jenderal
15 Panen Raya, Kembang Desa, dan Persekutuan Baru
16 Antara Lesung Pipit dan Kopi yang Salah Seduh
17 Api di Kaki Salak dan Kembalinya Tiga Jenderal
18 Serigala di Atas Tanah Basah
19 Runtuhnya Takhta Kaca
20 Ketukan Palu dan Takdir yang Kembali
21 Bisikan Jenderal dan Bunga Desa Gunung Salak
22 Karpet Merah di Tanah Kelahiran
23 Pesta Mewah dan Rencana Dapur Rahasia
24 Malam Pengantin, Lingerie Pink, dan Jenderal yang Hilang Kendali
25 Panen Raya, Perut Buncit, dan Kejutan di Atas Bale-Bale
26 Tiga Jenderal dan Senja Abadi
27 Di Bawah Rindangnya Pohon Cengkeh Tua
28 Misi Rahasia "Susu Formula" dan Aksi Konyol Tiga Jenderal
29 Skenario Rahasia sang Jenderal Kecil
30 Gala Premier, Air Mata, dan Rumah di Atas Awan
31 Warisan untuk Sang Jenderal Kecil
32 Panggilan dari Masa Lalu
33 Warisan Dendam Keluarga Tanaya
34 Ujian Pertama Generasi Baru
35 Strategi Lapangan dan Serangan Pertama
36 Gemuruh di Kaki Gunung dan Pertarungan Dua Generasi
37 Misi Operasi Dibalik Layar
38 Drama Penthouse, Kasur Terbang, dan Borgol Emas
39 Gala Premier Generasi Baru dan Warisan Abadi
40 Tamu Asing di Pesta Panen
41 Langkah Catur sang Pemburu
42 Jebakan Jerat Hukum dan Langkah Kontra-Serangan
43 Terobosan Malam Hari dan Kejutan di Puncak Gedung
44 Sidang Pembuktian dan Akhir Perjalanan Vanya
45 WARISAN DI ATAS LERENG SALAK
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Di Balik Kaca dan Kilatan Kamera
2
Retakan di Balik Meja Jati
3
Gema di Luar Batas Kamera
4
Bayang-Bayang dari Masa Lalu
5
Hujan di Atas Lembar Kertas Tua
6
Tragedi Lift VIP dan Harga Diri yang Menguap
7
Reuni Bertumit Tinggi dan Rebutan Mainan
8
Saling Kunci di Bawah Sorot Lampu
9
Bintang yang Menemukan Langitnya
10
Racun di Atas Panggung Karpet Merah
11
Jenderal yang Hilang dalam Badai
12
Penguasa di Balik Bayang-Bayang
13
Bayang-Bayang di Rumah Kayu Tua
14
Abu di Rumah Tua Sang Jenderal
15
Panen Raya, Kembang Desa, dan Persekutuan Baru
16
Antara Lesung Pipit dan Kopi yang Salah Seduh
17
Api di Kaki Salak dan Kembalinya Tiga Jenderal
18
Serigala di Atas Tanah Basah
19
Runtuhnya Takhta Kaca
20
Ketukan Palu dan Takdir yang Kembali
21
Bisikan Jenderal dan Bunga Desa Gunung Salak
22
Karpet Merah di Tanah Kelahiran
23
Pesta Mewah dan Rencana Dapur Rahasia
24
Malam Pengantin, Lingerie Pink, dan Jenderal yang Hilang Kendali
25
Panen Raya, Perut Buncit, dan Kejutan di Atas Bale-Bale
26
Tiga Jenderal dan Senja Abadi
27
Di Bawah Rindangnya Pohon Cengkeh Tua
28
Misi Rahasia "Susu Formula" dan Aksi Konyol Tiga Jenderal
29
Skenario Rahasia sang Jenderal Kecil
30
Gala Premier, Air Mata, dan Rumah di Atas Awan
31
Warisan untuk Sang Jenderal Kecil
32
Panggilan dari Masa Lalu
33
Warisan Dendam Keluarga Tanaya
34
Ujian Pertama Generasi Baru
35
Strategi Lapangan dan Serangan Pertama
36
Gemuruh di Kaki Gunung dan Pertarungan Dua Generasi
37
Misi Operasi Dibalik Layar
38
Drama Penthouse, Kasur Terbang, dan Borgol Emas
39
Gala Premier Generasi Baru dan Warisan Abadi
40
Tamu Asing di Pesta Panen
41
Langkah Catur sang Pemburu
42
Jebakan Jerat Hukum dan Langkah Kontra-Serangan
43
Terobosan Malam Hari dan Kejutan di Puncak Gedung
44
Sidang Pembuktian dan Akhir Perjalanan Vanya
45
WARISAN DI ATAS LERENG SALAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!