Bab 5

"Apa dia akan kembali?" tanya seorang laki-laki tampan yang saat itu mendengar seluruh percakapan antara papa Ardan dan Lilian di telpon barusan.

Papa Ardan menoleh dan mendapati anak sulung nya yang duduk di kursi roda kini berada tepat di belakang nya.

Karen, anak sulung kelurga Pratama sekaligus kakak kandung dari Lilian, seorang laki-laki yang selama ini hanya bisa duduk di kursi roda, ia mengalami kecelakaan tiga tahun lalu saat mencari Lilian adik kesayangannya yang memilih pergi dari keluarga Pratama, melepaskan statusnya sebagai pewaris keluarga Pratama, menentang kakak dan papa nya hanya demi seorang laki-laki yang dia anggap segala hal di dalam hidupnya.

"Iya, Karen, apakah kau sudah siap menerima Lilian kembali ke rumah ini?" tanya sang papa yang tau betul bagaimana perasaan Karen saat ini.

Karen menatap sang papa sekilas lalu menatap kedua kakinya yang kini tak bisa lagi berjalan, tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya, dia berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Lilian adalah adik satu-satunya yang dimiliki Karen, dia menjadi kesayangan di kelurga Pratama, hidup bergelimang harta, meskipun sang mama sudah tiada sejak usia Lilian sepuluh tahun, Lilian tak pernah merasakan kurang nya kasih sayang karena kakak dan sang papa yang selalu menjadikan nya sebagai tuan putri di rumah tersebut.

Namun setelah usianya menginjak angka 22 tahun semua itu berubah, Lilian tiba-tiba mengenal Alen, sosok laki-laki miskin yang tak punya apa-apa, sempat meminta restu kepada papa dan kakaknya namun kedua orang itu menolak hal ini membuat Lilian yang kecintaan kepada Alen memutuskan untuk pergi dari rumah, menyembunyikan identitas nya dan menikahi Alen.

Karen yang sangat menyayangi sang adik pada malam itu menempuh hujan badai untuk mencari Lilian namun naas menimpa dirinya, dia mengalami kecelakaan dan sampai sekarang tidak bisa berjalan.

Meskipun begitu Karen bukan sosok yang tidak berguna, dia adalah salah satu pemilik perusahaan besar di bawah naungan dan pengawasan sang papa yang selalu ada di samping nya, akan tetapi sejak kecelakaan itu Karen tidak pernah menyebut nama Lilian lagi, dia juga lebih banyak diam dan fokus bekerja, tidak banyak bicara dan sering melamun.

"Sampai sekarang aku tidak tau apa yang dirasakan serta di pikirkan oleh Karen," batin sang papa.

Sementara itu di kamar Karen.

Suara tombol ponsel terdengar samar menghiasi ruangan sepi yang di terangi lampu tidur berwarna kuning, di samping nakas terdapat sebuah ranjang king size di mana itu adalah tempat ternyaman bagi Karen yang kini bersandar di kepala ranjang.

Sebuah pesan berhasil ia kirim ke nomer tujuan yang tampak tidak asing.

"Lilian akan kembali,"

Itulah isi pesan tersebut. Singkat namun menyimpan makna mendalam.

Tak butuh waktu lama centang biru terlihat, pertanda sosok di seberang sana telah membaca isi pesan dari Karen. Tak ada balasan, Karen mematikan layar ponselnya dan segera memejamkan mata.

Sementara itu di ruang kerja sang papa.

"Tuan," panggil seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam, tak hanya pakaiannya ia juga mengenakan atribut topi dan masker serta kacamata berwarna hitam.

"Katakan padaku, apa yang terjadi di sana sampai membuat Lilian memilih kembali, ini adalah keputusan besar yang tidak pernah aku duga akan datang secara tiba-tiba, meskipun aku senang tapi aku ingin tau," ucap papa Ardan dengan tatapan tajam.

Laki-laki tampa nama yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seorang mata-mata yang dia sewa selama tiga tahun terkahir untuk menguntit atau memantau keadaan Lilian sehingga apapun yang terjadi di kediaman Bayron papa Ardan akan mengetahuinya.

Meskipun sempat marah, kecewa dan menyesal akan keputusan bodoh Lilian namun ayah tetap lah ayah, sampai kapanpun kasih sayang seorang ayah tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa sakit yang beliau rasakan, karena itu diam-diam papa Ardan selalu menjaga Lilian melalui mata-mata nya.

