BAB 3 : REMBULAN PUN IKUT MENARI

BAB 3

Sorak-sorai anak-anak masih memenuhi pelataran rumah Denia. Wajah Rangga berseri-seri. Kemenangan dalam hompimpa barusan benar-benar membuka jalan bagi rencana besarnya malam itu.

"Saiki aku sing menang, dadi sing kalah manut karo sing menang!" seru Rangga penuh percaya diri. Matanya langsung mencari sosok Denia yang berdiri di dekat Lilis.

"Aku milih dolanan Wayang Wong!" lanjutnya lantang.

"Wayang Wong maneh?" celetuk Handoko sambil menggeleng.

"Iya. Lakone Bela Pati Dewi Ratih," jawab Rangga mantap, seolah keputusan itu sudah dipikirkannya sejak lama.

Belum sempat ada yang menyela, Rangga langsung membagi peran.

"Aku dadi Kamajaya. Mas Trio dadi Mahadewa. Denia dadi Dewi Ratih."

Beberapa anak langsung saling pandang. Mas Trio tersenyum geli, sementara Denia hanya menundukkan kepala sambil menggigit bibir, menyadari namanya disebut tanpa diberi kesempatan menolak.

Rangga tak memberi waktu siapa pun untuk berdebat. Begitu semua peran diumumkan, ia langsung berlari sekencang-kencangnya menuju rumah budenya yang berjarak sekitar seratus meter dari pelataran.

Tak butuh waktu lama, Rangga sudah kembali ke pelataran dengan napas memburu. Dada kecilnya naik turun, sementara sepasang matanya berbinar penuh semangat. Di kedua tangannya tergenggam tiga lembar kain tapih batik yang masih rapi terlipat. Dari kain-kain itu masih tercium samar aroma hangat setrika arang, seolah baru saja diangkat dari papan setrikaan.

"Ngga... kon nyolong kain budemu, ta?" goda Mas Trio sambil terkekeh.

"Enak wae. Iki tak silih. Mengko yo tak balekke," jawab Rangga cepat, lalu mengibaskan salah satu kain dengan bangga.

"Edan... niat tenan," celetuk Handoko geleng-geleng kepala.

Rangga hanya menyeringai. Baginya, lakon sebesar Bela Pati Dewi Ratih tidak pantas dimainkan tanpa properti. Walaupun seadanya, setidaknya malam itu mereka harus benar-benar terlihat seperti tokoh wayang.

Mas Trio segera mengambil sebuah kursi bambu kecil yang tergeletak di teras rumah Denia. Ia meletakkannya tepat di tengah pelataran, lalu duduk bersila di atasnya. Kedua matanya terpejam rapat, sementara kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut.

"Wis, aku Mahadewa," ucapnya pendek.

"Ojo ngguyu lho, Mas!" seru Rangga mengingatkan.

"Iya... iya..."

Di sisi lain, Denia menerima selembar kain tapih dari tangan Rangga. Gadis kecil itu sempat memandang kain tersebut beberapa saat sebelum melilitkannya perlahan di pinggang. Gerakannya masih kikuk, hingga Lilis ikut membantu merapikan simpulnya.

"Nah... saiki ayu," puji Lilis sambil tersenyum.

Denia hanya menunduk malu.

Sementara itu, Rangga mengenakan kain tapih miliknya dengan wajah yang begitu serius. Sesekali ia menarik ujung kain ke kanan dan ke kiri, memastikan ikatannya tidak mudah lepas saat nanti bergerak.

Begitu semua siap, ia melangkah ke tengah pelataran.

Anak-anak yang tadi masih bercanda kini otomatis membentuk lingkaran. Tidak ada panggung, tidak ada gamelan, apalagi lampu sorot. Hanya cahaya bulan purnama yang menggantung di langit, ditemani suara jangkrik dari pematang sawah.

Namun, bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.

Rangga menarik napas panjang.

Seketika wajah jahilnya lenyap. Bocah itu benar-benar tenggelam ke dalam peran yang akan dimainkannya.

Dengan langkah pelan dan kedua tangan yang bergerak gemulai, ia mulai mengitari Mahadewa yang masih duduk bermeditasi.

"Wahai Mahadewa..." serunya lantang. "Mengapa Engkau terus memejamkan mata? Tidakkah Engkau mendengar kerinduan Dewi Sati yang menantikan kehadiran-Mu?"

Suara Rangga menggema di pelataran yang lengang.

Ia kembali melangkah memutar, sesekali mengangkat tangan seperti seorang ksatria yang sedang berbicara kepada dewanya.

"Bangunlah, Mahadewa! Temuilah Dewi Sati yang mencintai-Mu dengan sepenuh hati!"

Anak-anak yang menonton mulai saling pandang. Beberapa di antara mereka menahan tawa, bukan karena mengejek, melainkan kagum melihat kesungguhan Rangga memainkan perannya.

Mas Trio pun tak kalah totalitas. Sejak duduk bersila, tubuhnya nyaris tak bergerak sedikit pun. Bahkan kelopak matanya tetap terpejam rapat, seolah benar-benar sedang bertapa.

Melihat itu, Rangga semakin bersemangat.

