Episode 4

Bab 4: Dia Kabur Lagi

Rayhan bangun karena ponsel di meja terus bergetar.

Bukan ponselnya.

Ponsel Keira.

Nama Mama Yuli masih menyala di layar, kali ini bersama pesan pendek yang masuk bertubi-tubi. Rayhan tidak membuka isinya. Ia hanya melihat jumlah panggilan tak terjawab yang sudah melewati dua belas, lalu menatap perempuan yang tertidur dengan wajah pucat di sebelahnya.

Ada garis lelah di bawah mata Keira.

Semalam ia tertawa, berani, mencium lebih dulu, lalu bicara tentang menikah seperti anak kecil meminta hadiah. Namun dalam tidur, keberanian itu hilang. Yang tersisa hanya perempuan muda yang tampak terlalu lama menahan sesuatu sendirian.

Rayhan turun dari ranjang tanpa suara.

Ia menelepon Devin dari balkon kecil kamar hotel.

"Cek keluarga Lim di Jakarta."

Di seberang, Devin langsung sadar penuh. "Sekarang, Bos?"

"Sekarang."

"Ada masalah dengan Nona Keira?"

Rayhan menatap kaca balkon. Dari pantulannya, ia bisa melihat Keira masih meringkuk di ranjang. "Belum tahu."

"Saya urus."

Rayhan menutup telepon.

Saat kembali ke kamar, Keira sudah sedikit bergerak. Wajahnya mengernyit, satu tangan menekan perut bagian bawah.

"Sakit?" tanya Rayhan.

Keira membuka mata setengah. "Hm?"

"Perutmu."

Ia tampak baru sadar tangannya sendiri. Wajahnya memerah. "Tidak apa-apa. Biasa."

Rayhan memandangnya dua detik. "Lambung?"

"Mungkin," gumam Keira, menghindari tatapannya. "Atau kebanyakan wine."

Rayhan berdiri. "Tidur lagi."

"Mau ke mana?"

"Buatkan sesuatu."

Keira berkedip. "Anda?"

"Ada masalah?"

"Tidak. Hanya... saya pikir orang seperti Anda tidak masuk dapur."

"Orang seperti saya?"

Keira masih setengah mengantuk, jadi mulutnya lebih jujur. "Terlalu mahal."

Rayhan menatapnya. Lalu ia mengambil jasnya dari kursi dan keluar.

Empat puluh menit kemudian, ia kembali membawa termos pink baru dari toko hotel, jahe hangat, bubur polos, obat nyeri yang sudah dikonfirmasi ke dokter pribadi, dan wajah datar seolah semua itu hal biasa.

Keira duduk di ranjang, rambut berantakan, mata membesar.

"Itu untuk saya?"

"Tidak. Untuk meja."

Keira tersenyum kecil sebelum sempat menahannya.

Rayhan menuang air jahe ke gelas. "Minum."

"Ray."

"Hm."

"Kamu sering mengurus perempuan seperti ini?"

Tangan Rayhan berhenti sebentar.

Ia menatap Keira. "Tidak pernah."

Jawaban itu membuat senyum Keira hilang perlahan. Ada sesuatu yang terlalu serius di sana.

Ia menerima gelas itu dengan dua tangan. Hangatnya meresap ke telapak, lalu ke dada. Untuk sesaat, suara ponsel, panggilan dari Jakarta, dan rencana keluarga yang menunggu di rumah terasa jauh.

Namun tidak pernah benar-benar hilang.

Saat Rayhan masuk kamar mandi untuk mencuci tangan, ponsel Keira bergetar lagi.

Kali ini pesan masuk dari nomor Bu Yuliana.

Pulang hari ini. Jangan membuat Papa malu. Brandon dan keluarga Go sudah diberi kabar.

Keira membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Tubuhnya yang tadi hangat mendadak dingin.

Brandon.

Jadi mereka benar-benar akan memaksanya pulang untuk membicarakan perjodohan itu.

Semalam Bu Yuliana masih memakai kata "makan malam keluarga". Pagi ini sudah ada nama Brandon dan keluarga Go. Di rumah Lim, perubahan seperti itu tidak pernah terjadi tanpa persetujuan Papa. Keira tahu cara mereka bekerja. Keputusan dibuat di belakangnya, lalu ia dipanggil hanya untuk tersenyum dan menyetujui.

Kali ini, ia tidak mau datang sebagai anak yang bisa ditekan dengan nama keluarga.

Keira menatap pintu kamar mandi. Air masih mengalir. Rayhan ada di sana. Pria yang baru ia kenal semalam, pria yang membuatnya merasa dijaga tanpa bertanya terlalu banyak.

