Episode 2

Bab 02 - Kartu Hitam

Parkiran bawah tanah Hotel Aryaduta Grand berbau beton lembap dan uang lama. Deretan mobil antipeluru hitam, SUV impor, sebuah Ferrari merah milik salah satu sepupu yang namanya bahkan tidak pernah Arga ketahui.

Pria itu berjalan dua langkah di depan. Ia tidak menoleh untuk memastikan Arga mengikutinya. Ia tahu Arga akan datang.

Arga datang.

Itu bukan soal percaya. Di dalam sana ia tidak terlihat. Di luar, setidaknya ada seseorang yang mengetahui namanya. Di luar, setidaknya ada seseorang yang mengetahui namanya.

Pria itu berhenti di depan sedan gelap tanpa pelat yang tampak jelas. Ia membuka pintu belakang dan memberi isyarat pendek dengan kepala.

"Masuk. Waktu kita sedikit."

Arga tidak masuk.

"Siapa Anda?"

"Jaya Kusuma. Pak Jaya, kalau Anda lebih nyaman." Cara bicaranya seperti orang membacakan laporan, bukan memperkenalkan diri. "Saya memimpin tim keamanan pribadi ayah Anda selama enam belas tahun. Mantan Brimob, kapten purnawirawan."

Arga merasa tanah berubah di bawah kakinya. Bukan secara fisik. Namun frasa "ayah Anda" membuka lubang di dadanya, lubang yang ia kira sudah lama ditambal semen.

"Saya tidak punya ayah."

"Anda punya. Pernah punya." Pak Jaya menahan tatapannya tanpa berkedip. "Raka Wijaya Mahendra. Meninggal dua puluh tiga tahun lalu. Atau lebih tepatnya, dibunuh. Bersama ibu Anda, Elena. Saat itu usia Anda dua tahun."

Keheningan parkiran berbeda dari keheningan ballroom. Tidak ada tatapan. Tidak ada tawa. Hanya beton, udara dingin, dan sebuah kebenaran yang lebih berat daripada seluruh langit-langit di atas kepala mereka.

Arga masuk ke mobil.

Interiornya kulit gelap, tanpa hiasan. Tidak ada logo, tidak ada pewangi, tidak ada detail yang tidak perlu. Pak Jaya duduk di sampingnya, menutup pintu, dan suara pesta di lantai atas lenyap sepenuhnya.

"Anda mengatakan bahwa Anda tahu siapa orang tua kandung saya."

"Saya mengatakan bahwa saya tahu siapa Anda." Pak Jaya membuka map kulit yang terletak di kursi di antara mereka. "Arga Wijaya Mahendra. Putra tunggal Raka dan Elena Mahendra. Pewaris langsung keluarga Mahendra dari Jakarta."

Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map. Akta kelahiran. Arga mengambilnya dengan dua tangan. Huruf-hurufnya bergetar. Tidak, tangannya yang bergetar.

Arga Wijaya Mahendra. Ayah: Raka Wijaya Mahendra. Ibu: Elena Gouveia Mahendra. Tempat lahir: Jakarta, DKI Jakarta.

"Ini bisa dipalsukan."

"Bisa." Pak Jaya mengeluarkan dokumen lain. "Hasil tes DNA. Diambil tanpa sepengetahuan Anda empat bulan lalu, dari gelas yang Anda tinggalkan di sebuah kedai di Jalan Sabang. Dibandingkan dengan sampel Raka yang disimpan di brankas keluarga sejak sebelum kematiannya. Kecocokan 99,97%."

Arga menurunkan akta itu ke pangkuannya. Ia menatap atap mobil.

"Kenapa baru sekarang?"

"Karena kakek Anda sedang sekarat. Agusta Bimantara Mahendra. Delapan puluh enam tahun, kanker pankreas. Dokter memberinya enam bulan." Pak Jaya menutup map. "Beliau mencari Anda selama dua puluh tahun. Saya mencari Anda selama dua puluh tahun. Kami menemukan Anda empat bulan lalu. Kami mengonfirmasi semuanya dua minggu lalu."

"Dan kalian menunggu."

"Saya yang menunggu. Keputusan saya." Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di wajah Pak Jaya. Sudut matanya menegang, topeng itu retak selama sedetik. "Saya ingin memastikan Anda... bahwa Anda sudah siap."

"Siap untuk apa?"

Pak Jaya mengambil sebuah benda persegi panjang dari map. Hitam doff. Tanpa nama, tanpa logo bank. Hanya ada nomor yang terukir di permukaannya dan sebuah chip emas.

"Ini kartu yang terhubung dengan rekening utama keluarga Mahendra di Bank Rothschild Swiss. Limit operasional Rp50 triliun." Ia meletakkan kartu itu di kursi di antara mereka seperti seseorang meletakkan senjata di atas meja. "Total kekayaan keluarga jauh lebih besar dari itu."