"Tuan besar, kejadian kali ini benar-benar mendobrak pintu kesabaran nona muda, aku tidak tau tuan akan senang atau marah mendengar kabar ini tapi aku yang selama ini selalu memantau keseharian di kediaman keluarga Bayron juga di buat kaget dengan kehadiran malam ini," ungkap sang mata-mata.

"Jangan bertele-tele, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sana?" ucap papa Ardan seketika berdiri dari duduknya dengan perasaan khawatir campur aduk.

"Laki-laki itu, dia baru saja kembali dari dinas nya di luar kota tentang proyek yang kau berikan atas permohonan nona muda enam bulan lalu, tapi tuan, dia kembali bersama seorang wanita yang sedang hamil besar," jelas sang mata-mata.

Brak ...

"Kurang hajar! Berani-beraninya dia melakukan itu kepada putriku!" ucap papa Ardan setelah menubrak meja dengan kasar melampiaskan amarahnya yang kian menggebu-gebu.

"Menurut informasi yang ku dapat, wanita itu adalah istri dari asisten nya yang sudah meninggal, terjadi sesuatu di luar kota asisten nya meninggal akibat menolong nya dan plot twist nya Alen merasa bersalah dan berhutang budi dia bahkan ingin mengakui anak yang ada di dalam kandungan wanita itu menjadi anak nya," ucap sang mata-mata panjang lebar.

Hal ini semakin membuat papa Ardan murka, dia tidak menyangka kalau kejadian kali ini benar-benar akan separah itu.

"Manusia tidak tahu diri, berani-beraninya dia memperlakukan Lilian dengan sangat buruk, lihat saja ketika Lilian sudah kembali aku akan satu demi satu memperhitungkan perbuatannya kepada putriku," ucap papa Ardan sambil mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu aku permisi tuan," ucap sang mata-mata yang sudah selesai dengan laporan nya.

"Baik, pergilah dan jika ada hal-hal yang membahayakan Lilian segera hubungi aku," ucap papa Ardan kepada anak buahnya.

"Baik," jawab sang mata-mata yang kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Keesokan harinya ...

Semalaman Lilian tidak bisa tidur dengan nyenyak, rasa sakit serta sesak masih bersarang di dadanya, sekuat dan setegas apapun seorang wanita, tidak mungkin dia tidak bisa merasakan sakit ketika seorang suami yang selama ini dia cintai tiba-tiba membawa perempuan lain masuk ke dalam rumah dengan berbagai macam dalih.

Tok ...

Tok ...

Tok ...

Terdengar suara ketukan di depan pintu kamar Lilian.

Lilian yang mendengar itu segera turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar, ia sudah tau siapa yang saat ini berdiri di sana menunggu pintu itu terbuka.

"Lilian, aku ingin bicara empat mata dengan mu," ucap Alen.

Ya, dia suaminya, Alen.

"Apa lagi yang perlu kau bicarakan?" ucap Lilian dengan tatapan dingin.

Ini pertama kali nya Alen menerima tatapan berbeda dari mata sang istri yang sudah tiga tahun dia nikahi.

"Ini tentang Tasya," ucap Alen tak ada habisnya, dia masih saja membahas wanita itu di hadapan Lilian tanpa memikirkan perasaan Lilian.

"Mas Alen, anggap saja tiga hari terakhir ku di rumah ini sebagai kesempatan untuk mu, kita lihat apakah kau memilih ku atau perempuan itu," batin Lilian.

Bersambung ....

 

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

ternyata Alen dan keluarga bagaikan kacang lupa kulit,,,dari kemiskinan di tolong di naikan jerajatnya tetapi lihatlah orang tua nya adek nya bahkan suaminya seolah abai,,,ya kalau gitu tinggalen ae jor,,,dan nanti biar mencari hingga ke ujung seantero ga ketemu dan miskin kembali' baru lah ingat Lilian,,,dan nya Lilian sudah bergabung bersama saudara nya dan orang tua nya,,,moso di samakan Ayam betina ga bisa bertelur lihat ibu juga punya anak perempuan,,,bahkan anaknya pemalas dan tukang tindas 👍👍sudah ketemu haha🙏🙏

2026-07-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!