Justru karena itu, ia harus pergi.

Ia tidak bisa membawa orang asing masuk ke kekacauan keluarga Lim. Tidak ketika ia bahkan belum tahu siapa Rayhan sebenarnya. Tidak ketika Bu Yuliana bisa mengubah apa pun menjadi senjata.

Keira turun dari ranjang pelan. Ia mengganti pakaian secepat mungkin, memasukkan barang ke koper, lalu berhenti saat melihat termos pink di meja.

Ukurannya tidak besar. Warnanya lembut, hampir kekanak-kanakan dibandingkan barang-barang mahal di kamar itu.

Keira menyentuh tutupnya.

Hangat.

"Maaf," bisiknya.

Ia memasukkan termos itu ke tas.

Di kertas hotel, ia menulis singkat.

Terima kasih untuk semalam. Saya harus pulang dulu. Jangan cari saya.

Ia tahu kalimat terakhir itu bohong bahkan sebelum tinta mengering.

Rayhan keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian.

Kamar itu sudah kosong.

Koper hilang. Heels hilang. Gaun ungu semalam terlipat rapi di sofa, tetapi perempuan yang memakainya tidak ada.

Termos pink juga tidak ada.

Rayhan mengambil kertas di meja.

Jangan cari saya.

Kertas itu hampir robek dalam genggamannya.

Ia menelepon Devin.

"Bos?"

"Keira pergi."

Di seberang, ada hening satu detik yang sangat bijaksana.

"Saya cek bandara?"

"Semua bandara. Pelabuhan. Hotel. Kamera jalan."

"Siap."

Rayhan menatap ranjang yang masih menyimpan lekuk tubuh Keira.

Ada noda merah kecil di seprai putih.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar berubah. Pikirannya sempat kosong, lalu satu kemungkinan menghantam dadanya begitu keras sampai rahangnya mengeras.

Semalam, ia sudah sangat hati-hati.

Namun Keira pergi sendirian tanpa mengatakan apa pun, membawa sakit yang bahkan tidak sempat ia jelaskan.

"Devin."

"Ya, Bos."

"Temukan dia sebelum saya marah."

Namun Keira tidak menuju bandara.

Setidaknya belum.

Siang itu, ia berdiri di depan pintu sebuah kasino bawah tanah milik Felix, membawa tas kecil, perut masih nyeri, dan wajah yang sudah kembali disusun rapi.

Uang bukan masalah baginya. Uang tidak pernah benar-benar menjadi masalah sejak ia menyadari kemampuan anehnya saat remaja. Namun keluarga Lim selalu membuatnya merasa miskin dalam hal lain. Miskin pembelaan. Miskin tempat pulang. Miskin orang yang akan berdiri di sisinya saat Bu Yuliana tersenyum di depan umum dan menusuknya di belakang.

Untuk menghadapi Jakarta, ia butuh uang tunai lebih banyak.

Lebih dari itu, ia butuh mengingat siapa dirinya saat tidak sedang ditekan oleh nama keluarga.

Felix, pemilik kasino itu, menyambutnya dengan senyum licin.

"Nona Lim. Tidak menyangka Anda datang sendiri."

"Saya ingin main."

"Tentu. Meja VIP?"

"Yang paling ramai."

Felix tertawa kecil. "Berani sekali."

Keira menatapnya. "Saya sedang tidak punya waktu untuk kalah."

Satu jam kemudian, di kamar hotel yang kosong, Devin melapor.

"Bos, Nona Keira belum masuk bandara. Tapi ada transaksi kartu dan rekaman kamera di area Clarke Quay. Dia masuk ke tempat Felix."

Rayhan yang sedang memasang manset berhenti.

"Kasino?"

"Ya, Bos."

Suhu di ruangan itu turun.

"Dia pergi ke kasino dalam kondisi seperti itu?"

Devin tidak menjawab. Itu tampaknya pilihan paling aman.

Rayhan mengambil kunci mobil Bentley dari meja.

"Siapkan orang."

"Felix sudah dihubungi?"

"Belum."

"Perlu saya telepon dulu?"

Rayhan membuka pintu.

"Tidak. Biar dia terkejut."

Di kasino bawah tanah Felix, pintu besar didorong terbuka.

Felix baru saja menerima telepon dari salah satu informannya. Wajahnya berubah pucat sebelum sempat menyelesaikan kalimat.

Di tengah ruangan, Keira duduk di meja utama.

Di hadapannya, chip menumpuk seperti bukit kecil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!