Baginya, malam padang bulan di Desa Samudra telah berubah menjadi sebuah panggung kerajaan kahyangan.

Perlahan, Denia melangkah memasuki lingkaran permainan. Kain tapih yang melilit di pinggangnya bergoyang pelan mengikuti langkah kaki mungilnya. Meski wajahnya tampak malu-malu, ia berusaha mengingat setiap dialog yang sejak tadi didengarkan dari Rangga.

Rangga menoleh.

Sesaat, ia benar-benar lupa bahwa yang berdiri di hadapannya hanyalah Denia, teman bermainnya sejak kecil. Dalam benaknya, gadis itu telah berubah menjadi Dewi Ratih yang anggun.

Denia berhenti beberapa langkah di sampingnya, lalu membungkukkan badan sedikit.

"Wahai junjunganku, Tuanku Kamajaya," ucapnya lirih, "janganlah Tuanku mengganggu meditasi Mahadewa. Hamba khawatir Mahadewa murka dan menjatuhkan hukuman kepada Tuanku."

Nada suaranya memang masih terdengar canggung. Namun, justru kepolosan itulah yang membuat semua anak terdiam sejenak.

Rangga ikut terdiam.

Jantungnya kembali berdebar tidak karuan.

Ia nyaris lupa menarik napas.

Untung saja, naskah lakon yang sudah dihafalnya sejak siang masih tersimpan rapi di dalam kepalanya.

Dengan dada dibusungkan, ia kembali memasuki perannya.

"Wahai Ratih," katanya penuh keyakinan, "semua ini kulakukan demi menghormati cinta Dewi Sati yang begitu suci kepada Mahadewa. Bila memang harus, akan kulepaskan panah asmara untuk membangunkan beliau."

Denia menggeleng pelan.

"Jangan, Tuanku. Mahadewa sedang bertapa. Bila beliau murka, bencana akan datang. Lautan bisa mendidih, gunung berguncang, bahkan langit dan bumi dapat porak-poranda."

Beberapa anak saling berpandangan sambil menahan senyum. Kalimat-kalimat itu terdengar begitu megah keluar dari mulut bocah-bocah desa yang sehari-harinya lebih akrab dengan sawah dan sungai.

Namun, Rangga sama sekali tidak menganggapnya lucu.

Baginya, malam itu adalah pertunjukan yang sesungguhnya.

"Tidak, Ratih!" sahutnya mantap. "Apa pun risikonya, Mahadewa harus dibangunkan."

Usai mengucapkan kalimat itu, Rangga mundur beberapa langkah.

Ia berjalan ke arah pohon jambu di tepi pelataran, lalu membungkuk mengambil sesuatu yang sejak tadi disembunyikannya di balik rerumputan.

Sebuah busur kayu kecil.

Lengkap dengan sebatang anak panah yang ujungnya telah dibuat tumpul.

Anak-anak yang melihatnya spontan berseru.

"Lho... kon nggawe kuwi kapan?"

"Heh... tenan nggawa panah!"

Rangga hanya tersenyum tipis.

Tanpa banyak bicara, ia menggenggam busur itu erat-erat. Jemarinya menarik tali busur perlahan hingga menegang, sementara ujung anak panah mengarah lurus ke dada Mahadewa yang masih duduk bersila tanpa bergerak sedikit pun.

Mas Trio benar-benar menghayati perannya. Sejak awal duduk, ia tetap memejamkan mata, seolah tak menyadari bahwa dirinya kini sedang dibidik.

Suasana pelataran mendadak sunyi.

Tak ada lagi tawa.

Semua anak menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Saat itulah Denia melangkah cepat.

"Tuanku Kamajaya... jangan."

Dengan ragu-ragu, kedua tangan mungilnya menyentuh lengan Rangga yang masih menahan busur.

Sentuhan itu begitu ringan.

Namun, bagi Rangga, rasanya seperti aliran listrik yang menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya.

Ia membeku.

Mulutnya terbuka pelan.

"Tidak, Den..."

Kalimat itu menggantung.

Otaknya yang sejak tadi lancar menghafal setiap dialog mendadak kosong.

Semua kata yang telah disusunnya sejak siang tadi lenyap begitu saja, hanya karena satu sentuhan tak terduga dari gadis yang diam-diam memenuhi ruang kecil di hatinya.

Di bawah cahaya bulan purnama, lakon Wayang Wong itu mungkin hanya sebuah permainan bagi anak-anak yang lain. Namun bagi Rangga, malam itu adalah awal dari sebuah perasaan yang kelak akan tumbuh jauh melampaui usia mereka.