Arga menatap kartu itu. Ia tidak menyentuhnya.

"Lima puluh triliun."

"Rupiah."

Angka itu terlalu besar untuk dicerna. Terlalu besar untuk terasa nyata. Arga teringat Rp15.000.000 yang ia minta dua puluh menit lalu. Koin seribu rupiah yang berputar di lantai marmer. Tawa Marlina.

Pak Jaya melanjutkan, dan setiap kalimat seperti batu bata pada dinding yang tidak pernah Arga minta untuk dibangun.

"Anda pemilik saham mayoritas di tujuh perusahaan Grup Imperial. Anda memiliki properti di empat negara. Anda punya tim hukum berisi tiga puluh dua pengacara yang bekerja khusus untuk melindungi harta Anda sejak sebelum Anda tahu harta itu ada."

Tenggorokan Arga terasa kering.

"Lalu kenapa saya ada di panti asuhan?"

"Karena seseorang membunuh orang tua Anda dan berusaha membunuh Anda. Anda dikeluarkan dari rumah saat berusia dua tahun oleh seorang pegawai keluarga, Bu Ningsih."

Nama itu menghantam Arga seperti pukulan di perut.

"Bu Ningsih."

"Ningsih Wulandari. Kepala pengurus rumah keluarga Mahendra. Pada malam penyerangan, dia membawa Anda dan melarikan diri. Menghilang. Mengganti nama, mengganti kota, membesarkan Anda diam-diam di sebuah panti asuhan di Jakarta." Pak Jaya berhenti sejenak. "Dia tahu kalau ada yang mengetahui Anda masih hidup, mereka akan datang mencari Anda."

Arga memejamkan mata. Bu Ningsih. Perempuan yang mengajarinya membaca. Yang menjahit celananya saat robek. Yang berpura-pura tidak sakit agar Arga tidak khawatir. Yang sekarang sedang sekarat di rumah sakit umum karena Arga tidak mampu mengumpulkan Rp15.000.000.

Dia bukan sekadar pengasuh panti asuhan.

Dia telah menyelamatkan hidup Arga.

"Para pembunuh itu," kata Arga, suaranya keluar lebih rendah daripada yang ia maksudkan. "Siapa mereka?"

"Itu percakapan yang lebih panjang." Pak Jaya menyimpan mapnya. "Yang penting sekarang, mereka masih mengira Anda sudah mati. Selama mereka percaya itu, Anda aman. Jika mereka tahu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Arga terdiam cukup lama. Suara pesta yang teredam terdengar seperti denyut jauh dari dunia lain.

"Saya tidak akan memberi tahu siapa pun."

Pak Jaya mengamatinya.

"Bahkan istri Anda?"

Arga memikirkan Bianca. Gelas yang bergetar di tangannya. Kebisuan yang ia pilih alih-alih satu kata pembelaan.

"Terutama dia." Arga mengambil kartu hitam itu. Bobotnya terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang diwakilinya. "Tidak sekarang. Tidak dengan cara seperti ini."

Pak Jaya mengangguk sekali, seolah jawaban itu benar.

"Ayah Anda akan mengatakan hal yang sama."

Arga menyimpan kartu itu di saku dalam jas murah yang ia beli seharga Rp120.000 di Tanah Abang. Kontrasnya absurd, dan tak seorang pun akan pernah tahu.

"Hal pertama yang saya butuhkan," kata Arga sambil membuka pintu mobil, "adalah membayar operasi."

"Rp15.000.000."

Arga berhenti.

"Anda mendengar."

"Saya ada di ballroom sebelum masuk. Saya melihat semuanya." Pak Jaya tidak mengalihkan pandangan. "Koin itu. Tawa mereka. Semuanya."

Udara parkiran masuk ke mobil seperti hembusan realitas.

"Kalau begitu Anda tahu kenapa saya tidak akan memberi tahu siapa pun."

Pak Jaya menundukkan kepala sedikit.

"Saya tahu."

Arga keluar dari mobil. Ia merapikan jasnya. Menarik napas dalam-dalam.

Rp50 triliun. Dan mereka menyuruhku memungut koin dari lantai.

Ia berjalan kembali ke lift. Ke ballroom. Ke pesta seorang perempuan yang menyebutnya "orang itu". Ke keluarga yang memperlakukannya seperti sebuah kesalahan.

Namun kali ini, koin di sakunya terasa berbeda.

Di kursi belakang sedan, Pak Jaya membuka ponsel dan mengetik satu pesan.

Dia menerima. Protokol aktif.

Lalu, kepada dirinya sendiri, dalam gumaman yang tidak didengar siapa pun, ia berkata, "Para pembunuh orang tuamu masih mengira kau sudah mati, Arga."

Pak Jaya menyimpan ponselnya.

"Kita akan mempertahankan itu. Untuk sementara."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
Episodes

Updated 185 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!