Episodes
1 BAB 1: DENIA BIDADARI KECIL DI DESA SAMUDRA
2 BAB 2 : TARIAN KAMAJAYA
3 BAB 3 : REMBULAN PUN IKUT MENARI
4 BAB 4: PANAH ASMARA DAN JANJI DI BAWAH BINTANG
5 BAB 5: ANCAMAN DAN HATI YANG TEGUH
6 BAB 6: RASI BINTANG TETAP SETIA
7 BAB 7 : LANGKAH DI TANAH ASING
8 BAB 8: MELEPAS RASI BINTANG LAMA
9 BAB 9: BUNGA YANG TAK INGIN DIPETIK
10 BAB 10: JANGKAR DAN LANGKAH
11 BAB 11: MENCOBA MERAWAT BUNGA YANG MEKAR
12 BAB 12: MIMPI YANG KEMBALI MEMANGGIL
13 BAB 13: PERSIMPANGAN TAKDIR
14 BAB 14: LANGKAH YANG BERAT
15 BAB 15: LANGIT MEMANGGIL
16 BAB 16: KEPUTUSAN YANG TAK TERELAKKAN
17 BAB 17: BAYANGAN DI BALIK LAMPU JALAN
18 BAB 18: Di Ambang Kematian
19 BAB 19: SALAH SASARAN
20 BAB 20: LANGIT BARU
21 BAB 21: JEJAK PERTAMA DI TANAH BORNEO
22 BAB 22: UJIAN PERTAMA
23 BAB 23: LANGIT YANG MENUNJUKKAN JALAN
24 BAB 24 : JARAK YANG BERBICARA 1
25 BAB 25: JARAK YANG BERBICARA 2
26 BAB 26: JARAK YANG BERBICARA 3
27 BAB 27: JARAK YANG BERBICARA 4
28 BAB 28: JEJAK DI BALIK SABOTASE
29 29: BUNGA YANG MEMILIH LAYU
30 BAB 30: KELAS BARU SANG MANDOR
31 BAB 31: CAHAYA BARU DI LANGIT ARKAIS
32 BAB 32: JEJAK YANG MEMANGGIL
33 BAB 33: WANITA DI BALIK GELANG PERAK
34 BAB 34: REUNI DI BAWAH HUJAN KERIKIL
35 BAB 35: TEKA-TEKI SANG PERINTIS
36 BAB 36: BAYANGAN YANG BERGERAK DALAM SUNYI
37 BAB 37: PERCIKAN DI ANTARA DUA INTUISI
38 BAB 38: MENEMBUS BATAS LABORATORIUM TUA
39 BAB 39: KONFRONTASI SANG PENGAWAS
40 BAB 40: RAHASIA BESAR SANG PERINTIS
41 BAB 41: SEGEL KEDAMAIAN DI LANGIT ARKAIS (EPILOG)
Episodes

Updated 41 Episodes

1
BAB 1: DENIA BIDADARI KECIL DI DESA SAMUDRA
2
BAB 2 : TARIAN KAMAJAYA
3
BAB 3 : REMBULAN PUN IKUT MENARI
4
BAB 4: PANAH ASMARA DAN JANJI DI BAWAH BINTANG
5
BAB 5: ANCAMAN DAN HATI YANG TEGUH
6
BAB 6: RASI BINTANG TETAP SETIA
7
BAB 7 : LANGKAH DI TANAH ASING
8
BAB 8: MELEPAS RASI BINTANG LAMA
9
BAB 9: BUNGA YANG TAK INGIN DIPETIK
10
BAB 10: JANGKAR DAN LANGKAH
11
BAB 11: MENCOBA MERAWAT BUNGA YANG MEKAR
12
BAB 12: MIMPI YANG KEMBALI MEMANGGIL
13
BAB 13: PERSIMPANGAN TAKDIR
14
BAB 14: LANGKAH YANG BERAT
15
BAB 15: LANGIT MEMANGGIL
16
BAB 16: KEPUTUSAN YANG TAK TERELAKKAN
17
BAB 17: BAYANGAN DI BALIK LAMPU JALAN
18
BAB 18: Di Ambang Kematian
19
BAB 19: SALAH SASARAN
20
BAB 20: LANGIT BARU
21
BAB 21: JEJAK PERTAMA DI TANAH BORNEO
22
BAB 22: UJIAN PERTAMA
23
BAB 23: LANGIT YANG MENUNJUKKAN JALAN
24
BAB 24 : JARAK YANG BERBICARA 1
25
BAB 25: JARAK YANG BERBICARA 2
26
BAB 26: JARAK YANG BERBICARA 3
27
BAB 27: JARAK YANG BERBICARA 4
28
BAB 28: JEJAK DI BALIK SABOTASE
29
29: BUNGA YANG MEMILIH LAYU
30
BAB 30: KELAS BARU SANG MANDOR
31
BAB 31: CAHAYA BARU DI LANGIT ARKAIS
32
BAB 32: JEJAK YANG MEMANGGIL
33
BAB 33: WANITA DI BALIK GELANG PERAK
34
BAB 34: REUNI DI BAWAH HUJAN KERIKIL
35
BAB 35: TEKA-TEKI SANG PERINTIS
36
BAB 36: BAYANGAN YANG BERGERAK DALAM SUNYI
37
BAB 37: PERCIKAN DI ANTARA DUA INTUISI
38
BAB 38: MENEMBUS BATAS LABORATORIUM TUA
39
BAB 39: KONFRONTASI SANG PENGAWAS
40
BAB 40: RAHASIA BESAR SANG PERINTIS
41
BAB 41: SEGEL KEDAMAIAN DI LANGIT ARKAIS (EPILOG)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!